Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Sihir setan


__ADS_3

Iman di jemput seorang wanita yang memakai pakaian kebaya dan rok wiron. Mata sendu tidak bias di tutupi dia memeluk Iman lalu mempercepat langkah membawanya pulang. Anak yang di titipkan pada Nisa itu telah tumbuh besar. Dia menyalahkan diri sendiri baru berani menyatakan siapa jadi dirinya sebenarnya.Iman dalam keadaan bingung tampak duduk terdiam menghadapnya. Tangannya d genggam erat wanita itu.


“Iman, kamu adalah cucu ku. Anak dari Ananda Umar. Ayah mu wafat karena berperang melawan iblis. Nenek terpaksa mengungsikan mu di panti karena rumah kita pada saat itu di terror santet. Nisa adalah orang kepercayaan nenek, dia adalah anak dari almarhum Kiyai besar Nankir.”


“Lalu dimana ibu ku nek?”


“Hiks, hiks. Ibu mu wafat nak. Para saudara dan keluarga pihak ibu mu juga di bantai ilmu hitam.”


“Ibu..ayah…”


“Sudah saatnya kamu mengikuti jalan seperti ayah mu. Berperang, berjihad melawan iblis."


Di masa depan kini Iman adalah musuh Figo. Iman yang taat beribadah, dia mengikuti segala perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya. Iman tumbuh bersama orang-orang yang membimbingnya di jalan kebenaran.


Neneknya menunjukkan dimana alamat tempat iblis masih bersemayam. Kaki gunung Keramat yang berdekatan dengan panti tempat dia tinggal dahulu. Menyambung segala kejadian dan kejanggalan pada Figo. Dia baru tersadar Figo di rasuki sukma Capit yang hidup kembali menempati tubuh lainnya.


Delapan tahun yang lalu.


Kecelakaan besar masih samar membayang di ingatan Atik. Kematian anak dan menantunya yang membuat hidupnya penuh dengan kesedihan. Kepergian ke perkampungan di kaki gunung Keramat awal bencana yang bertubi-tubi.


“Sungguh hati ku sangat gelisah. Urungkan lah perjalanan mu ini wahai anak ku. Aku tidak mau terjadi sesuatu dengan mu.”


“Atas ijin Allah ya ibu, aku tidak mau membantah apa yang telah di putuskan. Ibu, ini masalah ruqyah keluarga ustadz Indra, ustadz mengatakan nyawa sepupunya sudah sekarat bu.”


“Baiklah semoga Allah menjaga mu, melindungi mu dan mengiri setiap langkah mu nak..”


“Kami pamit bu..”

__ADS_1


Ustadz Umar dan dan istrinya Amina berpamitan kepada Atik. Tangisan Atik sepanjang malam di dalam sujud dia berdoa meminta anaknya di dalam perlindungan. Karena hatinya yang sangat berat, dia tidak mengijinkan Iman dibawa. Siapa yang mengira pada malam itu mereka mengalami kecelakaan. Mobil mereka terguling di tengah jalan lalu lintas yangs angat sepi setelah mengobati sepupu dari ustadz Indra yang kerasukan iblis penunggu gunung Keramat.


Brumm_ Citttt


Prak…


Kecelakaan yang melibatkan campur tangan setan. Umar sempoyongan berdiri menegakkan tubuh mencari istrinya yang terhempas keluar dari dalam mobil. Kakinya tertekuk lemas melihat istrinya kesakitan. Kepalanya pecah, pandangannya hanya tertuju pada satu titik.


“Hiks, hiks. Demi Allah, Jangan tinggalkan aku Amina.”


“Ikhlaskan aku abang. Aku sudah tidak sanggup lagi menahan semua rasa sakit ini, Hukk, huk!” Nafas Aminah perlahan terputus-putus. Dia mengucapkan dua kalimat syahadat untuk menutup nafas akhirnya.


“Asyhadu alla Ilaha Illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah…"


“Aminah!”


“Allahu Akbar..”


Kecelakaan itu mengorbankan jiwanya ingin menghabisi iblis berwujud manusia yang mencelakainya dan istrinya. Dia yang semula menekan hati di dalam kata sabar dan istiqomah, menerima segala kehendak dari Allah namun gangguan sihir dan santet berlanjut hampir membunuh anak dan orang tuanya. Pecahan piring kaca yang jatuh terdengar keras di dapur. Umar melihat sosok apa yang ada di dapur pada din hari.


Alangkah terkejutnya dia melihat Iman anaknya memakan daging mentah dari dalam kulkas lalu melompat menindihnya. Tumpahan darah hitam dari mulutnya di tepis sampai terpaksa dia membanting tubuh anaknya. Kekacauan itu di lihat orang tua dan para pekerjanya, Iman yang berubah menjadi sosok monster


Umar membacakan ayat-ayat suci Al quran, dia kepanasan menjerit memecahkan kaca jendela. Wajah Iman berubah menghitam mengeluarkan urat menutupi wajahnya. Dia tidak sadarkan diri meski Umar telah melakukan segala cara ilmu putih, Mengadzani nya dan membacakan Al qur’an .


“Ibu, ijinkan ah Umar pergi ke kampung itu untuk menghadapi orang yang mengirimkan santet pada Iman.”


“Tidak, jangan pijakan lagi kaki mu kesana Umar, sungguh hati ibu tidak tenang. Ibu yakin Iman akan selamat ..”

__ADS_1


Umar tidak mau membantah perkataan ibunya, dia tetap berdzikir dan membacakan Al qur’an di samping anaknya. Namun, gangguan itu berlanjut. Suara teriakan Atik menahan pisau tajam yang menancap di pundak kirinya.


“Ya Allah! Atik!” teriak Genta mengangkat istrinya ke dalam mobil.


Jin itu tidak bias membunuh ibunya, Umar mengeluarkan semua kekuatan dan tanpa membacakan ayat demi kesembuhannya. Nyawa Atik akhirnya dapat di selamatkan, dia memaksa meminta pulang dari Rumah Sakit karena khawatir dengan keadaan anak dan cucunya.


Tidak perduli selang pernafasan dan jarum infus masih menggantung. Dia sangat khawatir dan terus saja menangis meminta suaminya menuruti permintaan.


Kondisi Iman semakin kritis dan dia mulai kejang-kejang bertingkah seperti monster yang meneteskan air liur dan lender yang kental. Sesampainya di rumah melihat kepulangan ibunya maka dia mencium punggung tangan dan kaki ibunya.


“Ibu, Umar mohon ridho kepergian Umar ke kampung itu. Manusia sesat itu akan menghabisi kita semua. Umar tidak mau ibu celaka lagi, Umar mohon, terlebih lagi lihatlah Iman bu, cucu ibu sudah sangat kritis.”


“Ibu meridhoi mu anak ku. Cepatlah pulang..”


Setelah mendapatkan persetujuan dari ibunya, ustadz Umar melakukan perjalanan menaiki bus di temani ustadz Indra dan pak Edi, salah satu warga kampung yang membawanya ke memasuki perbatasan. Tidak sembarang orang baru sekalipun pemuka Agama di perbolehkan keluar masuk di tempat yang diselubungi mistis itu.


“Pak, dimana rumah pak Capit? Orang yang tidak senang ketika aku masuk ke wilayah ini. Dia sempat menodongkan tongkatnya yang menyalakan api itu tanpa suara ke arah ku, Aku tau dia memiliki ilmu sihir hitam karena bersekutu dengan iblis.”


...🔥🔥🔥...


“Dia ada di Gunung Keramat Ustadz. Tidak ada satu pun warga yang berani melawannya. Dia memilik pengikut yang terbilang cukup banyak. Dia di puja karena bias membantu pesugihan dan menyalurkan ilmu santet.”


...🔥🔥🔥...


Dan sungguh, Jahanam itu benar-benar (tempat) yang telah dijanjikan untuk mereka (pengikut setan) semuanya. (Jahanam) itu mempunyai tujuh pintu. Setiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan tertentu dari mereka. (QS Al-Hijr: 43-44)


“Astaghfirullahal 'adziim, Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung. Dia manusia sesat yang harus di berantas agar tidak lebih banyak lagi manusia yang bersekutu dengan iblis!”

__ADS_1


__ADS_2