
Gerakan kekuatan pria yang memegang keris menghancurkan satu dandang kuah sup, mangkuk dan gelas ada di dekatnya. Sintya terkejut ketakutan di hadapannya pria bertubuh besar mengeluarkan keris dari sarungnya. Dia terjatuh kesakitan dan meringis karena kakinya tersiram kuah panas sup. Ketika pria itu mengangkat keris, Edi menahan tangannya lalu mendorongnya menjauh.
“Jangan kalian buat keributan di kampung ini. Pergi!”
“Hahah, kau tidak tau siapa wanita iblis itu? Enyah kau sebelum terbunuh!”
Tiga pria lain mengurungkan niat menyerang karena para warga lain memperlihatkan ketidak kesenangannya. Mereka memegang senjata dan mencari batang kayu yang besar bersiap menyerbu. Si pria berjanggut mendekati Sintya, pengawasannya di jaga Edi dari samping.
“Ingatlah, permainan ini belum selesai” bisiknya berjalan di ikuti para pria yang lain.
Edi membantu Sintya merapikan dagangannya. Pria itu mirip dengan Andik dahulu yang tidak pernah meminta pamrih membantunya. Dia menyuruh Sintya duduk, beberapa menit berlari membawa sebuah plastik. Dia mengeluarkan sebuah botol yang berisi minyak beraroma menyengat, perban dan kapas.
Dia mengobati luka Sintya sesekali menghembus pelan, luka yang di rasakan nya seperti sudah merasakan percikan di neraka. Dia sadar bagaimana nanti dirinya akan di bakar api keabadian karena bersekutu dengan iblis. Denyut jantung lain yang di dalam perutnya mulai berpacu cepat, dia tau ada benih yang hidup setelah jin merah mulai meminta hal lebih.
Hasrat memutilasi pria yang membantunya hari ini di urungkan melihat Edi yang memiliki ilmu kekuatan spiritual. Tepat di telapak kanan saat menyentuh lukanya, dia melihat sosok lain yang sangat jauh itu seolah mengintai.
“Tuan Edi, aku tau apa kaitan mu dnegan Capit. Tidak kah engkau mau seperti dia?”
“Perihal saudara ku? Aku tidak mau mengingatnya lagi. Jalan hidup kami berbeda, aku mau meninggal dalam ketenangan.”
__ADS_1
“Tapi kau tidak bisa mengabaikannya, dia akan menghantui mu bahkan berani merampas jiwa mu kalau kau tidak menaklukkannya”ucap Sintya memperhatikan wajahnya yang sangat serius.
......................
Kabut putih tidak pernah menghilang, Caki melihat pendaki yang berwajah pucat berjalan di depannya. Dia tidak mendengar panggilannya sampai dia berlari mengejarnya. Dia berhenti di dekat wilayah yang seperti bekas sungai yang surut airnya. Di tengah-tengahnya ada pohon kering yang memiliki banyak dahan berongga seperti habis terbakar.
Perlahan dia mendekati pria itu untuk menanyakan arah pos tiga, tempat teman-temannya menegakkan tenda. Teriakan suara wanita dari ujung bekas tepi yang mengering, dia melihat pria itu berubah menjadi sosok menyeramkan.
“Jangan kesana. Menjauh dari situ!”
Kemuning berjalan-jalan memasuki wilayah dunia lain, dia melihat salah satu rombongan hampir terhipnotis kekuatan astral yang ada di dalam pohon raksasa. Dia membaca cerita yang tersembunyi di dalamnya.
Tawa meriah di ruang keluarga mereka menyaksikan pertunjukan di layar televisi. Pandangan mereka berganti pada suara raungan dan gonggongan anjing yang sangat berisik di kandangnya.Gaston memeriksa kandang yang terletak di teras, dia terkejut melihat Yupi, anjing kesayangan anak perempuannya Tera mati sedangkan empat anjing lainnya tampak gelisah di dalam kandang. Tera yang menangis melihat Yupi mati, tubuhnya seperti habis di makan hewan buas tanpa membuka kandangnya Ibunya Liya menenangkannya dia menggendong ke dalam kamar sementara Robi anak pertamanya membantu sang ayah menguburkan Yupi.
Menguburkan Yupi di belakang rumah, Gaston merasa ada yang memperhatikan mereka dari balik pepohonan. Dia segera menyuruh Robi duluan masuk ke dalam, masuk mengunci rumah sambil memperhatikan sosok yang menyalakan sepasang sorot mata berwarna merah.
Di dalam kamar, Tera masih saja menangis karena belum menerima kematian Yupi. Dia sedikit reda ketika Gaston mengatakan Yupi akan segera kembali jika sembuh dari penyakitnya. Perkataan bohong Gaston di tentang Liya, mereka berdebat hingga pagi. Keputusan Gaston akhirnya di terima Liya melihat Tera yang mengigau memanggil hewan kesayangannya.
“Bangun saying, tenanglah. Yupi akan baik-baik saja” ucap Liya memeluknya.
__ADS_1
Aktivitas melewati perkampungan di kaki gunung Keramat menyemai banyak fenomena alam. Tera mendongak kan kepala dari luar jendela melihat sosok aneh terbang ke arah gunung. Dia memperhatikan sangat lama. Kejadian lain berlanjut di rumah yang penuh misteri itu. Tepat ketika Liya memeriksa ke dalam gudang. Bekas bakaran pada tiang dan benda di dalamnya membuat di bertanya kejadian apa yang terjadi di dalam tempat itu. Tali, rantai yang menggantung, bekas darah di lantai dan benda-benda aneh yang berserakan. Dia bergegas keluar gudang lalu menguncinya. Suara lolongan anjing bersama bunyi benda yang pecah.
“Hei siapa yang bersembunyi disana? Keluar kau!” teriak Liya.
Suara meringkik kesakitan Eben, Dem dan Klai yang mati dengan keadaan yang sama seperti Yupi. Dia ketakutan melihat seorang pria yang berukuran sangat tinggi berlari dari depan rumah. Liya berlari menuju ke ruang tamu mencari telepon rumah untuk menghubungi Gaston.
“Kenapa tidak bisa terhubung?”
Liya mendengar bunyi dobrakan pintu, dia berlari melihat dapur berantakan.“Bu, ibu dimana?” ucap Robi menyenderkan sepeda angin.
Dari luar, rumah itu terkunci rapat begitu pula tirai yang menutupi. Dia berjalan ke area belakang, pandangan menoleh mendengar suara jeritan ibunya dari dalam hutan. Robi berlari kencang sampai langkahnya terhenti melihat ibunya terjebak di dalam lumpur hidup. Berlari benda apapun agar dapat mengeluarkan sang ibu, dia perlahan menarik menggunakan bekas tali yang di ikat di bagian pohon, di samping Skit yang menggonggong tanpa henti.
Liya sekuat tenaga membebaskan dirinya dari lumpur yang menghisap. Berhasil keluar, dia berlari memeluk Robi. Berjalan tertatih masuk ke dalam rumah, suasana yang semakin buruk mendapat laporan dari Gaston bahwa Tera tidak ada di sekolahnya.
Penyelidikan pihak kepolisian menyisir hutan dan memeriksa rumahnya. Pada malam itu Liya tidak memperdulikan keadaannya, dia meraih kunci mobil pergi mencari putrinya. Gaston tertinggal mengejar menggunakan mobil lain. Di tengah jalan yang sepi, terlintas di pikirannya jika meninggalkan Robi sendirian di rumah pasti membahayakannya.
“Semua kacau setelah pindah ke rumah ini. Aku sangat menyesal menerima tawaran dari Fando!” gumamnya menyetir dengan kecepatan tinggi.
Liya mencari sepanjang malam hingga pagi, dia menepikan kendaraan melihat Liya duduk di halte sambil memegangi mainan leher milik Yupi. “Sedang apa kau disini sayan? Tidak kah kau tau bahwa ayah dan ibu sangat mengkhawatirkan mu?”
__ADS_1