Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Setan terkutuk


__ADS_3

Luka di kaki Gege di ikat dengan kaos nya yang dia buka. Balutan perban tidak teraa di kulit bahkan tetesan obat Betadine tidak terasa pada lukanya yang sangat berdenyut. Gigitan Sri menularkan penyakit seperti yang pernah di derita ayahnya. Dia tidak sabar menunggu Ruben membawa Air, Kemuning mencium aroma busuk. Lalat berterbangan mengerumuni, dia menoleh dari jendela melihat Ruben berlari ketakutan.


Nafas tersengal-sengal, dia melihat ke belakang mempercepat gerakan menutup pintu.


“kamu kenapa aja sih? Airnya mana?”


“Huh! Ada setan! Awalnya aku mengira dia wanita cantik yang memakai pakaian kebaya. Akan tetapi setelah berjarak dekat dia yang berambut lusuh dan menyeramkan”


“Kalau gitu biar aku saja yang mengambil air. Tidak bisa di pungkiri di Gunung Keramat banyak penampakan. Oh ya walau bagaimana pun aku baru mengenal kalian, aku akan beristirahat di luar, kalian di dalam pos.”


“Kau mau menurunkan harga diri ku sebagai laki-laki ya. Aku akan mengambil alir di aliran hilir sungai bagian lebih ke ujung. Tetap aku dan Gege yang di luar.”


“Yasudah aku akan menemani mu. Ge, kau tunggu ya” ucap Kemuning.


“Tunggu Ben?” Gege menarik jaketnya.


“Ada apa?”


“Aku rasa wanita yang besama kita ini bukan manusia. Dia sama sekali tidak takut hantu atau kegelapan.”


“Jangan buat aku tambah merinding ya.”


Ruben memberikan mengambil dua botol kosong. Dia mengikuti mengikuti Kemuning dari belakang, langkah kecil melihat gerakan wanita itu yang tampak lincah. Dia tanpa sadar tergelincir, kakinya terkilir dan bajunya berlumpur. Karena malu di lihat wanita di depannya, Ruben memaksa berjalan normal. Setelah beberapa jarak lebih jauh, dia menekan kaki merasakan uratnya yang keseleo.


“Kamu nggak apa-apa?”


“Nggak apa-apa, umur kamu berapa ya? Biar aku tau panggilnya kakak, adik atau sebaya” ucap Ruben dengan gerakan menekan kakinya.


“Panggil saja Kemuning, sekarang nggak ada waktu mengobrol buat menghambat pekerjaan.”


“Galak amat sih. Cantik dan misterius” gumamnya.

__ADS_1


Ruben berhenti mencari tempat dimana dia bisa meluruskan kakinya. Perlahan dia mengurut kaki sambil memperhatikan Kemuning mengambil air. Dia seperti sedang berbicara pada sosok yang tidak terlihat. Kemuning mengusap di antara kedua batu. Hal yang membuat ingin berlari melihat dia berbicara pada sosok yang tidak terlihat.


Glek__


“Wanita itu bisa ngomong sama hantu!” batinnya.


Kemuning melihat di ujung jalan ada sosok yang hantu pendaki yang hangus terbakar. Penampakan lain pada pada makhluk yang berbentuk seperti gendoruwo yang terbuat dari api. Dia menarik Ruben mempercepat langkah menuju pos.


Menahan kakinya yang masih keseleo, di dalam Pos dia berdiri di depan pintu mematung. Melihat makhluk tadi tidak mengikuti, Kemuning memberikan air ke tangan Gege. Dia membuka kain yang menutup luka. Menyiram luka, bau busuk semakin menyengat.


“Huek! Uhuk!”


“Itu kan luka kamu Ge. Kok kamu yang muntah? Luka kamu sampai separah ini. Hih, apaan tuh? Cacing Ge!” teriak Ruben.


“Arghh! Argh!” Gege mengerang.


Dia membenturkan kaki di papan pos. Seolah-olah dia akan merobohkan tempat itu. Ge mengambil pisau dari dalam tas. Dia memotong dari ujung kaki sampai paha. Potongan keras menekan sambil berteriak kesakitan. Ruben menahannya sedangkan Kemuning merampas pisau. Suara teriakan lain dari luar pintu terdengar suara orang minta tolong.


Kemuning membuka pintu, seorang wanita yang memakai jas hujan menyatukan kedua tangannya. Dia memberitahu di kejar sosok gambaran seperti yang Kemuning lihat. Enam pendaki yang terpisah, di perbolehkan Kemuning masuk maka dia duduk di bagian sudut menekuk lutut dan membenamkan wajahnya.


“Kemana si Ega?”


“Aku rasa dia sudah di bunuh makhluk itu” ucap Tompi.


“Kenapa kita diam saja? Teman kita menunggu bantuan kita?” ucap Yayak.


“Kalau ada yang membuka pintu pos tiga maka aku akan membunuhnya!” makhluk itu di luar dan suka kegelapan!” setelah kau membukanya maka dia tau di dalam sini tidak ada cahaya api” kata Terde menghalangi.


“Bunuh! Aku tidak takut! Siapa yang ikut aku atau iku Ter? Tentukan sekarang” kata Yayak.


Terde dan Supri memilih tinggal di pos. Tompi, Dedes dan Yayak keluar mencari Ega. Pos tiga bukan lah tempat yang aman untuk bersembunyi. Gerakan Supri yang tanpa sengaja memadamkan lilin. Ruangan gelap, Terde merasakan sosok makhluk halus mendengus berdiri diantara mereka.

__ADS_1


“Sup, kamu merasa ada yang berdiri di samping kita nggak?”


“Aku nggak mungkin di makan setan. Kamu nggak tau kan Ter kalau bapak ku dulu manusia penjinak setan! Ahahah"


Supri bangga dengan ilmu warisan turun temurun yang di dapatkan dari ayahnya. Setiap malam dia atas meja ritual, dia menerbangkan keris mengatur segala sosok jin, iblis, makhluk halus serta ilmu hitam lainnya. Ayahnya dukun sakti, kaitan dari mbah Mijan dan beberapa dukun sakti yang berhasil dia tundukkan.


Sosok gendoruwo melahap hawa murni Terde. Tubuhnya hangus, bola mata menghilang, gerakan selanjutnya melihat Supri yan di belakangnya seperti ada bola api kecil yang menyala.


“Hahah! Kan aku sudah bilang. Tidak ada setan yang bisa memakan ku” ucap Supri penuh bangga.


Dia tidak tau kekuatan iblis menyala hanya di bulan soru. Tepat melewati bulan itu, darahnya yang sudah di beri tanda akan jadi incaran. Suara lengkingan Terde terdengar tiga pendaki lain yang berjalan di tengah hutan. Pematik bercahaya kecil di pegang Dedes yang berdiri sebagai pemandu jalan.


Suara lengkingan, ketakutan mereka bertambah saat cahaya padam. Penampakan sosok gendoruwo menarik tubuh Yayak masuk ke dalam jurang. Dedes menarik kedua tangannya, sosok tinggi besar itu membunuhnya dengan kedua tangan masih tergantung.


“Yayak! Hiks”


“Ayo cepat kita pergi Des!"


“Percuma Tom, makhluk itu juga akan membunuh kita. Hiks”


Tompi tetap memaksa Dedes ikut pergi bersamanya. Langkah mereka tertatih, suara panggilan setan membuat Dedes bergetar menjerit sekuat-kuatnya. Pengejaran makhluk yang mengerikan menangkap Dedes membawanya pergi.


“Des! Pegang tangan ku!” teriak Tompi.


“Tolong aku! Arghh!” tangan Dedes terlepas. Dia di seret, tubuh terbanting pepohonan. Tompi mengejar sampai melihat makhluk itu tidak terlihat membawanya. Supri ada disana, tertawa seperti orang gila menepuk dada. Dia manusia angkuh, menyombongkan diri merasa hebat memiliki kekuatan yang tidak semua orang memilikinya.


“Sup, bantuin si Dedes!” panggil Tompi di balik pohon melihat kelakuan aneh Supri.


“Hei kau ngomong apa? Aku ini hidup bukan untuk menolong orang lain. Enyah! Aku mau pulang! Selamat berjuang ya! Ahahah!”


“”Arghhh!” Dedes di seret makhluk berbulu masuk ke dalam semak belukar.

__ADS_1


Supri hanya sebagai penonton melihat dia tidak berhenti berteriak kesakitan. Dia bertolak pinggang, menghafal jalan menuruni gunung.


__ADS_2