Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Ara Is The Best


__ADS_3

Leo tidak bisa mengatakan apapun. Hanya tangannya yang bergerak mengelus dan menepuk pelan punggung Dhira. Hatinya sangat sedih melihat orang yang dicintainya begitu menderita. Entah apa yang sudah terjadi sampai membuat Dhira sepilu ini.


Dhira sudah tenang. Perlahan ditariknya kepalanya dari rangkulan Leo. Diusapnya wajahnya yang membengkak dan basah.


"Kamu demam, sebaiknya berobat." Leo mengambil ponselnya dari kantong celananya.


"Nggak usah. Aku hanya butuh tidur." Dhira mengambil ponsel Leo dan menyimpannya.


"Baiklah. Perutmu kosong. Makanlah dulu baru tidur." Leo mengangkat Dhira dengan kedua tangannya dan menggendongnya.


"Mau ngapain kamu? Turunkan aku!"


"Diamlah! Kamu berbaring di kamar."


"Aku bisa jalan sendiri. Tidak perlu begini."


"Sudah diamlah. Aku akan membuat bubur untukmu. Sepertinya asam lambung mu naik." Leo menidurkan Dhira di tempat tidur. Kemudian, menekan perut Dhira yang kembung pelan pelan.


"Aku bisa mengurus diri sendiri. Sebaiknya kamu pulang. Kamu harus berkerja." Dhira membuang muka ke samping karena Leo tiba tiba melihatnya dengan jarak sangat dekat.


"Ada masalah apa? Kenapa wajahmu terlihat tidak suka padaku?"


"Bukan begitu. Aku hanya lelah."


"Dari mana kamu semalaman?"


"Main"


Leo menghela nafas. "Jika ada masalah jangan memendamnya sendirian. Aku tidak menyukaimu yang seperti ini." Ia tahu telah terjadi sesuatu yang mengguncang wanitanya itu.


"Tidak ada masalah. Aku ingin tidur." Dhira memejamkan matanya.


Leo tidak bisa berkata kata lagi. Apalagi melihat wajah pucat Dhira. Ia mengalah dan menyelimutinya. Masih ada waktu lainnya untuk mengetahui apapun itu.


Setengah jam kemudian, Leo sudah selesai membuat bubur. Ia membawa hasil masakannya ke kamar.


Mangkok beserta gelas ditaruhnya di atas nakas. Ia duduk di dekat Dhira yang tertidur pulas. Dielus kepala Dhira pelan pelan sambil mencoba menebak apa yang terjadi.


Dadanya sesak melihat wajah sembab dan mata Dhira yang bengkak.


Merasakan ada sentuhan di kepalanya, Dhira terbangun. Ia mengerjap pelan. Kelopak matanya terasa berat karena bengkak. Matanya itu menjadi lebih kecil.


"Makan dulu. Nanti perutmu sakit." Leo sudah bersiap dengan bubur di sendok.


"Taruh lah. Aku makan sendiri."


"Aku suapi. Jangan bicara lagi. Haaaa...ayo!" Leo sudah mendekatkan sendok ke mulut Dhira.


"Tunggu dulu." Dhira berusaha duduk dan bersender. Mengambil gelas dan meminum air putih. Mulutnya terasa kering dan asam rasanya.


Ia melirik Leo yang terus menatapnya dengan sendok yang terus si sodorkan ke mulutnya. Tidak bisa menolak lagi, ia membuka mulutnya dan memakan bubur. Sesuap dua suap hingga bubur habis separuh.


"Sudah. Aku kenyang."


"Ini ada paracetamol. Minumlah agar demam mu sembuh."


Setelah Dhira meminum obat ia menunduk kepala menghindar dari pandangan Leo yang tak beralih darinya.


Ingin rasanya ia mengatakan apa yang telah dialaminya. Tapi merasa tidak perlu. Toh ia tidak akan mampu mengobati ibunya tanpa bantuan Leo. Sekarang usahanya adalah mengembalikan uang itu pada mami Leo. Ia yakin bila Leo tahu tentang niatnya mengembalikan uang itu, Leo akan menyuruhnya berhenti.


"Apa sekarang kamu sudah siap mengatakan apa yang terjadi kemarin? Kenapa kamu menghilang. Ponselmu juga mati."


"Ada sedikit urusan kemarin. Malah aku jatuh dan pingsan. Warga di sana membawaku ke klinik dan aku menginap di sana." Jawab Dhira dengan kepala tertunduk.

__ADS_1


Leo tidak menanggapi jawaban Dhira. Pemuda itu, hanya menatapnya terus seakan mencari kebenaran di wajah Dhira.


"Sekali lagi bila ada urusan telepon aku. Jangan pergi sendirian." Leo menarik tangan Dhira dan memeluknya. "Jangan menanggung masalah sendirian. Untuk apa ada aku kalau aku tidak bisa membantumu."


"Hiks hiks..." Hati Dhira justru terisak lagi. Keruwetan di kepalanya kembali bangkit dan membuatnya ingin menangis.


Ia tahu ketulusan Leo padanya. Tapi bagaimana ia menerima semua itu. Ia sudah tidak ada keberanian untuk melangkah bersama Leo selama uang dua milyar itu belum terbayar.


"Ssshhhhttt...sudah. Kepalamu bisa pening lagi. Kalau kamu belum siap menceritakan padaku tidak masalah. Jangan dipikirkan." Leo mengeratkan pelukannya. "Asal yang kamu alami bukan sesuatu yang mengancam jiwa dan nyawamu. Tidak apa apa kamu diam."


Dalam hati Dhira makin miris. Bisa saja ia bercerita soal kemarahan Meli atas uang yang telah habis demi ibunya. Pasti Leo akan membela dirinya dan menyuruhnya agar tidak memikirkannya lagi. Tapi hatinya tidak ingin seperti itu. Bila Leo membelanya lagi itu akan semakin memperbesar kebencian Meli padanya. Siapapun pasti marah di posisi Meli. Itu sebabnya ia semakin bertekad harus mencari cara agar uang itu bisa kembali.


Tengah hari terpaksa Leo meninggalkan Dhira. Tiba tiba ada panggilan dari Kim mengatakan ada hal urgent yang harus diurus olehnya. Terpaksa meninggalkan Dhira, walau hatinya berat meninggalkannya.


Pukul tiga belas, Dhira terbangun. Badannya sudah terasa segar dan sehat apalagi sudah mandi.


Ia duduk termenung memikirkan dari mana memulai mengumpulkan uang untuk membayar hutangnya pada Meli. Tak ada waktu untuk berlama lama, diambilnya ponsel miliknya dan menghubungi paman Bali.


Beberapa Minggu yang lalu ia sudah menyuruh paman Bali menawarkan kebun untuk di jual. Tapi tidak jadi, karena menurut Leo harga seratus lima puluh juta terlalu murah. Selain sayang karena hanya satu bidang tanah itulah harta Amelia. Sehingga penjualan kebun di tunda.


Tapi sekarang Dhira sudah nekad. Bagaimanapun hutang harus di bayar. Jika ada rejeki ia bisa menabung membeli kebun lagi untuk ibunya.


Bukan hanya kebun, rumah juga Dhira jual. Ia juga melarang keras paman Bali mengatakan apapun pada Leo. Ia tidak mau Leo ikut campur.


Semua serba di percepat, malam harinya sudah dapat kabar dari Lampung kalau rumah dan kebun ada yang mau seharga dua ratus juta. Dhira begitu senang ternyata dari kebun dan rumah dapat segitu. Tapi kemudian ia lemas mengingat itu tidak seberapa dibanding hutangnya.


Kini uang yang terkumpul sekitar seratus lima puluh juta ditambah tabungan dan perhiasan ibunya. Dhira menghapus air matanya sehabis menjumlahkan perkiraan uang yang sanggup dikumpulkannya. Dadanya terasa berat dan sesak memikirkan dari mana lagi ia akan dapat uang.


Bukan sedikit tapi masih sangat banyak. Akankah ia mampu mengumpulkannya apalagi hanya dalam waktu dua minggu.


Tiba tiba ia mendapat telepon dari paman Bali. Bertanya sebenarnya apa yang terjadi. Tak ada tempat buat melonggarkan pikirannya lagi selain paman Bali, diceritakannya semuanya. Tapi dengan syarat memohon jangan sampai memberitahukan pada Leo.


Ternyata ia mendapat tambahan rejeki, paman Bali dengan hati lapang, bersedia meminjamkan uang padanya. Jumlahnya cukup besar. Mungkin paman Bali akan menjual tiga bidang kebun miliknya. Tak bisa ditahan lagi, tangis haru Dhira pecah. Hanya tangisan yang mampu keluar dari mulutnya saking tidak tahu mau bicara apalagi pada paman Bali.


***


Dhira berdandan seperti biasa saat pergi bekerja. sebelum berangkat ia akan menghubungi ibunya. Sebisa mungkin dibuatnya wajahnya ceria tanpa beban. Sudah berapa hari ia tidak menghubungi ibunya. Kali ini ia melakukan video call agar bisa memastikan ibunya baik baik saja.


Setelah itu, ia mengambil tas hitam seukuran tas anak sekolah berisi uang yang telah berhasil dikumpulkannya. Lalu melakukan panggilan ke nomor Meli. Sengaja tidak di namainya agar Leo tidak tahu kalau dirinya berhubungan dengan maminya.


Kini ia sudah berdiri di atap cafe menunggu Meli datang. Terdengar derap langkah di belakangnya. Ia tidak perlu menoleh karena ia yakin itu adalah Meli.


"Oh tak ku sangka kau akan meneleponku." Meli mendekat dengan tatapan sombong. Ia melirik tas ransel di tangan Dhira. "Katakan ada apa?" Tanyanya dengan nada angkuh.


"Aku ingin membayar hutangku."


"Wah, ini baru beberapa hari, sungguh perfek. Tak ku sangka kau orang berduit. Dalam hitungan hari kau bisa mendapatkan uang yang banyak." Meli menampilkan senyum mengejek.


"Hutang harus dibayar." Dhira meletakkan tas itu di dekat kaki Meli. "Ini baru ada setengah dari jumlahnya. Yang setengahnya akan ku bayar dikemudian hari."


"Hahaha...sempat kagum aku padamu. Tapi ternyata hanya semu." Meli tidak menyentuh tas berisi uang itu. Ia malah menyepak tas itu ke arah Dhira. "Berikan saat semuanya sudah ada. Harus penuh dua M. Aku bukan penagih koperasi."


"Aku tidak mau tahu. Pokoknya itu aku serahkan. Tunggu beberapa hari lagi aku akan membayar sisanya." Dhira menyepak tas menirukan Meli. "Itu bukan barang ku." Dhira berbalik dan melangkah meninggalkan Meli.


"Apa kau bodoh? Bagaimana kalau aku mengambil uang ini lalu mengatakan, kau belum membayar hutangmu sedikitpun? Aku menagih mu dengan jumlah yang sama."


"Ini ada bukti kalau aku sudah menyerahkan uang itu padamu." Dhira melambaikan ponselnya yang masih merekam video mereka berdua sejak tadi. Lalu pergi meninggalkan Meli yang gusar.


"Dua hari lagi kutunggu sisanya! Jika kau tidak datang maka bersiaplah menerima hukuman dariku! Kau akan merasakan akibat dari kesombongan mu! Aku akan membuatmu hilang muka hingga kau ingin bunuh diri dari pada menanggungnya! Berikan lebih dari setengah lagi. Satu M dua ratus juta. Anggap lebihnya untuk bayar bunganya!"


"Ibu direktur yang terhormat ternyata sangat menyeramkan. Tidak sebaik yang terlihat. Tak ubahnya seperti lintah darat!"


"Benar benar gadis kurang ajar! Kau pikir kau siapa hah! Berani sekali kau! Lihat lah bagaimana aku membuatmu sengsara!" Teriak Meli.

__ADS_1


Tapi Dhira tidak mendengar apapun. Ia sudah hampir mencapai lantai bawah. Kakinya terus melangkah keluar dari cafe dengan wajah sedikit lebih cerah. Mungkin karena ia telah membayar sebagian dari hutangnya.


Sementara di belakangnya, Ara yang dari tadi mengikutinya tak henti henti memutar otaknya soal pembicaraan hutang piutang antara Dhira dan mami Leo. Mencoba menebak tapi tak ada kemampuannya untuk menyimpulkan.


Ia terus mengikuti Dhira hingga ke depan perusahaan. Setelah Dhira masuk ke dalam barulah Ara pergi.


"Kenapa Dhira punya hutang pada perempuan sombong itu? Dan itu di dalam tas duit semua? Ha? Sebanyak itu? Dan itu belum lunas? Masih satu miliar lebih? Dhira, sebenarnya kamu ini kenapa?"


Tanpa pikir panjang ia memacu mobilnya ke perusahaan papinya. Ia ingin menemui Jhon saat ini juga.


Setibanya di kantor Ara betapa terkejut ternyata papinya ada di sana. Ia langsung menunjukkan wajah marah dan membanting tubuhnya ke sofa.


Robert bagai kucing kedapatan mencuri ikan. Kebohongannya soal dirinya di Belanda kini terbongkar. Setelah menarik nafas panjang, Robert mendekat pada Ara yang bermain ponsel.


"Kenapa tiba tiba ke kantor?" Tanya Robert. Pria dewasa itu duduk begitu tenang dengan kedua telapak tangan bertautan.


"Kenapa? Apa kamu terkejut?"


"Tidak. Rencana Ku malam ini akan pulang ke rumah."


"Nggak usah pulang. Langsung aja balik lagi ke Belanda Sono! Emang siapa yang perduli sama kamu." Jawab Ara jutek.


"Hm...ku kira setelah marah selama dua bulan anak gadis ku ini sudah adem. Ternyata masih menyala seperti api." Robert tersenyum sembari mengelus kepala Ara.


"Awas. Aku bukan anak kecil lagi."


"Hehe...putriku sangat galak dan pendendam. Makanya aku ragu pulang ke rumah. Dia pasti masih marah dan belum memaafkan aku."


Ara mencebik. Ia sungguh kesal dengan papinya saat ini. "Jhon cairkan aku duit yang banyak. Aku mau keliling dunia ini. Makin stres rasanya setelah melihatnya. Mungkin lebih baik aku pergi jauh agar kalian semua tenang."


Jhon yang sedang menulis di kertas mengangkat wajahnya. Ia tidak mengerti maksud Ara.


"Ayo, aku juga mau liburan. Capek bekerja terus. Kita berdua berkeliling dunia." Celoteh Robert dengan senyuman khasnya. Matanya terlihat tidak sedang bercanda.


"Malas! Aku mau jalan sendirian. Semoga aja ada kecelakaan biar aku mati sekalian." Bentak Ara.


"Ara! Kau bicara apa!" Seru Robert. Kilat amarah di mata pria itu langsung bangkit.


Ara terdiam. Ia tidak menyangka papinya akan semarah itu. Tatapannya langsung turun ke lantai dengan kepala tertunduk. "Aku kesal dengan hidupku yang sekarang. Tidak kuliah, tidak bekerja, bingung mau ngapain." Ucap Ara pelan.


Robert menghela nafas. Lalu diletakkannya tangannya di kepala Ara. "Maafkan Papi. Tak kusangka kau tertekan begini. Sekarang katakan apa kemauan mu."


Ara melirik papinya tanpa menggerakkan kepalanya. "Aku mau kuliah." Jawabnya pelan.


"Papi setuju. Sekarang juga Papi akan menyuruh Jhon mengurusnya ke kampusmu."


"Aku juga mau berteman dengan Dhira dan Vanya. Hanya mereka temanku yang baik."


Robert lagi lagi menghela nafas panjang. "Baiklah. Tapi ada syaratnya."


Wajah Ara langsung sumringah. "Apa Pi? Katakan aku akan mendengarkan Papi."


"Mereka berdua suruh pindah ke perusahaan ini."


"Syarat apa itu? Kenapa harus begitu?"


"Itulah syaratnya. Jangan banyak tanya."


"Itu sulit Pi. Bagaimana kalau perusahaan tempat saat ini tidak memberi ijin."


"Itu urusan mereka. Kalau mereka tidak bersedia, lupakan teman mu itu."


"Papi tidak masuk akal!"

__ADS_1


"Udah begini aja. Aku tidak akan berteman dengan mereka. Tapi aku mau uang banyak."


__ADS_2