
Ros si ibu tiri ternyata selama ini menyembunyikan rahasia yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Dia memiliki hobi aneh, di atas meja banyak binatang satu persatu-satu dia tusuk dalam satu tebasan. Darah mengalir di tampung di atas gelas kaca bertangkai. Dia tersenyum mengaduk darah lalu meneguknya sampai habis.
“Huek..!” suara Pi terdengar.
Pandangan mata melotot meletakkan gelas meraih pisau daging menaiki tangga. Pi sudah di balik selimut memejamkan mata di dalam kamarnya yang gelap. Keanehan lain ibu tirinya mengeluarkan suara dengusan berkeliling ruangan. Dia menutup pintu kamar, Pi melihat bayangannya pergi perlahan dia membuka pintu jendela.
Naik ke kasur, nafas memburu ketakutan melihat Ros membuka pintu kamarnya seperti mengintip, menutupnya lagi mengunci dari luar. Mengetahui kalau malam wanita melakukan hal yang tidak wajar. Suara teriakannya terdengar keras, dia mengikat sprei dan beberapa selimut lain membentuk tali yang menjulur ke keluar jendela. Dia membuka lemari, mengambil selimut lainnya.
Persiapan memakai jaket, di dalam dia menyimpan uang tabungan, senter dan ponsel . Pi perlahan turun, memegang erat kain hingga mencapai bawah. Bersembunyi di dekat pot bunga melihat di atas rumahnya banyak burung gagak berterbangan.
Pi menaiki gerbang halaman. Jaketnya robek tersangkut ujung besi, dia menarik paksa lalu berlari sekencang-kencangnya. “Pi! Pi…!” panggilan suara Ros terdengar keras.
Dia tersandung, menegakkan tubuh berlari meraih senter menyorot ke jalan yang sepi. Suara panggilan Ros semakin menakutinya, Pi mematikan senter bersembunyi di balik pohon di pinggir jalan. Mengetahui Pi tidak ada di kamar, Ros melihat robekan yang tersangkut di gerbang.
Ros memberikan robekan kain ke hidung anjing peliharaan Pi. Dia langsung berlari keluar di ikuti Ros dari belakang. Di sela teriakan Ros, ada suara gonggongan Max membuatnya memasuki hutan mencari lumpur melumuri sekujur tubuhnya. Dia menghilangkan jejak indera penciuman Max agar tidak dapat menemukannya . Tepat satu meter di depan persembunyian, Max berdiri bersama Ros.
Dia tidak menyangka Ros memutar kepala Max. Ingin sekali dia berteriak menyelamatkan anjing kesayangannya. Dia mengepalkan tangan sekuat-sekuatnya menyaksikan Max mati. Ros mengisap darah bagai drakula. Pi masuk ke sela persembunyian, perasaan campur aduk.
Melihat Ros pergi, Pi meneruskan langkah menuju jalan lintas.
“Kamu tidak akan mudah lepas begitu saja dari ku Pi. Aku menanti-nanti usia mu genap tuju belas tahun untuk aku persembahkan pada tuan ku jin merah. Penghuni gunung keramat! Ayah mu yang bajingan itu membunuh saudara ku tepat saat ibu mu mau melahirkan mu.”
“Maksud mu Mawarni?”
__ADS_1
“Ya! Anak Suro! Dia akan bangkit menggunakan tubuh mu! Hihih”
Cengkraman tangan Ros di tepis kuat, dia menendang perutnya. Pi berlari masuk ke lebih dalam ke wilayah hutan. Dia terjatuh ke jurang, kakinya terkilir di sampingnya terlihat tulang kerangka tengkorak di kerumuni hewan-hewan kecil di sela tulang kelopak mata.
“Aku tidak boleh menjerit atau si Ros akan menemukan ku!” gumamnya.
Perlahan dia beranjak walau sekujur tubuh terasa sakit. Berjalan pincang meraih setiap akar pohon dan bebatuan mencapai ke atas. Dia meraih ponsel melihat sinyal GPS menghilang. Suara mengerikan terbawa angina yang berbisik di telinga. Udara semakin dingin dan kabut putih tebal merata.
“Dimana aku?” gumamnya tersesat kebingungan.
Dia depan melihat Ros berjalan mendekat. Posisi Pi siap memukul dengan batu yang dia pegang di tangan kirinya. Namun saat dia mendekat, Ros berubah menjadi sosok makhluk berwarna merah. Dia menawarkan janji dan kata-kata indah agar terperdaya.
Pi berlari menghindari, langkah pincang sampai pada sebuah pasar di kerumuni orang-orang yang berdesakan. Luka Pi melebar, dia mengusap darah dengan jaketnya. Pi mendekati salah satu penjual makanan meminjam pisau di mejanya.
Pi mengambil pisau yang ukurannya sebesar pisau daging. Bentuknya sangat aneh, bercak darah di siram dengan air yang berwarna keruh di dalam wadah yang terbuat dari batok kelapa. Pi merobek ujung kaos yang dia kenakan. Mengikat kakinya yang terluka, tercium aroma amis yang sangat menyengat. Pi menoleh ke si penjual. Dia memperhatikan batu berukuran besar sebagai alat tempat memasak makanan yang dia jual.
“Pak cepetan ya” ucap Pi sambil memperhatikan orang-orang yang bertingkah aneh.
Suguhan segelas air yang berwarna merah dan sebuah wadah terbuat dari bambu di lapisi dedaunan. Menu hidangan mie menggugah selera. Melahap mi tanda di sediakan garpu atau Mie. Dia memperhatikan mie yang berukuran panjang itu bergerak menggeliat, merasakan air bagai tetesan darah.
“Bagaimana rasanya pak?” tanya si penjual.
Dia kehilangan sepasang bola matanya. Bau tanah melekat di tubuhnya. Pi berusaha memuntahkan isi perutnya dengan menepuk kuat pundaknya sendiri dan menekan kuat lehernya. Cara terakhir yang dia tempuh untuk mengeluarkan isi lambungnya adalah dengan memasukkan jari ke dalam tenggorokannya. Dia mengeluarkan muntahan cacing bebas bercampur darah.
__ADS_1
“Pi, kau tidak mau mati di gunung ini kan? Warga-warga arwah penasaran itu akan menyerbu mu. Hihih! Cepat Pi”
“Tidak! Kau setan penggoda, aku tidak mau percaya pada mu! Aku tau kau mengantarkan para manusia sesat di neraka!”
“Hihihi! Pi, kenapa kau begitu yakin tidak membutuhkan bantuan ku? Kau sendirian di hutan ini! Hihih”
......................
Gemoy khawatir menunggu di lorong Apartemen di hari ketiga yang di iringi para pemuja setan melancarkan aksinya. Kalau memasuki bulan Suro, para penganut ilmu setan, pemuja setan atau para iblis, jin dan arwah bergentayangan memiliki penambahan kekuatan yang sangat kuat. Gemoy melihat Pi berdiri di tengah jalan. Tubuh basah kuyup, di melihat Gemoy dan tidak memperdulikan mobil dari arah berlawanan mau menabraknya.
“Pi! Awas PI!”
Gemoy berteriak meminta dia pergi. Di mata orang lain yang melihat, Gemoy berteriak sendiri seperti orang gila, gerakan ketakutan melihat ke tengah jalan. Seorang pria yang menghentikan sepeda motornya tidak dapat menghalanginya melihat mobil melaju kencang menabrak tubuhnya. Dia di bawa ke UGD, dia berhasil di selamatkan mengalami koma berkepanjangan. Dia berada di sebuah tempat asing. Banyak para pendaki berbondong-bondong naik ke atasnya.
“Gemoy, ayo kita piknik. Kamu pasti tidak sabar sampai ke Vila” ucap jin merah merubah wujud menjadi seorang wanita sebayanya.
“Aku dimana?”
“Kamu di gunung keramat. Pegang tangan ku Gemoy, aku akan menjaga dan memberikan mu kekuatan”
“Hihih..”
“Tidak! Tolong!” Gemoy tidak sanggup lagi berlari.
__ADS_1
Terlihat seorang anak kecil yang bajunya lusuh bercampur darah mendekatinya. Sosok jin merah terbang membawa Gemoy menuju ke air terjun. Sosok wanita kebaya tersenyum melihatnya. Gemoy yang tidak bisa berkutik berbaring terkunci masuk ke dalam air terjun.