
Setelah cukup merasa cemas dalam mobil, akhirnya mobil mereka berhenti di sebuah pinggir jalan setapak yang membuat Genta menatap keluar jendela sembari mengerutkan keningnya.
Sang asisten yang duduk di depan pun menatap ke arah Genta sembari berkata, "berikutnya kita hanya bisa berjalan kaki, sebenarnya bisa dengan berkendara menggunakan sepeda motor, tapi kita tidak memilikinya."
Genta yang mendengarkan itu tidak mengatakan apapun, tetapi pria itu segera keluar dari mobil, lalu dia pun berjalan menuju jalan setapak yang memasuki perkebunan kelapa sawit di bagian kanannya, sementara di bagian kirinya ada kebun jagung dan juga buah naga.
"Berapa lama kita berjalan kaki?" Tanya Genta.
"Itu,, mungkin sekitar satu jam," ucap sang asisten saat ia melihat langkah kaki Genta yang terlalu santai, bahkan satu jam saja tidak akan sampai di sana jika pria itu berjalan dengan sangat santai.
Tetapi, Genta tidak memperdulikan ucapan pria itu, dia hanya melangkahkan kakinya sesuai dengan yang bisa ia lakukan, sementara sang asisten pun memerintahkan pengawal yang bersama-sama dengan mereka supaya pengawal itu mencari kendaraan roda dua yang bisa mereka gunakan.
Setelah memberi perintah, maka sang asisten menyusul Genta yang sudah berjalan di jalan setapak itu dan mereka pun terus berjalan bersama-sama di jalanan yang mempunyai lebar kira-kira satu setengah meter.
Batu-batu kecil dan rumput, serta tanah bercampur di sana, Jadi hal tersebut membuat kotor sepatu mereka, namun sang asisten tidak mengatakan apapun sebab bosnya sendiri tidak mengeluh apalagi dirinya yang hanya seorang asisten.
Masih terus berjalan, tiba-tiba ponsel Genta berdering.
__ADS_1
Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....
Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....
Pria itu merogo sakunya mengambil ponselnya dan melihat bahwa ibunya lah yang menelpon sehingga pria itu mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Halo Bu," ucap Genta.
"Apakah kau sudah menemukan adikmu?" Tanya Hera dari seberang telepon yang mana suara perempuan itu amatlah cemas sebab memikirkan tentang anak angkatnya, satu-satunya anak perempuannya yang ternyata menghilang.
"Ahh,, baiklah, kau harus menemukannya, Dia anak perempuan ibu satu-satunya, ibu tidak ingin kehilangan dia!!!" Tegas perempuan dari seberang telepon.
"Baik Bu," jawab Genta lalu mengakhiri panggilan telepon itu.
Pria tersebut memikirkan ucapan ibunya tentang tidak mau kehilangan anak perempuan satu-satunya.
'Ibu tidak akan kehilangan dia, hanya ibu akan merubah statusnya dari anak angkat menjadi menantu,' ucap Genta dalam hati.
__ADS_1
Saat Genta terus melangkahkan kakinya, Dia tiba tiba mendengar suara motor dari belakang hingga pria itu pun menghentikan langkahnya dan melihat beberapa pria bersepeda motor yang merupakan anak buahnya pun berhenti di hadapannya.
"Berikan!" Perintah Genta langsung membuat salah satu pria turun dari motor lalu membiarkan Genta mengendarainya, sementara pria itu bergabung bersama dengan kawan-kawannya yang lain.
Motocross yang dikendarai sejumlah orang-orang berjas hitam itu pun meluncur di jalan setapak menembus kebun-kebun yang ada di sisi kiri dan kanan jalan.
Sang asisten yang dibonceng oleh salah satu pria berkata pada pria yang memboncengnya, "dahulu Tuan, kita harus memperhatikan jalan di depan baik atau tidak."
Sang pria yang mengendarai motor pun mengikuti perintah asisten itu hingga motor mereka mendahului Genta untuk melihat jalan di bagian depan.
Setelah beberapa saat, mereka akhirnya tiba di sebuah pedesaan yang mana ternyata desa itu meski berada di dalam tempat terpencil, namun ada sekitar 50 rumah yang tersebar dengan jarak yang lumayan jauh.
Semua pengendara motor cross itu memarkirkan motor mereka, lalu sang asisten pun berkata, "kami akan melakukan penelusuran dari rumah ke rumah."
Genta menganggukkan kepalanya dengan tenang hingga semua orang-orangnya pun berpencar untuk melakukan pencarian sementara dia berjalan-jalan menatap desa sekitar situ.
Ingin melihat tempat bagaimana yang di pilih oleh perempuan itu untuk bersembunyi.
__ADS_1