
Lima tahun berlalu
Perpisahan melepaskan kenangan lama, jejak luka belum mencair. Gundukan kesengsaraan mengingat kepahitan yang pernah terjadi, setiap malam dia meneteskan air mata. Bulan lalu, dia melarikan diri meninggalkan rumah sambil membawa bayinya. Kehidupan bahtera rumah tangga baru terombang-ambing. Enil setiap waktu di buntuti makhluk yang ada di rumah Capit. Gangguan mbok Mijan kali ini menyiratkan kekacauan masa kelam.
Dalam bunga tidur tidak ada yang bisa melepaskan panggilan makhluk yang mengintai. Tidak ada yang menyangka di akan kembali ke rumah lama itu lagi. Sebuah tempat yang mengombang-ambing hidupnya. Kemudi kendaraan melaju memasuki area pepohonan daerah pedesaan yang jauh dari kota. Karena kelelahan, sepanjang jalan dia terlelap. Lagi-lagi mimpi itu mengarah ke dalam tempat dimana dia sekarat di dalam gudang yang berisi setan.
Bangunan lama itu sudah terbakar habis, kali ini sosok makhluk berwujud anaknya berubah menjadi sosok monster mengerikan. Jarinya terayun ke atas merobek dinding perutnya, Enil kesakitan di bangunkan Dosin. Dia menepikan kendaraan, mengusap dahi Enil yang penuh dengan keringat.
“Kamu kenapa? Dari tadi tidurnya mengigau dan menjerit terus.”
“Nggak apa-apa mas. Kita lanjutin perjalanannya.”
Bili tersenyum meminta dia kembali beristirahat, pandangan mata melihat sosok menekuk tubuh memutar kepalanya. Mobil menepi kendaraan bergerak membuka mesin mobil, dia mencari alat di dalam bagasi namun Enil tidak melihat lagi dirinya.
“kemana perginya Bili?” gumamnya melihat ke luar jendela.
Sosok tengkorak hidup mengetuk pintu jendela, Enil menjerit terkejut mengunci jendela bergeser posisi ke tengah kursi. Tapi, di bagian sisi lainnya sosok lain dapat membuka pintu menarik tubuhnya hingga keluar mobil. Dia terjatuh kesakitan menahan perutnya, memastikan tidak terjadi sesuatu dalam kandungannya. Enil masuk ke dalam mobil, dia melihat di bagian kursi belakang anaknya masih terlelap.
Figo, anak yang dia perjuangkan dan tetap dia pertahankan walau apapun yang terjadi. Tidak pada asal mu asal dari mana tempatnya lahir, Figo terlihat lebih pendiam dan tenang. Bili kembali menyalakan mesin, tiba di sebuah rumah besar bertingkat dua. Di depan mereka di sambut sepasang pekerja yang tersenyum menjabat tangan lalu membantu membawakan barang-barangnya.
“Selamat datang non, tuan. Semuanya sudah kami bereskan” ucap pria yang memakai topi.
Wanita tua yang mirip si mbok Mijan menambah ketakutan Enil. Dia mengamati bangunan rumah baru, berdiri pandangan melihat bekas bakaran pohon di bagian samping rumah. Pikirannya yang semakin kacau, dia membuang jauh pikiran kalau rumah itu adalah bekas rumah Capit.
“Yuk masuk sayang, gimana kamu suka rumahnya? Aku sengaja kasih kejutan buat kamu.”
“Ya suka sekali mas terimakasih banyak.”
__ADS_1
Figo naik ke lantai paling atas. Dia memilih kamar paling ujung, suara seperti orang berbincang-bincang perlahan Enil membuka pintu kamarnya melihat Figo seperti sedang berbicara dengan seseorang. Dia mendekati anaknya, bulu kuduk merinding secepatnya menggendong anaknya pergi.
“Bi, bibi..”
“Ya non? Panggil saja saya mbok Ijah.”
“Mbok Jah tolong pindahin barang-barang Figo di kamar sebelah kamar saya ya.”
“Baik non..”
Pandangan mata si mbok sangat dingin, wajahnya datar tidak menunjukkan rasa senang atau apapun. Wanita tua itu sangat misterius, ada yang aneh ketika dia berjalan sama seperti si mbok Mijan dahulu. Enil membawa Figo ke dalam kamar mandi, dia membersihkan badan anaknya. Keanehan pada tubuh anaknya yang selalu mengeluarkan lumpur. Dia lebih banyak mengoleskan sabun cair dan lebih banyak menghabiskan handuk untuk mengeringkan sisa lumpur.
“Figo tadi ngomong sama siapa?”
“Sama temen mi, kak Jeje.”
“Jeje siapa? Di rumah ini hanya ada mami, papi, si mbok dan pak Bar.”
“Tapi rumah kak Jeje ada di belakang rumah mi..”
“Kamu jangan lupa jaga kesehatan, aku nggak mau anak kita jadi sakit. Oh ya besok aku udah mulai kerja, kamu kalau ada apa-apa langsung hubungi aku ya sayang..”
Perlakuan lembut Bili tidak menunjukkan tanda-tanda keanehan seperti Karyo dahulu. Akan tetapi, dia mau mempertanyakan tempat dan nama daerah rumah baru yang kini mereka tinggali.
“Jeje siapa? Di rumah ini hanya ada mami, papi, si mbok dan pak Bar.”
“Tapi rumah kak Jeje ada di belakang rumah mi..”
__ADS_1
“Kamu jangan lupa jaga kesehatan, aku nggak mau anak kita jadi sakit. Oh ya besok aku udah mulai kerja, kamu kalau ada apa-apa langsung hubungi aku ya sayang..”
Perlakuan lembut Bili tidak menunjukkan tanda-tanda keanehan seperti Karyo dahulu. Akan tetapi, dia mau mempertanyakan tempat dan nama daerah rumah baru yang kini mereka tinggali.
Suara pria yang memperdebatkan masalah pekerjaan di dalam telepon. Panggilan terputus, wajah berkerut Bikin meminta ijin pergi ke kantor. Sebelum pergi, dia yang masih setengah hati meninggalkannya pergi mengulangi kalimatnya agar tetap menjaga diri baik-baik.
"Mas tidak akan lama, kamu mau nitip apa?"
"Aku lagi pengen sate ayam mas, kalau Figo kesukaannya pasti es krim."
......................
Hujan deras, sambaran kilatan petir membuka lebar jendela bagian ruang tamu. Tirai yang membentang menjatuhkan vas bunga. Enil menyalakan lilin, dia menerangi kamar memastikan ruangan terang lalu menutup kamar melirik Figo yang terjaga dalam tidurnya. Dia menuruni tangga memanggil si mbok, pintu rumah terbuka lebar memperlihatkan si mbok duduk di kursi goyang. Air hujan yang menampar wajahnya dia hiraukan.
Tangan Enil ragu menyentuh wanita itu, dia berdiri di depannya sambil mengusap perutnya. Wajah si mbok pucat terlihat baju kebaya yang mirip dahulu dia pakai mbok Mijan.
“Mbok, bangun mbok. Kenapa tidur di luar? Mbok..”
“Enil! Kau adalah wanita pendusta. Kau tidak bisa lari dari kejahatan mu!”
“Arghh!” tangan si mbok menekan kuat perutnya.
Dari belakang, si mbok menarik tangannya masuk ke dalam. Tangan yang sangat dingin dan kaku. Dia mengunci pintu berjalan menuju ke dapur. Enil mempercepat langkah masuk ke dalam kamar, dia memeluk Figo erat lalu memejamkan mata.
"Bu.. Figo disini bu.."
Dia berdiri di depan pintu melihat ibunya memeluk sosok makhluk mengerikan.
__ADS_1