
“Ini namanya hutan___”
Adu otot, menegakkan tenda di tempat yang sama. Penelitian di jalankan dengan unsur keterpaksaan. Mastur berjongkok menunggu keputusan. Tanpa meminta bantuan dia melihat Kenzi memindahkan tenda yang jarak lokasinya lebih jauh dari titik semula.
Sebelum berkumpul di tenda semula.
Robi tertahan tangan bergerak yang dia pikir jasad sang kakek di dalamnya. Kemuning cepat-cepat menarik, dia berteriak menyuruh Kenzi membantu. Tolakan yang keras, mereka bertiga terjatuh sampai air di dalam ember tumpah. Kenzi menjambak rambutnya sendiri, dia sangat kesal. Kesedihan karena masih berduka di tambah amarah melihat air yang susah payah dia bawa terbuang begitu saja.
Kaki Kemuning bertambah sakit. Kali ini dia benar-benar tidak bia berjalan.
Masing-masing siku mereka bertiga terluka, Kemuning meringis menyeret tubuhnya menjauh dari tumpukan kepala tengkorak. Kenxzi menahan kekesalannya, dia lebih fokus membantu Kemuning dan mencari cara meninggalkan orang asing yang keras kepala itu.
“Kemuning, kalau kau memperkenankan. Aku akan menggendong mu dari depan..”
__ADS_1
“Terimakasih Ken. Sebentar, aku mau menutup luka ini biar darahnya nggak ngalir terus.”
Merobek baju, mengikat simpulan ikatan. Kemuning di bawa Ken meninggalkan Robi yang masih mematung. Kemuning meminta Ken mengajaknya, terpaksa dia menuruti permintaan hingga mereka memutuskan kembali ke tenda. Mastur menghadang menunjukkan jalan. Seolah mereka melakukan hal yang sama berulang kali dalam satu waktu. Kenzi berjaga di luar tenda Kemuning. Sisa kaki milik saudaranya Geh di tanam dekat dia duduk.
“Ini salah ku yang menyetujui pilihan mu mengambil proyek mematikan ini. Tapi semua telah terjadi, aku berharap engkau tenang di alam sana..”
......................
Sepanjang malam sambil meneliti, mendengar suara teriakan orang menangis. Sebelum beranjak, dia memastikan tenda Kemuning tertutup rapat. Mencari ranting kering di dekat tenda. Perasaanya tidak tenang mempercepat langkah ke tenda Kemuning.
Suara pukulan keras memukul sosok makhluk hitam besar berburu berdiri di depan tenda. Balok kayu terbelah dua, keanehan melihat sosok itu tidak bergerak. Mengambil batu besar menghantam keras kepalanya. Batu itu hancur, Kemuning berteriak menyuruh Kenzi berlari. Kabut putih mulai menyebar, Kenzi mencari Kemuning di dalam kepekatan. Berteriak memanggil namanya. Saat kabut memperlihatkan pepohonan, penampakan menghilang berganti sosok pendaki Wanita membelakanginya.
“Terimakasih Ayu..”
__ADS_1
Ucapan Kemuning membuat bulu kuduknya berdiri. Berjalan mendekat, pendaki yang memakai tas hitam berlumpur beraroma amis menusuk rongga hidung. Wajahnya pucat, Kenzi menanyakan siapa namanya tapi tidak ada jawaban.
“Ke_Ke_Kemuning..”
Dia terbata masuk ke dalam tenda. Pendaki itu menghilang, Kenzi mengusap matanya lalu keluar tenda. Berlari mengambil obat pereda nyeri dan sebotol air. Dia juga mengobati luka Kemuning sesekali meniupnya.
“Kalau sudah selesai jangan lupa keluar dan tutup rapat!” ucapnya bernada tinggi.
“Duh! Galak amat! Ya sebentar lagi finished..”
Lelaki itu tetap berjaga di depan tenda Kemuning. Dia memanggil Mastur memberi instruksi bagian tugasnya dalam memberi arahan kepada para pekerja baru. Mastur menyodorkan beberapa dokumen yang harus di tanda tangani ada tiga kali lipat.
“Tur, kenapa banyak sekali? Proyek saja baru berjalan setelah musibah kemarin. Para tim SAR juga belum tiba.”
__ADS_1
“Begini pak. Saya hanya menjalankan tugas. Oh ya pak, si BOS bilang kalau tim SAR masih di kaki bukit. Jalan menanjak mendaki gunung terputus banjir dan hujan tanpa henti.”