
Ingat ya, hanya kamu yang bisa menentukan kemana diri mu akan melangkah. Tidak sekalipun dia, kalian dan mereka.
Wadah kesesatan di buka jin merah untuk menampung manusia-manusia sesat. Hujan belum pergi, Kemuning duduk di depan perapian menunggu pergantian waktu malam. Kejanggalan penglihatan Ken melihat penampakan makhluk di luar rumah, keanehan Trena dan suara tawa jin merah yang terdengar sangat keras.
Kemuning berjalan menuju ke pintu belakang, dia melihat sehelai kain berwarna hitam membentang terbawa angin di atas tali jemuran.
“Jangan keluar non biar bibi saja yang mengambil kainnya..”
Wanita muda memakai kebaya tersenyum menyeramkan melihatnya. Dari belakang, Tren melihat kedatangan di pengurus rumah. Dia berdiri di dengan pintu. Gerakannya mendorong kedua wanita itu masuk ke dalam.
“Saya jadi lega lihat bibi datang, kali ini bibi jangan pergi, Wajib menginap menemaniku sebelum tuan pulang” ucap Trena tersenyum bahagia.
“Maaf non, bibi lagi perbaiki genteng rumah. Jadi untuk beberapa hari ke depan belum bisa masuk kerja. Oh ya non, bibi sarankan agar nyonya muda ini jangan keluar rumah di waktu malam. Aturan yang di tetapkan dari tradisi kampung di bawah kaki gunung.”
“Tradisi apa bi? Mas Ropi tidak menceritakan apapun pada ku.”
“Pantas saja bibi melarang ku keluar” ucap Kemuning melihat sorot matanya yang dingin.
Cerita kelam puluhan tahun lalu.
Kabut putih sama dengan keindahan lingkaran cincin mempesona menarik mata para pengunjung. Semua berubah karena terlalu banyak manusia memuja makhluk halus yang di dalamnya. Keanehan, berita duka, perubahan warga kadang bertingkah seperti kanibal bahkan banyaknya para wanita yang di mangsa saat malam hari.
Suara kentungan di sore hari menandakan siapa pun tidak boleh keluar rumah. Larangan berlaku untuk semua orang yang tinggal di kaki gunung. Makhluk pemangsa akan datang merenggut nyawa, kerangka, mayat manusia terlebih lagi sesajen yang di temukan si setiap tempat . Tidak jarang suara kentungan terdengar saat matahari terbenam, memberitahu adanya bahaya dan tanda-tanda lainnya.
__ADS_1
Orang sembarangan, tidak mengikuti tradisi kampung, keluar di malam hari bahkan tidak menyalakan api di rumahnya. Maka dia akan menjadi santapan si makhluk ganas. Organ tubuhnya akan hilang, menurut kabar jika para pendaki menghilang di gunung dan tidak di temukan jasadnya maka dia di ambil para makhluk halus. Sebaliknya, jasad yang terlihat di permukaan sama hal tidak di inginkan makhluk di dalamnya.
“Sesajen apa yang bibi maksud?” tanya Tren ketakutan. Dia jadi tidak mau menempati rumah atau berbaur masuk mengikuti tradisi kampung.
“Non, sesajen berisi benda-benda yang di minta makhluk di gunung keramat. Satu hal yang perlu non tau, sesajen yang merenggut nyawa menyerupai kata tumbal. Manusia berhati setan lah yang sanggup memberikannya.”
Wajah si pekerja terlihat sangat mengerikan. Tiba-tiba lampu padam, kilatan cahaya menampakan ada sosok yang berdiri di belakangnya. Kemuning, Ken dan Tren berteriak menaiki anak tangga lalu . Kursi roda berputar. Sosok yang sama di dekat bi Wani mengikuti mereka. Kemuning, mendekati sosok tersebut.
“Jangan Kemuning!” teriak Ken.
Lampu menyala, sosok tadi menghilang begitu pula bi Wani. Ken mencari wanita itu di setiap ruangan. Jeritan Tren berdiri di atas tangga merentangkan tangan menjatuhkan tubuhnya Kemuning dan Ken terkejut melihat tubuh wanita itu terguling sampai ke bawah. Mereka segera memeriksa, tidak ada setetes darah atau luka.
“Jangan-jangan dia bukan manusia?” kata Ken bernada bergetar.
“Husshh jangan bicara gitu. Kita positive thinking aja. Kita nggak mungkin meninggalkannya sendirian.”
Tren di angkat di atas sofa, Kemuning menyelimuti tubuhnya yang terasa dingin.
Keduanya sangat mirip, pakaian yang sama, hiasan rambut tidak terlepas dari hiasan bunga kantil. Bayi yang pernah di persembahkan ke dalam air terjun adalah Tren. Desi yang mengandung bayi setengah jin harus di kembalikan seutuhnya dalam bentuk jin. Perintah jin merah tidak boleh di bantah. Desi terpaksa mengganti bayi itu dengan manusia seutuhnya. Dia di bawa pengasuhnya bi Wani, atas perintah Desi dia membawanya ke panti asuhan.
Tren mendapat nasib baik, dia di adopsi oleh sebuah keluarga yang sangat kaya raya. Semua keinginannya terpenuhi. Namun, ketika dia berusia tujuh belas tahun. Kedua orang tuanya mengalami kecelakaan. Tiada yang mengetahui kematian mereka karena sang ayah mengerem mendadak sampai membanting stir ke jalur kanan.
Nafas mereka terputus-putus melihat anaknya Tren tertawa terbahak-bahak. Di belakang ada sosok wanita yang mengeluarkan taring ikut tertawa.
__ADS_1
Merawat anak jin dari kecil sampai dewasa, tanpa sadar Tren membunuh kedua orang tua angkatnya. Di waktu dini hari. Tren pingsan di depan rumahnya, para pekerja melihatnya. Kejadian yang terhapus, sosok tren setengah manusia menangis saat membuka mata melihat jasad kedua orang tuanya.
“Kamu yang sabar ya sayang, aku akan selalu menjaga mu dan selamanya mencintai mu..”
Ropi seorang pria yang sangat setia. Dia mengikuti semua permintaannya yang sangat ingin tinggal dia kaki gunung keramat. Ropi mendapat tawaran rumah dengan harga yang miring. Namun dia mendengar nominal tidak sebanding setelah melihat bangunan megah berlapis emas.
Mencari anaknya yang hampir di tenggelamkan. Dia mengelabui jin merah, memandikan bayi manusia dengan darah miliknya. Darah dari sayatan tangannya berhasil membawa Tren keluar hutan. Pada malam itu, nyawa bi Wani di pertaruhkan.
...----------------...
“Jadi, Tren manusia setengah jin?” gumamnya membuka mata.
Melirik Tren terbangun menggerakkan tubuhnya yang kaku. Senyum menyeringai, jari runcing berdetik. Kemuning berlari memanggil Ken. Dari luar, Desi bersiap mengepung bersama anggota pengikut jin merah. Santapan sedap yang lama di tunggu-tunggu. Suara panggilan Ayu mengarahkannya tetap berlari menembus makhluk halus.
“Lari Kemuning. Percaya pada ku!” ucap Ayu.
Penampakan arwah nek Mindun juga membantu cucunya supaya bisa lolos dari iblis. Kemuning tidak sempat menoleh. Berharap tidak akan kehilangan sang nenek. Kemuning menangis di atas bebatuan raksasa.
Sosok suami yang selama ini dia pikir masih hidup bersamanya ternyata telah meninggal. Ropi di bunuh dengan tangannya sendiri. Satu hari sebelum kematiannya, dia sempat berbincang-bincang dengan bi Wani.
Tubuh Ropi di gantung di pohon beringin tepat pada bagian pintu masuk hutan. Nama Ropi dan Trena, bahan sesajian yang di terima jin merah sebagai pengganti dirinya. Organnya menghilang, Ken ketakutan melihat tidak sanggup lagi berdiri tegak.
“Kenzi, kau dengar tawa jin merah tidak? Tawanya semakin mendekati kita”
__ADS_1
“Kemuning. Aku tidak bisa berdiri..”