
Setelah tiba di apartemen, Keyla memperhatikan apartemen tempat ia berada dan terlihat tidak ada yang berbeda dari ketika dia meninggalkan apartemen tersebut.
Maka perempuan itu pun segera melangkah membereskan beberapa barang yang terletak tidak pada posisinya.
Genta yang melihat itu hanya terdiam memandangi perempuan itu, lalu beberapa saat kemudian dia pergi ke sofa dan duduk di sana memperhatikan Keyla yang sibuk merapikan apartemen.
Setelah selesai merapikan, Keyla kemudian menatap Genta yang juga menatapnya, "Apakah Ibu masih menelpon?" Tanya Keyla.
Baru saja Keyla selesai bertanya, dan Genta belum menjawabnya, bel apartemen Mereka pun berbunyi.
Ding dong..
Ding dong..
Maka tidak perduli lagi dengan pertanyaannya pada Genta, Keyla langsung berjalan ke arah pintu dan membuka pintu apartemen.
Perempuan itu terkejut karena ternyata yang datang adalah ibu angkatnya.
__ADS_1
"I,, ibu," ucap Keyla.
"Putriku!!" Kata Hera langsung memeluk Keyla dengan erat.
"Akhirnya ibu melihat mu,, akhirnya ibu melihatmu!!!" Kata Hera yang merasa lega telah melihat perempuan itu sebab sepanjang waktu dia selalu khawatir keadaan perempuan itu setelah mengetahui bahwa Keyla telah menghilang.
Selang beberapa saat berpelukan, Hera kemudian melepaskan pelukan mereka lalu perempuan itu memperhatikan Keyla dengan seksama dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Kau baik-baik saja kan? Tidak ada yang luka kan?" Tanya Hera yang begitu cemas jika putrinya yang baru saja keluar dari rumah sakit sampai mengalami luka.
Keyla yang melihat kecemasan ibunya pun menggelengkan kepalanya, lalu perempuan itu berkata, "aku baik-baik saja bu, silakan masuk."
Sementara Hera, dia menatap ke arah Keyla yang tampak serius mengurus masalah dapur, lalu perempuan itu mengalihkan perhatiannya pada putranya sembari berbicara dengan pelan, katanya, "dia tidak menyembunyikan sesuatu kan?"
Hera merasa cemas karena dia melihat wajah perempuan itu tampak mendung dan matanya juga bengkak sehingga dia bisa menebak bahwa perempuan itu baru saja menangis.
Genta yang mendengarkan pertanyaan ibunya, pria itu tadi yang beberapa detik sebelum dia menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Anggukan kepala itu langsung membuat Hera mengerutkan keningnya, "ada apa?" Tanya Hera yang kini semakin merasa cemas pada Putri angkatnya sebab dia terlalu takut jika sampai perempuan itu kenapa-kenapa.
"Tanyakan padanya nanti," ucap Genta yang tidak mau berbicara hingga membuat Hera merasa kesal pada putranya.
"Kau ini,, Mana mau dia memberitahu Ibu, cepat beritahu ibu!!!" Perintah Hera pada putranya.
Tetapi meski perempuan itu telah memerintahkan gempa namun genta sama sekali tidak bergeming, pria itu tidak mengatakan apapun hingga membuat Hera jadi kesal sendiri di tempatnya.
Setelah beberapa saat menahan kekesalannya menatap putranya yang tidak kunjung berbicara padanya, maka akhirnya Keyla kembali menghampiri mereka dengan tiga gelas teh yang telah dibuat oleh perempuan itu.
Keyla pun meletakkan masing-masing gelas di hadapan semua orang lalu perempuan itu juga ikut duduk dan dia meramas tangannya sebagai pertanda bahwa dia sedang gugup.
Hera jelas menyadari kegugupan perempuan itu Sebab Dia telah merawat keyla selama bertahun-tahun lamanya dan mengetahui setiap kebiasaan perempuan itu.
"Tidak adakah yang akan kalian sampaikan pada ibu?" Tanya Hera pada dua orang anaknya di depannya hingga membuat Keyla pun menatap ke arah Genta.
Perempuan itu menelan air liurnya yang terasa begitu keras karena dia takut bahwa pria itu mungkin akan segera memberitahukan tentang hubungan mereka yang sebenarnya.
__ADS_1
Apalagi dia telah membuat pria itu menjadi kesal, sehingga dia cemas bahwa emosi pria itu akan mendorong pria itu mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak perlu disampaikan.