Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Pengambilan jiwa


__ADS_3

Laju kendaraan berkali-kali terhenti. Pandangan mata Ririn melihat bayangan ramai rumah penduduk yang ternyata seolah hanya ilusi baginya. Dia tidak tenang melirik Tarak yang masih kehausan. Sepuluh kantung plastik berukuran satu kilo habis di teguk dalam waktu setengah jam. Tidak bisa di pungkiri sosok yang berwujud bayi gendoruwo pasti menunggu ASI dari ibunya.


“Kamu kok berhenti terus maju lagi sih Rin kapan sampainya? Duh, mana cucu ibu rewel terus.”


“Hihh, bu wajah Tarak makin serem ya. Tadi Ririn lihat ada banyak perumahan di sekitar sini. Tapi setiap kali menepi pasti tiba-tiba menghilang.”


“Hus kamu jangan ngomong gitu. Jelek-jelek gini ini keponakan kamu. Coba kita cari lagi mana tau ada perumahan di depan sana.”


Kalau secara manusia normal yang melihatnya, tidak akan sanggup menyentuh bahkan berjarak berdekatan. Dia semakin besar dan mengeluarkan gigi taring yang sangat lancip. Perjalanan melewati satu jam, tangisan tidak kunjung mereda.


Dunia ini banyak mengisahkan misteri yang tersembunyi. Udara yang berhembus terasa panas jika benar-benar di rasakan akan kehadiran makhluk halus. Penunggu waktu di alam lain yang mencurangi suasana alam manusia, mencari celah memanfaatkan demi mencapai keinginannya.


Tarak, bayi yang tidak seharusnya terlahir di dunia. Sosok gendoruwo menyilapkan mata Farsya yang kini terjerat olehnya. Rasa kasih sayang Kela sebagai seorang nenek yang tumpah ruah, dia menganggap cucunya bayi manusia biasa dan tidak memiliki kekurangan apapun.


Ririn menepikan kendaraan, di depannya ada persimpangan yang mengarah pada dua cabang. Sesuai dari catatan alamat yang di berikan dari bu Mutia, rumah itu memasuki jalur berjarak satu meter melewati beberapa pohon beringin.


“Kita jalan ya bu, mobil kita nggak bisa masuk ke dalam” ucap Ririn.


“Ya sebentar, ibu gendong cucu ibu dulu..”


Tangisan kuat Tarak menerbangkan hewan-hewan bersayap yang bertengger di atas dahan pepohonan. Beberapa ekor anjing yang menjulurkan lidah yang melihat mereka langsung berlari mengeluarkan suara merintih. Ada banyak penampakan mata-mata yang menyala, Ririn baru menyadari ini adalah rute jalur kaki gunung Keramat yang di kabarkan geger merenggut jiwa.


Kalau saja dia tau lokasi rumah si dukun atau panggilan kek Langsat. Tertulis di alamat desa seberang, tapi mereka tidak menemukan sebuah pedesaan. Hanya Nampak sebuah rumah yang terbuat dari bambu, di depannya tersusun kayu potongan daging beralas daun.


“Tunggu bu, kayaknya kita salah alamat.”


“Sini kertasnya ibu baca lagi.”

__ADS_1


Di depan rumah ada pohon beringin yang tergantung plastik-plastik yang di kerumuni lalat. Sangat jelas tertulis mendetail, rumah si dukun tepat mereka berdiri. Kela menepuk pelan pundak Tara mendekati pintu. Ririn penasaran pada salah satu isi plastik yang tergantung sedikit robek.


“Huek! Uhuk huek!”


Potongan daging ari-ari yang menggantung membusuk. Dia menekan perutnya, berjongkok berkali-kali menuangkan muntahan. Melihat di bawah pohon ada nama-nama yang luntur terkena tetesan darah, air, foto-foto berukuran kecil, bunga-bunga kering dan benda-benda aneh lainnya.


“Bu, ayo kita pergi dari tempat ini. Lihat di bawah pohon itu ada banyak ari-ari bayi!” teriak Ririn.


Kreek__


Suara pintu yang terbuka, dia melihat seorang pria berpakaian hitam melengos melihat Tarak. Dia mengembus sebanyak tiga kali. Tangisan Tarak tiba-tiba berhenti menangis. Ririn tidak berani masuk, dia berdiri di depan pintu. Kakinya masih gemetaran, dia menoleh ke belakang melihat ada sosok makhluk hitam berbulu bermata merah.


“Arghh! Ada hantu bu!”


“Rin, jaga sikap kamu!” bisik Kela.


“Maaf bu, tapi__”


“Baik kek”


Ririn perlahan menutup pintu, dia membuka sedikit pintu melihat makhluk itu masih melihatnya. Tarak di letakkan dia atas daun yang di sediakan. Semula Kela ragu namun melihat perubahan pada cucunya seutuhnya berwujud makhluk lain. Teriakan Ririn semakin keras, dia bersembunyi di balik tubuh ibunya.


“Kek, apa yang terjadi dengan cucu saya?”


“Dia bukan manusia, dia anak gendoruwo! ASI yang selama ini dia minum tidak akan pernah meredakan haus nya sebelum meneguk darah.”


“Apa? Pantas Farsya semakin kurus kering kerontang bu” bisik Ririn.

__ADS_1


“Lalu kami harus bagaimana kek? Apa tidak ada cara lain? Dia tetap cucu ku..”


Ritual yang tidak lazim di mulai dari memandikan bayi itu dengan air bunga. Tangisannya yang terlalu keras memperdengarkan suara lolongan serigala dan uangan anjing dari kejauhan.


“Tangisan anak ini akan memanggil makhluk halus lain. Dia akan ganas, tidak mengenali orang di sekitar sekalipun kau nenek nya. Dia akan menghisap darah mu sampai kau mati.”


“Tidak kek, tolong cucu saya..”


“Potong ayam ini dan minumkan padanya. Hahahah…”


Suara kek Langsat tedengar berbeda. Tawa melengking, dia menatap tajam Tarak seolah memancarkan kebencian. Ririn gemetaran menerima ayam dan pisau. Wadah berukuran besar yang di sediakan itu di tercium sengatan aroma busuk. Perutnya seolah ingin mual kembali. Karena terlalu lama menunggu, Kela merampas pisau segera memotong leher ayam kemudian menampung darahnya.


Tarak berdiri tepat di belakang Kela. Tetesan air liur berjatuhan, tubuhnya berbulu mirip dengan sosok penggambaran wujud gendoruwo. Jari jemarinya yang panjang menggertak. Kela membalikkan tubuh memberikan wadah yang berisi darah ayam padanya.


Gerakan kasar merampas mengambilnya, dia meneguk sampai habis. Jilatan menyapu isi wadah, dia berubah berlari keluar menuju sosok makhluk yang lebih besar darinya.


“Tarak!” teriak Kela.


“Tahan ibu mu, biarkan bayi gendoruwo itu pergi” ucap si dukun.


Kek Langsat berkomat-kamit, makhluk itu menghilang menebar aroma kemenyan. Ririn memeluk ibunya, dia tidak menyangka ternyata keponakannya berwujud makhluk ghaib. Angin kencang, petir menyambar, mereka tidak melihat si dukun di dalam rumahnya. Ririn dan Kela berlari menuju ke mobil. Tangisan masih tersisa, kepulangan keduanya masih meninggalkan kesedihan.


Hari berlalu, Kela tidak mau makan dan minum. Dia berbaring di atas tempat tidur, jarum infus menggantung. Seorang suster pribadi yang di tugaskan merawatnya. Ririn tidak patah semangat mencari adiknya Farsya di sela bekerja dari pagi hingga petang.


Berita mengenai orang hilang tersebar di berbagai wilayah pedesaan maupun perkotaan. Belum ada yang melihat keberadaan wajahnya di dalam gunung atau menemukan mayatnya.


“Apakah aku harus mendaki gunung? Menurut kabar kalau Kemuning masih di di kawasan itu” gumam Ririn.

__ADS_1


Dia mulai melanjutkan kemudi mobilnya berhenti ke salah satu pusat perbelanjaan kebutuhan pendaki. Namun sebelum langkah kaki memasuki pintu, dia mendengar pembicaraan orang-orang bahwa semakin banyak para pendaki yang tidak selamat di gunung Keramat.


Berpikir akan meninggalkan ibunya dalam waktu yang lama. Ririn jadi merasa serba salah, dia mengurungkan niatnya. Pikirannya semakin bercabang melihat Koran yang mengabarkan mengenai fenomena mistis gunung keramat.


__ADS_2