
"Selamat jalan Nek," ucap Keyla yang saat itu menabur bunga di atas makam Nyonya Astella.
Perempuan itu tak henti-hentinya meneteskan air matanya karena begitu merasa bersalah pada perempuan yang telah meninggal itu, keyla berpikir bahwa seandainya dia tidak datang ke desa itu, mungkin saja masih ada umur yang panjang untuk Nyonya Astella.
"Kau yang sabar," ucap seorang perempuan yang berasal dari desa menenangkan Keyla yang sedari tadi terus menangis seperti perempuan itu tidak akan kehabisan air matanya.
"Terima kasih, hiks,, hiks,," kata Keyla sembari menyeka air matanya dan tatapan perempuan itu pun tertuju pada makam yang ada di samping makam Nyonya Astela, yaitu makam temannya, Nari.
Setelah cukup lama berada di sana, maka satu persatu orang pun meninggalkan tempat tersebut, sementara Keyla masih tetap setia tinggal di sana sampai akhirnya cuaca mendung pada hari itu meneteskan air hujan ke bumi.
"Maaf, Aku harus pergi sekarang," kata Keyla kemudian berdiri dan berjalan dengan pelan meninggalkan makam tersebut tanpa memperdulikan dirinya yang terguyur oleh hujan yang deras di sore hari itu.
Tak jauh dari situ, seorang pria yang membawa payung berwarna hitam berlari menghampiri Keyla yang melangkah dengan kaki lemasnya.
Begitu mendekati Keyla, pria itu langsung merangkul Keyla untuk membantu perempuan itu berjalan ketika Keyla malah menghentikan langkahnya, lalu dia mengangkat wajahnya menatap sang pria yang merangkulnya.
__ADS_1
Itu adalah Genta, "hiks,, hiks,," Keyla menangis semakin keras sembari memeluk pria itu dan saat ini dia tidak tahu lagi harus berkata apa.
Dia tidak ingin lagi menyakiti siapapun, tetapi kenapa hidupnya begitu buruk sehingga setiap langkah yang ia ambil harus menyakiti seseorang?
Genta yang mendengarkan tangisan Keyla hanya berdiri di tempatnya memegang payungnya dan membiarkan perempuan itu menangis sekeras-kerasnya.
Ia cukup lama berdiri diam sampai akhirnya Keyla menghentikan tangisannya lalu perempuan itu mengangkat wajahnya menatap Genta.
"Kau,, sekarang kau bisa melakukan apapun yang ingin kau lakukan. Aku akan mengikuti semua ucapanmu bahkan jika sekarang kita harus pergi ke rumah ayah dan ibu dan mengatakan padanya bahwa kita akan menikah," ucap Keyla sembari meneteskan air matanya.
Sementara Genta, pria itu menatap Keyla dengan tatapan kelamnya, air mata perempuan itu, cara berbicara perempuan itu, semua nya terlihat seperti seseorang yang benar-benar putus asa sehingga hal itu membuatnya menjadi goyah untuk menjadi keras kepala.
"Ayo,," ucap Keyla akhirnya menggenggam tangan pria itu lalu dia menarik Genta meninggalkan pemakaman tersebut.
Genta hanya berjalan saja mengikuti perempuan itu kamu tetapi dari matanya, dia bisa melihat perempuan yang sedang menggenggam tangannya itu bukanlah perempuan yang biasanya bersama-sama dengannya.
__ADS_1
Hal itu sangat mempengaruhi pikirannya sampai mereka tiba di mobil pun pria itu masih menatap Keyla dan menatap perempuan itu kini tampak menjadi lebih tenang.
Tetapi ketenangan perempuan itu malah membuat Genta semakin mengerutkan ke dunia dan semakin tidak mengerti dengan pikiran perempuan itu.
Broomm.....
Mobil meninggalkan pemakaman sampai mereka tiba di apartemen.
Keyla cepat-cepat mandi dan berganti pakaian, Lalu setelah itu dia keluar dari kamar dan mendapati Genta sedang sedang merokok di balkon apartemen sehingga dia pun pergi ke sana menghampiri pria.
Pakaian yang tadi digunakan pria itu di pemakaman masih melekat di tubuh pria itu dan terlihat jelas tatapan pria itu memandang jauh ke depan, jauh melebihi pandangan yang bisa mereka lihat pada malam hari itu.
"Apa kita makan malam dulu sebelum pergi ke rumah?" Tanya Keyla.
Ucapan perempuan itu langsung membuat Genta menatap Keyla, lalu dia pun menganggukkan kepalanya dengan pelan.
__ADS_1
"Aku akan memasak," ucap Kayla pun kembali masuk ke apartemen meninggalkan Genta yang masih terdiam dengan rokok yang terselip di kedua jarinya.