Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Semu


__ADS_3

Kemuning tidak mau beradu otot. Dia mengalah setelah Gereh membisikkan sesuatu di telinganya. Terlintas di pikirannya akan perkataan pria muda yang sangat perhatian padanya itu ada benar adanya. Dia tidak perlu menguras tenaga dengan si pria yang dia anggap gila.


Tidak sedikitpun Gereh berpihak pada Pon. Pemikiran bertolak belakang, semua hal menyangkut keputusan di tepis akan jawaban masing-masing. Di sudut


“Huffhh, entah kenapa akhir-akhir ini perasaan ku sangat sensitif. Tapi sikap si pria hidung belang itu sangat menyebalkan! Lebih tepatnya sepupumu yang selalu mencari gara-gara dari awal aku masuk kerja.”


“Sabar Kemuning. Aku tidak mau kamu berurusan sama si Pon. Jauh sebelum kamu masuk ke perusahaan, si pria gila berani mengatur atas membuat tunduk mendengar ucapannya. Kamu harus menghindarinya.”


Gereh, orang yang paling dekat dengannya. Dia tidak meminta imbalan jika membantu, bahkan memberikan bantuan apapun pada Kemuning. Kali ini ucapan Gereh terdengar aneh, dia menitipkan Kemuning pada saudaranya Kenzi. Walau terkesan candaan, Kemuning hanya berpikir dia berusaha menenangkan amarahnya.


Suara teriakan ramai para pekerja dari luar. Hampir seluruh karyawan tewas setelah Pon memerintah beberapa karyawan membukanya. Hewan kecil bersayap hitam berterbangan memasuki rongga hidung dan telinga. Sisa karyawan lain menyangkal perintah Pon untuk melepaskan ikatan kain kafan berwarna hitam pada bagian kaki.


Hewan kecil bersayap merah, gigi besar melebihi tubuhnya menggigit para karyawan. Ada yang masuk ke dalam mulut, hidung, mata dan telinga. Gereh menarik Kemuning masuk ke dalam tenda, dia menutup resleting dari luar. Suara teriakannya tidak terdengar lagi setelah bayangannya yang terlihat dari dalam tenda bergerak mengusir.


“Kemuning, jangan keluar tenda!” teriakan suara Kenzi dari luar.


Dia membakar ranting, dedaunan kering. Menyalakan api pada ujung kayu. Dia terpaksa membakar hewan yang tidak mau melepas gigitan di kakinya. Suara kesakitan setengah mati Gereh, dia tidak sadarkan diri merasakan kakinya hangus terbakar. Dia membuka resleting tenda, menyeret Gereh masuk ke dalam. Dia mengguncangkan tubuh Gereh agar sadar sedangkan kemuning menutup kaki yang masih belum seutuhnya masuk ke dalam tenda.


Krak__-


“Arghh!” Gereh terbangun melihat kaki kanannya putus. Kemuning gemetaran, dia memandangi kedua tangannya. Dia tidak menyangka tenaganya sangat besar hingga bisa memutuskan bagian anggota tubuh organ manusia. Seekor hewan masuk ke dalam tenda, Gereh menghentakkan kuat, dorongan keluar bergerak cepat membuka resleting tenda.


“Ken, tahan Kemuning di dalam tenda!” teriaknya mengumpankan dirinya.


Dia ingin menolong abangnya, namun mengingat pesan Gereh memintanya tetap menyelamatkan diri di dalam tenda bersama Kemuning. Kejadian berlangsung lama, Kenzi hanya bisa menyaksikan kematian Geh yang mengenaskan. Suara tangisan Kemuning, hujan yang deras, angin bertiup kencang yang mengguncang tenda. Mereka terjebak di dalam dengan sepotong kaki kanan Geh.

__ADS_1


🍂🍂🍂


Kenang-kenangan terakhir bagian tubuh yang tidak bisa dia peluk. Aroma busuk di tahan, berselang tiga jam mereka keluar tenda memuntahkan semua isi lambung. Semua karyawan rata bagai lautan mayat. Keanehan semula melihat penemuan mayat terbungkus kain kafan hitam menghilang tersisa seutas tali bercampur darah.


“Jangan risau para gadis ku, mulai hari ini aku akan memanjakan kalian! Ahahah!” Pon membelai keduanya berjalan ke dalam tenda.


Mastur yang kebingungan harus berpihak pada Pon yang selaku tangan kanan BOS atau Kenzi. Di depannya ada Kemuning berjalan di bantu Kenzi menuruni gunung.


“Tunggu pak! Kita tidak bisa meninggalkan tugas begitu saja.”


“Hei apa maksud mu? Apa kau menunggu hewan bertaring itu kembali untuk membunuh kita? Enyah! Aku dan bu Kemuning akan melaporkan semua kejadian ini!”


“Tunggu pak Ken, saya baru saja mendapat laporan. BOS meminta kita tetap melanjutkan proyek__” kata Mastur sambil menunduk.


Kenzi terhenti berpikir dua kali mengukuhkan pendiriannya. Dia melihat kondisi Kemuning yang tidak memungkinkan meneruskan perjalanan. Di satu sisi monster kecil bertaring panjang pasti akan mengejar. Kemuning tidak bisa lagi menyeimbangkan tubuh. Dia meminta beristirahat sejenak di dekat pohon dekat jurang.


“Tidak pak Ken, kita akan kesana bersama-sama. Cukup satu jam melelapkan kantuk ku__”


Kemuning tertidur menahan rasa dingin menyerang tubuhnya. Dia cepat sekali bermimpi, seakan dirinya berpindah ke alam lain. Di seberang sungai yang alirannya teramat deras. Ada sang nenek tersenyum melihatnya. Cara jalan nenek berbeda, senyuman dan sentuhannya sedikit kasar.


“Kemarilah cucu ku. Raih tangan nenek, kamu tidak akan sakit lagi” ucapnya mengulurkan tangannya yang sangat pucat.


🍂🍂🍂🍂


Kemuning melihat lebih jauh manik mata sang nenek yang berwarna merah menyala. Gambaran sosok jin merah tidak bisa di tutupi sehingga menyadarkan sosok yang mengajaknya berniat menipu. Kemuning menarik lagi tangannya. Dia menegaskan yang berdiri di depannya bukanlah sang nenek. Berkali-kali sosok itu mengajak namun dia tetap menolak.

__ADS_1


“Pergilah kau ke dunia mu. Kau bukan nenek ku!” bentak Kemuning membangunkannya.


“Hihih!” suara jin merah menggema.


Suara bakaran api kecil di depannya, Ken menyelimuti dengan jaketnya sambil. Pria itu berdiri memasang posisi berjaga. Dari arah depan ada Pon di apit kedua wanita berpakaian seksi di ikuti Mastur dari belakang.


“Kalian ngapain masih disini? Apa kalian mau di pecat BOS? Di depan sana ada Villa. Aku rasa tempat itu cukup nyaman dari gangguan hewan tadi.”


“Tidak, kita jangan kesana Ken. Aku tau tempat itu ada makhluk pemakan organ manusia!”


“Tau apa kau tentang Villa mewah itu? Bahkan gaji mu tidak cukup menyewa walau hanya satu hari!”


Ucapan Pon yang terdengar kasar membuat Ken mau memukulnya. Kemuning menarik tangannya, dia tidak mau menambah suasana lebih kacau. Mereka memilih jalan masing-masing, Kemuning juga memutuskan berhenti dari pekerjaannya.


“Aku rasa perkataan Pon tidak salah. Aku memutuskan berhenti bekerja, Ken kamu silahkan pergi dengan mereka..”


“Tidak Kemuning, mana mungkin aku meninggalkan mu di tengah hutan!”


“Kamu tenang saja, ada sosok lain yang menjaga ku Ken..”


Hutan tidak pernah lepas dari pemandangan kabut putih pekat. Kekuatan hitam lebih besar menghembus kabut memperlihatkan para penghuni gunung Keramat lebih jelas melihat manusia yang masuk ke dalamnya. Akhir dari perdebatan panjang itu di putuskan dengan kembali ke tenda. Mereka berjalan dengan langkah terbata, air hujan membanting membentuk jalan licin berlumpur. Rengekan kedua wanita muda mulai tidak betah berlama-lama meski mereka tau ada benda berharga di tambah sogokan tumpukan uang yang di miliki Pon.


“Mas Pon, untuk apa semua uang mu itu kalau kau tidak membahagiakan kami?”


“Ya benar mas, kami mau pulang ke kaki gunung sekarang.”

__ADS_1


Mereka memukul tubuh Pon, menangis di pundaknya.


__ADS_2