Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Di kejar jin merah


__ADS_3

Mia berpikir wajahnya akan membusuk, ketika dia melihat cermin. Wajahnya kembali seperti semula, dia memukul cermin, tangannya yang terluka membuat Edi sangat terkejut saat masuk ke dalam. Suasana pesta masih berlangsung, kursi pengantin kosong selama beberapa jam.


Edi mengobati luka Mila, dia tidak mau menjawab pertanyaan pria yang kini berstatus menjadi suaminya.


“Baiklah kalau masih belum mau cerita. Kita istirahat saja ya..”


“Nggak mas, kita tetap kembali ke pelaminan. Kasian para tamu yang hadir.”


“Tapi luka di tangan kamu..”


Semua rasa sakit bertambah hingga pada waktu melewati tengah malam, Mila di bayangi mimpi buruk gangguan Mena berwujud iblis mencekiknya. Anak itu tidak sabar menghabisinya.


Jeritan Mila terdengar keras membangun dari tidurnya. Dia memeluk Edi erat tanpa tau sosok di sampingnya bukan lah suaminya. Suara nada dering tertulis nama Edi, dia mengatakan kalau harus pagi-pagi sekali berangkat kerja untuk menemui klien dan rapat penting. Edi tergolong pria pekerja keras dan bertanggung jawab, sebisa mungkin dia melupakan masa lalunya.


“Arghh!” Mila menjerit berlari turun dari kasur.


Lampu berkedip, ketukan pintu yang keras. Dari bawah, tangan Mena menarik tubuhnya. Mila. mendorong kuat tangannya. Dia berlari mengambil keris, posisi berjaga menunggu serangan si iblis.


“Keluar kau anak iblis! Aku tidak takut!” teriaknya.


“Hihih..” tawa Mena begitu mirip suara jin merah.


Suara berisik dari atas loteng mengagetkan bi Tang tang yang baru saja pulang belanja. Dia meletakkan belanjaan berjalan cepat menaiki tangga. Ada Mena menjerit minta tolong, posisi tangan Mila menjambak rambutnya.


“Nyonya Mia! Lepaskan non Mena! Kasian non..”


Bi Tang tang menggendong Mena pergi berlari masuk ke dalam kamarnya. Iblis menipu pandangannya, dia salah paham mengartikan kejadian yang di hadapan.

__ADS_1


-


Panggilan saudara Capit terngiang-ngiang di kepalanya. Dia terkadang menjerit sendiri memarahi sosok penampakannya yang menghantui. Tepat sebelum rapat di mulai, dia terjatuh duduk di bawah wastafel toilet.


Darman membuka pintu segera membantunya berdiri, dia memberikan baju ganti agar segera memulai rapat. Wajahnya sangat kusut seharian terdiam menahan panggilan demi panggilan di samping penampakan yang menghantui.


“Kusut banget sih, kalau pengantin baru itu harusnya fresh. Bulan madu dong! Ini malah kerja! Huh!” celetuk Darman.


“Biasa nih lagi banyak problema hidup, besok aku mau ambil cuti.”


“Nah kebetulan kamu sama istri ikut kami aja camping di puncak. Kita atur jadwalnya, pokoknya semua persediaan mendaki beres.”


“Mendaki dimana? Mena lagi kurang sehat. Ngg_ kami nggak ikut bro.”


“Gunung Keramat, pesonanya bagus banget. Ya walau terkenal angker sih, ehehe. Tapi banyak kok para pendaki berdatangan dari daerah lain.”


Edi memutuskan pembicaraan mengangkat panggilan Mila. Nada suara wanita itu sangat ketakutan. Suaranya tidak jelas, Edi hanya menangkap kata Medan. Berlari masuk ke dalam kendaraan, laju cepat mobilnya hampir menabrak para pengemudi lain.


Kepulangan Edi di sambut laporan dari bi Tangtang. Dia melihat Mena tertidur, wajahnya yang tampak tidak berdosa namun di isi sosok iblis. Edi mulai menyadari Mena bertingkah sama dengan jin merah. Dia menyembunyikan rahasia hati nya yang gelisah itu. Tidak ingin Mila ketakutan karena tau dari mana Mena berasal.


Pintu kamar tidak terkunci, gagangnya ada bercak darah. Begitupun lantai dan sprei bekas darah kering. Mila tidak sadarkan diri di bawah kasur sambil memegang keris di tangannya. Edi yang sangat panik membawanya ke Rumah Sakit.


Keris pemberian Suro terbang mengikuti pemiliknya. Di dalam ruang ICU, Mena merangkak berdiri menginjak perut Mila. Teriakannya tidak terdengar siapapun. Edi mendengkur, telinganya di tutupi si iblis.


Suro merasakan hawa iblis, kekuatan sama aura api jin merah yang menyerang Mila di malam pembantaian para warga. Malam itu Mila berhasil selamat dari si anak iblis. Di pagi hari, para suster yang berjaga terkejut melihat keadaannya. Edi yang terbangun melihat istrinya kembali di bawa ke ruang UGD.


......................

__ADS_1


Kabut putih merata, hawa setan pekat mengganggu. Kemuning dan para pendaki lain mencari dimana Bela yang menghilang dari tendanya. Mereka menunda kepulangan, Yopi mengalami demam tinggi karena tidak tahan merasakan luka di kakinya.


“Kita bagi tugas dan pastikan tetap memberi tanda agar tidak tersesat. Kalau kabut datang, kita semua harus secepatnya kembali ke tenda” ucap Kemuning memberikan masing-masing tali sebagai pengait satu sama lain sedangkan arang sebagai penanda di pohon.


Kemuning, Filza dan Roy berpencar mencari Bela. Di dekat tenda Dedek mengumpulkan kayu bakar. Terdetak di hati merasa ketakutan mendalam menyesali keangkuhan kehendak menantang maut. Gunung keramat tetap pada tempatnya, di dalam kebisuan yang tidak bersuara dan bergerak mengeluarkan berbagai macam peristiwa dan fenomena menenggelamkan banyak nyawa. Tidak terhitung nyawa yang lenyap. Kesesatan dan berbagai macam hal ghaib. Semua di kaitkan kembali lagi pada pengolahan pemikiran akal sebagian manusia bias yang terjerumus di dalamnya.


Bela bahagia dapat keluar dari sana, dia berdiri di tepi jalan merasakan udara pinggiran hutan. Selama berjam-jam dia menunggu pengendara yang lewat, tapi cuaca mendung menyelimuti perlahan menurunkan air hujan yang deras menyulitkan pandangannya.


Di kejauhan, dia berteriak melihat sebuah mobil melaju kencang. Dia melemparkan dahan pohon ke kaca, laju kendaraan perlahan berhenti. Bela berlari meminta tumpangan tidak sabar ingin pulang ke rumahnya. Di dalam, ada jin merah yang dudu di bagian kursi belakang, pria yang membukakan pintu itu melihat dia ketakutan berlari menjauh.


“Bela, kau adalah milik ku. Hihih…”


Dia pingsan di tengah jalan, para petugas Edi yang menjalankan misi pencarian Sintya membawanya ke Rumah Sakit. Berpikir wanita itu adalah Sintya yang di cari, mereka menghubungi Edi memberi tahu wanita yang mereka temukan.


“Maaf pak, wajah dan tubuhnya sangat mirip dengan foto yang bapak tunjukkan” ucap salah satu petugas.


“Ya kalian benar. Kita akan menginterogasinya setelah dia siuman. Oh ya tolong pindahkan dia satu ruangan dengan istri saya.”


Bela terbangun dengan wajah ketakutan, dua petugas itu di lempari benda-benda di dekatnya. Edi muncul segera menenangkannya, beberapa detik berlalu dokter memeriksa keadaannya. Wanita itu tampak mengalami trauma yang sangat besar. Dia melihat Edi begitu perhatian dengannya.


Tapi raut wajahnya berubah melihat wanita yang ada di sisi kasurnya.


Dia terlihat sangat menempel dengan wanita yang tampak seperti seusia dengannya. Dia beranjak dari kasur di bantu Edi membawa jarum infus mendekatinya. Edi menyediakannya kursi, wanita itu duduk tersenyum di sampingnya.


“Bagaimana keadaan kamu?” tanyanya.


Bela tidak menjawab, dia menoleh pandangan ke sisi lain. Edi menghela nafas, dia mengusap pundak istrinya lalu menunjukkan sebuah foto lama ke Bela.

__ADS_1


“Maaf, anda kenal wanita ini?”


__ADS_2