Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Kejamnya waktu


__ADS_3

Pada malam yang telah berganti, banyak peliput berita berbondong mencari informasi mengenai kejadian di gunung Keramat. Rode istri dari pak Dengel, melemparkan cangkir kaleng mengenai kepala suaminya yang masih berada di pulau kapuk. Gambaran pulau mimpi yang terlukis di atas bantal selembar daun talas.


“Sampai kapan kamu mau tidur pak? Cepat bawakan aku uang! Percuma kau katanya dukun sakti! Tapi kesaktian mu hanya bisa mengoleksi banyak istri!”


“Uang semalam apa belum cukup bu? Sudah jarang orang-orang yang menjalin rantai dengan penghuni gunung keramat memberikan sesajen. Mereka seolah menunggu tuannya untuk di makan.”


“Aku nggak perduli, yang penting aku harus mendapatkan lebih banyak uang dari pada selir-selir mu itu! Kalau tidak aku akan mencongkel mata si Bebel. Gendak yang paling kau cintai. Kau pikir aku tidak berani melakukannya?"


“Sabar bu tahan. Aku akan membawa uang hari ini. Huh, aku pergi dulu.”


Pria tua itu mencuci wajah, dia meraih piring di atas rak lalu mengambil lauk di atas meja. Dua kali menambah lauk, dia bersendawa panjang mengambil bungkusan dan tas kain hitam keluar tanpa pamit pada istrinya. Rode tidak memperdulikan kalau dia di madu, dia juga memiliki pria simpanan yang jauh lebih muda. Kalau sudah mendapatkan uang dari suaminya, dia segera berjalan-jalan bahkan memanggil pria yang di katakan berondong untuk memuaskan kesenangannya.


“Gimana, gaya ku udah Oke belum?”


“Gila kamu dapat duit dari mana bisa beli handphone mahal? Suami kamu kan kerjanya mocok-mocok ya De?” tanya Iyem mengamati layar bening yang di perlihatkan.


“Pria tua gitu kok masih di pertahankan sih? Emang kamu dapat warisan apa dari dia? Aku dengar kamu di madu ya?” ucap Lele mencomot sebuah anggur yang ada di atas kursi.


“Jangan berisik! Yang penting sekarang si Penok mamas daun muda ku selalu ada di samping ku. Ya kalau si Gayung mati tinggal masukin aja Penok di rumah! Ahahah!”


“Dasar wanita gila kamu De..”


Iyem menggeleng kepala melihat wajahnya yang kegirangan bertemu selingkuhannya.


Menuju ke Villa mewah yang di sebut memiliki suasana langit berselimut panorama keindahan membuat mereka tidak sabar sampai di tempatnya. Berpasangan menuju ke kaki gunung keramat, salah dua dari mereka yang gusar akan kabar tidak sedap mengenai gunung di bantah Rode yang memberikan mereka masing-masing gelang hitam sebagai jimat agar terhindar dari gangguan makhluk disana.


“Apa kamu yakin benda ini bisa menyelamatkan kita semua dari setan gunung keramat? Aku pulang aja. Perasaan ku tidak tenang” ucap Iyem mulai gelisah ketika mobil mereka memasuk wilayah pepohonan pinus.

__ADS_1


“Nggak boleh gitu sayang, kita udah sejauh ini masa harus putar arah.”


Tedi mengelus kepalanya menahannya agar tidak merubah keputusan. Sepanjang jalan banyak orang-orang yang melihat mereka dengan tatapan sinis. Lele terkejut, seorang wanita memakai kebaya menarik kepalanya keluar jendela. Dia berteriak sekencang-kencangnya hingga Beto mengguncangkan tubuh untuk membangunkannya.


“Bangun Le! Ini minum dulu biar tenang.”


“Aku lihat wanita tua menarik kepala aku! Dia seperti mau mengambil jantung ku Bet!”


“Tenang itu Cuma mimpi..”


“Udah kita lanjutin lagi perjalannya ya keburu malam” kata Rode melihat Lele berwajah ketakutan.


Rode tersenyum melihat Villa megah berlapis kilauan emas. Dia merapikan rambutnya yang baru dia salon sebelum bertemu teman-teman dan kekasihnya. Dia menggandeng Penok ke dalam. Seorang wanita menyambut mereka, mata tiga orang pria yang tidak berhenti memandangi lekukan tubuhnya.


Rode, Iyem dan Lele mencubit pinggang mereka menyuruh mereka membawa barang-barang mengangkut ke dalam kamar.


“Saya Sri, pemilik Vila ini. Kalian cukup membayar satu juta rupiah, saya akan melepas kunci selama satu minggu.”


“Wah murah sekali! Ya kami ambil selama satu minggu saja mbak.”


Iyem mengambil kunci dari tangannya. Rode mau menepis namun Lele menariknya pergi.


......................


Gerakan maju mundur kaki memasuki area hutan, kabut putih memayungi langit, rintik hujan dan suasana yang menegangkan.


Seorang pria tua pemandu masuk ke dalam gunung menyebar asap bakaran yang mengepul di atas wadah. Mereka terlalu meyakini, merasa selamat dengan berjalan mendongak kepala dan melipat kedua tangan. Pria yang memakai topi Koboy memijak puntung rokok, dia meludah ke sisi kiri. Gerakan menutup lubang hidung tidak tahan mencium aroma busuk.

__ADS_1


“Hey Udin! Kan si kakek udah bilang kalau kita nggak boleh melanggar semua pantangan yang dia katakan! Cepat minta maaf sama penghuni sini!” ucap Memen.


“Apa? Minta maaf sama setan? Ogah! Kita kemari mencari berita. Jimat dan ritual aneh tadi cukup membuatku kelelahan. Bagian menyita waktu, kita terpaksa menginap di hutan” keluh Udin berjalan melewatinya.


Kerumunan para wartawan hari ini berbondong-bondong mengangkut barang bawaan. Mereka memilih lokasi yang tepat untuk mendirikan tenda. Banyak yang tidak tau gangguan yang menghadang. Alat-alat canggih tidak bisa mendeteksi keberadaan makhluk halus. Udin dengan bangga memamerkan sebuah kamera yang katanya bisa melihat hantu. Tapi melewati pengambilan gambar dan video selama berjam-jam, tidak ada satu pun hantu yang tertangkap.


“Pasti ada yang salah sama alat ini. Apa mungkin jadi rusak ya karena terbentur selama perjalanan” ucapnya sambil mengotak-atik.


“Jangan cari setan, wilayah ini sarangnya” ujar Sam.


“Oi kemari! Lihat apa yang aku temukan!” teriakan Yopi mengalihkan wartawan lain melihat apa yang terjadi.


Serpihan pesawat, potongan kerangka tubuh manusia dan sepatu yang berlumpur. Mereka segera mengambil gambar hingga ingin merampas salah satu benda tersebut. Yopi menghalangi, berjalan memasuki bagian wilayah tendanya di ikuti wartawan yang masih penasaran.


“Bisa jadi itu adalah serpihan pesawat yang di kabarkan mengalami kecelakaan bulan lalu. Aku mendengar sendiri dari pihak keluar yang selamat. Tapi dia tidak mau wawancarai” ucang Gems.


Jas hujan, sepatu boot, topi anti air dan peralatan mencari penemuan di sekitar hutan. Mereka berpencar menyalakan senter serta memberi tanda menggunakan tali berwarna yang di ikat di badan pohon dan papan yang di tancap di setiap jalur belokan.


“Duh aku tersesat! Kurang ajar! Kenapa jadi jalan buntu!” Udin berdiri di tepi jurang.


Berlari tersandung batu, berpegangan pada akar pohon supaya tidak masuk ke dalam jurang. Sekuat tenaga dia berhasil naik, melanjutkan langkah memanggil teman-temannya. Kabut putih menutupi, hujan es membanting tubuhnya. Ada sepasang tangan menariknya ke sela bebatuan.


“Arghh! Tolong!”


Dia terbanting jatuh di bawah sesajian. Makhluk panjang mengangkat tubuhnya hingga dia pingsan. Alam Udin kini berbeda, dia yang tidak sadar tidak lagi menapak di atas tanah. Dia menjadi bagian penghuni gunung Keramat.


“Udin! Udin! Kamu dimana?” teriakan para wartawan mencarinya.

__ADS_1


__ADS_2