Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Di giring makhluk halus


__ADS_3

Tidak ada kehangatan di rumah itu, sepeninggal nek Mindun di tambah Kemuning yang belum di temukan sampai sekarang. Hamza mulai stress sampai dia tidak mau menerima siapapun tamu yang datang. Setiap hari dia tidak berhenti membersihkan kamar Mindun dan Kemuning, semua benda-benda tersusun tanpa berpindah sedikitpun dari tempatnya.


Siang ini dia tertidur di kamar Mindun, dia sangat merindukan ibunya. Biasanya dia selalu mengeluh kesah semua unek-unek beban di pikirannya, bertukar cerita dan pendapat sampai kehangatan sang nenek menguatkan bahwa Kemuning akan pulang.


Menangis sampai tertidur di bantal Mindun, dia bermimpi melihat ibunya tersenyum memeluknya. Pelukan yang terasa sangat nyata, wajahnya pucat tampak pandangan mata sedih yang tidak tertutupi.


“Kamu harus kuat demi Kemuning, ibu akan berjuang menyelamatkannya..”


Pesan ibunya menambah tangisannya hingga dia terbangun melihat sosok mirip ibu nya menghilang dari hadapannya.


......................


Farsya terkejut di usia kehamilan yang baru menginjak satu bulan, perutnya sangat besar. Baju-bajunya tidak muat lagi, dia membungkus setengah bagian pinggang dengan sarung. Duduk di balkon menunggu kepulangan Erik, suara ketukan pintu ibunya yang dia abaikan. Di dalam pikiran dan indera pendengarannya hanya menanti suaminya.


“Pakai baju hamil ini nduk, kamu jangan terlalu banyak pikiran. Ibu nggak mau bayi kamu jadi terganggu” ucap bu Kela mengusap rambutnya.


Dia tidak bergeming, mengikuti gerakan ibunya mengganti pakaiannya. Kela menahan tangisannya, dia merapikan baju dan rambut Farysa yang tidak terurus. Hari di lalui bersama hujan di pelupuk matanya yang tidak kunjung reda. Tepat di bulan kelima, Farsya melahirkan dengan persalinan normal. Seorang nenek, dukun bersalin yang membantu proses persalinannya berteriak melihat bayi yang dia lahirkan.


Dia berlari terbirit-birit tanpa mau menerima upah yang di berikan Kela. Kedatangan Riri masuk ke dalam kamar adiknya terkejut dengan jeritan pula.


“Ada apa?” tanya bu Kela.


Kelahiran cucunya berwujud siluman. Bulu lebat hitam memenuhi tubuhnya, wajahnya menyeramkan. Dia membersihkan darah cucunya, tangannya bergetar mengusap kepalanya. Bayi yang haus darah mengigit leher mengisap darahnya. Riri yang tersadar melihat bayi setan itu membunuh ibunya, dia mengambil pisau siap menusuk. Tangannya di tekan kedua tangan bayi setan yang mengarahkan pisau ke lehernya. Darah keluar bagai air mancur, tawa si bayi iblis meneguk darah segar.


Tanpa rasa bersalah Farsya meraih bayinya, dia teramat marah berpikir ibu dan kakaknya berniat menyakiti anaknya yang memiliki kelainan.

__ADS_1


Garis pembatas polisi terpasang di rumahnya, laporan si dukun bersalin tidak memberikan bukti Farsya sebagai tersangka atau melihat bayi itu berubah menjadi setan membunuh korban. Farsya melahirkan anak siluman, kabar itu terdengar di telinga Hana. Dia di damping penjaganya mengunjungi rumahnya, bel rumah berkali-kali berbunyi tapi tidak ada yang membuka pintu.


Saat pendamping Hana mendorong kuris rodanya, suara gesekan pintu terbuka memperlihatkan Farsya menoleh dari dalam.


“Farsya ini aku Hana. Bagaimana kabar mu dan anak mu?"


“Pergi! Aku tau kedatangan mu hanya ingin menghina anak ku. Semua orang membencinya termasuk tante dan neneknya. Aku tau kau akan berkata yang sama” ucap Farsya membanting pintu.


Di pandangannya, bayinya normal dan tidak ada sedikitpun tanda-tanda kelainan. Dia merasa semua orang berperilaku aneh setelah dia pulang dari mendaki. Hana memohon agar dia mau menerimanya masuk, dia juga berjanji tidak akan berkata apapun tentang bayinya.


Di ruang tamu, wajahnya yang bahagia menunjukkan anak yang ada di buaiannya. Hana menahan rasa takut saat Farsya meletakkannya ke pangkuannya.


“Anak ku lucu sekali bukan?”


“Iya_ya_” jawab Hana singkat.


......................


Kelaparan di tengah hutan, tidak ada bahan pangan atau minuman. Dia gemetaran melangkah mengikuti jejak kunang-kunang yang menerangi jalannya.


“Semula semua hal yang menyangkut kuku setan bersifat jahat. Ayu atau nenek yang mengendalikan mereka memberikan ku penerangan di gelapnya hutan? Aku tidak tahan berjalan lagi” gumam Kemuning.


Brugh__


Dia terjatuh, kepalanya membentuk potongan balok kayu. Dalam rasa sakit menopang tubuh berusaha berdiri. Suara tapak kaki kuda dan suara aneh terdengar keras, dia bersembunyi di antara ilalang. Hantu dua sosok wanita kebaya bersama iring-iringannya. Di kejauhan, ada Jaja mengejar dengan langkahnya yang pincang. Dia menekan kaki, berhenti seperti sedang kesakitan. Setelah penampakan itu pergi, Kemuning menariknya bersembunyi. Dia menutup mulutnya agar tidak bersuara.

__ADS_1


Salah satu pengikut yang berada diantara sisi kereta terbang memeriksa suara berisik yang terdengar. Kemuning menunjuk ke arah perutnya yang bolong. Jaja mengangguk lebih menunduk supaya tidak terlihat.


Dia sudah menjadi arwah kaki tidak terpijak ke tanah, Kemuning meyakini kehidupan alam lain tidak jauh berbeda dengan alam manusia. Hanya saja yang membedakannya mengenai bentuk rupa dan kebiasaannya.


...🔥🔥🔥...


Aku baru membaca semua hal di dalam dimensi ghaib. Tidak ada alam seindah dunia nyata, udara di gunung keramat hampa, aura mistis lebih dominan dan kehidupan lain lebih nyata. Para makhluk saling menyambung, dunia nyata tidak bisa di bedakan lagi


#Kemuning


...🔥🔥🔥...


Kapan dia pulang? Hanya waktu yang bisa menjawab. Jaja meminta maaf karena dirinya membuat musibah besar. Kemuning tidak pernah sekalipun menuduhnya sebagai biang masalah semua yang terjadi. Dia menganggap ini sebuah nasib buruk yang menimpa.


“Aku yakin kita akan pulang. Aku lebih tenang melewati jalan, ada Ayu dan nenek yang menjaga ku”


Kemuning menarik tangan Jaja agar mengikutinya. Genggaman tangan terlepas saat melewati titi di pos dua. Suara panggilan Jaja yang lain mengagetkannya, sedari tadi dia menggenggam tangan setan yang berhasil menipu.


“Kemuning, kenapa genggaman tangannya di lepas? Bukan kah engkau mau membawa ku pulang? Hihihi!”


Sosok itu tidak berhasil menari bola matanya, arwah neneknya berubah mengganas menghancurkan tangan setan dengan genggamannya yang kuat. Darah yang hitam mengenai telapak tangan kirinya. Arwah sang nenek membersihkan sampai dia mengusap menggunakan ujung bajunya. Kemuning merasa ada yang tidak beres dengan neneknya. Dia yakin sekarang tidak sedang bermimpi.


“Kenapa nenek seolah nyata bagi ku? sosok arwah yang berdiri di depan adalah nenek yang selalu ada menjaga ku” batinnya.


“Nek, nenek baik-baik aja kan? Nenek lagi menggunakan pelepasan sukma ya? Kemuning ikut ya nek.”

__ADS_1


“Cucuku, jangan tinggalkan tubuh mu demi mencari semua sebab yang terjadi. Ayo, ikuti jalan nenek.”


__ADS_2