Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Kisah Robert dan Araysa 13


__ADS_3

"Ah yang benar? Kamu bisa kena sanksi asal menyebar gosip yang tidak benar." Robert merasa itu hanya gosip yang ingin menjatuhkan nama Meli.


"Itu kenyataan. Suaminya pemilik perusahan Garmen yang lagi berkembang pesat sekarang ini. Dia temanku sendiri. Aku tahu saat mereka menikah."


Robert begitu tercengang sampai tidak bisa berkata kata. Ia sama sekali tidak pernah mendengar hal itu.


"Aku mengerti jika kamu sulit percaya. Apalagi jika kamu sudah terlanjur cinta padanya. Tapi dia bukan wanita baik. Dia tega meninggalkan anaknya mulai dari lahir. Walau hanya sekedar menampakkan wajahnya pada putranya tidak pernah dilakukannya. Apa ada lagi manusia yang paling kejam darinya?"


"Apa mereka menikah terpaksa?" Tanya Robert. Ia memang sudah ada rencana membuka hati pada Meli.


"Bisa dibilang begitu. Tapi semua berawal dari Meli. Ia bermain api tapi tidak mau terbakar. Ia berpacaran dengan Rudy yang usianya lebih tua darinya tujuh tahun. Aku tahu Meli hanya ingin memoroti uang Rudy karena dia kaya. Entah bagaimana ceritanya akhirnya hubungan mereka lebih dalam dan akhirnya Meli hamil. Karena kejadian itu, mereka menikah secara tertutup atas permintaan Meli. Lima bulan kemudian ia melahirkan seorang putra dan langsung meminta cerai. Rudy tidak menuruti permintaannya, tapi Meli nekad pergi, meninggalkan semua tentang suami dan anaknya."


"Apa? Benarkah seperti itu?"


"Iya. Temanku Rudy, tidak menceraikan Meli atas permintaan orang tua Meli sendiri. Rudy dapat suntikan dana besar karena menuruti orang tua Meli. Jadilah hingga sekarang mereka masih berstatus suami istri walau tidak pernah bersama."


"Separah itu? Tapi kami termasuk memiliki hubungan keluarga yang dekat, bagaimana mungkin mendiang orang tuaku tidak tahu soal itu?" Robert sungguh tidak percaya.


"Mereka menikah di kampung orang tua Rudy. Selama sisa waktu kehamilannya ia berada di kampung hingga melahirkan. Waktu itu Meli mengaku sakit dan butuh perawatan secara tradisional. Mungkin kamu pernah mendengar kabar itu."


"Ah iya. Begitu ujian pelulusan menengah atas, dia memang sempat sakit dan di rawat di kampung selama lima bulan."


"Iya. Makanya aku ceritakan padamu. Ku rasa kamu perlu tahu tentang itu."


"Iya. Tapi itu sangat mengejutkanku. Sungguh diluar dugaan."


"Sebenarnya, Rudy sudah tidak peduli dengan Meli. Dia juga tidak pernah membahas soal statusnya. Ia hanya fokus pada putranya."


"Terimakasih perhatiannya. Jika kau tidak mengatakan apapun, mungkin saya akan menjadi orang bodoh."


"Oke. Hanya itu yang ingin ku katakan. Soal keputusannya itu hak mu. Kalau memang kalian saling mencintai tidak ada yang bisa melarang. Hanya saja kau berhak tahu kalau Meli berstatus istri seseorang."


Robert duduk sendirian merenungkan apa yang barusan didengarnya. Sungguh ia tidak pernah menyangka Meli sudah menikah bahkan punya anak.


Tanpa pikir panjang, ia pergi ke rumah Meli untuk meluruskan apa yang di dengarnya. Ia tidak mau disebut perebut istri orang nantinya jika ia terlanjur menikahinya.


Kebetulan sekali, saat tiba di rumah itu, Meli ada bersama kedua orang tuanya.


"Nak, Robert. Tumben pulang kerja langsung ke sini? Apa begitu kangen pada Meli. Dari pada ditahan-tahan, lebih baik halalkan aja hubungan kalian." Mami Meli dengan senyumnya membuka jalan bagi pemuda yang sanga dicintai putrinya itu.


Robert tidak menanggapi. Ia duduk dengan tenang.


"Kenapa wajahmu serius sekali. Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" Tanya Meli. Wanita itu langsung ambil posisi duduk menempel di samping Robert.


Tiba tiba Robert memberi jarak diantara mereka. Ia minggir dan duduk lebih pinggir. Ia meras tidak sepantasnya sedekat itu dengan istri seseorang.

__ADS_1


"Ada apa sih? Kamu selalu aneh dan dan berulah tiap hari." Meli menggeser duduknya menjadi lebih rapat lagi dengan Robert.


"Ah, begini. Sebaiknya kita jaga jarak. Ternyata statusmu sudah tidak pantas lagi untuk bersama lelaki lain. Kamu sudah bersuami dan punya anak. Aku merasa seperti orang jahat mengambil istri orang lain." Dengan gamblang Robert mengungkapkan isi hatinya.


Sedangkan ketiga pemilik rumah tiba tiba bungkam dengan wajah memerah dengan mata khawatir.


"Apa maksudmu? Kenapa berkata begitu." Tanya Meli dengan nada canggung.


"Aku yang terlalu bodoh atau kalian yang ingin menipuku? Yang pasti aku tidak akan berhubungan dengan seorang wanita yang sudah bersuami. Ku harap kalian mengerti. Mulai hari ini kita tidak ada hubungan apapun. Mari kita lanjutkan langkah kita masing masing. Aku permisi." Robert bangkit dari kursinya.


"Robert. Tunggu! Dari mana kamu tahu soal itu?" Tanya Meli ia memegang tangan Robert agar lelaki itu tidak melangkah.


"Kenapa itu penting bagimu?" Tanya Robert pelan.


"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membohongimu. Tapi sumpah, itu hanya kesalahan. Aku tidak ada hubungan apapun dengannya. Kami sudah lama tidak bertemu. Aku mencintaimu Robert. Hanya kamu!" Meli meyakinkan Robert.


"Itu urusanmu. Dan soal cinta jangan ungkapkan itu padaku. Aku tidak ingin ada hubungan apapun denganmu. Aku sebenarnya, heran pada diriku sendiri, kok bisa menyetujui permintaan mu untuk melamar mu." Itu memang benar, dirinya ingin melakukan lamaran terhadap Meli atas bujukan wanita itu.


"Tidak!" Teriak Meli. Ia menangis dan bersimpuh di kaki Robert. "Aku ingin kamu! Aku hanya menyukaimu!"


"Aku tidak merasakan apapun terhadapmu. Aku hanya tidak mau melihatmu lagi."


"Tolong. Jangan begini. Apakah hanya karena statusku janda sehingga kamu meniadakan hubungan kita selama ini?"


"Kenapa? Bukankah kamu bilang akan melamar ku? Apa itu kalau bukan cinta?"


"Entahlah. Aku juga bingung. Yang jelas setelah tahu kamu sudah bersuami aku seperti tersadar bahwa hubungan kita sebenarnya tidak benar. Aku mau pergi." Robert melepaskan genggaman Meli dari lengannya.


Meli berteriak histeris. Ia tidak rela hubungannya yang belum sempat terbangun hancur begitu saja. Ia sungguh tidak berhubungan lagi dengan suaminya itu.


"Papi, tolong yakinkan Robert. Aku hanya mau dia. Aku hanya akan bersuamikan dia." Tangis Meli pada kedua orang tuanya.


"Sudahlah. Sebenarnya hanya mempermalukan diri sendiri, kamu bertingkah seperti ini. Lupakan dia. Sudah ku bilang sejak awal, dia bukan sandingan mu. Seandainya kamu masih gadis Papi bisa mempertahankan keinginan mu. Tapi apa yang bisa membuat kita bertahan? Emang kenyataannya kamu sudah bersuami." Papinya sebenarnya sudah sering menasehati Meli agar sadar dan kembali ke suami dan putranya.


Tapi Meli sangat keras kepala dan tidak bisa diatur. Terlalu ngotot dan tidak tahu salah. Sehingga tibalah waktu yang dikhawatirkan papinya. Itu sebabnya ia melarang Rudy menantunya menceraikan putrinya. Bagiamana pun, ia sudah bisa memprediksi nasib anaknya nantinya. Ia takut bila sudah tak bersuami tidak punya apa-apa lagi selain otak bodohnya. Ia yakin, setelah mengalami penolakan, putrinya akan sadar dan mau kembali pada suaminya.


"Meli, sadarilah Nak, kamu itu sudah menjadi orang tua seorang anak. Suamimu sangat baik. Dia juga bermasa depan bagus. Kenapa kamu tidak tunduk padanya? Malah mengejar Robert yang tidak mungkin kamu miliki." Maminya mencoba menasehatinya.


"Aku yang menjalani hidupku. Aku yang tahu siapa yang cocok denganku! Apa Mami bilang? Rudy? Aku tidak sudi melihatnya. Apalagi hidup bersamanya. Dan satu lagi soal anak. Itu hanya kesalahan. Itu hanya masa lalu. Aku hanya ingin Robert. Dia yang terbaik dan terkaya. Lihatlah, diam masih muda tapi sudah punya harta berlimpah. Hanya aku yang selalu berada di dekatnya. Aku ingin menjadi istrinya dan menjadi ibu dari anak anaknya!" Teriak Meli seperti orang kesetanan.


Plakkk...


Tidak tahan lagi, papinya kehilangan kendali. Ia menampar Meli sekuatnya hingga anaknya itu terbanting ke lantai keramik.


"Papi..." Maminya berteriak. Tidak percaya suaminya memukul putri semata wayang mereka. Padahal selama ini, bagaimana nakal dan manjanya Meli, suaminya tidak pernah memukulnya. Paling menasehatinya dengan sabar.

__ADS_1


"Kamu sungguh gila! Sudah ditolak begitu masih berani mengatakan akan menjadi istrinya? Apa otakmu itu sungguh tidak ada, hah!" Teriak papinya sambil menunjuk kelapa Meli.


"Papi itu yang tidak bisaan. Bukannya membujuk Robert malah memarahiku!" Meli melawan. Bukannya sadar meski sudah ditampar.


"Oh Tuhan...dari mana aku mendapatkan anak bebal ini!!!! Hanya satu tapi tidak bisa diatur!" Papinya malah pergi meninggalkan Meli.


Mungkin tidak tahu bagaimana cara menghadapi anaknya itu lagi. Bila terus dihadapkan, bisa bisa ia memukuli putrinya hingga mati. Bila anaknya mati atau cacat dirinya sendiri juga yang rugi nantinya. Salah nya juga yang terlalu memanjakan Meli dari kecil. Karena Meli hanya seorang dari buah cintanya dengan sang istri membuatnya salah mengasuh anaknya itu. Dulu banyak sanak saudara yang protes caranya mendidik putrinya. Tapi ia tersinggung, menganggap mereka iri pada dirinya yang sanggup melakukan apapun terhadap putrinya. Sekarang barulah ia menyesal, ternyata dirinya sudah salah selama ini. Putrinya sekarang menjadi bebal, tidak tahu malu dan sangat egois. Meski sampai berbuih mulutnya menasehatinya, tak sedikitpun yang didengar oleh Meli.


***


Sejak kejadian itu, Robert enggan bertemu dengan Meli. Ia sungguh tidak ingin mengenalnya lagi. Untuk menghindarinya, ia menyibukkan diri bekerja. Hanya seperlunya ke kampus lalu segera pulang.


Meli sendiri bagai orang kehilangan benda permata. Sepanjang hari ia mengejar Robert namun tak kunjung berhasil. Ia tidak mudah menyerah, segala usaha dilakukannya untuk bertemu Robert.


Bertambah pula masalah yang dihadapi oleh Meli. Tiba tiba ada penelepon anonim yang memintanya mengirim uang banyak agar kejahatan yang pernah dilakukannya tidak terbongkar.


Awalnya ia hanya menanggapi itu sebagai keisengan. Namun saat orang tersebut menyebut nama Araysa ia langsung dilanda ketakutan hebat.


"Hei siapa kamu! Siapa Araysa?" Bentaknya pada si penelepon.


"Hah apa kamu pura pura lupa? Araysa, wanita hamil yang kamu bunuh lalu mayatnya di buang ke laut." Setelah beberapa kata, ia baru mengenali suara Jac.


"Diam! Apa maumu!"


"Aku mau uang."


"Dengar, kalian sudah mendapat upah masing masing dengan jumlah yang besar. Jadi, stop meminta uang dariku! Aku tidak punya uang lagi!"


"Tidak bisa. Pokoknya aku mau uang. Jika tidak ada hingga dua jam, siap-siaplah polisi akan menjemputmu. Aku akan menyerahkan rekaman detik detik kamu membunuh mereka!" Sambungan telepon putus.


"Aaaa...! Sialan!!!" Meli berteriak geram. Ia sungguh telah dipermainkan. Padahal sesuai janji, mereka sudah selesai saat pembayaran itu.


Terpaksa saat itu juga ia menjual perhiasan dan barang barangnya yang bisa dijadikan uang. Ia tidak berani minta uang pada orang tuanya karena masih marah. Juga belum lama ia meminta uang dengan jumlah banyak yaitu saat memberikan upah Jac dan Omeng.


Dua jam berikutnya ia bawa uang lima juta dan membungkusnya ke dalam kresek. Lalu mengantarnya ke sebuah warung nasi dan meletakkannya di tong sampah sesuai dengan perintah Jac.


Ia masuk ke mobilnya dan pergi dari sana. Ia berniat menunggu untuk melihat siapa pelakunya. Tapi lelaki itu menelpon menyuruhnya pergi dengan ancaman yang tak mampu dilawannya.


Sehabis dari warung nasi, ia memacu mobilnya ke arah perusahaan Robert. Ia masih rutin mencari lelaki pujaannya walau tidak membuahkan hasil.


Ponselnya tiba berdering lagi. Dari Jac.


"Apa ini? Aku minta lima puluh juta. Kenapa hanya ada lima juta? Kamu berani menipuku!"


"Brengs*k! Itu sudah banyak. Aku tidak punya uang sebanyak itu!" Teriaknya tanpa sadar ia sudah berada di depan perusahaan, dan beberapa orang menatapnya dengan tatapan heran.

__ADS_1


__ADS_2