
"Hm, Jangan berbicara macam-macam, pria yang kusuka itu tidak akan bisa bersama-sama denganku," jawab Keyla.
"Kenapa?" Kembali tanya Alexi.
🐔🐔🐔
"Karena kami tidak bisa bersama-sama," jawab Keyla berusaha menahan dirinya sendiri perempuan itu mengatur nafasnya yang terasa begitu sesak dan mengepal kuat tangannya.
Sulit baginya untuk mengabaikan perasaannya, tetapi sulit juga baginya untuk mengabaikan keadaan mereka bahwa mereka memang tidak ditakdirkan untuk bersama-sama.
Alexi yang menatap perempuan di depannya benar-benar mengatur erat-erat giginya.
"Itu,,, Sepertinya kau perlu waktu sendiri, aku pergi dulu," kata Alexi yang bisa melihat bahwa perempuan itu berusaha menyenangkan dirinya sehingga pria itu berpikir bahwa dia harus memberi waktu bagi perempuan itu untuk menyendiri.
Maka tanpa menunggu lebih lama, Alexi segera berdiri ketika dia melihat perempuan di depannya berkali-kali menghela nafas.
Pria itu pun pergi ke sebuah sudut taman, lalu dia mengeluarkan ponselnya dan mengirim rekaman tersebut pada seorang pria yang selama ini mengiriminya uang.
__ADS_1
Setelah selesai mengirim rekaman tersebut, maka Alexi terus berdiri di tempatnya kembali mengawasi Keyla yang kini menangis sendirian.
"Hah,,, dia selalu tampak baik-baik saja, tapi sebenarnya tidak baik-baik saja, kasihan sekali dia," kata pria itu sembari berjalan ke arah kursi taman yang tak jauh darinya lalu dia pun duduk di sana sembari menatap Keyla dan setelah beberapa saat dia merasa bosan sehingga dia pun memotret perempuan itu.
Cekrek. Cekrek. Cekrek.
Semua foto yang ia ambil dikirimkannya pada seseorang melalui sebuah pesan lalu pria itu terus duduk menunggu Keyla menjadi tenang barulah dia menghampiri perempuan itu.
"Apa kita kembali ke kamar?" Tanya Alexi pada Keyla.
Namun, secara tiba-tiba keyla menghentikan langkahnya.
Perempuan itu berdiri diam di tempatnya menatap seorang pria yang berdiri tak jauh darinya dan pria itu juga sedang menatapnya sembari memegang satu buket bunga di tangannya.
Pria yang sangat ia rindukan, pria yang selalu muncul dalam mimpinya dan pria yang selalu membuat perasaannya menjadi kacau selama beberapa waktu terakhir.
"Kau,," Keyla hanya bisa mengucapkan satu kata dari mulutnya sembari memperhatikan Genta yang kini berjalan ke arahnya dengan langkah yang pelan.
__ADS_1
Saat itu, Keyla bisa merasakan matanya mulai menjadi panas, dan otot-otot di bagian matanya juga terasa sakit karena berusaha menahan kelopak matanya agar tidak berkedip.
Ia terus menatap ke arah Genta sampai pria itu benar-benar tepat berdiri di hadapannya dan pria itu memeluknya dengan erat.
Kayla berusaha untuk tidak menangis, Tetapi setelah beberapa saat dipeluk perempuan itu tidak bisa menahan tangisnya sehingga dia akhirnya membalas pelukan pria itu sembari menangis dengan keras.
"Hiks,, hiks,, hiks,,," Isak Keyla meneteskan air matanya hingga membasahi baju pria yang sedang memeluknya.
"Maaf, aku minta maaf," kata Genta juga memeluk perempuan itu dengan erat dan dia benar-benar menyesali segala sesuatu yang telah ia lakukan.
"Hiks,, hiks,, hiks,,, kau tidak pantas dimaafkan, hiks,, hiks,, hatiku sangat sakit hiks,, hiks,," Keyla menangis dengan keras hingga membuat ereksi yang ada di sana pun segera meninggalkan kedua orang itu.
Dia berjalan dengan senyum terukir indah di wajahnya ketika di sebuah pesan masuk ke ponselnya memperlihatkan sejumlah nominal uang yang ditransfer padanya.
Maka, Setelah dia menaiki mobilnya dan meninggalkan rumah sakit itu, ia pun mengirim pesan ke ponsel Keyla.
*Berbahagialah, dan jangan pernah menangis lagi,* tulis pria itu pada pesannya lalu mengirimkannya.
__ADS_1