
Iya." Cepat cepat Meli mengumpulkan foto foto itu dan membuangnya ke tempat sampah.
Robert keluar dari rumah tanpa mengatakan apapun. Langkahnya yang putus asa menyeretnya masuk ke mobil.
Meli menatap kepergian Robert dengan harapan besar. "Hubungan kalian sudah berakhir. Kini saatnya jalan terbuka bagiku. Robert, hanya kamu yang kucintai. Hanya aku yang berhak berada di sampingmu. Tunggulah beberapa hari. Aku akan menggantikan posisi Araysa. Aku akan membuatmu melupakannya. Sakit mu yang sekarang hanya sebentar. Setelah hari ini, kita akan bahagia."
Semenjak hari itu, kepribadian Robert berubah makin parah. Bukan lagi hanya suka membentak tapi suka main tangan pada siapapun yang mengusiknya. Bawahannya kerap dapat jotosan darinya jika ada kesalahan atau hal yang menyinggungnya.
Semua yang mengenalnya semakin takut padanya. Para karyawannya selalu menghindar bertemu dengannya, kalau tidak mau jadi sasaran amukan. Bukan satu dua lagi yang mengundurkan diri, tapi sudah banyak. Pihak yang bersangkutan mulai mengeluh selalu mencari orang baru. Sedangkan para pejabat kantor yang berusia dua kali lipat darinya mulai muak dengan tingkahnya.
"Humm...begini, ada yang ingin ku bicarakan denganmu." Setelah beberapa kali percobaan barulah Meli berhasil mengajak Robert makan bersama.
"Cepat katakan! Aku tidak punya waktu bersantai santai." Ketus Robert tanpa melihat wajah Meli. Tanpa perasaan ia memakan nasinya dan menelannya cepat cepat.
"Soal tingkah mu. Kamu marah marah pada semua orang. Kamu pikir tanpa mereka semua, kamu bisa menjalankan usaha peninggalan orang tuamu? Jangan kekanak-kanakan! Tanpa mereka, perusahaan mu akan bangkrut. Asal pecat! Main tinju! Memaki sesuka hatimu! Stopppp...semua perilaku mu itu! Orang orang sudah muak padamu!" Bentak Meli. Bagaimanpun, ia tidak mau Robert menjadi berubah dari orang kaya yang sukses dan selalu dipenuhi semangat menjadi seorang lelaki yang hancur dan bangkrut. Bagaimana pun ia ingin cinta yang sempurna, dapat lelaki tampan juga kaya raya.
"Aku tidak peduli pada orang orang! Yang penting yang bisa dipakai ku pertahankan. Yang tidak out! Kenapa pula jadi kamu yang keberatan!" Robert tidak terima. Wajah masam dan selalu kaku itu makin dingin. Jika sebelumnya wajah itu masih lembut dan bersahabat pada Meli, kini tidak lagi. Bagaimana terhadap orang-orang begitulah jugalah kini terhadapnya.
"Tanpa orang orang, kamu bisa jadi gembel tahu nggak!? Kalau semua orang sudah keluar, apa perusahaan mu masih berjalan? Emang bisa hanya kamu sendiri yang mengerjakannya,hah? Jangan bodoh kamu! Otakmu makin rusak! Orang habis dicampakkan itu harus tegar dan bangkit kembali dengan power baru! Kamu...!" Meli menunjuk wajah Robert. "Kamu malah berubah jadi monster! Tidak berperasaan dan menjadi tolol!"
"Haaaa...! Diammm!!! Siapa kamu mengaturku!" Robert makin mengamuk. Perasaanya makin terluka dikatain tolol oleh Meli.
"Aku Meli Fatin!" Meli memukul dadanya.
"Aku orang yang peduli padamu! Aku tidak mau kamu menjadi seperti sekarang! Aku mau kamu menjadi pria sejati yang berperasaan. Bukan seperti robot! Hidup tanpa nyawa dan perasaan. Itu sakit bagiku..." Meli sangat emosional. Sampai sampai ia menangis saat pertengahan kalimatnya.
Robert terdiam. Ia hanya melotot ke arah wajah Meli yang sudah basah.
"Aku mohon...sadarlah! Sampai kapan kamu seperti orang tersesat? Hilangkan dia dari hatimu! Jangan biarkan bayangannya menyurutkan semangatmu! Dia sudah bahagia bersama orang lain. Untuk apa kamu merusak dirimu! Bangun!!! Bangkit dan lihat betapa orang orang membutuhkanmu! Ada banyak orang yang setia dan baik padamu di dunia ini. Hanya dia sendiri yang bodoh melakukan itu padamu."
Robert mendengus. Ia tetap makan seperti orang asal makan. Sama sekali tidak menikmati yang sedang dimakannya.
"Lihat caramu makan, sungguh menyedihkan. Lagi pengemis, bisa menikmati makanannya meski hanya makanan sederhana. Terluka hatiku melihatmu seperti itu."
"Jangan pedulikan aku. Aturlah hidupmu. Kalau kamu terluka jangan lihat. Menjauh dariku." Robert meminum air setelah selesai makan.
"Hiks hiks orang tuamu lebih lebih sengsara dariku melihatmu seperti ini. Mereka pasti menangis. Kapan kamu sadar?"
Wajah kaku Robert berubah mendung. Mungkin kata kata Meli kena ke hatinya.
"Seandainya kalian masih bisa saling berbicara, paman sama bibi pasti mengatakan hal yang sama denganku. Bukalah pikiranmu. Hiduplah selayaknya dan jadilah kesukaan orang terlebih bagi para bawahan mu."
Robert bergeming. Ia hanya menatapi ujung jemarinya yang sedang memegang gelas dengan mulut tertutup rapat.
"Sebagai orang yang sayang padamu, aku rela berantam denganmu demi kebaikanmu. Aku tidak ada maksud jahat atau menjerumuskan mu. Justru aku ingin kamu yang terbaik."
"Apapun itu jangan membuat dirimu berlarut larut. Aku akan selalu menemanimu. Aku selalu ada untukmu. Mari kita bersama sama bahu membahu menjalani kehidupan ini."
Robert mengangkat kepalanya menatap Meli degan mimik aneh.
"Maksudku adalah...sebagai temanmu aku siap sebagai pendukung mu."
__ADS_1
Barulah Robert menurunkan tatapannya. Setelah menghela nafas panjang, ia mengangguk dan beranjak dari tempatnya. Ia berjalan keluar dan diikuti oleh Meli.
Tidak dan kata mengiyakan atau penolakan. Tapi jelas terlihat Robert mulai tenang, dan tidak terlalu galak lagi. Ia lebih menahan diri dari semua yang dirasanya menjengkelkan.
Ketenangan pun mulai terasa. Para karyawan juga yang lainnya perlahan nyaman.
Namun, keikhlasan Robert runtuh setelah seminggu. Ia bertatap muka dengan Araysa, gadis yang telah menjungkirbalikkan dunianya. Segala yang tersimpan dihatinya kembali bangun dan membuatnya ke mode mengamuk.
Tidak ada lagi jalan bagi Araysa untuk menanggulangi keadaannya. Apapun itu ia harus bicara dengan Robert. Beberapa hari yang lalu, ia hampir bertemu dengan lelaki itu, tapi terhalang karena berbagai alasan. Ada saja penyebabnya. Entah tiba tiba Robert menghilang atau dia yang diganggu orang.
Timbul kenekatan di dirinya untuk mengunjungi rumah lelaki itu. Selama ini ia selalu takut dan enggan ke sana. Takut tidak diterima. Apalagi mengingat kata kata Meli bahwa Robert sudah punya kekasih. Beberapa kali sempat sampai di depan gerbang rumah, tapi ia mundur lagi karena ragu. Ia takut yang didapatnya kekecewaan belaka.
Tapi kali ini ia sudah nekad. Entah apapun yang didapatnya harus dibuktikannya dulu.
Robert berhenti berjalan saat memasuki rumahnya. Tidak jauh di depannya, wanita yang sangat dibencinya berdiri dengan perut yang sudah berbeda dari terakhir dilihatnya. Dadanya bergemuruh disertai kepalanya yang tiba tiba berdenyut hebat. Takut tidak bisa mengendalikan diri, ia berbalik menghindari wanita itu. Ia jijik dan tidak sudi melihatnya lagi.
"Robert tunggu!" Araysa berjalan cepat, hampir berlari mengejar Robert.
"Tunggu! Kita harus bicara! Ini sangat penting."
Tapi Robert tidak menghiraukannya. Ia terus saja berjalan ke arah sudut halaman.
"Berhenti!" Teriak Araysa. Ia sangat marah dicuekin. Dugaannya soal perselingkuhan Robert menjadi kuat. Ia berlari dan menarik tangan Robert. "Apa-apaan kamu hah!?"
Robert berhenti. Dihempaskan nya tangan Araysa sekuatnya hingga terjatuh ke tanah. "Bang*at!" Tuding Robert ke wajah Araysa. "Wanita sun*al! Untuk apa kau datang ke sini?"
"Robert! Mulutmu itu jaga!"
Plakkkk...
Araysa bagai tersambar petir. Inikah alasannya kenapa hatinya ragu selama ini. Ternyata ini yang akan didapatnya. Air matanya tumpah sangat deras menyesali dirinya. "Cihhh...laki laki sepertimu yang pantas mati! Setelah berbuat, kamu melemparkan ku! Kau pria kejam! Kau pria pengecut! Lihat perbuatan mu! Lihat!!" Araysa menunjukkan perutnya.
"Pergi!!! Wanita sepertimu hanya penipu! Setelah tidur dengan laki laki lain kau bun*ing! Lalu seenaknya kamu minta pertanggung jawaban dariku?! Jangan mimpi! Tidurlah yang banyak dengan lelakimu itu! Bun*inglah sebanyak yang kamu mau! Aku tidak peduli! Satpam!! Geret wanita ini keluar dari sini!" Teriak Robert dengan melayangkan kakinya sehingga ujung sepatunya mengenai dadanya.
Seorang satpam datang berlari dan dengan sigap menarik tangan Araysa.
"Heiii! Hentikan! Perutku sakit!" Araysa mengigit tangan satpam hingga lepas. Ia meringis sambil memegangi perutnya.
"Bila kamu tidak bertanggung jawab, tidak perlu menyakiti tubuhku. Aku akan pergi!" Araysa bangkit. Ia menatap mata Robert dengan kebencian tiada tara. Ia sungguh telah salah mempercayai Robert selama ini. Ternyata kekejamannya sungguh tak berperikemanusiaan. Dirinya diusir seperti hewan menggunakan kaki. Hati Araysa hancur. Ia sangat menyesal telah datang.
"Husss! Pergi! Pergi ke lelakimu itu. Silahkan kalian tidur sepuasnya! Tapi ingat! Jangan pernah menampakkan wajahmu dihadapan ku! Sekali lagi aku melihatmu ku bu*uh kamu!" Robert berbalik dan masuk ke rumahnya.
Araysa berjalan tertatih. Rasa lelah dan sakit menyatu di dirinya sehingga sulit melangkah. Tapi sekuat tenaga ia bertahan agar bisa jauh dari rumah Robert. Ia tidak mau pingsan dan terlihat oleh lelaki itu.
Dari balik pohon di luar pagar rumah Robert, Meli cekikikan sendiri. "Yes...hari yang kutunggu tunggu akhirnya datang juga. Putus sudah hubungan kalian. Sudah tidak mungkin lagi kalian bisa saling memahami dan bersama." Ia bertepuk tangan sendiri seperti orang gila.
"Pergi yang jauh! Kalau tidak bunuh diri aja! Kamu pasti tidak tahan dengan kemarahan Robert. Ck ck ck...matilah sana, biar kami hidup aman dan damai." Meli begitu bahagia dengan semua yang dilihatnya. Sedikitpun tidak ada belas kasih di hatinya terhadap Araysa. Atau rasa takut ayas semua yang dilakukannya.
Setelah Araysa tidak terlihat lagi, barulah Meli keluar dan masuk ke rumah Robert.
Di dalam kamarnya, Robert berbaring tanpa melepas apapun di tubuhnya. Sepatu dasi dan jasnya masih utuh. Meski matanya terpejam, tidak menghalangi air matanya yang mengalir hingga membasahi seprai. Rahang saling beradu hingga menciptakan suara gemerutuk. Sementara kedua tangannya terkepal kuat dan sesekali meninju tempat tidur.
__ADS_1
Ceklek...
Mendengar pintu terbuka, Robert membuka matanya. Melihat Meli yang masuk ia kembali terpejam. Dadanya masih turun naik. Segera di hapusnya bekas air matanya dengan lengan kemejanya.
"Kenapa lagi? Apa ada masalah?" Tanya Meli duduk di dekat Robert. Wajahnya sungguh menampakkan ke khawatiran.
"Huffff...tidak. Ngapain kamu masuk ke sini?" Ketus Robert.
"Mau bilang, nanti malam kita di undang ke perjamuan makan malam Pak Ali."
"Kita? Apa hubunganmu ikut ke sana."
'Issss...gitu amat. Sangat tidak berperasaan.' Meli mengoceh dalam hati.
"Maksudku kamu. Cuma aku mau ikut menemanimu." Ucapnya setelah berhasil menciptakan senyum manisnya.
"Tidak perlu. Aku sendiri juga bisa. Pulanglah kamu!"
"Benarkah kamu baik baik aja? Kok nadamu terdengar kesal?" Meli meletakkan tangannya ke atas dada Robert. Ia berusaha menunjukkan perhatiannya. "Jika ada masalah berbagilah denganku."
"Ck awas!" Robert menampar tangan Meli. Ia merasa risih disentuh seperti itu. "Kamu itu seorang wanita. Harusnya kamu menjaga setiap tingkah dan gerakan mu. Karena sama aku, kamu bisa selamat. Coba sama pria lain kamu bisa dimangsa." Robert mencoba melenyapkan pikirannya dari wajah Araysa dengan berbicara banyak pada Meli.
"Sama pria lain aku tidak akan seberani ini. Ini kamu. Aku tidak pernah takut padamu. Aku..." Meli mendekatkan tubuhnya. Ia kembali meletakkan tanganya ke dada Robert. Tubuhnya hampir separuh menumpang diatas tubuh Robert.
"Apa-apaan kamu ini. Kamu terlihat seperti seorang wanita penggoda! Awasss!" Robert mendorong Meli dengan keras. Lalu ia duduk.
"Hahaha....gimana akting ku, bagus nggak?" Meli tertawa seakan yang barusan itu adalah permainan. Terpaksa ia berpura-pura sedang berakting demi menutupi keinginan dirinya yang sesungguhnya.
Robert menoleh dengan tajam. "Sebaiknya kamu pulang!"
"Oke. Bolehkan aku ikut ke acara nanti malam?"
"Iya! Cepatlah pergi!" Bentak Robert sambil menggaruk kepalanya.
Mi tersenyum lebar. "Terimakasih! Kamu memang yang terbaik." Tiba tiba ia melompat ke punggung Robert.
Mendapat perlakuan Meli Robert kaget. "Jangan seperti ini. Kalau aku kakak kandungmu tidak masalah. Aku ini laki laki lain." Robert memaksa tangan Meli melepaskan lehernya.
"Hehehe...iya deh. Kamu memang bukan kakak kandungku." Meli cengengesan sembari turun dari punggung lebar Robert laku keluar dari kamar.
"Hohhhh...semua orang sungguh membuatku gila. Tidak ada yang bikin senang. Haaaaa...! Aaaaa!!!" Robert berteriak keras hingga beberapa kali barulah ia merasa sedikit longgar.dibagian dadanya.
Malam itu, Robert dan Meli pergi ke acara makan malam ke rumah Pak Ali. Dirinya khusus diundang sebagai bentuk terimakasih telah membantu memulihkan modal perusahaan Ali meski itu berupa hutang. Secara pribadi, Robert mengeluarkan uang yang banyak demi meminjamkan Ali.
"Selamat datang Pak Robert, inilah rumah sederhana kami. Kami dengan senang hati menyambut kalian." Ali dan istrinya melebarkan senyum sebagai penghormatan.
"Terimakasih. Anda sangat merendah. Rumah Pak Ali sangat indah dan hangat." Sahut Robert matanya tak lepas dari tubuh istri Ali yang terlihat sangat kurus.
"Hahaha... Anda bisa aja. Ayo kita ke ruang makan." Mereka pergi ke sebuah ruangan yang luas dengan tatanan meja bundar yang besar berisi menu makanan dan minuman.
"Silahkan, kita awali dengan minum." Ali menuang anggur ke setiap gelas.
__ADS_1
Robert dan Meli menyambut dengan senang hati. Mereka minum dengan nikmat sembari berbincang tentang bisnis.
"Ah, usiamu yang masih sangat muda bukankah harusnya masih kuliah?" Tanya Aurora istri Ali.