
"Haaaa...! Tolong!!!! Tolong bawa kami ke rumah sakit!!!" Teriak Dhira sambil menatapi orang yang mengelilingi mereka.
"Awas! Kalian semua malah menonton! Bantuin angkat!" Mamang pedagang batagor membentak semua orang.
"Leo... sadarlah! Bangun! Jangan tutup matamu." Tak henti-hentinya Dhira berteriak.
Suara sirine ambulan membuat orang yang mengelilingi mereka memberi jalan. Ternyata seseorang telah memanggil ambulan. Leo dinaikkan ke brankar dan dimasukkan ke dalam ambulan. Ia mendapat pertolongan pertama yaitu bantuan oksigen.
Ambulan kembali mengaung dan mulai melaju membawa Leo dan Dhira. Seorang perawat lelaki menemani mereka dan sedang bekerja berusaha memberikan pertolongan sebisanya.
"Jangan pergi! Aku mohon bertahanlah. Ya Tuhan, mohon belas kasihmu. Jangan ambil dia dari kami. Berikan kami kesempatan hidup. Aku mohon..." Dhira memanjatkan doa sambil menangis.
Buru-buru diambilnya ponselnya. Tapi sialnya ponselnya tertinggal di dalam mobilnya.
"Mas, tolong pinjemin hp. Aku ingin menghubungi seseorang."
Lelaki itu memberikan ponselnya. Diketiknya beberapa nomor dan langsung tersambung.
"Ayahh...aaaa... akhhh...aaa...Ayahhh..."
"Ada apa sayang!!! Kenapa?" Suara Robert diseberang terdengar sangat keras.
"Tolong Ayah. Leo mengalami kecelakaan. Bantu akuuuu...akuuu...takuttt... Ayah...aku takuttt..."
"Hah?? Dimana kamu sekarang?"
"Hiks hiks masih dijalan. Di ambulan."
"Ke rumah sakit mana?" Tanya Robert. Pri itu juga kedengaran panik.
Setelah memberitahu Ayahnya, Dhira sedikit lega. Apalagi ayahnya bilang akan menyiapkan segala sesuatunya.
Setibanya di rumah sakit, mereka sudah disambut dan langsung menangani Leo. Beramai-ramai dokter dan perawat bekerja khusus membantu Leo.
Di ruang tunggu Dhira dan pak sopir mondar-mandir sambil terisak-isak.
Dua puluh menit kemudian, Robert dan Amelia datang.
Dhira berhambur memeluk Ayahnya dengan tangisan nelangsa. Tangisannya menyayat semua hati yang mendengar.
Robert membiarkan putrinya seperti itu. Hanya kedua tangannya yang memeluk erat punggung Dhira. Ia pun menangis tertahan melihat keadaan Andhira.
Amelia terisak sembari duduk. Dadanya sesak dan sempit melihat keadaan putrinya. Ia tahu betapa hancurnya saat ini perasaan putrinya itu. Semalam saja ia sudah menangis melihat Dhira yang mengadu tangis pada suaminya. Diam diam ia melihat mereka dari balkon. Dan sekarang anak gadisnya itu hampir dihampiri kemalangan lagi.
"Berdoa Nak, agar dia selamat. Minta pada Tuhan." Tanpa sadar Amelia berucap. Ia menghapus air matanya yang menetes deras.
Dan ucapan Amelia makin membuat tangis Dhira keras. Terharu, ibunya masih menginginkan Leo selamat.
"Kakakkkk...haahaaa...kakakkk...!!!"
Tangisan lainnya terdengar dari pintu masuk.
"Bagaimana keadaan kakakku?" Tanya Ara setengah berteriak. Ia menatap Dhira dan Robert dengan tatapan nanar. Sedangkan Rudy disampingnya menangis tanpa suara. Ia meremas dadanya yang mungkin sangat sakit dan sesak.
"Mas Leo sedang di dalam Pak." Pak sopir yang menjawab.
"Kenapa kakak sampai celaka? Apa yang terjadi?" Tanya Ara masih dengan tangisan.
"Mas Leo hendak berangkat ke London. Saya yang mengantarnya ke bandara.Tapi saat sedang membeli batagor, mas Leo mengalami kecelakaan karena berusaha menyelamatkan seorang anak kecil." Terbata-bata pak sopir itu menjelaskan.
"Apa? Ke London? Kenapa tiba-tiba?" Tanya Ara lagi.
__ADS_1
"Mas nya bilang, akan memberi kabar pada Bapak dan Neng kalau sudah sampai di sana. Mas nya tidak ingin dilarang. Dan....hiks..hiks...mas nya pamit tidak akan kembali lagi. Katanya kalau kita kangen, harus kita yang menemuinya. Mas nya tidak akan bisa menginjak tanah ini lagiii...uuuu...uuuu..."
"Mas Leo pamit seperti itu...saya takut Pak, saya takut..." Pak sopir melanjutkan lagi. Tapi langsung dipotong oleh Ara.
"Tidak! Jangan bilang begitu! Aku baru beberapa hari bersama kakakku!" Teriak Ara. Mendengar perkataan pak sopir, ketakutan berlebihan menimpa Ara.
"Tenang Ara. Kakakmu pasti akan melewati ini. Dia anakku yang paling kuat. Dia masih ingin hidup bersama kita semua." Rudy melirik Dhira yang tangisannya makin hebat.
Namun, beberapa menit kemudian tiba-tiba saja ruangan itu hening. Mereka sadar posisi mereka saat ini canggung. Apalagi Rudy dan Robert. Dua lelaki itu saling menjauhkan pandangan dan menyibukkan diri dengan putri masing-masing. Masih tersimpan dendam di hati mereka masing-masing.
Pintu terbuka. Melihat dokter yang keluar adalah dokter yang menangani Leo saat baru tiba di rumah sakit, Dhira dan Ara berhambur ke hadapan dokter itu. "Bagaimana Leo Dok?" Tanya mereka bersamaan.
Yang lainnya juga ingin tahu jawaban sang dokter. Mereka juga mendekat.
Dokter yang masih menggunakan masker dan topi itu menggeleng. Nampak dari matanya, dirinya sangat lelah.
"Haaaa!! Tidak!!! Leo!!!" Dhira dan Ara yang paling histeris.
"Haduhhh!" Dokter itu membuka maskernya. Ia terkejut sekaligus takut dengan wajah dua wanita dihadapannya.
"Maksud saya belum selesai. Pasien masih menjalani proses operasi. Kami sedang menunggu dokter spesialis hati. Hati pasien ada yang robek." Dokter itu menjelaskan dengan terburu-buru. Ia menjadi merasa bersalah telah salah jawaban diawal.
Mereka semua bernafas lega. Tapi mendengar sedang menunggu dokter membuat mereka kembali tegang.
"Apa maksudmu menunggu dokter? Tadi sebelum Leo tiba di sini, aku sudah peringatkan siapkan segala kemungkinan yang terjadi pada pasien kecelakaan!" Robert menarik kerah pakaian putih sang dokter. Wajahnya sangat marah mengetahui operasi Leo terkendala.
"Maaf Pak R.Ga, dokternya sudah ada. Tapi perjalanannya ke mari terhalang kemacetan. Mohon bersabar..." Dokter itu ketakutan sampai suaranya bergetar.
"Tidak ada alasan! Seharusnya dari tadi kau laporkan hal seperti itu!"
"Sayang, sabar. Dia dokter yang sudah membatu Leo bertahan dari tadi. Kamu membuatnya takut." Amelia memegangi tangan suaminya.
Robert menarik nafas panjang. "Aku tidak mau tahu! Anak muda itu harus selamat!" Teriak Robert. Ia terbawa emosi. Hatinya sakit melihat putrinya yang tergulung penderitaan.
Robert melepas leher dokter itu. Ia berbalik melihat siapa yang datang.
Mereka semua minggir melihat seorang pria berseragam dokter hendak lewat.
"Kenapa kamu lama sekali?" Tanya Robert pada dokter itu. Ia kesal hingga membentaknya.
"Nanti kita bicara Robert. Sekarang aku masuk dulu." Jawab dokter itu dengan tenang.
Amelia dan Dhira menarik mundur Robert agar segera memberi jalan bagi dokter itu.
"Hiks...hikss...huuuu...uuu..." Ara menangis sambil menatap ke arah Dhira.
Ditatap seperti itu, Dhira terganggu. Ia melepas tangan Robert dari pundaknya dan mendekat pada Ara.
"Sebenarnya apa yang telah kamu katakan pada kakakku? Kenapa tiba tiba dia ingin pergi? Kemari-kemarin dia tidak ada niat pergi."
"Maafkan aku. Kalau aku tahu bakal begini, mungkin lebih baik tidak menemuinya semalam."
"Sudah kubilang kak Leo sedang rapuh dan butuh dukungan semangat. Kamu pasti lebih menyakitinya lagi. Dan lihatlah sekarang apa hasilnya." Ara menyalahkan Dhira.
"Sudah, itu sudah terjadi. Jangan menyalahkannya." Ujar Rudy. Ia menarik tangan putrinya agar menjauh dari Dhira.
Dari tempat duduknya Amelia menatap Ara. Diperhatikannya wajah gadis yang masih saja menangis itu. Terbayang dibenaknya yang sudah dilewati anak itu. 'Anak tanpa kasih sayang seorang ibu. Baru saja ia bersama keluarganya, tapi sudah mengalami guncangan. Semoga kakaknya selamat. Benar yang dikatakan Robert, dua anak ini hanya korban dari keserakahan ibunya.' Batin Amelia. Ia Meraka kasihan pada Ara.
Ia melirik Robert yang duduk disampingnya yang menunduk dalam-dalam. Ia tahu suaminya itu pasti sedih melihat anak yang dibesarkannya selama dua hampir dua puluh tahun kini sedang sangat sedih.
Dipegangnya tangan suaminya itu. Rober yang entah sedang memikirkan apa. Ia kaget sekaligus menoleh.
__ADS_1
"Mungkin dia akan lebih tenang bila kamu bicara dengannya." Amelia menunjuk Ara dengan lirikannya.
"Bolehkah?" Tanya Robert. Sebenarnya hatinya sama sedihnya dengan tangisan di gadis itu. Ia tahu betul sedalam apa kesedihan Ara.
Amelia mengangguk sambil tersenyum iklhas.
Setelah menarik nafas panjang, Robert bangkit dari tempatnya. Kaki tegapnya mengarah ke tempat Ara duduk.
Ara mengangkat wajahnya yang berlinangan air mata. Begitu melihat Robert yang menatapnya dengan pandangan teduh, ia langsung bangkit berdiri dan memeluk Robert. Ia sudah sangat faham dengan setiap tatapan dan mimik Robert.
"Haaaaa...aaaa...haaaa..." Tangis Ara kembali meledak. Rindu dan beban dihatinya yang telah menumpuk lama keluar hingga membuatnya hanya ingin menangis. Sungguh ia sangat merindukan papinya itu.
Robert mengelus punggung Ara dengan hangat. Ia juga tahu Ara menahan diri ingin mengadu pada dirinya.
"Yang tabah. Apapun itu, semua serahkan pada Tuhan. Kita minta agar Leo bisa melewati masa sulit ini."
Ara mengangguk sambil mengusap air matanya. Setelah tangisnya bisa berhenti, ia melihat ke arah Amelia.
Mereka berdua bertatapan tapi hanya sebentar. Amelia duluan menarik pandangannya.
Ara tiba tiba berjalan ke arah Amelia. Ia bersimpuh di kaki wanita itu. Tangisnya kembali keluar dengan sangat hebat.
"Bu, maafkan kami atas semua kesalahan ibu kami walau aku dan kak Leo tidak terlibat. Kami pantas dibenci karena kami adalah keturunan wanita itu. Kami sungguh tidak membenarkan perbuatannya. Dan kami berbeda dengannya. Bahkan setelah semua ini, kak Leo masih menyayangi Ibu dengan tulus. Dia masih berdoa untuk ibu dan Dhira agar berumur panjang dan bahagia selamanya. Dalam keadaan mabuk pun ia selalu mengucapkan doanya. Memanggil ibu bagai seorang anak yang merindukan ibunya.
Amelia terisak. Sebenarnya ia juga sedih melihat dua anak itu. Mereka memang tidak bersalah. Ia tahu itu. Itu sebabnya ia menyuruh suaminya menenangkan Ara.
"Ibu berhak tidak memaafkan wanita itu. Tapi, kak Leo tidak bersalah. Tolong maafkan dia. Di matanya Anda adalah sosok ibu yang dihormati sehingga menahan deritanya tidak menemui Andhira. Tidak memaksakan kehendaknya walau dihatinya hanya ada nama Putri Anda." Ara berhenti sejenak dan menghapus air matanya.
"Aku takut kakak tidak bertahan. Tolong maafkan dia. Dia pasti kesulitan menerima amarah dari Ibu."
"Hiksss...hiks...hiks..." Ruangan itu dipenuhi isak tangis.
Mendengar ucapan Ara, Dhira menjadi menangis lagi. Begitu juga dengan Amelia. Hatinya juga bagai koyak mendengar ucapan Ara. Ia ingat betul, tanpa Leo dirinya mungkin tidak bisa hidup seperti sekarang ini. Tanpa anak muda baik itu, dirinya mungkin tidak akan bertemu dengan Robert suaminya. Perjuangan dan pengorbanan pemuda itu besar terhadap dirinya agar bertahan dari gagal ginjal. Ia sudah menerima banyak jasa darinya.
"Dengar," Amelia membuka suara setelah bisa tenang, lalu menghapus air matanya untuk yang kesekian kalinya. "Leo bagai putra bagiku. Doa terbaikku selalu bersamanya. Meski aku diam, tapi dalam hati ini, aku menyayangi anak itu. Aku tidak membenci kalian. Kalian anak baik dan dan dibesarkan dua lelaki hebat. Jadi,mulai sekarang kalian berdua bisa panggil aku ibu juga. Kalian adalah anak-anak yang telah dititipkan padaku dari sekarang."
"Huuu...huuu...huuuu..." Ketiga wanita itu berhambur saling berpelukan. Mereka menangis karena terharu.
Amelia menciumi kedua gadis itu bergantian. Saling berpelukan dan akhirnya berdoa bersama untuk keselamatan Leo.
Robert dan Rudy tersenyum sambil menitikkan air mata. Mereka berdua akhirnya saling berpelukan juga.
Operasi Leo sudah selesai. Seluruh tubuh lelaki itu dililit perban. Banyak yang dibelah dan dijahit kembali dibagian tubuhnya untuk mempertahankan nyawanya. Semua dokter bekerja keras menanganinya. Bahkan dokter didatangkan dari Belanda saat operasi dibagian kepalanya.
Kini lelaki yang sudah selesai menjalani operasi ini, terbaring dengan kaku. Tak bosan bosan Dhira berada di dekatnya dan mengajaknya bicara. Sudah sebulan lebih selalu diajaknya bicara tapi lelaki itu belum juga sadar.
"Jangan ragu untuk bangun. Hubungan keluarga kita sudah baik. Kita sudah direstui. Apakah kamu tidak ingin mendengarnya langsung dari ibuku?" Dhira memegangi jemari Leo.
"Aku tahu kamu sangat menantikan ini. Makanya bangun. Jangan diam aja, membiarkan aku kesepian."
Dokter memperkirakan setelah beberapa hari sejak operasi, harusnya Leo sudah bangun. Tapi lelaki itu belum menunjukkan reaksi apapun hingga empat mingguan.
Perbannya pun sudah banyak yang dibuka. Tinggal di kepala dada, perut dan kaki kirinya. Bagian yang mengalami operasi besar.
"Dhi, ini sudah jam dua, kamu belum makan siang. Kalau kamu sakit, gimana bisa menjaga Leo. Kamu harus jaga kesehatan juga." Amelia yang baru datang bersama suaminya menyuruh Dhira makan.
"Nggak selera Bu."
"Walau gak selera, harus tetap makan. Kamu itu asam lambungnya udah parah. Nanti kambuh. Biar kami yang menjaga Leo. Kamu makanlah dulu."
Dengan malas, Dhira akhirnya pergi ke ke kantin.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian, Ara dan Rudy tiba juga di rumah sakit.
Sudah yang kesekian kalinya mereka bertemu semenjak hari perdamaian. Awalnya terasa agak kaku, namun lama-lama menjadi hangat karena obrolan Ara dan Robert.