
Harum aroma daging manusia di dalam semangkuk sup yang mengepul asap di atasnya. Gerakan ketakutan menyuapi ayahnya, dia takut kelakuannya akan terbongkar dan dia tau daging apa yang di makan. Lahap sekali Muhyi menelan sampai minta tambah. Dia mengangguk memberi jempol pada bagian jemari tangan kanannya.
“Dari mana kau mendapatkan daging segar ini Sintya? Bumbu dan kuahnya pas sekali di lidah.”
“Syukurlah kalau ayah menyukainya. Jangan di Tanya dari mana aku mendapatkannya. Bukankah ayah yang bilang kalau aku sekarang yang menjadi tulang punggung keluarga? Hari ini aku akan kerumah pak Kades mempertanyakan biaya kontrakan rumah ini. Aku takut pemiliknya akan menuntut.”
“Tidak perlu Sintya, rumah ini tidak ayak lagi di huni. Kades itu juga tidak memperdulikan orang luar yang masuk ke wilayahnya.”
......................
Memotong daging manusia seperti memotong daging hewan. Sintya membuat kuah berbahan seadanya. Dia juga mencampurkan kuah dengan darah agar teasa lebi nikmat. Atas bantuan si jin merah, kekuatan tenaga dalam yang tidak pernah lelah menyulap tempat jualan dalam waktu setengah hari. Kuah yang beraroma nikmat menarik orang-orang mampir di warungnya. Baru setengah jam dia membuka dagangan, mangkuk-mangkuk sup penuh di atas meja pesanan.
“Srupp__ Lezat sekali dagingnya” ucap pembeli menyeruput sambil mengunyah daging.
Banyak yang meminta tambah sebanyak tiga mangkuk, jualan hari pertama yang laris manis. Saat matahari mulai terbenam dan kuah sup habis, dia menutup warung mengangkap kursi dan merapikan dagangan. Andik datang membantu, dia melihat keanehan Sintya yang sering berbicara sendiri.
“Kau sedang berbicara sama siapa? Bagaimana keadaan ayah mu?”
“Aku hanya berbicara dengan diri ku sendiri. Kau pulang saja, ayah ku sudah mulai membaik..”
Sikap Sintya berubah kasar, mata tersirat dingin tampak wajah pucat bagai mayat hidup. Di hari berikutnya dia telah selesai mempersiapkan jualannya. Mangkuk rapi, wadah air minum yang terbuat dari batok kelapa yang dia kikis sendiri dan daging sup yang mulai di gemari warga kampung.
“Hei orang-orang kampung! Siapa yang berani mengambil mayat tuan ku! Kembalikan mayatnya atau aku akan menghabisi kalian semua!”
“Siapa kau wanita tua? Siapa orang yang kau maksud itu?”
“Manto, kau lupa nama Capit? Dia juru kuncen sekaligus dukun besar di gunung keramat!” bisik Beni.
“Tapi, pak Edi saja tidak mendengar lagi kabarnya, Bisa jadi dia bukan Capit yang di maksud.”
Wanita itu mendekati Sintya, dia mendengus menarik kerah bajunya hingga robek. Aroma tubuh dan kekuatannya kental di dekatnya. Sosok jin merah membantu Sintya, dia mengunci mulut hingga menggerakkan tubuhnya menjauh. Dia memuntahkan hewan-hewan kecil, sosok mbok Mijan menunjuk berjanji akan memberi balasan.
“Sudah abaikan saja, dia itu wanita gila. Dari mana asalnya mayat Capit bias di bongkar hingga terbang sendiri kesini. Dia berpikir akan membakar warga desa seperti yang di lakukan si dukun dahulu!” ucap Manto meneruskan memakan makanannya.
__ADS_1
Hari yang berlalu, uang yang terkumpul cukup untuk ongkos kembali ke kota dan membawa pergi ayahnya. Dia kehabisan daging, mengganti dengan sisa daging tangan kanan milik ayahnya yang di potong. Hari ini dia tetapkan berjualan untuk yang terakhir kalinya.
Suara teriakan dari keranda jenazah yang di bawa kerumunan warga ke arah TPU. Sintya bertanya ke Andik yang baru hadir siapa yang meninggal pada hari itu.
......................
“Siapa lagi yang meninggal An?”
“Anaknya bu Cenil, dia meninggal dengan tubuh seperti tersiram air mendidih.”
Andik mengambil kursi yang kosong, dia seperti biasa membantu Sintya berdagang sampai jualannya tutup. Hari ini bungkusan lain dan tas ransel di pundak, Andik melihat dia sibuk mengemasi barang lainnya.
“Kau mau kemana Sin?”
“Aku mau meninggalkan kampong ini, aku mau meminta tolong pada pihak rumah sakit untuk menjemput Ayah. Keadaannya semakin buruk.”
“Hari telah gelap, tidak ada kendaraan yang melintas di jalan.”
“Aku sudah menetapkan keputusan, jangan halangi aku.”
“Diamlah setan, aku tidak mau lagi bersekutu dengan mu! Pergi!”
Ucapan mereka di dengar Andik.
Dia masih di dalam rumah SIntya, melihat keadaan ayahnya yang tampak sakit parah. Kamarnya menyengat aroma busuk, Andik mual tidak sanggup mendekati dia melihat Sintya sudah jauh masuk ke dalam hutan.
Sintya mengambil jalan potong lintas tercepat, di tengah jalan tiba-tiba terbesit di pikirannya kalau sisa potongan tubuh belum sempat dia buang. Andik menggeledah rumahnya, dia mencium aroma anyir menyengat dari dapur. Membuka kotak papan besar yang berisi sisa potongan tubuh manusia dan kepala Capit, dia juga melihat sisa kuah sup ada potongan jari manusia.
Praghh__
Sintya memukul kepalanya dari belakang. Dia di ikat di atas meja tempat dia melakukan mutilasi. Ketika tersadar, Andik melihat Sintya mengiris pisau daging. Membelah perutnya, isi yang pertumpahan keluar. Jin merah tertawa menggemakan suara iblisnya. Dia mengulurkan tangan menunggu jantung yang masih berdetak.
“Hihihihi.. Sintya, kerja yang bagus. Kau jangan lupa ibu mu menunggu untuk kau peluk!”
__ADS_1
Setiap hari Sintya rajin memberi makan dan mengobati luka ayahnya. Tapi penyakit itu tidak kunjung sembuh, dia mulai berteriak kesakitan. Siang ini pak Tejah mengikuti arah teriakan yang terdengar mengerikan. Dia meninggalkan meja, di ikuti istrinya Aya. Kesombongan Tejah di patahkan dengan keinginan Aya meminta menemaninya mencicipi makanan yang kelezatannya diminati warga.
“Jangan buka pintu itu pak!"
“Kenapa kau menghalangi ku? Tanya Tejah melipat tangan.
“Saya dan pak Tejah mau melihat keadaan ayah kamu. Dia berteriak kesakitan”
“Terimakasih banyak tapi kalian tidak perlu ikut campur urusan keluarga saya.”
Keduanya pergi, hampir saja mereka masuk dari pintu dapur mendapati semua kejahatan yang di lakukannya. Mereka belum menyadari Andik telah tewas di tangannya. Sintya masuk ke dalam kamar menutup mulut ayahnya dengan kain, dia sangat marah mendengar rengekan ayahnya.
“Aku bilang diam pak diam! Aku sangat lelah mengurus bapak! Diam!” teriak Sintya.
Dagangan selesai di tutup, hari ini dia mendapatkan keuntungan yang berlipat lipat. Dari belakang, ayahnya memukul keras kepalanya. Tangannya yang tersisa satu itu cekatan mengambil lembaran uang. Dia memasukkan ke dalam plastik lalu membawanya pergi.
“Bangun Sintya, ayah mu tidak menyayangi mu. Tunggu apalagi? Kejar dia! Hihihi” bisik jin merah.
Sintya kerasukan setan, hatinya di penuhi hawa hitam. Dia menarik ayahnya masuk, kali ini dia mengikat tangan, kaki dan lehernya. Tubuhnya di gantung, setengah sekarat Muhyi meminta tolong agar melepaskannya.
“Jangan ikuti nafsu amarah mu Sintya, aku in ayah kandung mu!”
“Sintya, ayo sekarang kau tanyakan padanya dimana ibu mu berada. Ini sudah waktunya kau mengetahui semuanya. Hihihi..”
“Diam! Kau sudah memukul ku hingga kepala ku ini pecah. Sekarang kau berbicara tentang peran ayah? Cepat katakan pada ku dimana ibu ku? Kau sudah menikah lagi dengan bu Yahya dan ternyata juga menelantarkan ke lima bayi mu.”
“Ibu mu sudah meninggal Sintya. Aku berkata jujur pada mu. Maafkan aku yang tidak bisa membahagiakannya sampai dia memilih mengakhiri nyawanya sendiri. Hiks.”
“Sintya.. dia menipu mu. Ayo tanyakan dimana ibu mu?”
“Pria bajingan dimana ibu ku?”
“Jangan kau ikuti nafsu setan itu. Sintya..”
__ADS_1
Setan, iblis dan jin kafir adalah golongan makhluk pendusta. Tapi pria yang di depannya lebih mendustai kebenaran dan tergolong manusia fasik. Sintya lebih mempercayai jin merah dan sesekali menoleh melihatnya tertawa.