
Di Bali, tepatnya disebuah villa, Robert atau R. Ga, Robert sedang menikmati pemandangan dihadapannya di sebuah ruangan yang luas dengan dikelilingi gorden berwarna putih. Dari jendela kaca yang tembus mata hari pagi, terlihat pemandangan pepohonan hijau yang bergoyang pelan terkena hembusan angin sepoi-sepoi.
Pandangannya menatap seorang wanita yang terbaring dengan damai. Pelan pelan dan penuh kehati-hatian, ia mengelus tangan hingga bahu dan naik ke wajah sang wanita.
Penglihatan tajam bak mata elang miliknya, meredup dengan riak kegelisahan dan kerinduan berat yang tertahan. Sudah hampir tiga Minggu ia menjaga wanita itu dengan penuh perhatian sampai tidak memperdulikan apapun selain menghabiskan waktu dengan sang pujaan hatinya.
Tak ada yang lebih penting baginya dari pada wanita ini. Permata hatinya yang lama hilang kini kembali tapi tidak dalam keadaan baik baik.
"Sayang, aku mohon, buka matamu. Aku sangat merindukanmu. Aku ingin, kita menjalani sisa hidup kita dengan banyak cinta. Aku ingin mempersembahkan seluruh cinta dan hidupku padamu. Bangunlah, ada banyak sekali yang ingin ku katakan padamu." Robert mencium tangan wanita itu dengan penuh kasih sayang.
Meski tiap saat ia mengajak wanita itu berbicara namun tak kunjung bangun juga. Hanya ada suara indikator jantung di layar komputer diantara kesunyian di ruangan itu. Setiap hari ia menangis, memohon agar wanita yang sangat dicintainya itu segera sadar.
Wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Amelia. Wanita yang sebenarnya bernama Araysa Aksara itu mengubah namanya menjadi Amelia setelah malam yang paling menakutkan, juga pertama kali bertemu dengan paman Bali. Ia tidak memberitahukan kepada siapapun nama aslinya. Semua nama dan data dirinya baru dan diurus di Lampung oleh paman Bali dengan memasukkannya sebagai anggota keluarga.
Selama dua puluh tahun lebih penantian hampa Robert atas hadirnya kembali Araysa sungguh menjadi kenyataan. Walau sering berziarah ke tempat jatuhnya mobil yang membawa Araysa, ia tetap berharap Araysa datang padanya. Ia sungguh mengharapkan keajaiban itu, dan akhirnya permintaanya terkabul.
Waktu itu....
Dia bulan yang lalu,
Meli sedang melakukan cek kesehatan dengan dokter kandungan sahabatnya Kumala, ditemani suaminya Rudy. Terakhir akhir ini ia terlalu sering datang bulan, itu sangat mengganggunya. Setelah berkonsultasi dan melakukan USG barulah meli tenang. Ternyata tidak ada masalah apa-apa. Hanya pengaruh stres dan bertambahnya usia.
Meli dan Kumala masih mengobrol seru, sementara Rudy pergi keluar sebentar untuk mengangkat telepon. Karena panggilan seorang suster, Kumala terpaksa menyelesaikan obrolannya. Mereka keluar bersama masih berbicara sambil terkadang tertawa.
Tiba tiba sekilas mata Meli melihat kelebat bayangan Araysa yang sudah dua puluh tahun terkubur karena kebenciannya pada wanita itu. Merasa tidak mungkin, ia lebih memperhatikan baik baik suster yang sedang menutupi bayangan yang mirip Araysa itu.
'Hah, itu sungguh mirip wajah Araysa! Dan tubuhnya, oh tidak tidak! Itu Araysa sungguhan! Tapi ahh tidak mungkin, wanita itu sudah terlanjur mati dan tenggelam di dasar laut. Tidak mungkin dia selamat.' Jantung Meli serasa meledak menahan gejolak hebat karena terkejut campur takut.
'Tapi tidak mungkin itu hantunya. Suster itu memeganginya dan berusaha menutupinya. Aku harus menangkapnya. Memastikan itu adalah Araysa.'
"Mi, sudah? Kita pulang, ada kolega yang menunggu kita." Rudy datang membuat tatapan Meli terputus terhadap Araysa.
"Iya. Mala, sampai jumpa. Kami pergi dulu." Meli melambai pada sahabatnya. Dan lagi-lagi ia menoleh ke arah suster yang sepertinya sedang berusaha menutupi Araysa.
Mereka bubar, Kumala ke arah tujuannya, Rudy dan Meli ke arah lift.
"Ah, selendang pemberian Kumala tertinggal. Aku ambil bentar ya Mas." Begitu masuk ke lift, Meli berdalih ada yang tertinggal di ruangan Kumala.
"Ya, ambilkan sebentar, aku tunggu di mobil." Jawab Rudy tanpa sedikitpun curiga, padahal selendang yang dibicarakan Meli sudah ada di paper bag ditangan kirinya.
Meli berjalan terburu buru keluar dari lift. Bukannya langsung ke ruangan Kumala, tapi ia pergi ke toilet. Diambilnya selendang yang diberikan Kumala padanya yang merupakan oleh oleh temannya itu dari Banjar Masin.
__ADS_1
Selendang berukuran tidak seberapa lebar tapi agak panjang itu dibuatnya sebagai kerudung yang menutupi kepala dan wajahnya. Hanya matanya yang terlihat. Ia akan menculik Araysa dan mengamankannya. Ia takut wanita itu tiba-tiba melaporkan dirinya atau berbuat hal yang bisa merugikan dirinya.
Dilakukannya dengan sangat cepat dan terburu. Ia berlari ke arah ruangan dimana suster dan Araysa sempat dilihatnya masuk. Baru saja tangannya membuka pintu, tiba-tiba seseorang mendorong pintu dengan sangat kuat.
Saling dorong pintu pun terjadi. Mungkin karena Meli dalam keadaan sehat, tenaganya lebih kuat dari pada Araysa. Pintu terbuka dan mereka pun saling bertatapan.
Kedua mata Meli melebar sempurna. Ia sungguh melihat Araysa.
Sedangkan Amelia masih bisa mengenali mata dan pakaian Meli.
Amelia yang sudah tidak tenang dan ketakutan melihat Meli memutuskan untuk keluar dari ruangannya, mencari tempat lain untuk bersembunyi. Ia yakin Meli telah melihatnya. Niatnya menjauhi wanita itu, kini malah sebaliknya mereka bertemu langsung. Karena sebelum ia berhasil keluar, wanita itu sudah datang.
Tanpa membuang waktu Meli menarik Araysa dengan kuat dan menariknya keluar. Ia berencana membawa Araysa ke tempat yang aman.
Araysa yang dalam ketakutan makin gemetaran dan serasa semua tenaganya hilang. Tubuhnya lemas dan hanya bisa menuruti Meli.
Tapi baru saja Meli berhasil membawa Araysa empat langkah dari pintu, seseorang dari belakangnya memukul kepalanya dengan kuat. Secepat kilat seseorang itu menggedong Araysa dan membawanya berlari ke arah lorong paling ujung lalu menghilang.
Seseorang itu adalah Robert. Ia yang memang mengikuti semua aktivitas Meli dan Rudy akhir akhir ini. Dilakukannya karena kecurigaannya akan Leo dan Dhira yang semakin dekat dengan putrinya Ara.
Baru saja ia keluar dari kamar mandi, dan ingin turun karena tidak menemukan apapun yang ganjil dari pergerakan Meli dan Rudy. Tapi kakinya terhenti ketika melihat Meli keluar dari kamar mandi dengan kain penutup dibagian kepala dan wajah. Merasa ada yang ganjil, ia mengikuti Meli dengan pandangannya sampai ia melihatnya berhadapan dengan seorang wanita yang seketika membuat matanya melotot sempurna dengan sekujur tubuhnya merinding,juga tegang.
Diambilnya saputangan dari kantongnya. Ia berlari secepat kilat ke dinding yang diatasnya ada kamera, menutupi kamera itu dengan sapu tangannya. Dan langsung berlari ke arah Meli dan memukul kepala wanita itu. Menangkap tubuh Araysa dan menggendongnya lalu membawanya pergi lewat tangga darurat yang aman dari kamera pengawas.
Meli yang merasa pusing akibat pukulan dikepalanya baru tersadar kalau Araysa sudah tidak bersamanya. Ia berlari ke lift karena yakin Araysa dan penyelamatnya pasti lewat sana. Tapi hingga tiba di bawah ia tidak menemukan apapun.
Ia yakin yang menyelamatkan Araysa adalah seorang lelaki bertubuh besar dan tinggi. Tapi sayangnya ia tidak sempat melihat wajahnya karena pusing akibat sakit yang luar biasa dikepalanya.
Ia hanya bisa mengumpat dalam hati karena telah kehilangan Araysa. Tak habis pikir bagaimana wanita itu bisa selamat waktu itu. Sementara untuk bertanya pada Omeng atau Jac sudah tidak bisa, karena ia telah kehilangan nomor dua lelaki itu.
Araysa yang berada di antara kedua tangan kokoh Robert diapit diantara dadanya, berontak ketakutan. Matanya begitu kalut seperti kehilangan kehidupan. Ia sangat takut dengan dua wajah itu. Wajah Meli dan Robert mantan kekasihnya. Ia masih sangat mengenal dua manusi jahat itu.
Dua manusia keji yang telah berhasil membuat kehidupannya hancur. Dirinya yang hanya seorang wanita lemah yang terperdaya akan mulut manis Robert telah kehilangan segalanya. Hanya sisa dari sisa kehancurannya yaitu nafasnya dan benih yang tertanam di rahimnya dari Robert yaitu Andhira putrinya.
"Araysa, akhirnya aku menemukanmu. Huhuhuuu...kita akhirnya bertemu..." Mata Robert dipenuhi air mata.
"Aaa...le-lepask-kan aku..." Araysa merasa dadanya sangat sakit dan sulit bernafas. Kedua tangannya kejang sampai sulit untuk digerakkan. Bahkan sekedar memukul dada atau punggung Robert pun ia tidak mampu. Lalu ia merasa lidahnya seperti kejang dan begitu juga dengan matanya. Kemudian tiba-tiba semua gelap dan ia tak sadarkan diri lagi.
Sementara Robert masih terus menatapi wajah Araysa sambil menuruni tangga dengan memeluk tubuh ringan dipelukkanya.
"Araysa, tenanglah. Kamu aman bersamaku. Aku akan melindungi mu. Aku mohon, bertahanlah. Aku akan membawamu ke tempat yang aman dan jauh dari tempat ini." Robert menciumi wajah Araysa sambil membawanya berlari lewat jalan keluar yang jarang dilalui orang. Ia tidak berlari ke basement untuk mengambil mobilnya. Tapi menyetop taksi yang kebetulan ada di depannya.
__ADS_1
Ia membawa Araysa ke apartemennya. Ia akan memanggil dokter dan mengobati Araysa. Tapi yang dikatakan dokter sangat mengejutkannya. Araysa koma dan baru menjalani operasi. Setelah mendapat penanganan dari dokter tersebut, Malam itu juga ia membawa Araysa ke Bali, tempat kelahiran wanita itu. Ia berpikir tempat nyaman dan tenang akan mendukung akan sadarnya Araysa.
Pertama kali yang dilakukannya setelah tahu kejadian yang menimpa Araysa dan ayahnya adalah membeli tanah bekas rumah orang tua Araysa juga lingkungan sekitarnya yang ada di Bali menjadi miliknya. Dibangunnya rumah itu menjadi sebuah villa dan membuat tanah sekelilingnya menjadi perkebunan.
Itu dilakukannya karena tahu Araysa pacarnya yang imut dan manis menyukai berkebun dan tempat aman tentram yang jauh dari kebisingan perkotaan.
Dibangunnya tanah seluas sepuluh hektar itu menjadi taman kebun. Sementara villa yang di bagunnya tidak pernah disewakannya, meski banyak yang memintanya. Bahkan tidak sedikit para pengusaha merunding lahan itu untuk dibangun sebuah resort, tapi ia tidak pernah memberikan tanah itu walau semahal apapun. Hartanya banyak dan penghasilannya tak terhitung, uang bukan incarannya. Mengenang kekasihnya adalah prioritasnya.
Itulah sebabnya Araysa yang berubah menjadi Amelia berada di Bali bersama Robert. Inilah tugas Robert sampai tidak pernah mengurusi hal lainnya. Mengurus dan mengusahakan agar Araysa bangun.
Setelah menemukan Araysa, Robert sangat bahagia. Tapi diantara kebahagiaannya, masih ada kepanikan karena Araysa dalam keadaan koma. Ditambah penjelasan dokter ternyata wanita itu baru menjalani operasi besar pencangkokan ginjal. Tapi masih ada yang membuat harapannya bersemi karena menurut dokter, Meli tidak mengalami hal berat atau komplikasi apapun. Hanya saja mereka bingung apa yang membuatnya koma.
Bukan hanya dokter terkenal yang ada di Jakarta yang disewanya untuk mengobati Araysa. Tapi juga dokter terkenal dari luar negeri. Tapi tidak ayal membuat Araysa bangun.
Sepanjang hari pekerjaannya adalah menjaga membersihkan dan mengajak Araysa berbicara. Sering ia menangis sedih, menceritakan yang dialaminya pada Araysa walau wanita itu tidak mendengarnya.
Hari ini terpaksa ia harus kembali ke Jakarta. Ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa diwakilkan pada Jhon. Setelah pekerjaannya selesai, ia di ajak teman lamanya Dewi bertemu sebentar. Ia khawatir temannya itu mengalami kendala dalam pengelolaan koperasinya.
Malah ajakan Dewi membuatnya kacau. Ditambah bertemunya dengan Andhira dan Leo.
Dalam kekacauan itu, ia pun mendapat kabar dari dokter bahwa Araysa sudah sadar. Tapi sialnya langkahnya terhalang oleh dua anak muda yang menuduhnya telah menculik wanita bernama Amelia.
Sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin dirinya menculik seorang wanita? Ia sangat kesal dan rasanya ingin meremat dua anak aneh itu.
Akhirnya ia bisa lolos dan melanjutkan perjalanannya ke Bali. Ia sangat tidak sabar ingin segera tiba di rumah dan bertemu Araysa.
Mobil sudah tiba di depan rumah yang bagai hotel itu. Kaki Robert berlari menggapai lift dan langsung menuju lantai tiga dimana Araysa berada.
"Brakkk..."
Pintu terbuka dengan keras. Robert masuk dengan nafas menderu. Pandangannya langsung menuju ranjang dimana Araysa berbaring dan dua orang suster dan seorang dokter menemaninya. Segala peralatan yang sebelumnya terpasang di bagian tubuhnya sudah di lepas.
"Ibu, bagaimanakah penglihatan Anda sekarang? Apakah sudah lebih baik?" Tanya dokter itu.
Araysa mengangguk pelan. "Saya ada di mana?" Tanyanya.
Suara lemah yang masih sangat dikenalinya membuat dada Robert seakan dipenuhi bunga yang sangat banyak. Bahagia tiada tara. Akhirnya wanitanya bisa sadar dan sudah berbicara.
"Ibu sedang menjalani perawatan. Ibu baru sadar dari koma."
"Apakah ini di rumah sakit?" Tanya Araysa lagi.
__ADS_1
"Ini di rumah kita Sayang..." Robert berlutut di samping ranjang dan menatap wajah Araysa dengan lekat. Telaga dalam yang selalu berkabut kesedihan itu, kini berbinar walau digenangi air. Bahkan air itu satu persatu berjatuhan membasahi pipinya. Makin lama makin deras hingga membuat lelaki itu sesegukan.
Sedangkan dokter dan dua perawat itu keluar. Memberi ruang pada Robert dan Amelia.