
Kita memang tidak dapat mengatakan di sebut sesat. Urusan kepada sang pencipta yang menilai bagaimana dia di hadapan Allah. Tapi tergambar di kehidupan yang dia pilih, berpaling dari sang Pencipta. Di dunia ini terlalu banyak misteri kehidupan, banyak orang berkata dunia itu sempit. Ada pula yang memaknai kata putaran-putran detik misteri garis tiap manusia yang bersinggungan deng roda bumi yang berputar.
Gunung Keramat tidak akan pernah surut mengeluarkan rintangan, ketakutan, penampakan dan kemistikannya. Tepat setelah di bantu nenek, dia tidak henti berharap kehadiran arwahnya kembali. Perjuangan panjang melepaskan diri dari Sintya. Kemuning memanjat sebuat pohon yang tinggi. Serpihan dedaunan itu bergoyang di tampung Ayu begitu juga patahan ranting agar tidak terdengar.
Sintya kesetanan, dia memanggil jin merah untuk membantunya. Namun saat dia akan mengucapan mantra, terlihat dari kejauhan nyala api yang membara berasal dari wilayah rumahnya. DIa berlari keluar hutan, melihat warungnya habis di lahap si ayam jago. Para warga berbondong-bondong memadamkan api.
“Apa yang terjadi? Kemana si jin merah itu pergi?” gumamnya.
Api tidak merambat mengenai rumahnya, kekuatan jin merah menahan serangan yang di tuju untuk Sintya. Dia masuk ke dalam memastikan papan yang berisi sisa potongan tubuh dan tulang tengkorak masih utuh. Di belakang, kedatangan jin merah mengusap rambutnya yang basah.
“Ada apa Sintya, aku tau kau meragukan ku. Coba kau ingat lagi para pria tempo hari Apa kau melupakannya? Hihih..”
“Ya.. yang paling aku ingat si pria berjanggut dan membawa keris. Apakah mereka biang keladinya?”
“Tepat sekali, mereka menggunakan ilmu api mengirimkan ke tubuh mu. Benih itu yang menghalangi, kau harus tetap waspada. Hihhih..”
Tok, tok, tok.
Suara ketukan yang semula enggan di buka terpaksa di toleh dari dalam rumah. Edi yang berwajah panic memanggil namanya. Usianya tergolong sangat jauh, berjarak sepuluh tahun meski pria itu sampai saat ini belum menikah. Dia terlalu simpati dan khawatir dengan Sintya, mendengar insiden kebakaran itu membat dia tidak tenang.
“Sintya, kau di dalam kan? Aku mau bicara..”
Krrekkk___
__ADS_1
Pintu terbuka, wajahnya sangat pucat. Dia menatap kosong, Edi memperhatikan tubuhnya seperti habis terjatuh dari dalam lumpur. Dia meraih tangannya meminta wanita itu agar menerima dirinya, Sintya menghentakkan genggaman lalu menekan kuat pundaknya. Edi mendapat siraman kekuatan dari Capit, gunung Keramat enggan menginginkannya. Dia di dorong keluar, Sintya mengusirnya pergi mengeluarkan kata caci maki.
“Sintya, aku akan menjaga mu. Kita tinggalkan kampong ini dan memulai hidup baru di kota. Bukan kah keinginan mu meninggalkan tempat ini? Besok pagi aku akan menunggu mu.”
Mendengar ucapannya, pikiran Sintya bimbang menentukan nasib dirinya dan bayinya. Sedang tangan kaki, berlendir yang kukunya sangat panjang mengusap perutnya dari belakang. Dia membisikkan bahwa bayi itu adalah miliknya. Keesokan harinya Edi menunggu Sintya yang tidak kunjung tiba. Dia meraih tasnya meninggalkan kampung. Di dalam benak dia berjanji akan menjemput wanitanya itu saat dia benar-benar siap.
Sebelum pergi, dia mendatangi rumahnya. Sintya kesakitan mengeraskan suaranya, ketukan pintu Edi tidak terjawab membuat dia mendobrak paksa pintu. Dia sangat terkejut melihat Sintya mengeluarkan sendiri bayi yang ada di dalam perutnya.
“Aku tidak pernah melihat tanda-tanda kehamilan wanita itu, dia juga tidak pernah di datangin pria lain. Apa yang terjadi?” gumam Edi membantu memegangi bayinya.
Sintya menangis melihat jin merah memakan ari-ari bayinya. Darah yang dia keluarkan bersih di jilat sambil mendengar tawanya yang menggema. Dia tidak menyangka jin merah mau menikmati darahnya sendiri, tangannya mulai menarik kasar tubuh bayinya dari tangan Edi.
“Jangan kau sakiti anak ku!”
Dia tidak sanggup menelan bayinya sendiri, dia tau bayi itu adalah titisan bayi setan. Bayi jin merah yang tidak pernah dia inginkan. Sintya menjauhkan bayinya dengan jin merah. Edi di minta pergi membawa anaknya sejauh-jauhnya. Untuk menahan jin merah, dia mulai melakukan ritual mengucapkan manta melukai dirinya sendiri. Memecahkan benda yang ada di dekatnya, dia menyayat lengannya kemudian di tumpahkan ke sekujur tubuh bayinya.
“Dengan begini jin merah tidak akan pernah menyentuh mu anak ku” ucapnya.
Bayi yang kedinginan itu belum sempat di sentuh oleh ibunya, suara tangisannya juga tidka terdengar. Sintya memohon pada Edi untuk membawa anaknya pergi. Dia sangat lah mustahil meninggalkan rumah dan terlepas dari jin merah.
“Cepat pergi! Hiks!”
Kekuatan di tubuhnya tidak merasakan rasa sakit. Perutnya masih mengeluarkan darah, dia berdiri tegak mendorong Edi. Pria itu pergi membungkus tubuh bayi Sintya itu pergi perkampungan. Berjalan keluar hutan sampai memasuki perbatasan kota, kakinya yang tidak sanggup lagi berjalan jatuh terduduk di sela pandangan mata yang kunang-kunang.
__ADS_1
Berhasil terlepas dari maut namun menjaga anak setan. Tanggung jawab penuh di emban mulai dia membuka lagi kedua matanya.
......................
Suara panggilan para pendaki mencari Kemuning, dia perlahan menuruni pohon mengikuti panggilan. Rapa tergelincir di jalanan yang berlumpur. Kakinya keseleo, dia memaksakan terus berjalan mencari Kemuning dan teman-temannya.
“Kak Kemuning! Apa wanita gila tadi sudah pergi?”
“Sudah, ayo kita menuruni gunung. Kakak akan menopang mu.”
Tubuh Kemuning terasa bergetar masih membayangkan peristiwa mengerikan di kampung tadi. Dia juga masih bingung bagaimana mencari neneknya. Dari kejauhan, bunyi suara tapak kaki kuda terdengar menuju dimana mereka berjalan.
“Ayo cepat kita sembunyi, jangan menjerit kalau mau selamat!” bisik Kemuning membawanya berjongkok di dalam semak-semak.
Melihat Jaja membantu wanita yang memakai kebaya turun dari dalam kereta kuda. Mereka berkumpul membentuk lingkaran, di tengah-tengahnya menyala api yang sangat besar. Dua wanita berpakaian kebaya mendorong manusia yang di bungkus kain kafan masuk ke dalam api. Suara jeritan kesakitan, Rapa hampir histeris tidak tahan menyaksikannya.
......................
Tidak semua pendaki mampu membedakan malam dan siang di gunung keramat. Para pendaki yang tersesat kesulitan melihat cahaya matahari. Yopi masuk ke dalam jurang, tubuhnya tersangkut dahan pepohonan. Kakinya robek, dia menahan luka menggunakan baju yang dia kenakan. Dia juga mencari kayu sebagai tongkat penopang agar dapat berjalan.
Dia telah menyisir hutan tapi berujung bencana. Akibat cuaca ekstrim dalam penyebrangan sempit, dia tidak bisa menjaga keseimbangan. Kira-kira dua meter di hadapan Nampak gua raksasa, dia memasuki tempat itu sambil menyalakan api dari gesekan batu.
Kelelawar hitam keluar dari persembunyian berterbangan di atas kepalanya. Dia memukul hewan-hewan itu hingga terjatuh lemas melihat mayat yang membusuk. Beberapa mayat yang di tumpuk di depan meja panjang.
__ADS_1