
Suatu hari pertengkaran tak bisa dihentikan lagi. Meli mengatakan sangat tersiksa dan terpaksa menjalani kehidupannya bersama Rudy. Saat itu pun, Rudy mengusir Meli. Tanpa memikirkan apapun, Meli angkat kaki meninggalkan keluarganya untuk yang kedua kalinya.
Leo menangis menahan kaki Meli agar tetap tinggal bersama. Tapi hati Meli begitu keras dan tetap memilih meninggalkan rumah.
Seperti yang pernah terjadi, Rudy membiarkan Meli. Tapi kali ini bedanya Meli tidak minta diceraikan. Ia pergi dengan wajah sedih. Jika sebelumnya ia pergi dengan wajah angkuh, yang ini ia bahkan menitikkan air mata.
Rudy juga tidak mengungkit soal perceraian karena ia diminta oleh ayah mertuanya untuk menjaga Meli jauh sebelum meninggal. Bukan hanya wasiat menjaganya, putranya juga diberikan harta warisan sejumlah uang tabungan dan sebidang tanah yang sangat luas.
Seandainya bukan karena wasiat itu, ia sudah menceraikan Meli agar hidupnya bisa tenang juga mencari pasangan hidupnya.
Baru dua bulan menjalani kehidupannya yang sendiri, Meli mendadak panik karena mencurigai dirinya hamil. Ia menjadi bingung. Bertahan sendirian akan sulit, apalagi hidupnya sekarang sudah sangat berbeda. Tidak ada kemewahan seperti dulu. Ia hanya seorang pekerja di sebuah salon dan hidup sederhana dengan gaji yang didapatkannya. Tapi ada juga sedikit harapan baginya. Ia akan membutuhkan seseorang yang akan menjadi keluarganya agar hidupnya tidak sebatang kara nantinya. Bagaimanapun ia akan semakin menua dan butuh keturunan untuk mengurusnya kelak. Untuk memastikannya ia memeriksakan kandungannya ke rumah sakit.
Saat itulah Robert melihatnya sedang memasuki ruangan periksa obgyn. Ia habis mengantar seorang ibu yang ditemuinya di jalan hendak melahirkan.
Begitu melihat Meli, hampir saja ia kelepasan ingin membunuhnya. Setiap melihatnya, darahnya langsung mendidih. Tapi saat itu juga ia akan sadar akan pesan Araysa lewat mimpinya.
Setelah di rumah ia baru terpikir tentang keadaan Meli. Wanita itu pasti sedang hamil. Otaknya langsung menginginkan bayinya itu sebagai ganti nyawa Araysa. Yah itulah hukuman yang akan diberikannya pada Meli. Ia telah kehilangan orang yang dicintainya seumur hidupnya. Dan ia pun akan membuat wanita itu kehilangan anak kandungnya.
Mungkin itu juga adalah keinginan Araysa. Kekasihnya itu ingin balas dendam tanpa membuat dirinya menjadi seorang pembunuh. Makanya menyuruhnya mengurus seorang bayi.
Wajah Meli bagai tak berdarah tiba tiba melihat Robert berdiri di depan pintu rumahnya. Mulutnya tidak bisa berkata-kata saking takutnya.
"Aku datang untuk membuat perhitungan padamu!" Tanpa basa-basi, Robert langsung mengungkapkan tujuannya.
Kedua mata Meli bergerak ketakutan. 'Mungkinkah ini adalah hari terakhirku? Apakah dia sudah memutuskan membunuhku? Tolong...ampuni aku.' Ia hanya bisa bicara dalam hati. Bahkan matanya tak sanggup melawan tatapan mata Robert yang dipenuhi bara api.
"Bayi dalam kandungan mu berikan padaku saat sudah lahir! Bayi itu akan menjadi penebus Araysa!"
Meli serasa berhenti bernafas. Harapannya yang sudah ia rancang kini kandas. Anak yang akan diandalkannya ternyata tidak bisa dimiliknya.
"Kirimkan laporan perkembangan bayi itu setiap bulan. Begitu ia lahir aku akan datang. Jangan coba-coba menipuku, atau putramu yang bernama Leo itu juga akan terbun*h bersama dengan tubuh mu itu!" Robert menunjuk wajah Meli dengan aura menyeramkan.
Meli mengangkat bibirnya ragu-ragu, ingin menjawab Robert. Tapi tidak jadi karena lelaki itu sudah pergi sembari menghentakkan kakinya dengan sangat keras ke pintu hingga pintu itu bergetar.
Meli lunglai. Ia sungguh tidak sanggup setiap bertemu dengan Robert. Ia selalu diselimuti rasa takut yang sangat hebat. Tanpa sadar ia mengelus perutnya yang masih rata dan menitikkan air mata. Belum lahir calon anaknya itu tapi sudah menjadi milik orang lain. Bukan, bisa jadi langsung dibun*h begitu bayi itu lahir. Robert pasti melampiaskan kemarahannya pada bayinya itu.
Tak terasa waktu terus berlalu. Kandungan Meli sudah lima bulan. Seperti ucapan Robert, ia selalu didatangi seorang pria muda tanggung untuk mengambil laporan hasil pemeriksaan kandungannya. Jika telat, ia akan diteror dan diancam dengan sadis oleh pemuda yang tak lain adalah John.
Meli baru saja pulang dari salon tempatnya bekerja. Belum selesai mandi, seseorang membunyikan bel rumahnya beberapa kali. Membuatnya terburu-buru menyelesaikan acara mandinya.
"Kamu? Sedang apa di sini?" Meli terkejut begitu keluar dari kamar mandi melihat Rudy sudah duduk di atas ranjangnya.
Rudy tidak langsung menjawab. Justru matanya terpahat ke arah perut Meli yang membuncit di balik handuk yang melilit antara dada dan pahanya. Lalu bola matanya bergerak menatap ke wajah Meli sambil bangkit dan berjalan ke arah wanita itu.
__ADS_1
"Jauhkan matamu itu! Ini tidak ada hubungannya denganmu!" Meli menyadari mata Rudy yang menghangat begitu melihat perutnya.
"Apa? Apa maksudmu?" Tanya Rudy.
"Ini bukan anakmu! Ini anakku dengan laki laki lain." Meli melindungi perutnya dengan ke dua tangannya. Ia tidak mungkin memberitahukan bayi di kandungannya adalah darah Rudy. Ia bisa kesulitan saat menyerahkan bayi itu pada Robert. Ia harus berbohong agar dirinya berada di zona aman.
Sinar mata Rudy langsung meredup. Ia melengos dengan membuang muka. Bukan cemburu seperti seorang suami pada umumnya, tapi merasa jijik dengan kondisi Meli, apalagi dengan tubuhnya yang hanya tertutupi sedikit oleh handuk yang hampir melorot.
"Keluar! Aku mau ganti baju!" Usir Meli.
"Cepatlah sedikit. Anakku Leo membutuhkan darah. Ia terkena demam berdarah. Ia mengalami komplikasi perdarahan. Ia harus segera mendapat donor darah. Sedang tidak ada stok darah di rumah sakit." Ujar Rudy cepat.
"Apa? Leo terkena DBD? Kenapa sampai mengalami komplikasi? Apa tidak langsung kamu bawa berobat saat masih gejala?" Entah kenapa Meli merasa emosinya naik, mungkin karena dirinya sedang dilanda ketakutan akan Robert. Padahal biasanya ia tidak perduli dengan anak itu.
"Aku sedang sibuk di kantor. Ia mengeluh demam ku kira hanya demam biasa. Jadinya telat penanganan. Golongan darahku tidak sama dengannya. Hanya kamu yang bisa menolongnya saat ini. Tapi kondisimu itu tidak memungkinkan. Ya Tuhan...bagaimana ini? Putraku bisa tiada bila tidak segera mendapat donor darah." Rudy sangat panik.
Meli berpikir sebentar "Leo harus tetap hidup. Dia putra kita. Apapun yang terjadi aku harus membantunya." Meli memakai pakaiannya.
"Tapi ayah bayi itu pasti tidak mengijinkan mu. Karena pendonoran ini berbahaya bagimu." Rudy begitu lemas dan takut putranya tidak bisa bertahan.
"Ayah bayi ini tidak akan peduli. Bagaimanapun, Leo anakku. Aku akan memberikan darahku." Tiba tiba Meli mendapat ide memposisikan dirinya agar dikasihani oleh Rudy. Selain harus meyakinkannya akan bayi itu bukan darah Rudy, ia ingin mendapat perlindungan dari Rudy. Bagaimanpun ia membutuhkan Rudy sebagai tempatnya bernaung dari kondisinya saat ini.
"Apa ayah bayi itu tidak bertanggung jawab?" Tanya Rudy.
Rudy bagai terhipnotis dengan tanggapan Meli. Ia tidak menyangka wanita itu begitu khawatir. Bahkan menangis. Langsung saja, hatinya lebih menghangat.
Setibanya di rumah sakit, sempat terjadi perdebatan. Dokter tidak menyetujui Meli mendonorkan daranya.
Tapi Meli ngotot dengan drama tangisan tidak mau kehilangan putranya. Bahkan ia sampai berteriak-teriak melawan dokter.
Akhirnya tidak ada yang bisa menghentikan Meli. Ia mendonorkan darahnya dengan syarat harus dibawah pengawasan ketat para dokter. Apalagi yang hendak diselamatkan adalah anggota keluarga sendiri. Dokter tidak berkeras menolak keinginan Meli menyelamatkan putranya sendiri. Suaminya bahkan menyetujuinya juga.
Berawal dari kejadian itulah, hubungan Rudy dan Meli mulai ketemu titik keselarasan.
Selama itu juga, Rudy menyaksikan Meli yang sendirian menanggung kehamilannya. Wanita itu sungguh sendirian dan lelaki yang menghamilinya tidak pernah muncul.
Akhirnya, Rudy mengambil tanggung jawab atas Meli. Ia membawa kembali wanita itu kerumahnya dan memperistrinya atas desakan putranya Leo. Selain kasihan dengan kondisi Meli ia juga tidak tega melihat putranya yang selalu merengek. Leo masih sangat membutuhkan kasih sayang dan perhatian seorang ibu.
Meli pun mau kembali memulai hidup baru bersama Rudy dengan syarat tidak akan menyinggung soal bayinya apapun yang terjadi esok hari. Kesepakatan pun terjadi dan mereka hidup bersama selayaknya satu keluarga.
Meli sendiri banyak berubah. Ia bukan lagi wanita keras kepala yang selalu menentang Rudy. Ia sangat tahu diri, akan keberuntungan yang dimilikinya bisa berkesempatan memiliki suami sebaik Rudy. Terlebih tidak mempermasalahkan soal kehamilannya.
Leo sangat bahagia diantara papi maminya. Apalagi dengan bayi di dalam perut maminya. Tak henti-hentinya ia mengajak bayi itu berbicara karena sangat menyayanginya. Menciumi perut maminya dan selalu tidur memeluk perut buncit Meli yang kian membesar menjadi rutinitasnya setiap hari. Ia mendapat dua sekaligus kebahagiaan mendapatkan ibunya juga seorang adik.
__ADS_1
Rudy sungguh seorang pria baik yang konsisten. Ia bisa kembali menerima Meli walau sedang mengandung anak dari pria lain. Bahkan ia sudah tahu bahwa bayi itu nantinya akan diserahkan pada ayah biologisnya. Seperti kata Meli, sudah kesepakatan mereka sebelum kembali pada Rudy. Dengan lapang dada ia menerima Meli. Terlebih saat melihat kebahagiaan putranya yang sempat hampir meninggalkan dirinya saat sakit tempo hari.
Itu bukan persoalan besar bagi Rudy. Ia bisa memaklumi keputusan Meli. Toh yang berhak atas bayi itu adalah ayah biologisnya.
Semua berjalan lancar hingga tiba saat sudah waktunya persalinan. Ia dan suaminya berangkat ke rumah sakit sesuai jadwal yang ditentukan oleh dokter. Ia harus menjalani operasi Caesar karena posisi bayinya yang sungsang.
Sehari setelah melahirkan, Robert datang menjemput bayi perempuan yang dilahirkan Meli. Sangat cepat prosesnya, tanpa bantahan dari suami istri tersebut. Semua berjalan sesuai janji Meli. Hanya satu pesan Robert, tidak ada yang boleh tahu kalau bayi itu masih hidup.
Sempat jadi pertanyaan bagi Rudy, kenapa ayah bayi itu, menyembunyikan keberadaan putrinya sendiri. Beberapa kali ia bertanya pada Meli tentang itu.
"Jangan pernah menyinggung tentang bayi itu! Kita sudah sepakat tidak akan membahasnya."
"Tapi, aku hanya tidak mengerti kenapa begitu?"
"Sudahlah. Jangan bahas itu lagi. Atau aku bisa stres memikirkannya.
Ternyata Meli baru merasakan yang namanya kehilangan setelah dua hari selesai operasi. Jika yang pertama ia melahirkan normal tidak seberapa merasakan apa-apa setelah melahirkan. Tapi yang kali ini sangat berbeda. Ia kesakitan dan butuh beberapa hari agar bisa berjalan sendiri. Hatinya terasa kosong. Menjalani serangkaian proses namun tidak menerima hasil apapun, selain dirinya yang masih aman tanpa berada di balik jeruji seperti ancaman Robert.
Dirinya diserang rasa penyesalan tidak mempertahan putrinya. Tapi seandainya bertahan pun apa yang bisa dilakukannya. Yang ada malah membuat dirinya sendiri dalam jurang hukuman. Belum lagi jika Rudy mengetahui kebohongannya, soal anaknya juga perilakunya yang pernah membun*h. Bisa segera dirinya di buang oleh Rudy sekaligus serangan dari Robert.
Tidak ada yang tahu seperti apa isi hati Meli setelah kehilangan bayinya. Semua ia tutupi dari siapapun. Membuat dirinya seolah olah tidak terpengaruh karena itu bukan darah Rudy. Entah berapa lama sandiwaranya berakhir. Atau bisakah selamanya rahasia itu tersimpan?
Di kediaman Rabiga, rumah yang kini sudah lebih besar dan megah setelah direnovasi tiga bulan lalu kini dipenuhi tangisan bayi.
Bayi perempuan yang dibawa Robert pulang tanpa ibu. Sudah disiapkan segalanya mulai dari perlengkapan hingga baby sitter yang akan mengurus bayi itu.
Semua pekerja di rumah itu, bertanya-tanya tentang bayi itu namun tak ada seorang pun yang berani mengeluarkan suaranya. Mereka hanya fokus dengan pekerjaan masing-masing tanpa diperbolehkan banyak tanya.
Awalnya Robert tak bisa tenang dengan suara berisik bayi itu. Pendengarannya sangat terganggu dengan suara nyaring sang bayi. Rasa sakit dan kosong kembali dirasakannya dengan kehadiran bayi itu.
Bayangan hidup bersama Araysa dan anak mereka membuatnya seperti berada di dua dunia. Antara disekitar bayi itu dan sekitar Araysa. Berkali-kali ia berteriak tak karuan mengekspresikan keadaan hatinya.
"Pak, bayinya sepertinya stres karena lingkungan baru. Dia tidak mau menyusu. Saya takut bayi itu kehilangan banyak tenaga dan cairan tubuh. Mungkin bayi ini ingin berada dekat ibunya."
"Jangan pernah menyebut ibunya! Apapun yang terjadi, kalian yang harus mengurusnya! Buat dia diam dan nyaman!" Bentak Robert. Darahnya seakan mendidih begitu mendengar ibu dari bayi itu.
"Ta-tapi Pak, bayinya sangat kasihan. Sudah sejak tiga jam dia menangis terus."
Hoeeekkk....hoeeeekkk...hoeeekkk...
Suara bayi itu makin keras dan sangat memilukan hati semua orang yang ada di sana. Sang suster yang menggendongnya pun sudah berkeringat banyak disertai wajah pias.
"Apa artinya kamu ku gaji bila bayi itu tidak bisa kamu urus! Itulah tugasmu! Mengurusnya agar bisa hidup selayaknya bayi yang lainnya!" Teriak Robert. Ia sangat marah karena suster itu mengangkat bayi itu ke arahnya, memberikan agar menggendong bayi itu.
__ADS_1