
Dua rumah yang saling terpisah berjarak lima langkah dari lintas jalan. Tepat di malam yang sedikit berangin, bi Tangtang mempercepat langkahnya yang terbata masuk ke dalam rumah. Beberapa lembar kain tertinggal di jemuran. Dia meletakkan pakaian yang ada di tangan lalu kembali membuka pintu.
Memandang ke halaman tidak ada satu orang pun, dia segera berlari kecil menarik sisa kain.
Cahaya yang berkelip kecil tampak keluar dari rumah Sintya. Dia mengikuti sambil membawa otong baju yang ada di tangannya. Gerimis membasahi, hawa dingin, suara ane terdengar melihat gerakan wanita itu berhenti memasuki pepohonan di kaki bukit.
Dia berdiri menghadap langit, gaun putih berkibar memperlihatkan bentuk tubuhnya. Ucapan mantra menggoyang pepohonan, sosok pria bertubuh merah yang berjalan membungkuk mengagetkannya. Bi Tangtang terkejut berteriak minta tolong. Dia berhenti bersuara melihat Sintya berdiri di depan pintu kamarnya.
Meja makan kosong, peralatan dapur masih tersusun rapi di tempatnya. Bela melihat jarum jam menunjukkan angka tujuh. Dia mulai merebus air, membakar roti dan memasak nasi goreng. Edi dan Ceril telah bersiap menyantap sarapan, bi Tangtang yang baru saja terbangun langsung berlari ke dapur meminta maaf karena kesiangan terlambat bangun melaksanakan tugasnya.
“Sekali lagi saya minta maaf nyonya, tuan.”
“Udah nggak apa-apa bi. Kalau bibi sakit biar istirahat aja di kamar.”
“Bukan nyonya, bibi tadi malam mimpi ketemu hantu. Bibi mau di cekik terus di kejar-kejar sampai ke gunung. Terus tiba-tiba datang bu Sintya..”
Dia menghentikan pembicaraan melihat Sintya berdiri di sampingnya.Di dapur, Sintya mengancam akan membunuhnya jika memberitahu apa yang dia lihat. Bi Tangtang ketakutan masuk ke dalam kamar. Setiap hari Ceril di pengaruhi Sintya dengan kedekatan dan caranya yang pandai merayu menggunakan kata-kata manis.
Sore di semai nyanyian ramai keduanya, namun Bela mendengar nyanyiannya berubah menjadi mengerikan. Bela ketakutan menarik Ceril masuk ke dalam kamarnya. Pinggiran pembatas di hinggapi burung hantu yang tidak pernah berhenti memutar kepalanya. Senyuman Sintya menunggu kesempatan untuk membunuhnya.
Pada malam yang tidak tenang, mimpi Bela kembali ke gunung Keramat. Dia ingat Kemuning membantunya melarikan diri. Pemandu yang di ikuti sosok lain dan selalu tau bahaya yang mengintai. Tubuhnya seperti ada yang menindih. Di dalam tidur kesulitan bernafas dan membuka mata. Raut wajah ketakutan sampai Edi membangunkannya.
Mencoba tidur kembali di dalam alam bawah sadar dia kembali di serang gangguan ghaib. Seribu tangan yang menariknya di tahan sosok jin merah. Dia mengambil apa yang dia inginkan setelah mendapatkan persetujuan yang menghancurkan hidupnya.
__ADS_1
“Bela, aku menginginkan bayi mu. Hihih..”
“Tidak! Tolong!”
Bela membuka mata terkejut merasakan darah yang tidak henti mengalir. Dia menjerit histeris, Edi sangat panik mengangkatnya membawa ke rumah sakit. Setelah menempatkan istrinya di kursi mobil, dia berlari ke kamar Ceril menggendongnya masuk ke dalam mobil duduk di sebelahnya.
Seorang dokter mengernyitkan dahi keluar dari ruangan. Dia menggelengkan kepala memberi kabar Be mengalami keguguran. Bella menangis menyesal mengingat dimana hari menerima uluran tangan jin merah. Anaknya di rampas paksa seperti gambaran mimpinya.
Rumah mewah di tutupi kabut putih.
Bi Tangtang memecahkan gelas di tangannya. Di belakangnya ada sosok yang berlari sangat cepat kesana kemari. Dia tau ada makhluk yang sedari tadi mengikuti. Tanpa menoleh ke belakan, bi Tangtang berlari masuk ke dalam kamar. Jendela terbanting bersama tirai terangkat ke atas. Berdiri di depannya sosok Sintya berwajah mengerikan.
“Arghh! Jangan bunuh aku!”
Sasaran selanjutnya menunggu organ Bela dan janinnya. Dia berdiri di depan pintu menyambut kepulangan Bella. Edi yang membantunya berjalan di ikuti gerakannya memapah sampai ke atas kasur. Senyuman Ceril melihat Sintya mengganggunya dengan menunjukkan berbagai ekspresi wajah yang berbeda.
“Bagaimana keadaan mbak Bela mas? Terus bayinya baik-baik saja kan?”
“Bela mengalami keguguran. Tolong jangan membahas bayi atau mengenai kegugurannya, dia sedang terguncang.”
Mendengar Bela mengalami keguguran, dia berpikir telah kehilangan kesempatan mengunyah tulang muda. Sintya tidak pernah berhenti mencari cara mengambil kesempatan dari simpati Ceril, dia meminta ijin kepada Edi agar di ijinkan menginap menemani Ceril.
Malam di penuhi kesedihan, tangisan sampai terlelap, dia tidak menyadari kedatangan Sintya. Edi melotot melihat Sintya berdiri di depan Bela. Wanita itu naik ke atas kasur mendekatinya. Edi mendorong namun Sintya menekan tangannya. Mereka kini tidur bertiga di kasur yang sama, Edi berbisik agar segera pergi.
__ADS_1
“Kenapa mas? Sebentar lagi kan aku akan menjadi istri mu”
Bi Tantang tidak ada di kamarnya. Langkah terbata dengan gerakan lemah melihat dengan kamarnya kosong. Dia hanya menemukan pecahan gelas di kamarnya.
“Kemana perginya bi Tangtang?” gumamnya. Duduk meja makan yang terhidang masakan Edi, pria yang jago masak itu meminta agar bela menghabisi sarapannya.
“Setelah ini jangan lupa minum obat ya sayang” ucap Edi lalu menambahkan air di gelasnya.
Sintya yang tidak tau malu, seolah Edi miliknya menganggap Bela tidak akan cemburu dengan apa yang dia lakukan. Dia mengusap dada mengingat ancamannya tadi pagi. Sintya akan melahirkan keturunan Edi jika dirinya tidak memberikan anak.
Kejahatan tidak akan pernah habis. Melihat mobil Edi telah berlalu, Sintya mulai melakukan rencana yang selama ini dia tunggu. Menarik paksa Ceril menuju ke rumahnya.
“Bela, selamatkan Ceril tanpa membawa polisi atau bantuan lainnya. Ahahah!”
“Sakit tante! Hiks”
Gudang berbau busuk, mayat yang di jadikan ajang ritual dan memanfaat kekuatan setan meluluhkan Edi. Sosok pria yang dahulu pernah mencintainya. Tangisan Ceril ketakutan di dorong ke dalam sebuah kotak yang berisi mayat bi Tangtang.
Bela mencari keduanya, tawa Sintya terdengar semakin kuat. Sosok Sintya berdiri memukul kepalanya dengan potongan kayu yang keras. Bela berlari keluar, dia di jambak masuk ke dalam gudang. Suara teriakan kesakitan Bela membuat Ceril menangis memanggil ibunya.
“Jangan kau sakiti anak ku Sintya!”
“Ahahah! Bukan kah dia Cuma anak pungut?”
__ADS_1
Sintya mengusap pipi Ceril, dia mulai mengeluarkan kukunya yang runcing. Bella memukulnya lalu berlari menarik Ceril menaiki tangga. Dia menutup pintu, mendorong meja di depannya dan benda lainnya. Sintya melompat ke dinding, dia masuk dari jendela mencakar wajah Bela. Tangis Ceril ketakutan memeluk ibunya tidak mau melepaskan.