
Mendengar ada suara lain di sampingnya, Amelia melirik dan melihatnya. Tapi ia tidak mengenali wajah itu. Lalu sesaat kemudian, ia mengingat suara yang barusan di dengarnya. Tiba tiba ia matanya membeliak dengan wajah pucat pasi disertai mulutnya yang menganga. Ia bangun dengan gerakan tiba-tiba dan berniat turun dari ranjang. Sedangkan seluruh tubuhnya gemetaran bahkan terlihat jelas dari tangannya yang berpegangan di selimut.
"Sayang...jangan takut. Kamu aman denganku. Aku yang menyelamatkanmu. Aku tidak pernah ingin kamu celaka. Aku sangat merindukanmu. Aku...sangat terlambat menemukanmu. Aku..." Tangis Robert menjadi lebih keras. Ia berbicara dengan sangat cepat takut Araysa nya keburu pingsan lagi.
Gerakan Amelia terhenti. Padahal ia tinggal berdiri. Kedua kakinya sudah menggantung di sisi ranjang.
Robert memegangi kedua kaki Amelia Ia menangis kuat dan menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut Amelia. "Maafkan aku yang bodoh ini. Maafkan aku, tidak bisa melindungi mu, maafkan akuuuu....hu...hu...hu..."
"Ma-maaf, Anda siapa?" Tanya Amelia. Walau dalam hatinya sudah bisa menebak siapa lelaki dihadapannya.
"Aku Robert. Robert Rabiga. Coba tatap mataku, lihatlah aku Araysa." Robert melebarkan matanya, mencoba menunjukkan dirinya pada Amelia.
"Aku tidak mengenalmu. Tolong menyingkir, aku mau pulang." Bukan hanya tubuhnya yang bergetar tapi suaranya pun bergetar.
"Kamu sudah aman. Tidak akan terjadi apa-apa. Kamu baru sadar, nanti setelah lebih sehat aku akan menemanimu pulang."
Amelia menggeleng. Di hatinya saat ini hanya ada keinginan pulang. Pulang ke Lampung dan hidup aman di sana. Ia tidak akan tertipu lagi. Meski itu Robert. Cukup sekali ia menjadi orang bodoh dan lemah. Lebih baik dirinya berpura-pura tidak mengingat Robert.
"Rasanya masih seperti mimpi melihatmu. Sekali ini aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi. Aku akan menjagamu segenap hidupku." Ujar Robert.
'Tidak. Dia tidak boleh tahu aku punya seorang putri. Dhira bisa diambilnya dariku. Aku hanya memiliki Dhira. Dhira adalah milikku.' Tiba-tiba Amelia teringat dengan putrinya.
'Anakku, tolong jaga dirimu baik baik. Ibu akan langsung pulang ke Lampung. Setelah ibu tiba di sana, ibu akan mengabari mu. Ibu tidak mau lelaki ini melihatmu.'
Amelia tidak akan bisa melupakan yang sudah terjadi. Betapa dua manusia yang jahat pernah berusaha merenggut nyawanya dan ayahnya. Selamanya ia tidak akan bisa melupakan itu.
"Anda salah orang. Aku tidak mengenalmu. Aku mohon aku ingin pulang." Pinta Amelia dengan suara memelas.
Kedua mata Robert menyipit. Ia bangkit dari lantai dan membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan Amelia.
"Lihat baik baik, ini aku. Ini..." Robert menyentuh kumis dan janggutnya yang rapi. Kedua matanya mengharapkan Araysa nya mengenalinya.
"Antarkan alat cukur ku kemari!!!" Tiba-tiba Robert berteriak.
"Ba-baik Pak." Terdengar sahutan dari luar pintu.
"Dengar, aku sangat berterimakasih Anda telah menolongku. Tapi tolong lepaskan aku. Aku bukan wanita yang Anda sebut. Aku ingin pulang ke daerahku." Setelah tarik nafas beberapa kali, Amelia bisa berbicara tenang dan berusaha meyakinkan Robert.
"Tidak. Kamu adalah Araysa. Kamu tidak akan kemana-mana. Ini adalah rumahmu. Bahkan ayahmu pun ku makamkan di tanah ini. Ini perkebunan ayahmu. Tanah warisan dari kakek mu. Kamu sendiri yang bercerita padaku. Lihatlah ini desa Cempaka. Kita berada di Bali." Sambil menangis Robert menjelaskan pada Amelia.
Raut wajah Amelia langsung berubah. Kedua matanya berembun dan tangisnya hampir meledak. Tapi semampunya di tahannya. Ia tidak akan terpengaruh dengan drama Robert. Sampai matipun ia tidak akan memaafkan Robert dan Meli.
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Aku mohon biarkan aku pergi!!!" Suara Amelia sangat keras. Tumpukan di dalam dadanya antara ingin menangis dan marah membuatnya tanpa sadar membentak.
"Kamu adalah Araysa. Bahkan seluruh tubuhmu itu aku sangat mengenalinya. Apa mungkin kamu hilang ingatan selama ini?" Robert menarik tangan Amelia ketika wanita itu ingin bergegas.
"Percayalah, kamu adalah Araysa. Araysa ku yang hilang selama ini." Lagi lagi Robert menangis. Lelaki itu menjadi tidak malu sekarang ini. Akhir-akhir ini ia menjadi cengeng.
"Lepaskan! Kau salah orang!" Amelia mendorong Robert dan ia berlari ke arah pintu.
Tapi di depannya sudah berdiri dua orang pelayan dengan baki di tangan mereka. Membawa peralatan cukur yang diminta Robert.
"Awas kalian!" Amelia menyingkirkan baki hingga jatuh ke lantai. Ia mendesak keluar dari pintu dan terus berlari mencari jalan keluar.
Robert juga berlari mengejar Amelia. Ia takut kehilangan wanita itu lagi. Apalagi saat ini kondisinya masih butuh pengobatan lanjutan. Pasti tubuhnya belum pulih normal setelah terbaring beberapa agak lama.
Ternyata Amelia cukup tangguh. Terus berlari ke segala arah dan satu persatu menemukan jalan turun. Ia baru sadar ternyata ia sedang berada di rumah besar dengan bangunan tiga tingkat.
Bukan tidak bisa Robert mengejar dan menangkap Amelia, tapi ia tidak ingin membuatnya makin takut dan menyebabkan traumanya kambuh lagi.
__ADS_1
Ia sudah melihat Amelia saat ketakutan saat pertama kali menemukannya.
Ia berlari pelan mengikuti Amelia dari jarak yang tidak terlalu jauh.
Tibalah Amelia di pekarangan, ia terheran melihat sekelilingnya adalah perkebunan. Dataran hijau dengan berbagai jenis sayuran dan buah buahan.
Ia terus berjalan dengan kaki bertelanjang menyusuri jalan yang terbuat dari batu gamping. Hingga akhirnya ia berhenti di depan sebuah pusara yang terbuat dari batu marmer berwarna biru dengan sematan nama ayahnya.
Waktu itu, begitu Robert tahu bahwa jenazah Abi ditemukan, Ia membawa jenazah orang tua itu ke Bali dan menguburkannya dengan layak di tanah milik orang tua itu sendiri. Dulu rumah itu masih rumah sederhana yang dikelilingi rumput liar. Setelah itulah ia membangun rumah dan mengolah pekarangan menjadi perkebunan. Lama lama rumah dan ladang tetangga rumah itu pun di belinya hingga jadilah seperti sekarang.
Tangis Amelia tidak bisa dibendungnya lagi. Tanpa sadar ia menyeret kakinya ke pusara itu dan bersimpuh. Dadanya terasa koyak dan sesak. Tanpa suara ia menangis hingga nafasnya menjadi sesak.
Robert berlari melihat Araysa memegangi dadanya dan terlihat tubuhnya seperti kejang.
"Araysa...ku mohon tegar lah. Sadarkan dirimu...!" Robert memeluk Araysa dan mengelus punggungnya seakan berusaha memberi kekuatan padanya. Robert sangat takut Araysa kembali jatuh dan pingsan.
"Menangis lah sekencangnya. Itu akan lebih baik dari pada memendamnya." Bahkan Robert sendiri pun tidak kuasa menahan diri dari tangisnya.
Akhirnya mereka berdua menumpahkan rasa berat dan sakit di dalam dada masing-masing.
"Haaa....aaa...aaaaaa..."
"Aaaaaaaaaa...aaaa....aaaaa..."
"Aaaayaaahhhh aaaaa....ayaaaaahh...aaa"
"Maafkan akuuuu...Yahhhh...maafkan...aaaa..."
Amelia meraung pilu. Ia melepaskan diri dari pelukan Robert, berganti memeluk batu nisan Abi ayahnya. Selama dua puluh tahun lebih ia tidak ada keberanian mengingat kejadian yang mengerikan itu. Bahkan untuk menangisinya pun ia tidak bernyali.
Sekarang seperti api yang membara ia mengeluarkan kesedihannya tanpa batas. Bukan hanya meraung, ia juga berteriak dalam tangisnya. Beberapa kali ia tersedak dan terbatuk tapi belum berhenti menangisi pusara itu.
Cukup lama mereka berdua berada di sana. Tangisan Amelia pun belum juga reda. Ia masih menatapi nama ayahnya dengan tatapan kosong. Sementara Robert tidak berani mengatakan apapun selain tetap berada di sampingnya.
Hingga tetesan air hujan mulai membasahi mereka, Robert menarik bahu Araysa ke dadanya. "Hujan Sayang, sebaiknya kita masuk ke rumah. Kamu barusan sehat."
"Lepaskan!" Teriak Araysa. Ia berdiri setelah mengusap nama ayahnya. Lalu pergi menjauh dari tempat itu.
Robert mengejar Araysa.
"Araysa, kamu mau kemana? Di sinilah rumahmu. Itu milikmu semua. Ini tanah mu...jangan pergi!"
Amelia tidak menggubris Robert. Ia terus saja berjalan bahkan makin cepat ke arah pintu gerbang.
"Berhenti!" Robert menarik tangan Araysa.
Plaaakkk...
Tanpa sadar Amelia menampar pipi Robert. Sangat keras. Mulanya Araysa tidak takut tapi detik berikutnya ia mulai bergetar. Sadar apa yang barusan dilakukannya. Orang dihadapannya adalah orang jahat yang tak ada bedanya dengan Meli. Lalu sekarang ia malah menganiayanya.
Ia mundur dan terus mundur dan bersiap berlari melarikan diri.
Tapi tangannya ditangkap oleh Robert. "Pukul lagi. Pukul sepuas mu. Aku pantas menerimanya."
"Lepaskan! Kalian pembun*h! Kalau kamu sungguh merasa bersalah maka lepaskan aku. Biarkan aku pergi!" Araysa berontak.
"Iya, aku memang bodoh. Tapi aku sungguh tidak melakukan itu. Aku tidak pernah melakukan hal keji itu. Aku telah difitnah."
"Ya udah. Aku tidak lagi mempersoalkan itu. Sekarang biarkan aku pergi!"
__ADS_1
"Jangan pergi lagi. Seumur hidupku hanya menunggumu. Bagaimana aku membiarkanmu pergi!"
"Aku jijik melihatmu! Awasss!" Araysa berteriak.
"Sayang...aku mohon jangan begini. Aku akan menjelaskan semuanya. Aku akan menikahi mu, aku akan menebus semua yang telah hilang dari kita." Kedua mata Robert dipenuhi harapan.
Araysa menggeleng.
"Jika kau sungguh ingin dimaafkan, pergilah dari hidupku selamanya. Anggap aku sudah mati! Hanya itu yang ku minta."
Tanpa permisi bulir air bening dari mata Robert berjatuhan. Bagaimana ia beranggapan seperti itu? Sedangkan selama ini, dirinya sudah seperti orang gila menganggap orang yang sudah mati masih hidup. Sekarang haruskah dirinya seperti orang gila lagi menganggap orang yang hidup sudah mati? Orang itu adalah orang yang paling dicintainya. Dirinya tidak akan sanggup.
"Ku mohon, jangan tahan aku. Biarkan aku pergi." Perlahan Amelia mundur dengan sangat berharap permintaannya dikabulkan.
"Tidakkkk...!" Seru Robert. "Aku bisa gila bila demikian! Aku bertahan hidup hanya demi menunggumu. Aku ingin hidup bersamamu, matipun bersamamu." Keluar aslinya bagaimana kerasnya Robert. Bukan hanya suaranya yang keras, tapi seluruh wajah dan matanya pun menunjukkannya.
Amelia tidak memperdulikan Robert. Ia terus berlari dan akan meninggalkan tempat yang katanya adalah miliknya itu. Ia tidak butuh, ia hanya butuh pulang dengan aman dan bisa bertemu putrinya. Hanya itu.
Tapi kakinya tidak secepat kaki Robert. Ia tidak bisa berlari lagi karena kini tubuhnya sudah melayang karena diangkat oleh Robert.
"Jangan meninggalkan aku. Kita akan hidup bersama. Aku akan menjagamu sepanjang sisa hidupku. Aku janji tidak akan membiarkanmu menderita lagi."
"Lepaskan!! Aku tidak mau hidup bersamamu!" Teriak Amelia.
"Tenanglah, kamu bisa kelelahan. Aku akan menceritakan apa sebenarnya yang terjadi. Tapi terlebih dahulu tenangkan dirimu."
"Kalian pembun*h! Kalian bukan manusia! Kenapa sekarang kau mau aku hidup? Dulu kau menginginkan aku mati!" Teriakan Amelia memenuhi tempat itu.
"Aku tidak pernah menginginkan itu!" Nada Robert naik hingga terdengar membentak.
"Pembun*h tidak akan mungkin mengaku! Kalian sungguh pasangan sempurna. Sama sama pembun*h! Lihatlah bagaimana kalian berdua akan mati! Kalian akan menebus dosa yang telah kalian lakukan. Kau dan wanita itu sungguh jahanam!!!" Tiba-tiba muncul di kepalanya untuk nantinya meminta Dhira untuk menghukum dua orang jahat itu.
Robert tidak menjawab amukan Amelia. Ia tetap tenang lalu tiba tiba ia menggendong Amelia dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Amelia berteriak sekeras-kerasnya, tapi tidak digubris Robert.
Setelah di kamar, Robert membaringkan Amelia. Dibersihkan nya kedua kaki Amelia dengan kain.
Amelia sendiri hanya bisa menangis. Sungguh ia tidak bertenaga untuk melawan. Apalagi sekarang ia merasa kepalanya berdenyut yang makin lama makin terasa sakit.
"Meli sudah mati."
Amelia tidak terlalu mendengar yang dikatakan Robert. Ia sedang memikirkan cara agar bisa lolos dari Robert.
"Tanpa mengotori tanganmu untuk balas dendam dia sudah meninggal. Sebelum meninggal, ia sempat gila."
Mendengar kata meninggal, Amelia berhenti memijit kepalanya. Ia melirik ke arah Robert yang masih sibuk membersihkan kakinya.
"Aku juga sudah menghukumnya selama dua puluh tahun. Menyiksanya pun rasanya belum memuaskan ku. Tapi melihatmu sekarang rasanya semua sudah impas."
"Siapa yang meninggal?" Sentak Amelia.
Robert berpindah ke dekat bahu Amelia. Ia tersenyum dan mengelus kepalanya. "Senang rasanya kamu mau bertanya."
Amelia buang muka. Sungguh ia bertanya bukan karena tertarik dengan pembicaraan Robert. Ia hanya takut yang meninggal itu adalah orang yang dikasihinya.
"Meli sudah meninggal."
Amelia langsung menatap Robert. Kedua bola matanya membulat tidak percaya.
__ADS_1