Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Mati


__ADS_3

Rayum menahan teriakan yang hampir keluar. Dia tidak tahan melihat bagaimana cara Mile membunuhnya. Rencana Mile mengerahkan pengikutnya menyerang sarang penyihir putih. Merge membaca garis waktu melihat kejadian yang akan terjadi. Kepalanya di tekan kuat, dia berpegangan pada salah satu pot raksasa.


“Ada apa Merge?” tanya Rumga.


“Tidak apa-apa. Aku rasa hari ini kita cukup berlatihnya..”


Ramuan yang di racik Ehit di tuang ke dalam cangkir batu. Di atas meja berbentuk oval, empat penyihir meleburkan tetesan kekuatan di dalam sebuah wadah berwarna kekuningan. Menikmati the ramuan, Ehit hendak menuang tetesan pengumpulan kekuatan mengelilingi sarang bebatuan. Rumga berjanji di dalam benak akan membantu memberikan tetesan darah kekuatannya kalau berhasil menguasai, menggerakkan ilmunya.


Ketakutan Merge melihat segala pandangan mimpi, penglihatan garis waktu akan kematian para penyihir putih.


......................


Kemuning menembus alam nyata. Dia tidak sanggup lagi melihat kesakitan isak tangis melihat kejadian di gunung Keramat. Dia mulai mengetahui rantai kejadian di tempat dia berpijak. Kabut putih pekat yang di anggap salah satu sumber masalah, musibah bahkan membuat kematian para pendaki menghalangi pandangan mendaki melewati jalan nyatanya berkaitan pada ilmu sihir jin putih.


Belum bisa di pastikan penyihir putih di anggap baik. Hantu Ayu selalu menyebutkan kematian kakaknya berkaitan salah satu penampakan jin berkekuatan putih membunuhnya. Kematian kakaknya tepat di pelupuk mata.


“Sungguh, aku ingin membalas dendam atas kematian kakak ku. Aku masih mencari tau dimana sarang penyihir putih.”


“Maafkan aku Ayu. Di dalam penglihatan ku, bangsa penyihir jin putih setengah manusia malah membantu kakak mu terlepas dari jeratan pembunuhan Mile, penyihir kegelapan.”


“Bantu aku mencari tau dimana sarang mereka. Aku yakin salah satu diantaranya masih hidup.”

__ADS_1


Ayu mendesak kemuning memberitahu jalan sampai pandangannya terhenti di depan pos dua. Kemuning selalu menyebut tempat itu merupakan daerah teraman dari serangan iblis. Di masa alam tidak terlihat, penyihir putih membangun wilayah jalur putih.


“Sebaiknya aku tuntaskan semua kaitan yang memusingkan ini. Keyakinan ku masih sama, suku ras penyihir putih tidak salah atau berniat membunuh Rayum. Tapi bagaimana cara ku membuktikannya? Aku juga belum menemukan nenek__”


Batin Kemuning mengeluhkan, pernah perasaannya memikirkan semua tragedi gunung Keramat. Panggilan batinnya tidak pernah putus asa mencari sang arwah nenek hingga membantu sahabat dan para pendaki yang tersesat. Melanjutkan penglihatan cerita mengenai penyihir hitam dan putih, dia menembus dinding kejadian di masa lalu. Kemuning menutupi dirinya menggunakan kain putih bercampur lumpur dan tanah pemberian Ayu.


“Dengan kain ini, kamu tidak akan di lihat para jin. Jangan lupa jika kabut putih merata menghilang, maka kamu harus kembali..”


Pesan Ayu yang tidak pernah Kemuning lupakan. Dia meneruskan langkah melihat Rumga di seret bangsa jin kegelapan memasuki wilayah mereka. Beberapa pengikut Mile kesakitan, tubuh rapuh merasakan tenaga dalam yang terkuras. Jebakan Rayum berhasil mengurasi kekuatan sampai perlahan memudarkan kekuatan mereka.


Keempat penyihir yang terbangun setelah di sihir hipnotis tertidur mulai panik mencari Rumga. Sesuai mimpi dan penglihatan Merge. Mereka memakai topi penyihir, menggunakan sapu terbang bergerak ke daerah wilayah terlarang di hutan.


“Aku merasakannya, kekuatan jin merah mulai bangkit!” ucap Merge merentangkan tangan menghentikan perjalanan.


Perkumpulan para pengikut Mile terpecah menyerbu ke empat penyihir putih. Rumga di ikat, di pohon beringin tua. Pisau yang akan menusuk perutnya terangkat tercampak kuat menancap di tanah. Perang antar dua suku hitam dan putih. Merge mengerahkan semua gerakan benda yang ada di sekitar. Pohon di hidupkan, akar melilit tubuh penyihir hitam bahkan bebatuan menghujani sebagian pengikut Mile yang percaya mereka akan memenangkan pertempuran ini.


Sang pemimpin kegelapan merasa terdesak, dia berlari mencari perlindungan terakhir. Dia bertekad kuat membangkitkan jin merah. Menggunakan setengah tubuhnya yang tersisa sebagai manusia. Dia mempersembahkan darah dagingnya sendiri. Dalam kematian meminta keinginannya di kabulkan. Jin merah yang terlepas dengan senang hati mendengarkan keinginannya.


Mile menebas lehernya sendiri, dia mengeluarkan seluruh darahnya mempersembahkan sebagai kebangkitan iblis merah. Mile mempersembahkan semua kekuatannya untuk jin merah. Di sela kesakitan dalam menghembuskan nafas terakhir, para jin bangsa penyihir putih mendengar dendam dalam sumpah amarahnya.


Sebelas jam sebelum kematiannya.

__ADS_1


Dia tau siapa dalang yang memainkan peran ke pura-puraan. Mile mengeluarkan kekuatan cambuk api membakar sebagian kastil penyihir tertua. Dia tidak memperdulikan lagi pendiri utama sesepuh para penyihir hitam. Dalam pikiran iblis Mile, tidak sepatutnya ada percikan rasa belas kasih menolong bangsa jin penyihir putih.


“Duri, aku tidak menyangka kau menutupi semua ini. Bersekongkol pada Rumga bahkan membantu pergerakan Rayum! Katakan pada ku, apa yang di incar Rayum dan bangsa penyihir putih?”


“Mile, hahaha! Aku tau kau teramat kecewa atas pembelaan ku di belakang layar membantu suku terakhir penyihir putih. Kita tidak bisa menentang alam, walau iblis yang kau bangkitkan itu menapak di atas bumi. Kekuatan dan takdir alam tidak akan bisa kau ubah.”


“Hiyah! Mati lah kau Duri!” Kreekk__ patahan kepala yang di putar Mile memperdengarkan kepakan burung hantu putih menjauhi kastil Duri.


Beberapa waktu sebelumnya, penguasa kegelapan tertua itu sangat bahagia atas kedatangan penyihir putih bangsa terakhir yang mempercayainya. Dia terakhir kali tersenyum pada kelima keturunan penyihir putih sebelum memejamkan mata. Pingra mempertanyakan apakah mereka dapat bertemu dengannya lagi.


“Mungkin di kehidupan selanjutnya..”


Ucapan Duri menerbangkan symbol tanda kematiannya melalui asap hitam yang masuk di sela kabut putih pekat.


Sesudah pisau itu basah tersiram darah Duri. Tangan Mile gemetaran tidak menyangka berani membunuh sesepuh kekuatan bangsa penyihir hitam. Dia bersalah dalam hal ini, mementingkan ego melihat kenyataan membunuh dirinya sendiri di waktu depan. Benar kuat dugaan atas kematiannya, dia tidak akan bernasib tragis mempertaruhkan nyawa dalam keinginan jiwa iblis di hatinya meminta pada jin merah.


“Tuan ku, aku mempersembahkan diri ku sendiri asal kan engkau mau memenuhi persyaratan keinginan ku yang terakhir. Melenyapkan semua keturunan terakhir penyihir putih!” ucap Mile menutup mata selamanya.


“Hihihih!” tawa jin merah berhasil keluar ke alam dunia. Tubuhnya terbuat dari api, bagai larva mendidih melumpuhkan benda apapun di dekatnya. Hembusan nafasnya mematikan kehidupan di sekitar. Dia bangkit menggertakkan jemarinya menarik jantung sisa pengikut Mile yang bersujud di dekatnya.


“Cepat pergi dari sini! Jangan kalian pikir bisa terlepas setelah mata iblis jin merah menandai diri kalian!”

__ADS_1


Tidak ada yang mendengarkan ucapan Rayum setelah dirinya di cap sebagai pengkhianat bahkan asal sebenarnya dari penyihir putih. Semua pengikut yang di ambil alih satu persatu tangan jin merah mencabut paksa jantung mereka.


"Hihihih.... "


__ADS_2