Pemuas Hasrat Kakak Angkat

Pemuas Hasrat Kakak Angkat
70


__ADS_3

"Tidak adakah yang akan kalian sampaikan pada ibu?" Tanya Hera pada dua orang anaknya di depannya hingga membuat Keyla pun menatap ke arah Genta.


Tetapi Genta tidak mengatakan apapun, pria itu hanya duduk dengan tenang di tempatnya hingga membuat Keyla pun akhirnya tertunduk untuk menghindari tetapan ibu angkatnya.


Sikap dua orang di depannya membuat Hera benar-benar kesal.


"Kalian ini,, hah,,," Hera tidak tahu harus berkata apa lagi pada dua orang di depannya yang tidak mau berbicara sehingga dia hanya mengambil teh yang telah diseduhkan oleh Keyla, lalu perempuan itu meminum teh tersebut.


Sementara minum teh, Hera tiba-tiba mendengar suara Keyla yang akhirnya berbicara.


"Maaf," ucap Keyla sembari memperkuat remasan pada tangannya yang terasa begitu dingin.

__ADS_1


Perempuan itu berusaha mengumpulkan semua nyalinya sampai dia akhirnya berani lanjut berbicara, katanya, "Aku, aku minta maaf karena sudah pergi tanpa memberikan kalian kabar. Tapi, aku janji, mulai sekarang tidak akan pernah pergi lagi dan aku akan berusaha untuk tidak membuat siapapun khawatir terhadapku."


Dua orang yang ada bersama-sama dengan Keyla kini menatap ke arah Keyla dan Genta yang menatap perempuan itu menyipitkan matanya mempelajari sikap perempuan itu.


Setelah beberapa saat, pria itu pun mengalihkan pandangannya pada ibunya sembari berkata, "Ibu pulang lah, ini sudah larut malam, nanti aku yang akan menjaganya di sini."


Hera yang mendengarkan itu sebenarnya tidak ingin cepat pergi meninggalkan putrinya, tetapi karena melihat putrinya tampak tertekan, maka perempuan itu merasa bahwa putrinya pada waktu untuk menyendiri.


"Kau juga kembali lah ke apartemenmu, biarkan Keyla menenangkan dirinya di sini," ucap Hera yang jelas tahu bahwa setiap kali putrinya mengalami sebuah guncangan, maka perempuan itu hanya membutuhkan satu suasana yaitu suasana yang tenang untuk menenangkan diri.


"Baik, Bu," ucap Genta segera berdiri lalu dia bersama-sama dengan ibunya pun keluar dari apartemen tersebut.

__ADS_1


Setelah mengantar ibunya pulang, Genta kembali ke apartemen di mana Keyla berada, dan saat ia masuk ke dalam kamar, didengarnya suara shower dari kamar mandi sehingga pria itu memilih duduk di tepi tempat tidur.


Ia menunggu cukup lama sampai akhirnya pintu kamar mandi terbuka melihatkan perempuan yang keluar dari sana hanya membalut tubuhnya dengan 1 buah handuk lalu perempuan itu masuk ke ruang ganti.


Genta masih tidak bergeming, ia menunggu sampai Keyla selesai mengganti pakaiannya lalu perempuan itu menghampirinya dan duduk di depan meja rias.


Meski duduk di depan meja rias, tapi Kayla tidak berniat untuk merias wajahnya, Sebab di atas meja rias juga tidak tersedia apapun untuk ia gunakan sehingga perempuan itu hanya duduk menghadap Genta.


"Itu,, bisakah kau menahan diri dan tidak mengatakan pada ibu tentang hubungan kita? Aku,, Aku benar-benar tidak siap kalau ibu mengetahui tentang apa yang telah kita lakukan selama ini. Juga,," Keyla berusaha menahan air matanya yang sudah terkumpul di pelupuk matanya dan siap untuk turun ke pipinya, "aku,, Aku sangat takut." Ucap Keyla yang tidak bisa membayangkan Bagaimana dirinya akan dipandang oleh semua orang setelah semua orang mengetahui hubungan sesungguhnya antara dia dan kakak angkatnya.


"Jadi itukah alasan kau memilih untuk pergi?" Tanya Genta menata perempuan di depannya yang terus tertunduk, dan meski dia melihat perempuan itu tertunduk namun dia tahu bahwa perempuan itu benar-benar dalam keadaan takut dan gelisah.

__ADS_1


Dengan susah payah, Keyla menganggukkan kepalanya, "ya," jawab Keyla dengan singkat sembari mengaitkan jari-jarinya dan memperkuat lipatan tangannya.


__ADS_2