
Kaca-kaca cermin yang retak membekas tetesan darah Sintya, bercak kaki, aroma anyir dan angin yang berbisik. Suasana ini sama seperti kejadian lalu, kematian Mila di bunuh Mena yang tidak lain menunjukkan hawa iblis. Edi meletakkan tas kerja menyusuri jejak kaki hingga menemukan bi Tangtang yang pingsan.
Dia terlalu tua menahan semua penderitaan yang di alami keluarga itu. Ketakutannya masih sama mengingat terakhir kali Sintya mengeluarkan gigi taring persis seperti Mena membunuh Mila dan pak Jumani. Bi Tangtang menceritakan semuanya, dia ketakutan meminta ijin untuk berhenti bekerja. Edi berusaha menenangkannya.
Bela berjalan tergesa-gesa sambil menggendong Ceril, dia melihat kaki si bibi yang di perban dan wajahnya yang sembab. Melihat kedatangannya, bi Tangtang menyatukan kedua tangan berkali-kali meminta tolong agar di perbolehkan pergi dari rumah itu.
“Jangan tinggalin saya bi. Jujur saja saya sangat ketakutan melihat Sintya. Dia dan anaknya selalu membayang di mimpi dan hari ku. Temani saya dan Ceril bi!”
Edi meminta ijin mencari Sintya namun Bela melarang keras hingga menahan kunci mobilnya. Tetap saja pria itu pergi sampai akhirnya Bela ikut mengejar. Edi memanggil Sintya di perbukitan, dia tau wanita itu sangat suka pergi kesana. Suasana yang hampir sama saat di perkampungan kaki gunung keramat. Sintya berdiri menangis di depannya. Melihat Bela berdiri di belakang, wanita itu semakin sengaja memeluk hingga tersenyum menyeringai melihatnya.
“Aku tidak akan tinggal diam Sintya!” gumamnya membalikan tubuh.
Mereka bertiga kembali ke rumah, Edi di tahan Bela agar tetap di ruangannya sementara dia yang keluar memberikan handuk pada Sintya. Dia semakin menempel mengekor kemanapun pria itu pergi. Berlanjut sampai menjemput bi Tangtang dan membawa Ceril pulang. Kembalinya Sintya membuat pekerja rumah itu gemetaran.
“Selamat datang kembali bi. Maafkan sikap saya ya bi” ucapnya mengusap punggungnya.
Bi Tangtang ketakutan meminta ijin pergi ke dalam kamarnya. Edi tau apa yan sedang di alami keluarganya itu. Namun dia meyakini Sintya telah membuang kebiasaan lamanya. Pagi hari Bela di kejutkan Sintya yang tertidur di samping anaknya. Kali ini dia membangunkan Ceril untuk sarapan bersama.
“Ceril sayang, bangun yuk sarapan” ajaknya sambil melirik Sintya yang memakai pakaian daster mini yang tipis.
“Masih ngantuk bu, nanti Ceril sama tante Sintya aja ya bu sarapannya.”
“Ya sayang nanti sama tante aja. Ibu baru kamu” ucapnya menatap Bela.
Pintu di banting Bela sekuat-kuatnya, dia menahan amarah di tambah Edi yang masuk ke dalam kamar. Perkataan Sintya sangat jelas terdengar ingin mengambil alih posisinya. Dia menunggu Edi keluar, berdiri di depan pintu sambil mendengarkan perbincangan mereka. Suara Sintya yang terdengar sangat menggoda, Bela bersiap mendobrak atau mengusir wanita itu jika Edi tidak keluar beberapa menit lagi.
__ADS_1
“Anak kita mas..”
Ucapan Sintya yang hanya di balas dengan tatapan datar Edi.
Suara bel rumah yang di tekan tanpa henti. Tamu yang tidak di sangka membuatnya kembali mengingat ingatan peristiwa lalu. Kedatangan Rapa, Filza dan Dedek memeluk eratnya dengan tangisan. Hanya rumah Bela yang tampak berpenghuni.
Mereka dapat melihat pekerja rumah dan kehadiran lainnya. Teman-temannya tidak mengira Bela begitu cepat menikah. Sintya yang ikut menyambut membuat mereka melotot ketakutan. Wajah yang tidak asing yang ingin membunuh mereka itu begitu menakuti.
“Kami pulang ya Bel, besok balik lagi! Atau kita ketemu di luar ya!” ucap Filza.
“Ini nomor hp ku ya ntar malam jangan lupa telpon” kata Rapa berlari masuk ke dalam mobil.
“Cepetan!” Dedek memperhatikan Sintya tersenyum memperlihatkan gigi taringnya.
......................
“Biasa namanya juga ABG mas, mereka suka cari sensasi. Oh ya hari ini jadi kan main di pantai? Aku ikut ya?” ucap Sintya tersenyum.
“Asik tante Sintya ikut!” Ceril bersorak bahagia.
Kedekatan keduanya di sambung di tepian pantai yang membentang ombak di lautan. Mereka berlari, saling melempar bola dan berenang bersama. Bela menahan Edi sambil menoleh melihat wajah murung istrinya.
“Kenapa kamu kok murung banget? Padahal hari ini adalah hari perayaan kita mempunyai momongan”
“Kamu nggak suka sama mbak Sintya kan mas?”
__ADS_1
“Jangan bicara yang nggak-nggak. Sintya sudah aku anggap seperti adik sendiri” kata Edi lalu membalas lambaian tangan Sintya dan anaknya.
Ceril memanggil agar ikut bermain bola, ketiganya tertawa bahagia hingga air laut mulai menendang kaki mereka. Suasana matahari terbenam tidak akan terlihat indah kalau di hadirkan warna lain yang menghalangi. Gerak gerik Sintya semakin berani mendekati Edi hingga menyandarkan kepala di pundaknya. Dia berupaya agar Edi tetap menopang di sela ceritanya yang menunjukkan kesedihan dan tangisan.
Bela mengirim pesan pada Edi agar segera pulang. Karena layar hp yang tampak sengaja di jauhkan Sintya membuat Bela berjalan membawa sisa jus menyiram wajahnya.
“Apa-apaan kamu Bela? Hiks”
Sintya berlari masuk ke dalam mobil.
Amarah Bela di redam Edi agar jangan membuat kehamilannya terganggu. Namun kenyataannya suaminya itu yang terlihat lebih mengasihani wanita lain. Dia masuk ke dalam mobil menenangkan tangisan Sintya.
Kepulangan membawa amukan dengan cara Bela yang bersikap kasar. Dia menegaskan agar esok hari wanita itu pergi dari rumahnya.
“Tidak mungkin dalam satu atap ada dua wanita yang sama-sama mencintai seorang pria. Aku mau mbak Sintya jangan menjadi duri dalam daging. Terlebih lagi mbak berstatus single”
“Bela, kamu jangan kasar gitu dong. Mas kan sudah bilang__”
“Cukup mas! Seharusnya dulu kamu nggak menyelamatkan aku hanya karena wajah ku mirip dengan wanita yang selama ini kamu cari!”
Pertengkaran hebat itu berujung kepergian Sintya membawa barang-barangnya. Terakhir kalinya dia berbisik pada Bela bahwa akan kembali mengambil semua miliknya. Bela mengusirnya pada malam itu juga sedang Edi yang merasa kasihan memberikan rumah kosong yang jaraknya dekat tempat tinggalnya.
“Maafkan sikap Bela, aku tau ini berat bagi mu Sintya. Kamu boleh tinggal di rumah itu sampai kamu mendapatkan rumah yang nyaman.”
“Terimakasih mas Edi..” ucapnya bernada parau.
__ADS_1
Di balik kaca jendela kamar Bela melihat Edi tampak di peluk Sintya. Dia tersenyum melihat Bela yang memperhatikan. Sintya berhasil memainkan peran sebagai wanita yang bersikap baik. Beberapa hari ini perbuatannya juga tidak menunjukkan tanda-tanda mencurigakan. Permainannya rapi mengelabui Edi yang terperangkap olehnya. Dia mengincar organ Bela, menunggu waktu yang tepat agar Edi tidak mengetahuinya. Jin merah tertawa melemparkan kebahagiaan berhasil mengubah hati manusia itu menjadi iblis penguasa neraka abadi.
“Bagus Sintya, aku akan membantu mu melakukan semua hal yang kau mau! Hihihih!”