
Sintya tidak sampai menaiki gunung, di depan pintu masuk melihat ayahnya tidak sadarkan diri. Dia berlari mengangkat tubuh ayahnya. Tubuhnya yang berat menyulitkannya membawa sampai ke halte. Dia menarik ke bawah pohon beringin tua, pandangan membelalak melihat benda-benda klenik semacamnya tumpah ruah.
Sebuah apel yang ranum dia raih, memakannya hingga habis. Dia tidak akan mengira kesalahan besar itu bisa di maafkan makhluk yang menerima sajen itu.
Suara berisik membangunkan Muhyi, dia melihat anaknya memakan sesajen.
“Sintya, jangan makan apapun dari pohon ini” ucap Muhyi bersuara pelan.
“Syukurlah ayah sudah sadar. Ini jaman modern ayah, benda-benda jadul terbelakang begini tidak jadi tolak ukur ketakutan. Aku sangat lapar” Jawab Sintya melanjutkan memilih makanan yang masih bisa di makan.
Sosok makhluk menggantung di atas pohon, Muhyi menghalangi sosok mengerikan itu yang ingin memakan anaknya. Tangan kanan menahan sampai telapak dan pergelangan tangannya di gigit makhluk anak kecil berwajah menyeramkan. Dia menarik Sintya berlari sampai tanpa sadar langkahnya sangat jauh dari pintu masuk.
Menghindari sosok yang ada di dalam pohon, mereka memutar arah selama berhari-hari hingga keduanya terjatuh du wilayah desa seberang.
Orang-orang aneh melakukan hal yang di luar batas kewajaran. Mereka bahkan tidak memperdulikan ketika Sintya membuka mata melihat mereka jatuh pingsan. Sintya samar-samar membuka mata, dia menahan kaki seseorang yang melewatinya.
“Tolong, permisi tuan. Tolong kami..” ucapnya memelas.
Pria yang memakai topi capit menunjuk ke sebuah rumah kemudian berlari meninggalkannya. Rumah gubuk mengingatkan kenangan yang dia mati-matian pendam. Urusan kejahatan yang dia tutupi lama-kelamaan berdiri di hadapan. Dia tidak mau masuk ke dalam walau Sintya memaksa, pria itu memilih tinggal di luar atau berteduh di bawah pohon. Sintya yang kesal menarik paksa sampai menyeret masuk ke dalam.
__ADS_1
“Ayah jangan pilih-pilih lagi untuk berteduh, hujan semakin deras dan lihat lah luka di tangan mu sangat parah.”
Sintya mengambil cairan antiseptic yang dia bawa di dalam tasnya. Sisa sepotong roti di berikan pada Muhyi sambil mengobati lukanya. Tatapan ketakutan kembali lagi ke rumah yang seharusnya tidak pernah dia huni, dia menutup mata berbaring di atas kasur tua yang terbuat dari papan setelah di rawat anaknya. Sintya mencari penerangan di dalam laci, dia menemukan beberapa teplok dan benda-benda perkakas lama yang masih bias di gunakan. Berjalan melihat-lihat ke belakang, dapur sederhana di sisi luar ada sumur dan kamar mandi darurat yang di tutupi selembar rumbia.
“Sintya! Dimana kau? Aduh tangan ku sakit sekali!”
“Ya ada apa ayah? Kenapa menjerit begitu? Aku sedang menimba air di sumur belakang.”
Dia tidak lagi memikirkan hantu, ketakutan di telan namun sikap ayahnya tidak pernah berubah yang semena-mena memperlakukannya hingga dia dewasa.
Sintya terkejut melihat luka bekas gigitan setan membusuk. Ada belatung yang menggeliat di dalamnya, karena tidak tahan melihat dan mencium aroma busuk itu maka dia pergi keluar memuntahkan isi perutnya. Dia berlari membawa senter mengetuk setiap pintu rumah warga, akan tetapi tidak ada satu pun yang mau membukakan pintu.
Seorang pria memakai baju lusuh menggertakkan gigi menunjuk ke sebuah rumah bertingkat yang di tutupi pepohonan pinus. Jarak menuju kesana sedikit jauh karena melewati ladang yang luas. Dia tidak tau penghuni di dalamnya siapa. Tidak ada lagi yang mau membantunya.Menekan tombol bel, mengetuk pintu rumah yang di dalam berkelip lampu. Seorang wanita membuka pintu, wajahnya pucat berhias lipstick hitam. Dia menatap sinis melihat Sintya. Tamu yang hadir di tengah malam adalah suatu pertanda buruk.
“Tolong saya bu, ayah saya terluka parah. Penyakitnya menyebar membuatnya demam tinggi. Tolong lah bu” dia menyodorkan beberapa lembar uang sambil memohon menyatukan kedua tangan.
Wanita itu tidak ada jawaban, masuk ke dalam beberapa detik kemudian membawa kotak medis mengajak Sintya masuk ke dalam mobil. Dia melihat jalur potongan jalan laju kemudi mobil wanita itu sangat sekali sampai ke gubuk.
“Bu dokter, bisakah ibu membantu kami mengantar pulang ke kota? Kalau ibu berkenan besok kami mu menumpang bu.”
__ADS_1
“Kau ini bicara apa? Sembuhkan dulu ayah mu baru berbicara tentang pulang. Orang-orang yang sakit disini ini tidak bisa keluar karena akan membawa virus wabah ke daerah lain. Kalau ayah mu sembuh baru aku berani melewati lintas antar desa dan kota.”
Ucapan wanita itu seakan memiliki sebuah arti yang tersembunyi. Dia menyadari harus menanggung resiko karena berani mendaki ke gunung keramat atau mengunjungi daerah mistis. Sesampainya di gubuk, dia melihat ayahnya telah pingsan. Wanita itu mengeluarkan peralatan medis memeriksa luka dan tubuhnya, dia mengernyitkan dahi mengatakan hal yang mengejutkan.
“Luka di tangan ayah mu membusuk, kalau tidak di potong maka bisa menyebar ke sekujur tubuhnya. Kau harus menandatangani surat persetujuan ini. Aku tidak mau ada tuntutan apapun di belakang hari. Tangan Sintya bergetar menerima pulpen, melihat ayahnya yang tampak sekarat. Tanda tangan di atas kertas, tinta cair hitam tertulis namanya.
Agar tempat itu terlihat lebih terang, Sang dokter menyuruhnya menyalakan lebih banyak teplok atau lilin, dia mulai mengeluarkan pisaunya yang tajam. Yang di pegang di tangannya itu mirip pisau pemotong daging. Sintya menahan suaranya yang mau menjerit, dia tidak sanggup melihat tangan kanan ayahnya di amputasi.
Pemotongan pemisahan anggota tubuh tanpa di ruang operasi, di melihat darah yang bercucuran keluar tertampung hampir memenuhi satu ember penuh.
Cacing, belatung yang menggeliat ikut berjatuhan. Tangan ayahnya di berikan padanya, dia bergetar menerima lalu memasukkan ke dalam kotak besar yang terbuat dari papan yang sudah dia kosongkan. Dia menutupi benda-benda dapur di atasnya kemudian mengantarkan sang dokter sampai ke depan pintu.
Muhyi terbangun merasakan sakit yang luar biasa, teriakan semakin kencang melihat tangan kanannya putus. “Tidak! Sintya kemana tangan ku! Ahhh!”
“Ayah, aku sudah tidak tahan lagi disini. Kita harus berjalan sampai ke batas kota. Mau sampai kapan luka mu mongering? Aku terpaksa memberi ijin bu dokter mengamputasi tangan mu agar luka busuk tidak menyebar ke organ lainnya.”
Sintya mengemasi sisa barang-barangnya, dia menyangga tubuhnya namun tubuhnya yang sangat berat membuat keduanya terjatuh. Seperti ada yang sesuatu yang tidak terlihat menahan tubuh ayahnya. Sintya meletakkan ransel, dia berlari meminta pertolongan para orang-orang yang mulai sibuk melakukan kegiatan keseharian.
“Bu, bantu saya pulang, Bapak saya sakit.”
__ADS_1
“Hei kau siapa nak? Kenapa raut wajah mu seperti itu?” Tanya pria tua meletakkan sapu di tangannya.
“Pak, dia anaknya pak Muhyi. Mereka kembali lagi..” bisik wanita yang menjauh darinya.