Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Dua Miliar


__ADS_3

Dhira tiba di rumah sakit dengan penampilan berbeda lagi. Ia menuruti perkataan Rendra demi melindungi ibunya.


Sambil melangkah memasuki loby tak sedikitpun matanya melewatkan sekitarnya. "Hah ini terlalu berbahaya. Semoga setelah ibu operasi tidak ada masalah lagi. Aku tidak bisa terus menerus mengandalkan penyamaran ini. Siapapun itu musuh ibu pasti tidak akan menyerah."


Dhira bernafas lega setelah berada di lantai delapan dimana ibunya berada. Tidak ada hal mencurigakan. Semua aman.


Tapi ia cukup terkejut saat melihat Leo sudah ada di sana. Apalagi mereka semua terlihat cemas dan mondar mandir di ruangan itu. Terlebih ibunya sudah tidak ada di sana. Ranjang pasien sudah kosong.


"Ibu kemana?" Tanya Dhira dengan wajah pucat.


"Ibu Amelia sudah di ruang operasi. Kami menunggu anda untuk persetujuan." Perawat menyodorkan kertas ke hadapan Dhira.


"Ayo tanda tangani. Ibu hampir tidak kuat lagi Andhira." Ujar Leo.


Dhira mengangguk. Ia membubuhkan tanda tangan di kertas. Setelah itu, mereka pergi ke area tempat operasi dilakukan.


Dhira dan Leo dengan penampilan serta wajah orang lain duduk menunggu di luar ruangan operasi. Dhira terus terus memanjatkan doa agar ibunya selamat. Bahkan beberapa kali ia terisak.


"Ibu pasti kuat." Leo menepuk bahu Dhira memberi semangat.


"Masih banyak yang ingin kulakukan bersama ibu. Aku belum melakukan apapun untuk berbakti padanya. Beliau selama ini hanya berada dalam kesusahan. Dari aku kecil, ibu tak pernah merasakan hidup senang. Sepanjang hari hanya bekerja agar aku bisa sekolah. Sekarang aku sudah bisa cari uang. Aku ingin membuat ibu menikmati hidup ini. Untuk itu ibu harus kembali sehat. Aku sudah bisa diandalkan. Aku akan membahagiakan ibu." Ungkap Dhira berderai air mata.


"Iya. Keinginanmu itulah yang akan membuat ibu kuat." Leo tak bosan bosan mendengar keluhan Dhira.


Sudah empat jam tapi proses operasi Amelia belum selesai. Membuat Dhira makin takut. Tiga kali perawat keluar masuk dengan berlarian membawa sesuatu di tangan disertai wajah cemas. Jantung Dhira tidak bisa tenang.


Akhirnya jam tujuh malam, operasi selesai. Wajah para dokter yang menangani terlihat letih dan lesu.


"Bagaimana keadaan ibu saya Dok?" Tanya Dhira dengan lemas. Mimik para medis di depannya sangat mempengaruhi pikirannya.


"Operasinya berhasil. Sempat terjadi sedikit masalah. Tapi berkat kegigihan pasien dan para teman di sini bisa terkendali. Tinggal observasi ketat kemudian pemulihan. Ingat walau sudah di katakan sembuh ibu Amelia masih dalam pengawasan dokter setidaknya selama setahun ke depan. Rutin cek dan menerapkan hidup sehat."


Bagai lepas dari ikatan rantai berat perasaan Dhira dan Leo. Mereka bernafas lega. Wajah mereka kembali berseri.


Begitu para dokter pergi, Dhira melompat memeluk Leo sambil menangis haru. Mereka berpelukan erat melebur segala rasa berat hingga lega.


"Terimakasih. Tanpamu kami tidak bisa melewati semuanya. Tanpamu entah seperti apa nasib ibuku." Bisik Dhira di sela tangisnya.


"Hm. Sekarang kita sudah tenang. Tinggal pemulihan ibu." Jawab Leo mengeratkan pelukannya. Betapa hatinya bahagia dengan apa yang bisa dilakukannya. Walau telah mengeluarkan biaya yang sangat besar tidak menjadi beban sedikitpun baginya. Justru ada rasa kemenangan dan lega.


Inilah mungkin yang dinamakan cinta tulus. Ia tidak perhitungan dengan segala yang dilakukannya. Semampunya dilakukannya demi cintanya.


***


Pagi harinya, Leo bersiap berangkat kerja. Sebenarnya ia masih ingin menemani Dhira menjaga Amelia. Tapi tuntutan tanggung jawabnya di perusahaan juga penting. Apalagi ia sudah sering tidak masuk. Untung ada Kim yang selalu menggantikan dirinya di saat diperlukan.


Bell rumah membuatnya urung memakai dasi. Ia ke depan dan membuka pintu.


"Mami?"


"Kenapa? Setiap mami datang ke sini kamu selalu terkejut. Apa kamu tidak menginginkan Mami datang?" Entah kapan ibu dan anak ini bisa bicara lembut. Selalu tegang.


"Aku mau ke kantor."


"Itu yang mau Mami tanyakan! Kenapa kamu sering tidak masuk kantor. Apa yang terjadi? Apa kamu ada masalah serius?"


"Tidak ada masalah. Hanya banyak urusan." Leo melanjutkan memasang dasinya.


Sementara Meli dari belakang menatap putranya dengan tajam. Seakan ada yang ingin ia katakan. Tapi urung untuk diungkapkannya.

__ADS_1


"Kalau nggak ada yang penting, Aku mau berangkat Mi."


"Kita semobil. Mami juga ingin ke kantor."


"Lho mobil Mami kemana?"


"Aku ingin bersama putraku, apa salah?" Meli tak senang dengan penolakan Leo.


"Bukan begitu. Aneh aja Mami tiba tiba mau bareng."


"Sambil ada yang mau Mami katakan padamu."


Leo tidak membantah. Ia mengunci rumah dan berangkat.


"Kalau Mami mau membicarakan kencan buta atau semacamnya, mending nggak usah. Aku tidak tertarik." Leo memulai pembicaraan sambil menyetir.


Meli menoleh ke samping. Menatap putranya dengan intens. Iris coklat muda di pelupuk Amelia mengawasi wajah putranya begitu lama. Seakan hendak menyampaikan sesuatu namun ragu mengungkapkannya.


"Apa Mi? Apa mami hampir lupa wajah ini. Sehingga berusaha menghafalnya?" Leo malah menyindir.


"Jujur padaku. Untuk apa kamu membutuhkan uang sebanyak itu?"


Leo tiba tiba terbatuk karena terkejut. Ia tidak menyangka maminya akan membahas soal uang. Ia mendesah pelan lalu membalas tatapan maminya. "Untuk investasi di perusahaan lain."


"Sebanyak itu? Ku rasa dengan jumlah hampir dua milyar bukan lagi bentuk investasi. Tapi pembelian. Perusahaan mana?"


"Mami nggak usah repot repot memikirkan soal pekerjaanku. Ini usaha ku sendiri."


"Apa papimu tahu?"


Leo menggeleng.


"Investasi ditempat baru lebih menguntungkan." Jawab Leo asal.


Meli masih menatap Leo yang melihat lurus ke jalan. Ia tidak percaya dengan alasan Leo.


Selama sebulan lebih ia mencari tahu tentang kesibukan Leo. Suaminya jika ditanyai atau diajak mengobrol soal Leo tidak pernah di sambut. Kim juga sama. Asisten putranya itu tidak tahu apapun. Ia tidak percaya dengan pengakuan Leo. Ia tahu betul putranya bukan orang yang mudah mengambil keputusan. Apalagi soal investasi. Ia sangat penasaran tapi tidak ada celah baginya untuk tahu.


"Mami senang akhir akhir ini kamu tidak bersama Dhira. Apa hubungan kalian sudah berakhir?" Tanya Meli. Akhir-akhir ini Meli jarang melihat putranya bersama Dhira.


"Kami baik baik aja. Kami konsisten dan punya prinsip. Ada waktunya bekerja, kencan atau lain sebagainya." Jawab Leo enteng.


Meli melengos. Ia sangat tidak suka Leo membela gadis itu. "Belum jadi istrinya aja kamu benar benar sudah di kuasainya. Apalagi jadi istrinya. Bisa dipisahkannya kita yang berkeluarga."


"Kenapa mami bilang begitu? Andhira tidak pernah melakukan hal buruk. Kenapa Mami begitu membencinya?"


"Buktinya, kamu sudah tidak pernah pulang. Kalau bukan kami yang menemui mu, kita bisa tidak bertemu hingga berbulan bulan. Padahal kalian masih status pacaran. Kamu juga makin kasar pada kami."


"Sebenarnya bisa lebih baik kalau Mami menerima Andhira. Selain Mami ada teman, anak Mami juga bertambah. Tentu nya aku akan lebih ramah pada Mami."


"Jadi, kamu lebih memilih gadis itu dari pada mami sendiri?" Suara Meli naik. Ia naik pitam mendengar pembelaan Leo terhadap Dhira.


"Jika itu adalah pilihan Mami." Ujar Leo tetap tenang.


Meli mendelik dengan wajah memerah. "Jangan setelah kamu bangkrut baru menyadari yang Mami katakan benar. Kamu pikir Mami percaya dengan alasanmu menarik saham itu? Mami tahu itu untuk wanita itu kan?" Bentak Meli.


"Kamu itu bodoh! Dia itu belum sah jadi istrimu sudah memberikan uang sebanyak itu! Sadarlah Leo! Dia hanya ingin uangmu! Sebelum makin terjerumus, hentikan semuanya! Dia itu wanita matre! Dia hanya ingin kekayaan kita." Tambah Meli lagi.


"Mami terlalu percaya diri mengatai Dhira seperti itu. Mami tidak tahu apapun. Tidak usah berbicara yang bukan bukan." Jawab Leo berusaha tenang dan selalu merendahkan nadanya

__ADS_1


"Kita sudah sampai. Hentikan pembicaraan ini." Lanjut Leo, Cepat cepat ke luar meninggalkan maminya yang juga terburu buru turun.


"Leo...!" Panggil Meli.


"Mi ini di kantor. Jangan membahas soal apapun kecuali pekerjaan." Setelah berbicara Leo melenggang meninggalkan maminya yang semakin dongkol.


"Haaaa!!! Semua orang tidak berguna! Suami, anak sama aja keras kepala!" Teriak Meli. Ia sama sekali tidak ada kekuatan melawan suami dan putranya. Padahal yang ia takutkan bukan hal tak mungkin. Bagaimana jika Dhira yang cintai putranya adalah pengacau pada akhirnya?


Dengan wajah menyimpan amarah, ia ke ruangan Kim. Satu satunya orang yang setia mendengarkannya. Meski setiap pertanyaannya tidak pernah dijawab Kim selalu bilang 'tidak tahu'.


Tapi wanita itu segera keluar dari ruangan itu karena asisten putranya itu sedang tidak ada.


***


Di sebuah cafe, Rendra sedang menikmati secangkir latte sambil menikmati alunan musik yang mendayu-dayu. Entah yang kesekian kalinya ponselnya berdering. Dibiarkannya begitu saja. Tidak berminat untuk menjawab panggilan 'si bos'.


"Bodo amat. Sampe pecah pun ini hp tak akan ku jawab. Sekarang aku sadar, niat bos tidak baik. Ihhh takut di suruh membunuh. Mengerikan. Lebih baik tidak berhubungan lagi dengannya." Ucapnya walau dia sendirian di sana.


Di ambilnya ponsel itu dan di nonaktifkannya. Tekadnya udah bulat, mundur dari tugas itu. Ia tidak takut soal uang yang terlanjur diambilnya. Ia tinggal memanfaatkan rahasia bosnya itu. Ia yakin demi rahasia itu bosnya tidak akan berani memaksanya.


Saat ini, ia sedang mencari pekerjaan. Dari pada membuat orang lain sengsara, lebih baik ia mencari uang secara normal. Meski itu buruh sekalipun. Lagian uang yang dibutuhkannya tidak lagi terlalu banyak. Tinggal seperempat dari total hutangnya. Bekerja beberapa bulan lagi, ia sudah bisa melunasi semuanya.


Tiga hari kemudian, Rendra memutuskan pindah dari apartemen. Tempat tinggal yang selama di diaminya adalah milik keluarga Nayla. Meli dulu menghadiahkan apartemen itu untuk Nayla. Merasa tidak lagi memiliki hak, ia akan keluar dari sana.


Dengan tergesa-gesa ia mengumpulkan semua pakaiannya dan benda lainnya yang diperlukannya. Tiga lembar kertas berisi ancaman dari bos nya membuatnya harus segera pergi sebelum bos nya itu datang lagi.


Artinya setiap hari bos nya itu selalu datang mencarinya. Bahkan terdapat pecahan kaca berserakan di lantai. Sepertinya bos nya itu mengamuk.


"Pilihanku sudah tepat. Menjauhinya adalah yang terbaik." Ia bernafas lega saat sudah berada di taksi. Sejak kemarin, setiap pergi ia akan menyewa taksi atau ojek karena mobilnya pun sudah di jualnya juga.


Setibanya di tempat kontrakan baru, Rendra mengirim pesan pada bos nya.


~Jangan mencari ku lagi. Aku tidak mau lagi bekerja untukmu. Uang yang sudah kau berikan, anggap saja sebagai uang tutup mulut. Aku tidak akan membocorkan apapun.~


Setelah mengirim pesan langsung dimatikannya ponselnya. Tidak ingin mendengar apapun lagi dari bosnya itu.


***


Tengah malam Meli tidak kunjung bisa terlelap. Sementara suaminya Rudy masih betah berada di ruang kerjanya.


Bolak balik ia berpindah posisi. Mencari tempat yang nyaman tapi tak juga bisa membuatnya tertidur.


"Huffff...pikiranku kacau. Ini semua gara gara si gadis misterius itu. Untuk apanya uang sebanyak itu? Dia pikir uang itu seperti daun apa? Asal datang berjatuhan dari langit. Dia benar benar berbahaya." Ujung ujungnya ia berdiri di depan cermin. Tidak lagi berbaring.


"Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus bertindak. Aku harus mendapatkan bukti bahwa dia bukan gadis baik sebelum keluarga ku hancur."


"Kamu pikir kami orang bodoh? Kamu salah besar! Lihat bagaimana aku mempemalukan mu!" Ia sudah tidak tahan dengan semua uang yang telah dikorbankan Leo demi Dhira.


Dua hari Meli menunggu Dhira. Namun belum juga bertemu. Sengaja menunggu saat sore tapi Dhira tak ada keluar dari perusahan.


Hari ketiga Meli berniat memeriksa keberadaan Dhira di bagian admin. Tapi tidak jadi karena gadis itu sedang lewat dari depan mobilnya memasuki perusahaan.


Mata Meli tak luput dari tubuh Dhira yang makin menjauh. Ia memikirkan cara menemui Dhira tanpa diketahui oleh Leo ataupun suaminya.


Akhirnya ia mengirim Dhira pesan menyuruhnya datang ke sebuah tempat. Nomornya ia dapatkan dari Faris.


Di mejanya, Dhira mengernyit membaca nomor baru yang mengiriminya pesan.


"Siapa ngirim pesan tanpa nama. Minta ketemuan lagi." Ia menaruh kembali ponselnya.

__ADS_1


Tapi kemudian mengambilnya. "Apa ada hubungannya dengan ibu ya?"


__ADS_2