
Selamat dari maut, menatap di depan telah tersusun bangunan warga yang berada di bawah kaki bukit. Langit di siang hari. Orang-orang sibuk melakukan pekerjaannya. Kenzi berjalan pincang, dia berhenti memegangi tiang penyangga warung. Kayu yang cukup nyaman menyandarkan tubuhnya. Perkampungan sepi penduduk, kedatangan Kenzi dan Kemuning melirik pandangan mereka dengan tatapan sinis.
“Permisi kek, boleh kami menumpang untuk berteduh?” ucap Kenzi mendekatinya.
Seorang pria tua membalas tatapannya. Dia menggerakkan giginya yang tinggal dua, pita suaranya yang tidak terdengar lagi. Dia kesulitan berkata-kata, tangan menggenggam kuat di atas bahunya terasa di tekan es batu raksasa. Dia terjatuh kesakitan, si pria tua menghilang. Sampai hari itu Kemuning meminta Kenzi pergi.
......................
Bangun dari mimpi buruk, Kemuning berpikir berada di dalam hutan. Gunung Keramat bagai rumah kedua baginya. Orang-orang yang dia sayang tertinggal disana. Hari ini seorang tamu yang memakai baju gamis sederhana senada dengan jilbabnya menumpahkan keluh kesah tumpahan air matanya. Tisu-tisu berserakan, tangisan meraung menepuk dadanya. Ini bukan pertama kali cerita gunung Keramat mengaitkan Kemuning membantu para pendaki yang hilang.
“Memang benar Kemuning anak ku sering mendaki gunung. Tapi kali ini aku tidak bisa melepaskan anak gadis ku kak. Dia juga sedang sakit, sepulang dari sana demamnya tidak reda. Kakinya terkilir di tambah terluka."
__ADS_1
Dari kejauhan raut wajah ibunya terlihat begitu khawatir. Kerutan juga semakin Nampak, ekor mata yang tidak bisa di bohongi menitihkan tetesan air mata. Kemuning memperhatikan dari atas tangga, dia tidak mau lagi membantah perkataan sang ibu.
“Tolong lah dik, Kemuning pasti tau jalan di kampung itu. Aku sering mendengarnya, satu kampung yang lenyap berubah menjadi pasar di gunung.”
Hening___
Perjanjian di jalankan kalau Kemuning benar sembuh total. Sang ibu merasa kasihan melihat sepupunya terisak tangis, kertas yang mengejutkannya berisi surat keterangan dokter tertulis dia mengidap penyakit Kanker. Waktu yang cepat berlalu, kesehatan Kemuning membaik tanpa di duga sepupu sang ibu yang di panggilnya kakak tertua itu menjemputnya.
“Apakah benar anaknya menghilang di gunung? Lalu apa kaitannya dengan perkampungan berhantu? Wajah tante berganti senyuman lebar” gumam Kemuning.
Dia tidak mengira keadaan sang bibi yang tampak biasa-biasa saja berubah drastis. Volume musik yang kuat, tantenya menyetir sambil menggoyangkan tubuh. Di belakang mobil yang mengikuti, hal yang mengejutkan Nampak otong tersenyum memanggilnya. Pinggir jalan yang sepi, pepohonan menaburkan daun kering yang bertaburan terbawa angin.
__ADS_1
“Hei hei kak Kemuning! Kita jumpa lagi ya.”
Otong melompat mendekat, dia menyeringai gelagat aneh mendengus cekikan. Dia tersenyum membalas jabatan tangannya. Dua pria dan dua wanita juga berjabatan memperkenalkan diri. Tante meninggalkannya, dia memeluk Kemuning di iringi senyuman.
“Kemuning dan kalian semua hati-hati ya.”
“Loh tante, mereka siapa?”
“Kamu jangan takut, mereka adik kelas kamu. Tugas kuliah yang mewajibkan terjun langsung ke lokasi. Lumayan kan, kamu jadi nggak kesepian.”
“Iya kak, benar apa yang di bilang Tante. Kami janji bakal nggak menyusahkan kok. Hiihih..”
__ADS_1
Perjalanan panjang bersama orang-orang asing. Otong acuh tak acuh duduk di kursi belakang. Dia memandang ke luar dari kaca jendela tersenyum sendiri.