
"Aku pul--" Barto yang baru saja kembali dari luar negeri dan berjalan ke dalam rumah langsung menghentikan ucapannya ketika dia melihat semua orang sedang kalang kabut berlarian di dalam rumah.
"Minggir di situ kau ma minggir!!!" Teriak Hera pada putranya yang ada di ambang pintu sembari berlari mengikuti Genta yang membawa Kayla digendongannya.
"Akhh!! Sakit!!!" Teriak Kayla sembari mencakar kulit suaminya yang merasa begitu sakit pada perutnya.
"Astaga,," Barto langsung melemparkan kopernya ke samping, lalu pria itu berlari keluar membukakan pintu mobil untuk genta dia duduk di kursi kemudi.
Begitu Genta naik ke atas mobil, Genta langsung menutup pintunya dengan Barto yang menancap gas meninggalkan rumah serta orang-orang yang berlari di belakang Genta.
"Apakah dia sudah mau melahirkan?" Tanya Barto sembari melirik kakaknya lewat spion dalam mobil.
Namun Genta tidak menjawab ucapan pria itu, dia berusaha menenangkan Kayla yang saat itu tampak meringis kesakitan dengan kuku perempuan itu sudah mencakar menembus kulit Genta.
"Sayang,, tahan sebentar, kita akan sampai di Rumah sakit dalam waktu 5 menit," ucap Genta begitu cemas.
Sementara Barto yang menyetir, dia mempercepat laju kendaraannya sembari terus menekan klaksonnya agar mobil-mobil yang ada di depannya memberinya jalan.
Mobil itu melaju dengan cepat diikuti oleh sebuah mobil di belakangnya yang dikendarai oleh Adam dengan ibunya beserta istrinya juga berada dalam mobil tersebut.
__ADS_1
"Astaga,,,, Apakah dua pria itu bisa menangani Kayla?" Ucap nyonya besar Ozon yang benar-benar cemas terhadap Keyla yang hanya ditemani oleh Genta dan barto, dua orang yang belum berpengalaman menghadapi wanita hamil.
"Semoga saja begitu, tapi kenapa dia melahirkan sekarang? Bukan ka dokter memperkirakan kelahiran bayi mereka masih 2 minggu lagi?" Tanya Adam yang merasa heran Bagaimana bisa perkiraan dokter melenceng seperti itu, padahal mereka sangat mempercayai dokter untuk menangani kesehatan Keyla selama perempuan itu hamil.
"Itu biasa terjadi, sekarang kehamilan Keyla sudah mencapai umur 9 bulan lebih, jadi Tentu saja dia bisa melahirkan kapanpun di waktu yang tidak kita duga," ucap Hera langsung membuat Adam menggertakan giginya.
Jika dari awal dia tahu bahwa hal seperti itu bisa terjadi maka dia akan menyediakan satu ambulans di rumahnya supaya mereka bisa langsung bersiaga jika terjadi sesuatu.
Tetapi sekarang, sudah terlambat untuk menyesalinya sehingga sekarang hanya bisa melakukan yang terbaik menuntun keyla menuju rumah sakit.
Dan akhirnya, setelah beberapa menit di atas mobil, mereka kini tiba di UGD dan Genta langsung menggendong Keyla ke dalam UGD disambut oleh para dokter umum yang ada di sana.
Maka Keyla pun didorong ke dalam salah satu ruangan di UGD lalu diperiksa oleh seorang dokter di sana ditemani oleh genta yang terus memegang erat tangan istrinya.
"Sudah pembukaan 5!" Ucap dokter segera melepaskan kaos tangan medisnya lalu perempuan itu pun menghubungi bagian kebidanan agar menangani Kayla dengan cepat.
Maka setelah itu, Keyla pun dibawa keluar dari UGD dan dipindahkan ke ruang persalinan dengan semua keluarganya mengikutinya.
Dokter pribadi Kayla yang kebetulan saat itu berada di Rumah sakit pun langsung menangani persalinan Keyla.
__ADS_1
Genta yang ada di ruang persalinan merasakan tubuhnya sangat panas dan keringat mengalir di punggung dan keningnya saat ia melihat bagaimana orang-orang menangani istrinya.
"Itu,,, tidak bisakah kalian membius istriku?" Tanya Genta yang merasa bahwa istrinya harus dibius agar perempuan itu tidak terus kesakitan.
Seluruh tim medis yang ada di dalam sana langsung menatap ke arah Genta dan tidak menduga bahwa pria itu bisa juga bercanda di situasi seperti itu.
Miskin begitu, mereka tetap menjelaskan pada Genta sebelum melanjutkan prosedur pemeriksaan mereka terhadap Keyla.
Sementara di luar ruangan persalinan, semua orang sedang duduk dengan tangan disatukan di dada, mereka berdoa kepada sang Buddha agar memberikan kelancaran atas operasi yang sedang dilakukan.
Setelah selesai berdoa, tiga orang yang ada di sana menatap ke ruang operasi dengan Hera yang tidak bisa duduk, perempuan itu berjalan-jalan dengan kegelisahannya Dan Dia benar-benar tidak tenang memikirkan Keyla yang sedang berjuang melahirkan cucu-cucunya.
Berbeda dengan Hera, nyonya besar Ozon masih tetap duduk di tempatnya dan perempuan itu tak pernah melepaskan tangannya yang terus berada di dada, perempuan itu berdoa dengan sangat panjang berharap agar doanya diterima oleh Sang Buddha.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya semua orang berhenti bernafas ketika mereka mendengar suara bayi yang menangis.
Hooooeeee...!!!
Hooooeeee...!!!
__ADS_1
Hooooeeee...!!!