Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Bersinggahnya percik kekuatan iblis


__ADS_3

Orang yang bersekutu dengan setan, terlalu memuja kesenangan dunia di dalam gunung keramat itu ada banyak tempat-tempat mistis dan kejadian tidak terduga. Villa Penginapan menyala memperlihatkan ilmu hitam bersekutu dengan iblis. Bisikan jin merah merasakan hawa murni manusia sangat dekat membisikkannya agar menarik mereka masuk ke dalam perangkap.


“Sri, cepat! Aku tidak sabar lagi menyantap jantung!”


“Lalu untuk apa anak kecil itu kau bawa kesini? Apakah tubuh ku tidak cukup untuk kau renggut?”


“Hihihih..! aku memancing temannya yang lain mengikuti ku! Dia luar penuh keraguan melangkah semakin mendekati tempat ini. Hihih!” tawa jin merah keras terbawa udara.


Hewan buas di hutan tidak berani mendekat Villa bermukim iblis. Setelah masuk ke dalam air terjun, Gemoy tarik keluar, tubuhnya di ikat di dalam sebuah gudang tempat dimana Sri memutilasi korbannya. Tangisan tidak terdengar, air mata yang tumpah tidak mengubah keadaannya saat ini. Ketika tersadar, dia melihat di sekeliling, bergelantungan berbagai macam alat pemotong. Di atas rak yang terbuat dari besi, tersusun alat pengasah yang membuat dia semakin ketakutan.


Pi melihat Gemoy di bawa terbang makhluk jin merah. Dia mencari celah bagaimana masuk ke dalam menyelamatkan Gemoy.


......................


Banyak yang penasaran pada gunung Keramat yang geger seperti lampu ajaib yang mengabulkan keinginan dalam satu malam. Mereka tidak tau bahaya apa yang terjadi di dalamnya. Kemuning hari ini bersiap naik ke atas puncak, dia bertekad akan melakukan istirahat panjang setelah sampai di atasnya.


Penemuan kepala tengkorak di sepanjang jalan, benda aneh terkubur di tanah dan patahan puing pesawat di sepanjang jalan mengagetkannya. Dia berhenti sejenak mencari lahan kosong jarak jauh dari semua benda itu.


Gerimis mengundang penampakan bayangan makhluk besar yang datang bersama kabut. Kemuning berlari secepat-cepatnya. Dia berlari mendekati aliran air terjun, melihat penampakan sosok tadi menghilang segera saja dia mendirikan tenda dan mengumpulkan beberapa ranting kayu bakar.


“Toy berhenti jalannya! Aku capek banget nih!” ucap gege berpegangan pada badan pohon.


“Ya benar kaki ku mau lepas! Kita dirikan tenda aja!” Ruben mulai mengeluarkan perlengkapan di dalam tas.


“Eh tunggu, itu ada bakaran asap api. Pasti ada pendaki lain di hutan ini. Kita kesana yuk!”

__ADS_1


“Jangan senang dulu, aku tadi waktu buang air kecil nggak sengaja lihat ada Villa.. Lebih baik kita kesana aja. Jaraknya sejengkal lagi kok” ucap Sotoy semangat empat lima mendekati tempat itu.


“Memangnya ada Villa di tengah hutan? Yang ada Vila hantu! Ogah! Aku mau menghampiri si pendaki lain, kali aja dia bisa jadi penunjuk jalan” kata Ruben berjalan berbalik dari posisi berdiri teman-temannya.


“Ah lemah kamu Ben! Oh ya kamu mau ikut siapa Ge?”


“Kalian nggak konsekuen, kita datang bertiga ya kemanapun harus sama-sama. Berhenti Toy, saran aku kita ke arah Ruben lalu ke Villa yang kamu maksud!”


Kesepakatan terasa berat sebelah, Sotoy takut kehilangan lokasi memberikan tanda pada setiap pohon. Dia tidak sabar merasakan kasur yang empuk, selimut yang hangat dan terhindar dari gigitan nyamuk. Wajahnya tidak senang berjalan paling belakang.


“Waduh ini nggak salah kan? Pendaki cewek di tengah hutan?” ucap Gege mengusap matanya.


“Selamat malam mbak, kami boleh ikut mendirikan tenda disini juga nggak?” ucap Ruben nyengir kuda.


“Kamu gimana sih Ben, kenalan dulu. Heheh, jangan takut mbak kami nggak bermaksud jahat kok. Kenalin nama saya gege, ini Ruben dan pria yang di ujung itu adalah Sotoy. Kami mohon mendirikan tenda dekat tenda mbak ya, kami pendaki baru.”


Kesepakatan awal hanya menghampiri melihat siapa yang menyalakan asap di hutan. Ruben enggan membantu, dia hanya menjadi penonton melihat temen-temannya sibuk menegakkan tenda. Gege memperhatikan raut wajahnya tertekuk. Mereka mulai beristirahat, masuk ke dalam tenda hingga terlelap.


“Bangun Kemuning, kau harus meninggalkan mereka.”


“Ada apa Ayu, apakah mereka orang-orang jahat?”


“Mereka akan pergi ke sarang jin merah. Aku tidak mau engkau terbawa sampai kesana.”


Srek_srek_

__ADS_1


langkah suara kaki dari luar tenda. Kemuning membuka sedikit resleting, melihat seorang pria keluar dari dalam. Dia hafal wajah yang menyebutkan namanya adalah Sotoy. Kemuning mengambil senter mengikuti kemana dia pergi. Jalan menuju Villa yang aslinya sebuah tempat sarang jin merah di alam lain mendirikan istana iblis di lalui jalan curam, terjal dan berliku. Lumpur seolah menghisap mengambil menelan tubuhnya. Dia menarik kuat kakinya , mencari pegangan kemudian meneruskan langkah mengejar Sotoy yang terlihat masuk ke dalam rumah.


Kebahagiaan setan menyala, makanan santapan yang di tunggu masuk ke dalam perangkap. Kemuning berlari memberitahu tahu dua temannya yang lain.


“Aku sudah feeling, pasti si Sotoy mau ke Vila itu! Biarkan saja dia di makan setan. Aku nggak mau terlibat dalam masalah ini” ucap Ruben.


“Tapi dia sahabat kita Ben”


“Ya benar, tidak setelah dia memilih jalannya sendiri. Aku tidak mau mati demi menyelamatkannya.”


“Kita tiga harus pergi sekarang. Kalau kau tidak berani masuk, cukup tunggu di luar dan tugas mu adalah membakar Villa itu” kata Kemuning.


Mendengarkan anjuran dari Kemuning, perjalanan terkendala melihat ular yang melata di dekat satu-satunya jalan penghubung ke pintu masuk. Wanita yang memakai kebaya, rambut kusuk membuka pintu menyuruh mereka melangkahi ular tersebut.


“Tidak boleh, kita tunggu ular pergi atau terpaksa membunuhnya!” Kemuning menahan keduanya.


Ular jadi-jadian jelmaan jin merah menunggu manusia melewatinya sebagai tanda jiwa mereka miliknya. Mengetahui Kemuning, cucu Mindun yang pernah hampir melenyapkannya menghalangi. Dia menahan amarah tidak mau mencari masalah lagi dengan wanita itu. Ular jelmaan memilih pergi, mengeluarkan desis yang kuat. Gege dan Ruben melihat Kemuning seperti panji si manusia petualangan. Hanya jenis kelamin saja yang membedakan.


“Ayo masuk, kalian boleh menginap disini. Oh ya saya Sri, saya ke belakang mengambil minum.”


“Nggak usah mbak kami tidak haus. Kami mencari teman kami namanya Sotoy. Apa mbak lihat pria bertubuh kurus yang memakai celana jeans dan jaket hitam?” tanya Gege memperhatikan gerakannya yang kaku.


“Hanya minuman yang terhidang, kalau kalian jadi menginap. Maka saya akan menyiapkan makan malam. Di luar sedang turun hujan, sebaiknya kalian beristirahat di kamar atas. Kamar saya ada di bagian ujung. Kalau butuh sesuatu panggil saja saya.”


Sri meletakkan dua gelas minuman lalu tersenyum pergi. Gege semula melihat dia penuh curiga, berganti rasa tidak percaya kalau wanita itu yang mencuri Sotoy.

__ADS_1


__ADS_2