
Di dalam kamar, Edi terpaksa merantai Mena. Dia tidak dapat berbuat apapun, pandangannya beralih melihat jasad Mila dan Bela yang sedang pingsan. Bu Tangtang menyaksikan segalanya, dia baru saja tiba membawa aparat kepolisan. Penyelidikan kasus kematian Mila tidak di temui sidik jari atau tanpa pembunuhan lainnya, sedangkan Mena yang di rantai Edi terlihat seperti anak yang kerasukan menggigit leher seorang anggota kepolisian saat akan membawanya ke rumah sakit.
Mena berlari di kejar sampai ke wilayah perbatasan, dia menyerang para pengemudi yang melintas. Tembakan polisi yang mengarah ke kakinya malah meleset mengenai jantungnya. Suara kesakitan bernada aungan mengombang ambing pepohonan. Dia tewas mengeluarkan hewan-hewan kecil dari mulutnya.
Kabar kematian anak yang selama ini dia perjuangkan membuatnya menyalahkan dirinya. Dia telah berjuang sekuat tenaga menjaga Mena. Ketakutannya jika Sintya mengetahui anaknya meninggal pasti akan ikut menyalahkannya.
“Kamu mau kemana mas?” Bela menekan kepalanya yang masih sakit.
Samar-samar dia mengingat lagi kejadian di gunung Keramat. Teriakan ketakutan berlari di tangkap Edi yang berusaha menenangkannya.
“Mas, sosok itu mencari ku! Aku takut sekali! Dan wanita yang memangsa teman ku di gunung, dia akan datang membunuh ku”
“Tidak Bela, semua itu tidak akan terjadi. Kamu istirahat ya besok aku akan mengurus pernikahan kita, Aku nggak mau para tetangga berpikir buruk tentang kamu.”
Edi mengurungkan niat mencari sendiri Sintya di hutan. Tidak ada yang mengira Darman akan pergi ke rumahnya. Di pagi yang mendung, bi Tangtang pergi ke pasar sambil menoleh ke kandang kelinci. Dia ingat bagaimana cara Mena melahap semua hewan-hewan itu. Berjarak sepuluh menit, Darman tiba di depan halaman. Dia mencari wanita cantik yang di kabarkan berada di rumah Edi.
Bunyi bel berbunyi, Darman mengintip dari jendela melihat wanita muda berjalan membuka pintu. Dia melihat wajah menyeringai seorang pria melihatnya dari atas sampai bawah. Dia mendorong Bela, mencengkram kedua tangannya di atas sofa.
“Kurang ajar! Siapa kau! Jangan macam-macam pada ku!”
“Gadis manis, apa Edi belum cerita bahwa aku sahabatnya. Aku tau kau kesepian, atau kau bermaksud menjadikan Edi suami mu? Ahaha!”
“Bajingan!”
Praghh, brug__
Bela tau bagaimana melindungi dirinya, tragedi saat pendakian melarikan diri dari monster yang mengejar. Kepala Darman pecah di pukul dengan guci yang berukuran besar. Jiwanya yang mulai di kuasai jin merah untuk menyuruh membunuh mulai berbisik di telinganya. Suara dengungan keras menyakiti gendang telinganya.
__ADS_1
“Bela, ayo tunggu apalagi! Dia mau menyentuh mu bukan? Cepat habisi dia, hihihi..”
“Cepat Bela, ambil jantungnya untuk ku. Kau sudah aku selamatkan dari gunung. Kaki mu juga telah sembuh. Aku menunggu imbalannya. Hihih..”
Bela memberikan apa yang jin merah minta, tangan kaku pucat itu menerima jantung yang di berikannya. Tawa bahagia mendapatkan apa yang dia inginkan, jin merah pun pergi menerbangkan kabut putih pekat. Mayat Edi di tanam di bawah pohon dekat kandang kelinci. Dia menutupinya dengan bunga dan pot besar. Hujan mengguyur tubuhnya yang bermandikan darah, Bela enggan memakan organ atau meminta keinginan lain pada jin merah. Membersihkan darah di lantai dan perabotan yang rusak, dia mengganti baju dan mencuci darah yang banjir di kamar mandi.
Alangkah terkejutnya dia melihat Edi memanggilnya dari luar. Dia meminta pria itu menunggunya di ruang tamu.
“Lama sekali mandinya, oh iya si Darman mana? Mobilnya ada di depan. Dia datang kesini tanpa memberitahu aku.”
“Nggak tau mas..”
Raut wajah ketakutan, bekas lebam pukulan di wajah membuat Edi mulai berpikir sesuatu yang tidak beres. Dia mencari pria itu di seluruh tempat, amarahnya tidak terkendali masuk melihat mobilnya yang kosong. Menunggu di depan pintu, hingga berjam-jam pria itu tidak hadir.
Edi menelepon polisi meminta mobil Darman di bawa dan memberikan keterangan gugatan kekerasan atas apa yang di alami Bela. Dia tau kalau Bela terkena trauma yang mendalam. Tepat di saat waktu itu dia menemukannya.
......................
“Baik kak..” jawaban serempak itu terdengar tidak semangat.
Yopi tidak tahan melanjutkan perjalanan, kakinya masih terkilir dan tubuhnya mulai kedinginan. Kemuning melihatnya kesakitan langsung memberi aba-aba berhenti untuk membantu Yopi yang mulai terlihat kehilangan kesadaran.
“Yang kuat Yop, kita harus segera pulang. Aku bias gila berada di gunung ini. Hiks” Filza menangis menekuk lututnya.
“Sabar Fil, kita semua akan pulang kok. Kita obati Yopi dulu..” ucap Dedek mengusap punggungnya.
Isi persediaan kotak P3K mulai menipis. Minyak hangat tetesan terakhir mengurut kakinya, dia meringis kesakitan. Yopi di selimuti dengan handuk, mereka membakar kayu agar menghangatkan udara sekitar. Gerimis mulai datang, pos satu ajang tempat gangguan makhluk mengerikan yang pernah Kemuning temui.
__ADS_1
“Kak Kemuning, kita nggak berteduh disana aja?” Tanya Dedek yang sudah kebasahan.
“Banyak gangguan di tempat itu. Kakak nggak mau mengambil resiko.”
“Hantu maksudnya? Hahaha, mana ada hantu siang bolong gini kak. Yang ada sundel bolong. Aku aja kalau gitu yang berteduh dari pada mati kedinginan."
Hujan memadamkan api, Sisa para pendaki itu menegakkan sebuah tenda dan berteduh di dalamnya. Mereka telah basah kuyup, Yopi juga mulai menggigil kedinginan. Suara teriakan Roy menggedor pintu pos yang tidak bisa di buka.
“Tolong! Argh!”
“ Jangan kesana Ra, bahaya!” Filza mencegah menariknya mundur.
“Tapi si Roy lagi minta tolong, kita nggak mungkin diam aja”
Dedek dan Filza menahan Rapa yang mendekati pintu. Tangan Kemuning mendorong kuat membukanya melihat Roy tidak ada di dalam. Filza menarik Rapa sedangkan Dedek menarik Kemuning, mereka masuk ke dalam tenda menutup rapat.
Suara tawa dan tangisan roy mengelilingi tenda, dari dalam mereka ketakutan. Kemuning tidak mau tinggal diam di bunuh setan. Dia membuka tenda namun tidak melihat Roy di sekelilingnya.
“Cepat pergi kemuning, aku akan menahan teman mu yang telah kerasukan itu”
Hantu Ayu menyembunyikan pandangan Roy agar tidak dapat melihat mereka. Kemuning menganggukkan kepala, dia dan lainnya membantu membawa Yopi pergi.
Mengangkat tubuh pria gemuk seperti menguras tenaga dalam, empat wanita itu kewalahan hingga berhenti di kaki gunung. Tepat di depan pintu keluar, panggilan keras suara Roy membawanya mereka mempercepat langkahnya.
“Maafkan kami Roy, aku berjanji akan mencari mu. Hiks..” Dedek tidak berani menoleh ke belakang.
Retakan suara tulang Roy yang tampak kerasukan. Mereka menjerit ketakutan, Roy berlari namun terhenti seperti ada yang menghalangi.
__ADS_1
“Terimakasih Ayu!” gumam Kemuning melihatnya.
“Argh! Argh!” suara keras Roy mengeluarkan gigi taring.