Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Badar


__ADS_3

Semula dia tenang, luka di jari manisnya di perban berbalut bagian setengah jari. Di dalam alam tidur, penampakan sosok pemanggilan dari makhluk lain mengganggu. Ayahnya telah berdusta mengatakan tidak melakukan proses ritual malpraktek perdukunan.


Dia menyembunyikan kenyataan di depan anak-anaknya. Istrinya di persembahkan. Iblis yang dia bangkitkan dari balik cermin menyalakan tawa melengking di pegunungan keramat. Darah istri, berlanjut pada cucunya yang telah lama di sematkan tanda makanan yang akan di mangsa.


................


Buku Catatan Rosa yang asalnya milik ibunya.


Rumga mendapatkan panggilan surat beasiswa di akademi sekolah bakat. Tertulis beasiswa yang di dapatkan untuk siswa yang nilai kelulusan sekolah menengah di atas rata-rata. Dia di undang secara langsung, wanita itu antusias berkemas merapikan semua barang-barangnya menuju ke alamat yang di tuju.


Keinginan tidak melewatkan kesempatan menggali lebih dalam berbagai pengetahuan yang sejalan pada pemikirannya. Taxi berhenti menepi di tengah pinggiran hutan.


“Loh, kok berhenti pak?” tanyanya mulai berpikir yang bukan-bukan.


“Maaf nona, alamat yang anda sebutkan ada di hutan seberang. Kendaraan roda empat tidak tidak bisa masuk ke dalamnya.”


Deg_


🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Jawaban yang di katakan pak supir membuatnya kebingungan. Dia membayar uang dari total argo selama dua jam perjalanan. Mengangkat tas dan ransel, memasuki pepohonan. Tanah berlumpur, dedaunan basah, ranting berjatuhan di sepanjang jalan. Berhenti di dua jalur jalan, sisi kanan terlihat jalan lebih basa berlumpur.

__ADS_1


Banyak burung gagak yang berterbangan di atasnya sedangkan sisi kiri terlihat jalan berterbangan kepakan sayap kunang-kunang.


Dia memilih jalur kiri, langit tampak gelap. Rumga menyalakan ponsel menyorot cahaya senter ke jalanan. Alang-alang raksasa tersibak bangunan bernuansa klasik. Suasana angker terasa, banyak patung berjajar. Ukiran patung tengkorak yang berjejer di depan bangunan. Dari luar tempat itu tidak tampak seperti bangunan sekolah.


Sekujur tubuh merinding merasakan sosok lain melihatnya. Ada sepasang mata menyala mengikuti dalam bayangan kabut asap hitam. Dia berdiri di depan gerbang yang terbuka sendiri, tidak ada tombol, angin yang menggeser atau orang yang membuka. Di depan pintu ada wanita berumur yang menyambutnya. Wajahnya pucat, lipstick berwarna hitam, gaun bagian rok span pendek yang terbelah.


Dia menarik tangannya mengantarkan ke dalam ruangan berlampu merah. Wajah wanita yang tidak kalah lebih pucat tersenyum memperhatikan atas kepala sampai ujung kaki.


“Selamat datang di akademi sekolah bakat. Silahkan tanda tangan semua lembar dokumen. Saya sebagai kepala sekolah berharap kamu adalah satu siswi yang berprestasi. Jika ada masalah atau pertanyaan jangan sungkan memberitahu saya dan bu Eben. Kamu pasti haus melakukan perjalanan jauh untuk sampai kemari. Silahkan minum air ini.”


“Terimakasih banyak ibu kepala sekolah Tapi Saya sudah terlalu banyak minum hari ini.”


“Tidak masalah, semoga kamu senang belajar disini.”


Kamarnya terletak di dekat sisi ruangan yang terdapat banyak orang-orang mengenakan topi yang memiliki tanduk si atasnya. Ramai keras suara tidak jelas ucapannya. Eben menyuruhnya segera masuk lalu menutup pintu dari luar.


Ruangan kamar tidur yang tidak lazim. Kalau tersemat kata asrama putri, tidak seluas ruangan tengah atau ruang tamu. Ada televisi layar lebar, perapian yang hangat, pembatas meditasi ukiran dinding dan patung yang sama saat dia memasuki gerbang. Rumga menutup mata, salah satu patung bertaring panjang menjuntai berjalan mencekiknya.


Rumga mengeluarkan tenaga dalam menghancurkan patung berkeping-keping.


“Siapa yang berani merusak benda berharga ku? Patung itu adalah gambaran tuan kita yang akan memberikan kia semua kekuatan yang sangat besar!”

__ADS_1


Wanita yang sedang meneguk habis tetesan darah itu bernada tinggi. Eben perlahan mendekat, dia berbisik mengucapkan nama Rumga. Wanita yang kekuatannya telah lama dia incar akhirnya masuk ke daam sarangnya. Mile menahan amarah menunggu waktu tengah malam untuk melenyapkannya. Dia menunggu seorang siswi yang baru saja masuk ke dalam jebakannya.


“Di dalam ramalan ku, anak-anak itu lebih lincah dari yang datang di tahun kemarin” ucap Eben.


“Benar, terlebih lagi kekuatan mereka lebih besar. Aku sama sekali tidak melihat kematian anak yang tidak mau menerima penawaran minuman darah dari mu” kata Iklal mengecilkan nada suara mendengar seorang anak perempuan belia yang baru saja Eben antar satu kamar dengan Rumga kini berdiri di belakang pintu.


Iklal melemparkan seekor ular di kakinya, anak perempuan berambut pirang itu langsung tersentak berlari masuk ke dalam kamarnya.


“Kenapa kamu keluar masuk kamar? Bukan kah Eben melarang kita berkeliaran di waktu malam?”


“Aku rasa ada yang tidak beres di Akademi ini, aku tadi mendengar pembicaraan yang aneh. Oh ya kita belum kenalan. Nama saya Pey, kamu siapa?”


Brukk_


Dia mengukuhkan tubuh mencari kursi atau lemari untuk berpegangan. Rumga membantu mengangkatnya ke sofa. Dia menggigil, Pey menyipitkan mata mengajaknya berbicara. Setengah sadar menjelaskan minuman yang di berikan ibu kepala sekolah. Rumga mendengar ucapannya yang seolah mengatakan minuman itu berisi obat tidur.


Efeknya berlangsung lama, minuman itu bekerja satu jam hingga Pey masih bisa bersembunyi di balik pintu dan menyampaikan semua yang dia dengar. Rumga menambah selimut miliknya, dia tertidur di dekat Pey dengan posisi duduk. Ketika membuka mata, mereka berdua telah terikat di tengah lingkaran nyala api.


Mulut mereka di sumbat kain, Pey tidak bisa menggunakan kekuatan jurus menghilang jika tidak menggerakkan kedua tangannya.


“Bagaimana anak-anak bodoh. Kalian berstatus penyihir tapi mudah masuk ke dalam perangkap ku. Itulah mengapa seharusnya aku yang mendapatkan kekuatan kalian! Ahahah!”

__ADS_1


Mile tidak henti mengasah pisaunya lebih tajam. Dia mendekati Pey, tubuh penuh keringat. Menekan pisau ke lehernya. Darah di tampung Eben di iringi senyumannya. Dia melepaskan kain yang menyumbat mulut Rumga yang langsung mengeluarkan suara teriakan keras.


__ADS_2