Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Mengakuinya


__ADS_3

"Baiklah. Biar diatur oleh Jhon."


"Yeeee...thanks Papi...! Kapan Papi pulang? Udah tidak di Belanda tapi sekarang di Bali terus."


"Bersabarlah. Papi lagi sibuk di sini. Kamu menurut lah pada Jhon. Dia ganti Papi selagi Papi tidak ada di sana."


"Oke Pi..." Ara begitu senang akhirnya permintaannya dikabulkan. Pasti hidupnya akan lebih menyenangkan setelah ia boleh berteman dengan Dhira lagi. Ternyata kegigihannya membuatkan hasil. Ia telah berhasil merubah pandangan Papinya terhadap Dhira.


"Oh hari-hari bahagia....datanglah! Hampiri kami yang membutuhkan mu!!!"


Ara berteriak keras sambil berjoget-joget. Ia merasa telah berhasil melewati ujian terberat.


***


Akhirnya Dhira diterima di perusahaan ARA sebagai resepsionis. Besok ia sudah bisa masuk bekerja. Tidak ada yang sulit selama dirinya di interview. Dalam hati Dhira sudah merancang segala tindakan yang akan dilakukannya.


"Kenapa harus bekerja di sana? Di perusahaan kita juga kamu masih bisa masuk. Mau diposisi mana aku siap Andhira." Leo sangat keberatan Dhira masuk ke perusahaan ARA.


"Setelah tidak masuk berhari hari tidak bagus untukku masuk lagi. Itu terlihat semau ku sendiri. Dan itu jelas sudah melanggar aturan perusahaan. Yang lainnya bisa protes dan menganggap perusahaan mu mendiskriminasikan karyawan."


Leo yang tegas, bahkan terlalu tegas pada karyawannya akan terlihat buruk bila masih mempertahankan Dhira di perusahaan itu.


"Itu bisa ku atasi. Kamu tenang aja." Bujuk Leo.


"Tidak Leo. Aku sudah memutuskan itu. Lagian aku berniat mulai mendekati Ara. Aku akan membantumu. Ini kesempatan kita untuk membuat Ara tahu siapa dirinya yang sebenarnya." Jawab Dhira dengan manik mata bergerak gelisah. Sebenarnya ada perasaan tidak enak di hatinya. Niatnya yang sebenarnya tidaklah sesuai dengan pengakuannya pada Leo. Ia mendekati Ara demi membuat Meli gentar. Sehingga mengaku atas perbuatannya dan melepaskan ibunya.


"Kenapa terburu buru. Ibu masih belum ditemukan. Fokuslah dulu pada ibu." Ujar Leo mirip protes. Tapi nada pria itu selalu lembut dan terkesan sabar.


"Iya. Pencarian ibu tidak mungkin diabaikan. Itu akan tetap kulakukan." Dhira mengalihkan matanya ke arah lain karena Leo menatapnya sangat lekat. Membuatnya makin gelisah. Takut isi kepalanya yang sebenarnya ketahuan.


"Hahhh... kenapa perasaanku nggak enak. Bagaimana kalau ayah palsu Ara menyadari tujuanmu. Kamu bisa dalam bahaya. Soal Ara adalah tugasku. Jangan menambah tugas dan beban mu dengan perkara keluargaku. Biar aku yang mengurus itu. Masih ada banyak waktu untuk tugas itu. Jadi kalau bisa jangan masuk kesana."


"Tidak bisa lagi, Leo. Semua sudah terlanjur terjadi. Besok aku sudah harus masuk. Percayalah. Tidak akan terjadi sesuatu yang buruk. Aku pasti bisa mengatasinya. Lagian kamu kan selalu ada dan siaga untukku bila sesuatu terjadi." Dhira memasang senyum termanisnya dengan wajah menggemaskan.


"Aku hanya takut terjadi hal buruk padamu. Aku akan sangat merasa buruk bila kamu kenapa-kenapa."


"Tenang aja. Ku pastikan itu tidak akan terjadi."


Leo tertunduk kalah. Ia tidak bisa memaksa Dhira. Ia tahu betul kekasihnya sangat keras kepala. Bila sudah memutuskan maka tidak ada yang bisa mengubahnya. A adalah A, B adalah B. Seperti itulah watak Andhiranya itu.


"Jaga dirimu baik baik. Aku khawatir mereka melukaimu karena hubungan kita. Lelaki itu pasti menjaga ketat Ara dari orang luar terlebih dari pihak keluarga kami. Makanya mereka menolak persahabatan kalian."


"Aku bisa mengatasi itu. Tidak usah berlebihan." Dhira menenangkan Leo dengan menggenggam tangannya erat erat.


"Kalau ada apa-apa segera menghubungiku."


Dhira mengangguk. 'maafkan aku tidak bisa berterus terang padamu tujuanku masuk kesana. Ibumu harus diberi pelajaran.' Dhira hanya bisa bicara dalam hati. Ia tidak mau melukai hati Leo. Pria ini terlalu baik untuk disakiti.


***


Di kamarnya Meli terduduk dengan wajah pucat pasi. Dua buah foto yang dikirimkan Dhira berhasil membuat dirinya syok. Gadis itu berfoto di depan perusahaan ARA bersama Ara, putri yang dilahirkannya dengan taruhan nyawanya.


Di wajah pucat itu, mengalir bulir bening tanda disadarinya. di usapnya layar ponselnya yang menampilkan wajah Ara yang sangat cantik.


'Huhhuhu... putriku. Kau bahkan udah besar dan tumbuh dengan baik. Hiks hiks...seandainya Mami bisa melakukan sesuatu untuk mengambil, dari dulu udah Mami lakukan.'

__ADS_1


'Maafkan Mami sayang...maafkan Mamiiii...'


'Hiduplah dengan baik di sana sayang...Mami selalu mencintaimu. Mami selalu menyayangimu. Kau adalah putriku tersayang...'


Meli tidak bisa menahan tangisnya di dalam hati lagi, ia akhirnya terisak-isak sembari berlari masuk ke kamar mandi. Di sana ia memuaskan tangisannya yang tertahan. Menangis kuat tanpa seorang pun yang tahu.


Setelah merasa baikan, ia keluar dan duduk di sofa membaca pesan dari Dhira.


'Lihat bagaimana mudahnya caraku masuk ke sini. Tunggulah beberapa saat lagi. Aku akan membuat hidupmu hancur! Keluargamu akan musnah!'


Kalimat yang disertakan di foto itu sangat mengganggu pikirannya. Tak disangkanya Dhira secepat itu bisa masuk ke perusahaan ARA dimana, sang pemilik putrinya berada.


Rupanya Dhira tidak main main.


Meli sangat marah sampai-sampai ia mengamuk dan membanting semua yang ada di kamarnya. Ia berteriak frustasi. Betapa sekarang ia ingin membuat perhitungan pada gadis itu.


"Gadis kur*ng ajar!!! Beraninya kau!!! Lihat bagaimana aku membuatmu menyesal!! Selama ini ancaman ku hanya kau anggap angin lalu? Sekarang aku akan mengh*bisimu!!"


Dengan tangan gemetaran ia mengambil ponselnya,


'temui aku di cafe.'


Meli mengirimkan pesan singkat ke nomor Dhira. Ia tidak bisa diam saja. Ia harus bertindak agar Dhira tidak melakukan sesuatu yang membuat mereka hancur.


Sementara Dhira di tempat kerjanya mulai sedikit ada harapan. Ternyata Meli tidak sesulit yang dibayangkannya. Hanya dengan menggunakan foto itu, Meli mengajaknya bertemu. Wanita itu telah berubah pikiran karena ancamannya.


Begitu waktu jam kerja selesai, Dhira segera menuju cafe. Ia tidak sabar lagi akan informasi tentang ibunya.


"Duduklah. Kita bicarakan ini dengan baik." Sambut Meli saat ia sudah tiba.


"Langsung aja." Ucap Dhira.


"Jangan membuang waktuku. Katakan dimana ibuku!" Sentak Dhira. Ia tidak bisa berbasa-basi.


"Makanya duduk. Kau harus mendengarkan kata kataku dengan baik."


Dengan kesal Dhira duduk. Diambilnya gelas dihadapannya dan meneguk minuman itu.


Tapi baru memasuki rongga mulutnya ia berhenti dan mengeluarkan kembali Nescafe yang diminumnya secara perlahan ke dalam gelas sambil melirik ke arah Meli. Tiba tiba ia takut Meli memasukkan sesuatu ke dalam minumannya itu. Wanita licik ini bisa saja melakukannya demi mengalahkan dirinya.


Tanpa merasa malu atau tidak enak, ia terus mengeluarkan dari mulutnya secara perlahan agar tidak tumpah melewati pinggiran gelas dengan tatapan mata menatap tajam ke wajah Meli.


"Heh, otakmu sungguh bermasalah! Terserah apa pemikiran mu. Aku hanya ingin bilang, jangan coba coba melakukan hal bodoh. Berpikirlah sebelum bertindak!"


"Aku tidak peduli apapun demi menyelamatkan ibuku. Demi keluargaku, aku rela melakukan apapun. Aku tidak takut." Tantang Dhira. Ia sengaja menyindir Meli.


"Kebodohanmu akan melukai orang yang tidak bersalah. Aku tidak melakukan itu. Kamu salah orang. Niatmu balas dendam mu tidak tepat sasaran. Orang yang tak bersalah menjadi tumbal mu. Sementara pelaku aslinya terbebas."


"Jangan banyak bicara! Bukankah kau telah membayar Rendra untuk menangkap ibuku? Aku ada bukti kau terlibat bahkan menjadi dalangnya!" Ungkap Dhira. Kedua matanya berkobar-kobar menatap mata Meli dengan amarah.


Meli terlihat terkejut. Bahkan mulutnya menganga. Dan itu sangat jelek di mata Dhira. Ingin sekali ia memasukkan tisu yang digulung-gulung ke dalam mulutnya itu.


"Kenapa? Kau tak menyangka aku menemukan Rendra? Lihat bagaimana aku membuatnya mengaku!" Dhira menunjukkan video saat dirinya menghajar Rendra.


Wajah Meli gugup dan tidak bisa mengatakan apapun.

__ADS_1


"Semakin kau membuatku kesal, akan ku tunjukkan ini pada Leo dan suamimu."


"Dia mengada-ngada! Dia saja sudah lama tidak terlihat. Kau percaya dengan kata-katanya?" Tanya Meli setelah berhasil menguasai dirinya.


"Ya aku percaya. Lihat aja bagaimana caraku membuatmu mengaku. Dasar penj*hat! Kau bahkan pernah meleny*pkan seseorang!! Tunggulah waktumu makin dekat. Kau akan mendekam di penjara dengan rasa dipermalukan!!"


Mata Meli memerah menahan amarah. Ia sangat tidak terima dirinya dimaki dan diancam oleh Dhira. "Kau sungguh tidak bisa ditangani dengan lembut! Aku sudah berusaha memberitahumu tapi lidahmu asal berucap!" Harga diri Meli terasa dicacah, dimaki dengan kasar oleh gadis ingusan dibandingkan usianya.


"Dengar baik baik!" Sambung Meli. Auranya berubah secara drastis. Matanya mengungkapkan kemarahan hebat sementara wajahnya mengeras sehingga terlihat menyeramkan tapi bibirnya berusaha tersenyum. "Sedikit saja kau mengusik tentang keluargaku, aku akan membuat ibumu menanggung akibatnya! Kau tidak akan menang melawanku. Ny*wa ibumu ada di tanganku. Sedikit saja kau macem macem aku akan menyakiti ibumu hingga tak mampu memanggil namamu. Jika itu yang kau inginkan maka silahkan lanjutkan! Kita akan berperang hingga menjadi pemenang. Kita buktikan siapa yang akhirnya m*ti duluan! Ibumu atau kau!"


Kedua tangan Dhira bergetar. Akhirnya pengakuan itu keluar juga dari mulut Meli. Ingin sekali saat ini juga ia memukul Meli hingga babak belur. Tapi ditahannya demi nyawa ibunya. Salah sedikit, bisa bisa ibunya yang menerima akibatnya.


Kedua matanya memerah dan digenangi air. Bibirnya bergetar tertahan. Digigitnya bibir nya kuat kuat untuk menahan diri. "Apa salah ibuku? Kenapa kau melakukannya?" Tanya Dhira pelan tapi cukup tajam dan penuh tekanan.


"Aku sedang malas berbicara! Pikirkan baik baik langkahmu yang selanjutnya! Selama kau terkendali ibumu akan aman." Meli berdiri dan pergi.


Dhira meninju meja hingga suaranya berisik dan mengundang mata para pengunjung. Ia berlari mencapai Meli yang sudah mencapai pintu.


"Tunggu!" Dhira menghadang langkah Meli.


"Minggir! Sudah kubilang jangan membuatku lepas kendali! Aku tinggal memberi kode maka ibumu bisa berteriak kesakitan sekarang juga." Suara Meli begitu pelan dan mendayu tapi cukup menakutkan.


"Kau cukup pintar dan cerdik. Mengerti maksudku kan?! Gunakan otakmu sebelum bertindak!" Meli mengetuk kening Dhira beberapa kali menggunakan jari telunjuknya. "Dorrrr!Atau bom waktu akan meledak!"


Dada Dhira turun naik disertai nafas memburu. Emosinya sudah di ubun-ubun siap meledak. Tapi lagi lagi ditahannya, takut ibunya terluka. Ia hanya bisa meremas jemarinya sendiri hingga buku-bukunya memutih.


"Berengs*k! Awas saja ibuku terluka sedikit saja. Akan ku bun*h kedua anakmu!"


Meli hanya nyengir dengan angkuhnya. Ia merasa benar benar sudah memegang kartu kemenangan. Ia melenggang meninggalkan Dhira yang bagai terbakar hidup-hidup.


Dari kejauhan, di dalam mobil Jhon yang melihat pertemuan Meli dan Dhira menggertakkan gigi. Ia tidak habis pikir kenapa gadis seperti Dhira begitu bersemangat mencari masalah.


"Wanita itu mengirimnya untuk mengacau pak Robert dan Ara. Baiklah mari kita lihat seperti apa usahanya mengganggu kami." Ujarnya pada dirinya sendiri. Kecurigaannya kini makin besar akan niat Dhira masuk ke perusahaan ARA.


Sedangkan Dhira berlari kembali masuk ke cafe terus ke kamar mandi. Di sana ia menangis sambil membasuh wajahnya. Ia sangat bingung cara menyelamatkan ibunya.


"Apa yang harus ku lakukan?"


"Ibuuuu tolong baik baik saja. Bertahanlah. Jangan menyerah." Ratapnya dengan suara yang begitu sedih. Ia takut, fisik ibunya tidak kuat sehingga terjadi hal buruk yang tak bisa dibayangkannya.


***


Setiap hari Dhira menunggu kabar dari Rendra soal pergerakan Meli. Ia sangat berharap Rendra bisa menemukan tempat persembunyian ibunya lalu ia akan membebaskan ibunya secara diam diam. Namun hingga kini ia belum mendapat kabar apapun. Setiap ditanya, Rendra selalu mengatakan Meli tidak pernah ke tempat lain selain ke perusahaan dan salon.


Hari ini ia bertekad akan jujur pada Leo soal Meli. Ini satu satunya cara agar Meli mengalah. Biarlah Leo yang turun tangan. Masalah ini terlalu pelik untuk diatasinya sendirian.


Tapi rencananya tidak jadi karena kedatangan paman Bali dan bibi Ayunda. Selain itu Leo juga tidak bisa datang menemaninya malam ini karena ada pekerjaan.


"Bagaimana perkembangan kabar ibumu?" Tanya paman Bali.


Mereka sudah dapat kabar dari Dhira soal hilangnya Amelia.


"Belum ada Paman. Tapi aku sudah tahu siapa pelakunya. Hanya saja tidak ada jalan untuk melawannya."


"Hah? Siapa pelakunya?"

__ADS_1


"Seorang wanita gila. Baru sore ini kami bertemu dan mengancam ku agar jangan melakukan apapun agar ibu tidak terluka."


"Hahhh...nasib ibumu sungguh menyedihkan, dari dia mengandung mu ketenangan hidupnya telah dirampas. Makanya dia memilih hidup di pegunungan Lampung. Menyembunyikan dirinya dari para penjahat itu." Paman Bali mendesah panjang dan berat.


__ADS_2