
"Aku sudah tidak peduli!"
Leo tidak lagi berusaha membuat papinya mengerti. Ia juga bisa memahami bagiamana hancurnya hati papinya.
"Apapun yang terjadi aku akan menceraikannya. Aku tidak sudi lagi menatapnya! Sedangkan aku masih menjadi seorang direktur, dia tidak tulus pada ku. Apalagi sekarang? Aku tidak mempunyai apapun lagi. Kita kehilangan perusahaan kita Leo."
"Hah? Apa? Kenapa mendadak begitu?" Leo tidak percaya dengan pengakuan Rudy.
"Selama kamu di rumah sakit, perusahaan mengalami kerugian besar. Para pemegang saham menyalahkan kita karena tidak bisa menangani goncangan. Mereka mengira kamu melarikan diri. Saham kita, Papi lepas dari pada kita dipenjarakan karena tidak bisa menutup hutang." Selama ini Rudy tahu putranya kurang sehat dan harus dirawat di ruang sakit atas pemberitahuan Meli.
"Kenapa Papi menyerah secepat itu?" Leo sangat kecewa. Ia tidak menyangka semua kejadian itu begitu singkat.
"Jhon mengancam ku. Dia lah saat ini pemimpin perusahaan. Aku tahu hutang yang disebut sebut Jhon hanya alasan untuk menyingkirkan ku. Dia balas dendam karena Ara menghilang."
Leo lunglai. Sia-sia sudah yang dikerjakannya selama ini. Hanya empat hari ia tidak datang ke perusahan semuanya sudah berubah.
"Jangan terlalu sedih. Uang bisa dicari. Tapi nyawa kita tidak ada gantinya. Semua ulah wanita gila itu membuat kita harus menderita. Belum soal Ara yang hilang. Hanya dia yang tahu soal kebenarannya. Kau yang tanyakan padanya soal Ara. Aku sudah malas walau hanya melihat wajahnya saja." Rudy pergi dengan wajah tak bernyawa. Ia masih syok dengan apa yang barusan di dengarnya. Kalau bukan karena adanya melihat Leo, ia mungkin sudah kelepasan melenyapkan Meli.
Tadinya ia ingin pulang ke rumah untuk menemui keluarganya dan berbicara soal perusahaan. Berbagi pendapat dan saran. Berbagi penderitaan yang sedang menimpa mereka. Tapi melihat kebejatan istrinya tidak lagi ingin mengatakan apapun. Cukup menerangkan sedikit pada Leo. Ia masuk ke ruang kerjanya dan menutup diri disana.
Leo berdiri dengan kepala tertunduk. Menekuri ujung sepatunya dalam dalam. Teriakan histeris dan suara benda pecah dari dalam kamar tak digubrisnya lagi. Otaknya bagai tertindih batu yang besar dan berat dan terasa panas.
"Aku harus bisa meluruskan semua ini, sebelum semuanya makin hancur. Setelah Jhon dan Robert tahu Ara adalah darah daging Papi mungkin mereka akan sedikit melunak." Semangat Leo masih bisa bangkit. Ia akan membahas persoalan ini dengan Jhon.
Ia bergegas ke kamarnya. Mengambil beberapa pakaian dan membuka brankas miliknya. Di laci brankas itu ada sebuah pistol yang sudah lama dimilikinya. Tapi selama ini ia tidak pernah menggunakannya. Hanya beberapa kali saat ia masih di London. Mungkin saat ini ia berpikir akan membutuhkan alat itu untuk meluruskan tentang Ara yang sebenarnya.
Setelah mandi ia keluar dari kamar. Berjalan cepat ke arah ruang kerja papinya. Tanpa mengetuk lagi ia membuka pintu dan masuk.
"Papi tidak usah keluar dulu. Bila perlu, pergilah ke villa hingga aku selesai membereskan masalah ini. Percayakan masalah ini pada ku. Jika papi tidak keberatan bawalah Mami juga."
"Aku akan tetap di rumah ini. Ini adalah rumahku! Uruslah pekerjaanmu, aku akan urus pekerjaanku. Soal Meli aku sudah menganggapnya tidak ada. Uruslah dia karena dia wanita yang melahirkan mu." Jawab Rudy dengan suara dingin. Wajahnya menatap dinding di hadapannya dengan mata kosong. Beberapa botol wine tersedia di atas meja dan sudah kosong sebotol.
"Baiklah. Aku pergi dulu. Papi jangan sampai putus asa. Aku hanya punya papi yang selalu menyayangiku. Tanpa papi aku tidak sanggup melakukan apapun. Jadi, kendalikan diri Papi." Pesan Leo sebelum pergi. Ia takut papinya mengalami depresiasi berat karena dikhianati istrinya sendiri juga bangkrutnya perusahaan. Ada banyak kejadian fatal yang terjadi pada pengusaha yang bangkrut. Ia takut papinya sampai bunuh diri. Apalagi saat ini papinya bukan hanya menghadapi kebangkrutan tapi goncangan perbuatan istrinya.
"Tenang aja. Papi tidak akan kehilangan kesadaran. Soal perusahaan papi tidak terlalu memikirkannya. Masih banyak peluang pekerjaan di luar sana. Tanpa jadi seorang direktur pun, aku masih bisa mencari uang. Apalagi ada putraku yang selalu tangguh dan sabar."
Hati Leo bagai teriris pisau mendengar jawaban papinya. Tanpa terasa, matanya basah dan air itu sudah mengalir ke pipinya. Segera ia mundur dan menutup pintu. Tidak mau papinya melihat dirinya menangis.
Setelah bisa menguasai dirinya, ia setengah berlari menuruni tangga dengan sebuah koper kecil ditangannya. Ia akan menghentikan perseteruan ini bagaimanapun caranya. Jika tidak bisa secara baik-baik maka dengan pertempuran pun ia sudah siap.
Sebelum mencapai pintu, Leo berbalik arah dan pergi ke ruang perpus. Sebelum membuka pintu ia menelepon pelayan untuk mengantarkan makanan dan minuman untuk Meli. Setelah makanan datang, Leo membuka pintu lalu masuk. Lantai yang penuh pecahan barang barang menyambutnya.
"Mi, makanlah dulu. Ini aku bawa makanan." Leo mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan namun wanita itu tidak terlihat. Di sofa atau di ranjang juga tidak ada. Ditaruhnya baki ke atas meja. Lalu ke kamar mandi, mengetuk pintu memanggil maminya.
Hening tidak ada suara apa-apa dari dalam. Penasaran, sekaligus takut terjadi apa apa pada Meli di dobraknya pintu hingga jebol.
"Harusnya kau ku bunuh seperti ini! Ihhh...ihhh...mati kau! Mati!!!"
Leo terperanjat melihat Meli yang memegang boneka kecil mainan gantungan kunci sedang ditusuk tusuk dengan gagang sikat gigi.
"Kenapa kau tak berdarah? Ini pisau sangat tajam, harusnya seluruh tubuhmu ini sudah robek. Ayo berdarah lah! Berdarah! Ku bilang berdarah!!!" Teriak Meli. Ia mengibaratkan boneka mungil ditangannya seperti seseorang dan sedang menujah sebanyak banyaknya. Namun tak kunjung berdarah.
__ADS_1
"Apa yang Mami lakukan? Lepaskan itu! Lihat pakaian Mami basah." Leo bingung dengan pakaian Meli yang basah kuyup. Namun kran atau shower tidak menyala. Lalu dilihatnya di dalam bathub, air sudah keruh dan penuh dengan kertas yang sudah hancur dirobek kecil kecil.
"Ini wanita sialan itu, sudah ku cekik tapi tak kunjung mati. Dia ini seperti memiliki seratus nyawa. Sudah di terjunin ke laut, sudah ku tusuk berkali kali, sudah ku koyak koyak seluruh tubuhnya tapi masih saja hidup. Dia ini manusia atau arwah?" Meli memukuli boneka hingga tangannya terluka sendiri dan berdarah.
"Hahaha...akhirnya kau berdarah! Bagaimana rasanya? Sakit? Heh, itu belum seberapa, aku akan membuatmu mati mengenaskan!!!!" Meli memukulkan boneka ke dinding. Karena yang dibanting hanya benda kecil yang tidak punya bobot, tubuh Meli ikut terlempar dan membentur dinding. Pipinya pun menghantam dinding hingga biru.
"Mami!" Leo menarik Meli dan menggendongnya, membawanya keluar dari kamar mandi.
"Bi, tolong ganti pakaian Mami!!!" Leo berteriak keras, menyuruh pelayan mengganti pakaian Meli yang basah.
Ia menunggu di luar pintu. Kali ini kepalanya bukan lagi hanya sakit, tapi serasa mau meledak. Ia takut dengan keadaan maminya.
"Ya Tuhan, kenapa jadi begini?" Bisik nya sembari mengelus dadanya yang terasa sakit.
Setelah Meli berganti, Leo kembali masuk. Ia mendekati maminya yang berbaring di ranjang dengan tatapan kosong.
"Mi, kenapa menjadi seperti ini?" Leo sangat sedih dengan keadaan maminya.
"Kenapa Mami hilang kendali? Apakah keinginan Mami ingin membunuh Amelia sangat tinggi sampai membuat frustasi begini?"
Meli menggerakkan bola matanya mendengar nama Amelia. Ia berkedip kedip lalu bangun untuk duduk. "Iya. Dia adalah sumber penderitaan ku. Kalau dia tidak muncul, Robert tidak akan memandangnya. Dasar wanita penggoda! Pake hamil segala pula! Aku sudah baik baik menyuruhnya pergi tapi dia menantang ku karena bayi diperutnya!" Meli malah curhat dengan emosional yang berapi api.
"Lalu dimana wanita itu?" Tanya Leo.
"Dia sudah ku buang ke laut!" Raut wajah Meli sama sekali tidak menunjukkan ketakutan atau penyesalan.
"Tapi dia masih ada, dan bertemu dengan Mami. Kemana dia?" Leo mencoba terus menggali kebenaran tentang Amelia.
"Dia sudah ku bun*h...hahaha...hahaha...seperti ini aku melenyapkannya." Meli mencekik Leo.
"Tidak! Aku tidak gila! Aku hanya membencinya! Dan kebencian ku ini makin besar! Karena Robert masih mencintainya walaupun dia sudah mati!"
"Hahhhh..." Leo menarik nafas panjang. "Dengar Mi, Amelia masih hidup. Sekarang jawab, dimana dia?"
"Apa? Dia masih hidup? Hahahaha...dia memang wanita sialan! Meski sudah memasuki alam maut dia masih selamat. Cari dia untukku Leo, aku harus menemukannya. Dan kaki ini aku akan membun*h berkali-kali agar dia benar-benar mati!"
"Bukannya Mami sudah menemukannya?" Tanya Leo. Ia berusaha untuk lebih bersabar agar maminya buka suara.
"Oh iya. Aku lupa aku sudah membun*hnya."
"Mami!!! Jangan seperti ini!" Teriak Leo. Ia menggoncang bahu Meli.
"Kau!" Tunjuk Meli ke wajah Leo. "Kurang ajar! Berani sekali kau meneriaki ku!"
"Katakan dimana Amelia?"
"Aku tidak tahu." Meli tersenyum lunglai "Mungkin dia sudah jadi bangkai."
"Sebelum semuanya makin rumit, katakan dimana, Mi?"
Meli bangkit dan duduk di sofa, Sementara di meja telah tersedia makanan.
__ADS_1
"Aku lapar aku mau makan." Meli mengambil sendok dan garpu mulai memakan makanan. Baru dua suap, tiba tiba Meli berhenti makan dan raut wajahnya berubah aneh.
"Kalian semua sudah menjadi musuhku. Bahkan suami dan anakku tidak memihak ku. Kalian semua telah menyakitiku. Bahkan sekarang aku kalian kurung! Aku tidak mau dikurung!!! Aku tidak mau!!!" Tiba tiba ia menus*k garpu ke lengannya. Sangat cepat sehingga garpu itu menancap di lengannya kirinya.
Leo berhambur ke tempat Meli duduk. Tapi sudah terlambat garpu itu melukai lengan Meli.
"Aaaa....! Berdarah! Akhirnya kau berdarah! Aaaa....sakit...!" Meli berteriak sambil tertawa juga kesakitan sambil melihat garpu yang masih menancap di lengannya.
"Mami....!!!" Leo memegangi Meli dan mencabut garpu. Tapi tidak jadi, karena takut darah tidak bisa lagi dihentikan. Ia membopong Meli dan membawanya berlari ke garasi.
"Mang Kos, menyetir! Cepat!!!" Teriakan Leo memenuhi rumah itu.
Mang Kos sopir pribadi Rudy, terbirit-birit masuk ke mobil. Mereka pergi ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, hal menggemparkan terjadi lagi. Meli mengamuk dan mengancam siapa saja yang mendekatinya. Ia bagai singa brutal mencakar dan mengigit dokter yang berusaha membantunya. Wanita itu sudah gila. Kewarasannya hilang.
"Ikat saja dia!" Suara Rudy yang baru tiba, mengagetkan semua orang. Ternyata lelaki itu ikut ke rumah sakit.
"Tapi Pi..." Sela Leo.
"Tidak ada tapi. Dari pada dia melukai orang orang. Dia harus mendapat dokter kejiwaan. Dia sepertinya gila!"
"Hei...! Tunjuk Meli ke wajah Rudy. "Aku tidak gila!" Ia berontak dari pegangan Leo dan dua orang perawat laki laki yang memeganginya. Tenaganya sangat besar dan kuat. Ia bisa menjatuhkan mereka dan berlari menyerang Rudy.
"Kau benar benar gila!" Rudy menangkap kedua tangan Meli dan mengikatnya dengan dasinya yang diambilnya dari kantong celananya. "Kirimkan saja dia rumah sakit jiwa!" Ujarnya pada dokter.
"Iya Pak. Tapi tangan ibu Meli diobati dulu. Itu lengannya belum di perban dengan bagus."
"Biarkan saja. Orang sepertinya tidak akan mati meski luka parah. Yang ada dia akan bikin ribut di tempat ini dan membuat hal memalukan!" Didorongnya Meli ke ranjang hingga wanita itu terduduk.
"Kau berani sekali kasar padaku. Ku bun*h kau!" Meli bangkit, mengambil tiang infus dengan kedua tangan menyatu lalu memukul semua yang ada di situ.
"Bisa kau lihat Leo? Wanita itu sudah gila. Terserah kau bagaimana mengurusnya." Rudy meninggalkan ruangan itu.
"Ibu, kita obati dulu tangannya. Kalau tidak tangan Ibu bisa bernanah dan keluar darah banyak."
"Darah? Oh ini darah!" Wajah Meli berubah bersemangat. "Kapok berdarah! Hahahah...hahahaha...lihat Leo, aku berhasil membuatnya berdarah!"
Leo menggeleng dengan wajah mengeras. Ia sudah habis akal terhadap sikap Meli. "Dok, suntikkan obat penenang aja. Kita lihat perkembangannya setelah itu. Kalau memang masih seperti ini, mami butuh penanganan seorang psikolog."
Dengan sudah payah, dokter itu berhasil menyuntik Meli. Dan akhirnya wanita itu terbaring juga.
"Kenapa bisa begini? Apa pemicunya?" Tanya dokter itu setelah Meli tertidur.
"Masalah keluarga." Jawab Leo singkat.
"Semoga ibu Meli kuat, tidak membiarkan pikirannya ke jalur salah." Dokter itu sudah kenal dekat dengan keluarga Atmaja.
"Berapa lama obat itu bertahan?" tanya Leo.
"Sekitar dua jam."
__ADS_1
Leo menarik nafas panjang. "Baiklah. Akan ku tunggu dua jam lagi." Padahal ia sudah tidak sabar ingin menemui Jhon.
Ia berdiri di samping maminya, menatap wajah yang terlelap itu. Meski keadaan lelap, wajah maminya itu terlihat tidak rela dibuat tertidur. Wajah itu mengeras dan seakan masih ingin berteriak keras.