
Pria itu ambruk ke pintu mobil. Lelaki itu tidak ada niat untuk berkelahi. Hanya wajah dan matanya yang menunjukkan ejekan.
Tatapan Rendra begitu menyebalkan di mata Dhira. Ditambahi nya di hidung Rendra sekali tonjokan lagi. "Jangan coba coba berbuat hal bodoh. sekali saja kau membuat masalah, aku tidak akan segan memotong setiap bagian tubuhmu!" Kecam Dhira dengan tegas.
"Ampun...aku atutttt...jangan lakukan itu..." Rendra meringkuk seperti anak yang ketakutan. "Hahaha...kamu suka?" Rendra tertawa lagi.
"Dasar orang gila! Sekali lagi aku melihatmu habislah kau!"
"Paling paling kamu masuk penjara karena sudah menghabisi ku."
"Mulut mu itu!" Dhira geram dengan tingkah Rendra. Rasanya ingin sekali meninju mulut Rendra hingga penyot.
"Mulut mulutku! Kenapa kamu yang sewot!" Rendra malah memanyunkan bibirnya membuat Dhira makin berang. Ia segera pergi dari situ dari pada ia lepas kendali membuat Rendra babak belur.
Rendra berdiri dengan tegap lalu mengibasi pakainya dengan telapak tangannya. Sebenarnya ia ingin sekali membalas pukulan Dhira. Tapi tidak dilakukannya karena tidak mau punya urusan dengan Leo.
"Kamu apain si Rendra?" Tanya Vanya.
"Nggak diapa-apain. Cuma sekali tonjok. Pria itu kayak anak kecil."
"Kenapa nggak kamu hajar sekalian terus tanya kenapa dia mengejar ibu."
"Biarkan dulu. Aku mau tahu motifnya apa. Apa dia bekerja untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain." Jawab Dhira.
"Hem. Benar juga. Kalau dia tahu kamu sudah was-was, dia akan lebih hati hati. Berpura pura tidak mengerti aja agar dia lengah."
"Tapi beberapa hari ini aku perhatikan dia tidak menemui siapa siapa. Sebenarnya aku nggak habis pikir kenapa dia mengincar ibu."
"Apa tidak perlu memberitahu Leo? Siapa tahu dia lebih unggul menyelidiki Rendra." Usul Vanya.
"Untuk sekarang jangan dulu. Rasanya tidak enak kalau Leo makin terbebani."
"Yah terserah deh. Tapi secepatnya kamu harus menghentikan Rendra. Kalau ibu sudah sadar, bagaimana kamu menyembunyikannya."
Dhira menghela nafas "Makanya aku jadi aneh sekarang ini. Secara tidak sengaja aku bersyukur ibu koma." Ucap Dhira lirih.
Vanya hanya mengangguk memahami maksud sahabatnya.
Kesedihan tergambar jelas di wajahnya. Apalagi ia sama sekali belum pernah ke rumah sakit buat menjenguk Amelia. Ia tidak berani ambil resiko karena Rendra sudah bagai bayangan untuknya. Ia sangat sulit bergerak.
Ia hanya memantau ibunya lewat video yang dilakukan perawat setiap malam. Terkadang ia terisak selesai video call, sangat menyesal tidak bisa berada di sisi ibunya di saat saat seperti ini.
Untung ada Leo yang selalu sabar menghiburnya. Memberinya semangat agar tidak sampai terpuruk. Leo begitu baik dan cekatan. Selalu siap saat kapan pun bagi Dhira. Begitu juga dengan Vanya yang tak pernah mengeluh karena selalu ikut susah karena dirinya.
"Aku hanya bisa berdoa semoga segala sesuatunya menjadi baik. Mungkin ini lah yang disebut saat hidup seseorang di uji. Kamu harus percaya dan kuat."
"Terimakasih. Kalian sangat baik padaku."
__ADS_1
"Iya dong. Kamu juga baik." Begitulah dua sahabat itu. Gantian saling menghibur di saat susah seperti sekarang. "Dhi, tadi saat di loby kamu perhatiin nggak ibu direktur alias mamanya Leo?"
"Tidak. Emang ada dia di sana?" Tanya Dhira.
"He'em. Wajahnya seram banget saat melihat mu. Sempat juga aku takut, kamu disamperin lalu dipermalukan di depan orang banyak. Soalnya dia sempat melangkah beberapa langkah ke arah kita. Tapi, direktur Rudy menarik tangan istrinya membawanya cepat cepat masuk ke mobil. Terlihat dia mencak-mencak marah pada istrinya."
"Benarkah?" Wajah Dhira kembali redup dan gelisah.
"Iya. Tapi sepertinya direktur begitu tegas. Tak dibiarkannya istrinya maju dan memegangi tangan istrinya agar tidak keluar dari mobil."
"Papi Leo menyetujui hubungan kami."
"Ah, pantesan direktur menahan istrinya. Ternyata melindungi calon menantunya. Hem...hem yang punya papi mertua baik. Lampu hijau Dhi. Lanjut terus!"
"Nggak lucu." Sungut Dhira. Keadaan sekarang membuatnya malas bercanda.
"Hehe...iyalah. Aku tahu."
Dhira menepuk bahu Vanya sambil tersenyum. Ia atau niat Vanya menghiburnya.
Sabtu saat pulang kerja, Dhira ke toilet buat ganti pakaian. Ia akan menyamar dan akan pergi ke rumah sakit. Itu adalah idenya Leo. Saat jam makan siang Leo meneleponnya mengatakan waktunya menjenguk Amelia.
Kini penampilannya beda jauh. Tidak akan ada yang mengenalinya dengan pakaian pria serta kumis tipis yang ia tempel di atas bibirnya. Dan ia berhasil tiba di rumah sakit.
"Ibuuuu....hu hu hu...maafkan aku baru bisa datang." Perasaan Dhira begitu sedih menyaksikan ibunya yang hanya tidur tanda bergerak sedikit pun. Dielusnya lengan ibunya dengan penuh kasih sayang. Tangan yang selalu kuat dan penuh kasih sayang itu kini menyusut menjadi lebih kecil. Ibunya makin kurus.
Untuk malam ini malam Minggu, hingga Senin subuh ia akan menjaga Amelia. Tidak sekalipun ia keluar dari ruangan itu. Seluruh waktunya akan digunakan untuk bersama ibunya.
Di tempat lain, Rendra entah sudah berapa jam menunggu di depan rumah tetangga Leo. Ia sangat yakin Dhira sedang bersama Leo. Soalnya Vanya tadi bersama pacarnya. Sedangkan rumahnya kosong. Kemana lagi Dhira pergi, selain bersama Leo.
Ia berharap Dhira keluar dan pergi ke suatu tempat menemui ibunya agar ia bisa mendapat foto yang sangat dinantikan bosnya. Bila foto wanita itu sudah ia serahkan maka ia akan pergi dan lepas dari bosnya itu juga mendapat uang.
Tapi sungguh sial dirinya. Hingga tengah malam pun, Leo tak kunjung keluar dari rumahnya. Tidak tahan lagi karena mengantuk, Rendra memilih pergi. Ingin terlentang di kasur empuk miliknya untuk melepas lelah. Entah sudah berapa lama ia tidak tidur demi bayaran atas foto ibu Dhira.
Baru saja ia terpejam untuk menemui mimpi, tiba tiba ponselnya mengagetkannya karena benda kecil itu tiba tiba berteriak sangat kencang.
"Ohhhh...ya Tuhan!" Rendra terlonjak hingga duduk sambil memegangi dadanya. "Hampir copot jantungku! Dasar bos tak tahu diri! Ini sudah jam dua dini hari! Ngapain nelpon?" Teriak Rendra pada ponselnya yang masih bernyanyi ria dengan volume keras.
Volume dering ponselnya sengaja dibuatnya keras karena empat kaki ia dapat makian gara gara melewatkan panggilan dari bosnya. Mungkin saking kantuknya ia sampai tidak mendengar suara ponselnya lagi.
Dengan malas ia mengangkat telepon, "hallo..."
"Bukain pintu! Aku ada di depan!"
"Apa?" Rendra tidak yakin dengan pendengarannya.
"Atau ku dobrak ini pintu!"
__ADS_1
"Ah iya. Aku sudah datang. Akan segera ku buka." Rendra tergesa-gesa keluar dari kamarnya dan membuka pintu.
"Dasar tidak becus! Malah enak enak tidur! Kau ku gaji bukan untuk tidur! Kalau kau tidak serius, pulangkan uangku! Aku bisa mencari orang lain!" Begitu pintu terbuka, ia langsung dapat dampratan.
"Aku baru pulang. Hampir tiap malam begadang, aku juga butuh waktu tidur. Siapa yang sanggup tidak tidur selama berhari hari!" Rendra terpancing emosi. Ia sangat kesal dianggap tidak serius. Padahal tiap hari pekerjaannya adalah mengintai. Seandainya bisa memilih ia akan memilih kerja berat asal jangan mengintai, mencuri dan membunuh.
"Dasar lelaki lemah! Ku beri waktu seminggu ini. Bila kau tidak mendapatkannya lebih baik kau mundur!"
Rendra tidak menjawab. Ia hanya menunduk tidak ada nyali memandang mata bosnya.
"Ingat tutup mulutmu itu! Aku tidak segan melakukan hal kejam padamu!" Menunjuk wajah Rendra dengan wajah sadis.
"Iya." Jawab Rendra pelan.
Kemudian ia menutup pintu dan bersender. Di usapnya wajahnya dengan kedua tangannya. Ada rasa menyesal di hatinya telah menerima pekerjaan ini.
"Nasib nasib! Udah hidup sudah ditambah susah dengan pekerjaan ini. Bikin tidak tenang, lebih lebih dari punya hutang banyak." Keluhnya dengan wajah begitu stres.
Sudah dicarinya semampunya tentang Dhira. Memeriksa media.sosialnya juga punya Vanya dan Leo. Tidak ada informasi apapun. Bagaimana lagi caranya melakukannya?
"Haruskah aku menyekap Dhira? Kemudian memaksanya bicara." Tanya Rendra pada dirinya sendiri.
"Tapi terlalu berbahaya karena adanya Leo. Pria itu bisa membunuhku kalau sampai terjadi hal seperti itu. Semua akan makin rumit. Lagian gadis itu tidak mudah dikalahkan. Bisa saja sebaliknya yang terjadi. Lebih berbahaya untukku bila tertangkap. Hah! Aku harus bagaimana?"
"Dhira di mana ibumu kau sembunyikan? Muncullah sebentar. Aku hanya butuh foto ibumu." Pinta Rendra seakan Dhira mendengar.
"Entah apa yang penting dari wajah ibumu itu." Rendra bertanya dengan pikiran menebak kemungkinan siapa Dhira dan ibunya bagi bosnya.
Di rumah sakit, tanpa terasa jarum jam terus bergerak dan hari sudah subuh. Tak henti hentinya air mata Dhira menetes harus meninggalkan ibunya lagi. Entah berapa hari lagi ia bisa datang. Satu harapannya semoga nanti atau besok saat ia datang ibunya sudah sadar.
Diciumnya pipi putih bak kertas Amelia. "Aku pamit dulu ya Bu, bertahanlah." Bisiknya dan lagi lagi mencium pipi ibunya. Bahkan air matanya sampai menetes ke pipi Amelia. Dengan sedih Dhira membersihkan tetesan air itu sambil terus terisak. Siapa yang tidak sedih dengan posisinya saat ini. Ia benar benar seperti merasakan hidup sebatang kara. Ketakutan meliputi hatinya dengan kondisi Amelia. Bagiamana jika ibunya tidak bangun lagi malah pergi meninggalkannya selamanya. Tanpa kata terakhir dan kata perpisahan, atau kata wasiat tentang identitasnya. Haruskah di usianya yang masih sangat muda mengalami semua ini? Apalagi dokter mengatakan Amelia tidak menunjukkan kemajuan apapun. Ketakutannya makin jadi sehingga tak kuasa menahan tangisnya.
Waktu makin habis. Dhira harus rela meninggalkan ibunya. Kalau sudah terang akan sulit baginya menjauh dari rumah sakit.
Perlahan di lepasnya jemari Amelia dan menaruh tangan lemah itu dengan perlahan. Ia harus pergi.
Tapi tiba tiba saja suara detak jantung dilayar monitor berubah berisik. Dhira yang sudah berdiri manjadi panik dan memanggil manggil ibunya.
Merasa ada yang tidak beres, Dhira memencet bel peringatan bantuan yang tersedia di dinding dekat kepala ibunya.
"Ibu, ada apa Bu?" Dhira memeluk tubuh ibunya. Ia sangat bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Bu, sadarlah. Ini aku..."
"Nona Dhira, harap mundur dulu. Kami akan memeriksa pasien." Ucap suster.
Tiga orang perawat datang. Yang satu memeriksa mata Amelia. Yang satu berusaha menelpon dokter yang menangani Amelia.
__ADS_1
"Nona, kami tidak bisa melakukan apapun. Ini sesuatu diluar kemampuan kami. Ibu Amelia mengalami guncangan. Tensinya tinggi dan denyut jantungnya terlalu cepat.