Pemuas Hasrat Kakak Angkat

Pemuas Hasrat Kakak Angkat
57


__ADS_3

Setelah Citata meninggalkan desa, perempuan itu menumpangi sebuah mobil yang mengantarnya ke stasiun kereta api.


Begitu naik ke kereta api, perempuan itu melihat seorang gadis remaja yang duduk di sampingnya sembari memainkan ponselnya.


Dia pun kepikiran untuk menghubungi Rion sehingga dia menatap perempuan itu, "itu,, permisi, bolehkah aku meminjam ponselmu sebentar untuk melakukan panggilan telepon?" Tanya Citata.


Remaja itu mengangkat wajahnya menatap Citata, dan terlihat bahwa remaja itu enggan meminjamkan ponselnya sehingga Citata dengan cepat menarik beberapa lembar uang dari sakunya lalu menyerahkannya pada sang remaja.


Hal itu membuat remaja tersebut tersenyum menyerahkan ponselnya pada Citata sembari berkata, "Kakak boleh memakainya sampai aku turun dari kereta."


Citata tidak terlalu mempedulikan ucapan remaja tersebut, dia hanya tersenyum dan menekan menekan layar ponsel itu sampai akhirnya dia menekan tombol panggil pada sederet nomor yang telah Ia masukkan.


Drrtt.... Drrtt... Drrtt...


Drrtt.... Drrtt... Drrtt...

__ADS_1


Drrtt.... Drrtt... Drrtt...


Nomor yang anda tuju tidak menjawab, silakan tinggalkan pesan suara setelah--


Tut tut tut...


Citata mematikan panggilan telepon itu, lalu dia pun mengulanginya lagi namun setelah tiga kali mengulanginya, sama sekali tidak ada orang yang menjawab dari seberang telepon hingga membuatnya menghela nafas.


Remaja yang ada di dekat Citata pun menatap Citata lalu dengan suara ketus gadis remaja itu berkata, "Dia mungkin tidak mau mengangkatnya karena itu nomor baru, coba berselfie dan kirimkan foto kakak padanya."


Setelah beberapa saat, panggilan telepon langsung masuk hingga membuat Citata dengan cepat mengangkat panggilan telepon itu.


Belum saja Citata sempat berbicara setelah menekan tombol terima, suara seorang pria dari seberang telepon langsung membuat mata Citata menjadi panas.


"Sayang! Ini kau?!!" Tanya Rion dari seberang telepon dengan suara kepanikan pria itu yang begitu kas ketika Citata mengalami sakit.

__ADS_1


"Hiks,, hiks,, hiks,," Citata akhirnya terisak membuat gadis remaja yang bersama-sama dengan perempuan itu menatap Citata.


Meski gadis itu menatap Citata, namun dia tidak mengatakan apapun dan dia hanya merasa kesal bahwa perjalanannya kali ini mungkin akan begitu terganggu dengan perempuan yang ada bersamanya.


"Sayang,, Apa kau baik-baik saja? Beritahu aku di mana kau berada!" Perintah Rion dari seberang telepon yang benar-benar khawatir dengan Citata.


"Hiks,, hiks,, aku, aku di kereta menuju ibukota." Jawab Citata diakhiri dengan sebuah tangisan keras sebab perempuan itu benar-benar merindukan pria yang sedang berteleponan dengannya.


"Kereta mana? Katakan padaku biar aku menjemputmu di stasiun!!!" Tegas Rion dari seberang telepon.


"Ya,, ini,, ini,, keretanya,,, aku,, kereta," Citata tidak bisa mengucapkan dengan benar sebab perempuan itu merasa sesak dan pikirannya seolah-olah blank karena masih begitu terkejut dengan suara Rion yang ia dengar.


Hal itu membuat gadis yang bersama-sama dengan Citata kini merebut ponsel dari telinga Citata lalu dia pun mendekatkan ponsel itu ke telinganya.


Citata terkejut dengan kelakuan gadis remaja itu, tetapi ketika dia mendengar gadis remaja itu mengatakan informasi tentang kereta yang mereka tumpangi, maka dia hanya bisa kembali lagi menangis.

__ADS_1


Hatinya berkecamuk, perasaan bahagia bercampur rasa bersalah dan rindu,,, semuanya begitu sulit di jelaskan.


__ADS_2