Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Bertemu


__ADS_3

"Zahra, apakan kamu mengenal keluarga Jhon?" Tanya Dhira. Ia ingin tahu lebih banyak tentang pria itu.


"Dari kabar yang beredar, dia hanya dua bersaudara dengan adik perempuannya. Adiknya masih kuliah. Namanya aku lupa. Soalnya hanya dua atau tiga kali pernah datang kesini. Mereka orang terkaya di negara ini bahkan luar negeri. Orang tuanya tidak tinggal di sini. Tapi di Belanda. Mereka tidak pernah datang ke sini."


"Sebelum dia menjabat sebagai direktur, siapa yang memimpin perusahaan ini?"


"Hm, perusahaan ini adalah milik kakeknya. Kakeknya orang Belanda tapi neneknya orang Jawa. Ayahnya dengar dengar sempat menjabat direktur tapi tidak lama. Langsung pindah ke Belanda dan perusahaan ini dipercayakan pada direktur baru. Tujuh tahun lalu Jhon lah yang menjabat direktur. Keluarga mereka tidak seberapa terekspos. Sekarang ini aja Jhon mau sesekali muncul di media. Sebelumnya tidak pernah."


"Mereka sangat tertutup sepertinya. Kamu pernah melihat orang tua Jhon?"


Zahra menggeleng. "Tidak pernah. Semua di perusahaan ini hanya Jhon yang menangani."


Dhira mengeraskan dahinya. 'Keluarganya sangat misterius.'


"Kulihat kamu cukup dekat dengan Jhon. Kalian ada hubungan apa? Sore hari itu, kamu memilih masuk ke mobil Jhon dari pada yang satunya." Waktu itu ternyata beberapa karyawan melihat Dhira ikut Jhon dari pada Leo, Zahra juga ada di sana.


"Hanya kebetulan saja. Aku tidak mengenalnya. Kalau kenal untuk apa aku tanya tanya padamu." Dhira menarik kursi di belakangnya agar bisa duduk. Tapi ponselnya dan beberapa tumpukan kertas malah jatuh. Ia berjongkok mengumpulkan kertas itu.


Saat itulah Meli datang dan masuk ke kantor dengan menunjukkan sesuatu di kertas ke hadapan Zahra. Di kertas itu tertulis tamu Jhon.


"Silahkan masuk Bu, itu ada OB yang akan mengantar Ibu."


Meli mengangguk tanpa membuka kaca hitamnya. Ia terus menuju lift dan seorang laki yang ditunjuk Zahra untuk mengantarnya.


Dhira selesai mengumpulkan kertas kertas dan kembali berdiri. Ekor matanya melihat sosok Meli yang berdiri di depan lift.


Tanpa bicara apa-apa Dhira beranjak dengan berlari ke arah lift, tapi lift itu sudah terlanjur tertutup. Ia berlari ke lift utama yang biasa dinaiki para petinggi perusahaan.


Zahra terbelalak melihat kelakuan Dhira. Ingin berteriak memanggilnya agar jangan naik lift itu tapi Dhira sudah terlanjur masuk dan lift sudah mulai berjalan.


Ponsel Zahra berdering. Dahinya mengernyit melihat nama Dhira.


"Dhira kam..."


"Katakan, wanita yang baru masuk itu mau menemui siapa?" Dhira memotong kalimat Zahara.


"Dia tamu pak Jhon."


"Oh. Apakah dia sering datang kemari?"


"Tidak. Kayaknya baru ini yang pertama, kalau aku nggak salah."


"Iya, aku tutup dulu."


Zahra terheran dengan sikap Dhira. Tapi ia tidak memperdulikannya lagi karena telepon di mejanya berbunyi.


Di depan ruangan John, Dhira bingung harus bagaimana cara masuk ke dalam sana. Sekretarisnya pasti bertanya dan tak akan mengijinkannya bila tidak ada hal penting yang berkaitan dengan pekerjaan.


Ia pergi ke kotak sampah di samping lift. Ia mencari sesuatu di sana dan menemukan tiga lembar kertas berkas hasil foto copy. Untung kertas itu tidak kusut parah sehingga bisa dijadikan Dhira sebagai alat untuk masuk. Ia pernah masuk ke ruangan Jhon sekali. Ruangannya jauh dari tempat sekretarisnya sehingga ia bisa menguping tanpa ketahuan.


Dan benar saja, sekretaris itu memberinya izin setelah mengatakan ingin meminta tanda tangan Jhon untuk berkas yang dibawanya.


Dhira masuk ke ruangan itu dan mendekati pintu ke ruangan Jhon. Ia berdiri dengan menempel ke pintu berusaha mendengar pembicaraan dari dalam.


"Jangan diam saja! Katakan dimana Robert!" Itu suara Meli.


"Kau sungguh berani datang ke sini! Apa kau ingin menyerahkan nyawamu?" Kecam Jhon dengan urat urat yang hidup di leher dan wajahnya.

__ADS_1


"Aku harus bicara dengan Robert. Ini sangat penting!" Teriak Meli.


"Kembalikan Ara pada kami! Kau tidak berhak mengatakan apapun!" Jhon meninju meja hingga kacanya pecah.


"Kau itu hanya suruhan Robert! Berlagak jadi direktur padahal hanya sebagai alas kakinya! Apa hak mu membentak ku. Selama ini ku biarkan kau mengancam ku karena Ara bersama kalian. Tapi sekarang tidakkk! Putriku hilang dan kalian hanya diam saja! Robert!!!! Keluar kau!!! Jangan bersembunyi seperti seorang wanita! Apa kau bencong??? Perlihatkan wajahmu! Hadapi aku!" Meli berteriak memanggil seakan Robert bersembunyi di balik punggung Jhon.


"Diam!!!" Bentak Jhon. "Kau terlalu percaya diri! Dasar wanita belagu! Apa kau belum takut dengan semua yang terjadi pada kalian? Perusahaan mu akan bangkrut. Dan putramu mungkin akan cacat atau lupa ingatan atau bahkan sudah meregang nyawa di rumah sakit. Apa itu kurang? Baiklah, aku akan menuang bensin ke rumahmu dan membakarnya baru itu peringatan bagimu!"


Meli terdiam memutar otaknya maksud ucapan Jhon. "Apa yang kau katakan?" Suara Meli bergetar.


"Suami baikmu itu tidak memberitahukan mu?" Tanya Jhon dengan wajah penuh kemenangan.


Sementara Meli mulai kelihatan takut.


"Perusahaan kalian sedang..." Jhon berhenti. "Mulai bangkrut!" Lanjutnya.


"Dan Leo putra kebanggaan mu itu... kemarin pagi mengalami kecelakaan hebat."


"Brakkkkk dummmm...!" Jhon memperagakan tabrakan dengan tangannya. "Dan itu sangat enak ditonton." Jhon tersenyum sinis.


"Hum, calon menantu mu itu juga sangat baik. Dia tidak memberitahukan mu kejadian itu? Pastilah, karena Andhira itu menyayangi mertuanya yang sedang sakit. Tidak mau membuatmu terguncang soal berita kecelakaan Leo."


"Apa??? Haaaahhh...? Apa yang kau lakukan? Kau membuat Ara hilang dan sengaja mencelakai Leo? Kalian sungguh bajing*n!"


"Oh ya? Lalu kau apa? Malaikat begitu?" Ejek Jhon. "Hahahaha...hahaha...malaikatnya penjahat!"


"Kenapa kalian menyalahkan aku atas hilangnya Ara. Aku sungguh tidak tahu apapun. Harusnya aku yang menuntut kalian! Aku yang harusnya membalas kalian! Tapi kenapa putraku yang kau lukai?" Meli menangis.


"Sorry, aku tidak bilang aku yang melalukannya. Hanya melihat itu terjadi."


"Aaaa! Berengs*k kalian!" Teriak Meli.


"Cihhh! Menyingkir kau! Berani sekali kau menyentuhku!" Jhon mendorong Meli hingga terjatuh dari meja.


"Ini berita penting. Dia akan menyesal bila tidak mendengarnya."


Sementara di luar tepatnya di pintu Dhira terkejut dengan kedatangan seseorang.


"Hei kau sedang apa di sana?" Suara bariton itu hampir membuat Dhira terjungkal. Untung tangannya berpegangan di dinding beton di sampingnya.


"Eeee...itu Pak, saya mau masuk tapi di dalam sedang ada keributan. Maaf saya nanti aja datang lagi ke sini." Dhira menyembunyikan wajahnya dengan menunduk dalam dalam sambil berlalu cepat dan pergi dari sana, tanpa berniat melihat wajah lelaki itu.


Pria itu menarik handel pintu dan masuk. Ia juga tidak ingin tahu siapa gadis itu.


Jhon yang menyadari kedatangan Robert langsung sigap berdiri dan menyambut seakan akan Robert adalah tamunya.


"Oh pak R Ga, Anda sudah tiba? Silahkan tunggu sebentar, saya masih ada urusan sedikit lagi dengan wanita ini."


Robert mendengus melihat gaya Jhon. Kenapa harus bersikap seperti di luar. Tidak ada siapapun di sana selain wanita yang sedang berdiri di...


'Hah astaga! Dia sedang apa di sini?' Tiba tiba Robert mengenali Meli. Ia berusaha bersikap biasa dan segera mengalihkan wajahnya. "Baiklah Pak Jhon. Saya akan menunggu di luar."


Robert langsung mengubah suaranya agar tidak dikenal oleh Meli. Wanita ini dihindarinya sejak Ara bersamanya. Untung ia mengalami kecelakaan dan merubah hidung dan dagunya. Hasil operasi merubah sedikit wajahnya untuk menyamarkan luka lukanya. Sebenarnya tidak seutuhnya wajahnya berubah, jika diperhatikan lebih baik wajahnya masih lah sama dengan yang pertama. Apalagi jika janggut yang dipeliharanya dibersihkan maka pasti Meli bisa mengenalinya.


Robert keluar dan menunggu di tempat sekretaris berada. Ia terkejut lagi dengan keberadaan Dhira di depan pintu. Tapi gadis itu membelakanginya sehingga Dhira tidak melihatnya.


Di dalam ruangan Jhon Meli masih berdiri dengan kaki gemetaran setelah mendengar Leo mengalami kecelakaan. "Sampaikan pada Robert aku punya sesuatu yang sangat penting." Meli tidak berlama lama lagi di sana. Ia tahu tidak akan bertemu dengan Robert. Tapi ia sangat berharap ayah palsu dari putrinya itu mau bertemu dengannya.

__ADS_1


Meli menghempaskan pintu dengan sangat keras. Kekesalan diwajahnya terlihat jelas. Ia berjalan tanpa menoleh kiri atau kanan ia terus melewati Robert dan Dhira.


Robert melirik ke arah punggung wanita itu, darahnya serasa mendidih melihatnya. Kedua tangannya terkepal keras disertai wajah beringas seakan ingin menghabisi wanita itu. Setelah Meli menghilang ia mencari keberadaan gadis yang tadi bersamanya tapi sudah tidak ada di sana. Entah sejak kapan gadis itu pergi.


Robert masuk kembali ke dalam ruangan itu. Jhon yang sedang berdiri langsung menundukkan tubuhnya memberi hormat.


"Kenapa dia berani masuk ke sini?" Tanya Robert dengan suara keras.


"Saya menghubungi Anda selama lima hari ini, tapi tidak bisa. Di sini terjadi sesuatu."


"Aku bertanya kenapa dia ke sini? Kau tidak sedang 'bermain' di belakangku kan?!"


"Tidak Pak. Saya sungguh ada yang mau disampaikan. Ini gawat Pak, itulah yang membuat wanita itu datang ke sini."


"Apa, cepat katakan!"


"Empat hari yang lalu Nona Ara menghilang."


Robert seketika tegang "apa?"


"Saya sudah berusaha menemukannya tapi sungguh tidak ada petunjuk. Saya berusaha menghubungi Anda tapi nomor Anda tidak aktif."


"Lalu sudah sampai mana usahamu?"


"Saya sudah berikan peringatan dengan mengacau perusahaan mereka. Juga merencanakan kecelakaan pada Leo putranya."


"Lanjutkan terus. Buat mereka menderita hingga wanita itu tahu yang namanya menderita!"


"Dia bilang, ingin mengatakan sesuatu pada Anda dan ingin bertemu untuk menyampaikannya. Katanya pertemuan kali ini akan memberikan Anda ketenangan dan penjelasan."


"Jangan biarkan itu terjadi. Sampai nyawanya tinggal diujung lehernya pun jangan biarkan dia mendekatiku."


"Baik Pak."


"Aku hanya ada perlu mengambil sesuatu ke sini. Aku akan langsung pergi. Urus segalanya dengan baik."


"Bagaiman dengan nona Ara?"


"Tentu saja kamu harus mencarinya."


"Iya. Tapi Pak Anda pergi lagi? Apakah anda tidak akan ikut mencari nona Ara?"


"Sudah ku bilang itu pekerjaanmu!" Bentak Robert dengan wajah memerah.


Jhon kebingungan melihat reaksi tuannya. Biasanya mendengar Ara sakit saja atau ngambek tidak makan, pria ini sudah kelimpungan dan langsung turun tangan. Tapi apa ini? Kenapa Robert tidak seperti biasanya.


Robert berhenti mengacak kertas di lemari. Ia mendekati Jhon yang sedang menunduk dengan wajah penuh pertanyaan. Ia menepuk bahu Jhon "Saat ini mengenai Ara tanggung jawab mu. Ku percayakan soal ini padamu. Terserah bagaimana caramu menemukannya. Saat ini ada yang lebih penting dan darurat yang harus ku tangani. Kita bagi tugas. Kau adalah anak tertuaku. Yang kuinginkan tentu sudah kau tahu." Wajah Robert sudah berubah lembut disertai suara yang pelan.


Ada sesuatu yang mengalir hangat di dada Jhon. Untuk pertama kalinya Robert menepuk bahunya dan juga mengatakan dirinya dianggap anak tertuanya. Semangat dalam dirinya bangkit untuk melakukan tugas apapun dari Robert. Ia mengangguk pasti dengan mata meyakinkan. "Baik Pak. Akan saya laksanakan."


"Good...jangan terganggu oleh apapun. Aku sedang memperjuangkan yang menjadi milikku di sana dan juga kalian berdua. Setelah semua ini kita akan hidup normal seperti keluarga lainnya. Aku akan mengumumkan kalian berdua sebagai putra putriku. Kalian bukan hanya sekedar tertulis di KK sebagai anak-anakku, tapi juga di hadapan umum." Mata Robert mengisyaratkan keyakinan.


"Terimakasih, Pak." Jhon yang barusan merasa terjatuh di sebut Meli sebagai alas kaki Robert, merasa terangkat kembali.


"Mulai sekarang belajarlah memanggilku Papi seperti Ara memanggilku."


Kedua mata Jhon memanas merasa terharu. Ia tidak menyangka pengabdiannya bersama Robert kini membuahkan hasil.

__ADS_1


"Tapi ingat aku tidak suka menyakiti orang apalagi membun*hnya. Sekali saja kau mengkhianati, nyamu akan hilang di ujung jariku ini." Robert mengancungkan jati telunjuknya.


"Papi, aku tidak akan berani melakukan itu. Dibesarkan dan sekolahkan serta disayangi seperti ini sudah merupakan hutang nyawa bagiku." Ucap Jhon dengan mata berkaca kaca.


__ADS_2