
keyla duduk di dalam mobil yang dikendarai oleh rion dengan perasaan anehnya. sebab dia tidak menyangka bahwa pria itu akan mengajaknya untuk pergi satu mobil.
oleh sebab itu, dia menatap rion sembari berkata, "ini,, kenapa kau menyuruh untuk satu mobil denganmu?"
pertanyaan itu langsung membuat rion menatap ke arah kayla dengan tatapan sinisnya, hingga membuat keyla semakin tidak mengerti dengan pria itu.
"ada apa?" tanya keyla yang merasakan bahwa pria di depannya menunjukkan kilatan mata yang marah terhadapnya.
benar saja, setelah beberapa saat menghindar, rion menepikan mobil yang ia kendarai lalu pria itu pun menatap keyla dengan tatapan yang tidak bersahabat.
"kau, sebenarnya apa yang kau inginkan?!" tanya rion sembari menatap perempuan di depannya dengan tatapan meniti untuk mengetahui jika saja perempuan di depannya menyembunyikan sesuatu di raut wajahnya.
tetapi kayla sangat bersikap polos, sebab perempuan itu memang tidak tahu apapun sehingga dia pun bertanya, katanya, "apa maksudmu berbicara seperti itu?"
__ADS_1
"jangan berpura-pura tidak tahu apapun!!kau berusaha menyatukanku dengan citata, tetapi di sisi lain kau berusaha mendekati orang tuaku!" ucap rion dengan kilatan matanya masih menatap tajam perempuan yang ada di depannya.
sementara keyla yang mendengarkan pria itu, dia menghela nafas dan membuang muka menjauhi pria itu sembari berkata, "kau sudah salah! kalau dari dulu aku mau bersama-sama denganmu maka aku tidak akan membuat citata kembali menemuimu!! dasar pria tidak tahu terima kasih!!!" kesal keyla langsung membuka pintu mobil lalu dia keluar dari mobil pria itu tanpa lupa menutup pintu mobil dengan keras.
rion yang melihat kepergian perempuan itu mengerutkan keningnya, "heh! dia pikir semudah itu mengelabuiku?" ucap rion sembari memperbaiki posisi duduknya lalu dia menatap ke arah spion di mana keyla terus berjalan meninggalkan mobilnya hingga perempuan itu menahan taksi dan pergi meninggalkannya.
saat itu, ponsel rion juga tiba-tiba berdering hingga dia mengabaikan taksi yang ditumpangi oleh keyla.
drrriiingg.... drrriiingg.... drrriiingg....
drrriiingg.... drrriiingg.... drrriiingg....
"ya sayang," jawab rion sembari menyalakan mesin kendaraannya lalu menancap gas meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"kau makan siang bersama dengan keyla?" tanya citata dari seberang telepon benar-benar membuat rion kembali mengerutkan keningnya sebab dia tidak menyangka bahwa citata akan mengetahui masalah tersebut.
"apakah perempuan itu yang memberitahumu?!" tanya rion dengan kilatan mata yang tidak suka menatap ke arah taksi yang semakin menjauh dari mobilnya.
pikirannya terhadap keyla menjadi sangat buruk bahwa perempuan itu mungkin menggunakan sebuah trik tarik ulur untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
"dia tidak memberitahuku, aku mendengar percakapannya dengan ibumu. ahh,,, saat ini aku ada di supermarket dan aku ingin menanyakan menu makan malam apa yang kau inginkan?" tanya citata dari seberang telepon.
rion tidak menjawab pertanyaan perempuan di seberang telepon, tetapi pria itu masih memikirkan tentang keyla dan dia berpikir bahwa keyla sengaja memperdengarkan percakapannya dengan ibunya pada citatah untuk memanas-manasi perempuan itu.
citata menunggu pria yang berteleponan dengannya berbicara, tetapi tak kunjung berbicara hingga chitata kini menghentikan dorongannya pada troli yang ia bawa sembari berkata, "kau baik-baik saja bukan?"
pertanyaan dari seberang telepon langsung menarik rion dari lamunannya hingga pria itu berkata, "aku baik-baik saja, dan menu makan malamnya nanti terserah padamu saja. aku suka semua masakanmu. hanya saja, sebaiknya kau batasi pertemananmu dengan keyla, aku rasa perempuan itu tidak baik untuk menjadi temanmu."
__ADS_1
"apa?!!" citata benar-benar tidak mengerti dengan pria yang sedang berteleponan dengannya, tiba-tiba saja mengatakan bahwa citata tidak baik menjadi temannya, padahal justru perempuan itu sangat baik menjadi temannya.
"pokoknya hati-hati dengannya, jangan terlalu dekat dengannya, kirimkan alamat supermarket mu, aku akan segera ke situ." kata rion mematikan panggilan telepon itu sembari menggertakan giginya mengingat kelakuan keyla.