
Pi masih penasaran dengan bekas Apartemen yang pernah dia dan keluarganya tinggali. Banyak hal yang masih berkaitan dengan rumah dan panggilannya ke Gunung Keramat. Dia sering bermimpi melihat penampakan sosok merah yang memanggilnya. Ayahnya juga melarang mendekati gudang yang selalu terdengar mengetuk di tengah malam. Kalung pemberian ibunya bandul merah menghentakkan tubuhnya kembali tanpa mengenal waktu.
“Balik lagi?” Tanya Gemoy menggeliat menerima panggilan telepon.
“Kalian jangan ikut, tempat itu berbahaya.”
“Kita tiga kan sahabatan, kami akan tetap ikut. Nggak pake tapi, tunggu dan jangan pergi sendiri. Aku mau jemput Oni dulu baru ke rumah kamu” ucap Gemoy menutup panggilan.
......................
Aktivitas rutin Yanto membersihkan ruangan masih tetap berjalan. Gomi dan Kepon mengendap-enda masuk mendorong pintu. Yanto yang memakai headset sambil menyemprot setiap helai daun tidak mendengar suara teriakan Kepon minta tolong di seret makhluk berambut panjang masuk ke bawah kasur. Darah menyemai di sepanjang lantai. Yanto menjatuhkan peralatannya saat akan meletakkan kemabli ke dalam lemari untuk bersiap pulang.
Dia segera berlari memanggil polisi, suasana ramai membawa orang-orang di sekitarnya ingin mencari tau melihat kejadian. Bisikan orang-orang yang mengaitkan hubungan kematian berantai yang ada di dalam rumah itu. Seorang wanita tua terkejut melihat kedatangan Pi, hanya dia satu-satunya yang tersisa. Nek Tum melotot melihat dia sambil menunjuk berjalan mundur.
“Kau, hahh!” teriaknya membalikkan badan berlari.
“Siapa sih?” Tanya Oni.
“Nggak tau, yuk kita duduk di warung di seberang jalan” ajak Gemoy menarik tangan Oni dan Pi.
Yanto di interogasi, terlihat pandangannya kosong masih tidak menyangka atas kejadian yang dia alami. Sedari awal melangkah masuk ke dalam sana, dia merasakan ada sesuatu yang ganjil. Di dalam pikiran dia berdetak kedua anak yang menunggunya di rumah.
“Kita sudah satu kali dua puluh empat jam menginterogasinya pak. Tidak ada bukti yang kuat untuk menahannya.”
“Ya kita akan melepaskannya setelah beberapa pertanyaan lagi. Kemungkinan dia akan mengingat jelas kejadiannya.”
Bisikan para polisi sambil melihat Yanto. Pria itu semakin gusar sampai akhirnya meminta pergi. Wajah ketakutan, takut anaknya di ganggu makhluk yang ada di dalam Apartemen berhantu tersebut. Dia mendorong salah satu polisi yang menghalangi. Karena menjerit supaya di lepaskan, Yanto pergi meninggalkan kantor polisi di ikuti seorang polisi yang memantau gerakannya dari kejauhan.
__ADS_1
Pintu rumah terbanting kuat, gangguan makhluk mengerikan memperlihatkan wujud. Tangisan Dede dan Didi tidak tenggelam di telan suara hujan yang sangat deras. Yanto mencari dimana anaknya berada. Dia mendobrak pintu berteriak memanggil kedua anaknya.
Benda-benda pecah terbanting melayang di udara, panggilan Didi dari kamar membuatnya semakin khawatir dengan kedua anaknya.
“Dede! Didi!”
“Ayah.. Hiks, hiks!”
Menemukan anaknya bersembunyi di dalam lemari yang langsung berlari memeluknya. Dia sangat bersyukur kedua anaknya masih selamat.
Ketakutan kedua anaknya melihat sosok hitam yang berdiri di belakang ayahnya. Didi berlari menaiki anak tangga, di pertengahan kakinya tertarik tangan mengeluarkan kuku tajam. Dia terjatuh terbanting, kepalanya pecah, pada bagian kaki terlihat bekas cakaran lima jari.
“Didi!” teriak Yanto.
Ambulan membawa sampai pada sebuah rumah sakit yang berhenti di bawah kak Gunung Keramat. Sosok supir pembawa mobil ambulan berwajah pucat. Pandangan menyetir tanpa menoleh ke kanan dan kiri.
Sebelum pergi, dia menitipkan Dede ke tetangganya. Dia memeluk anaknya sangat erat dan berbisik akan segera kembali. Duduk di kursi menunggu kabar kondisi Didi sambil memikirkan Dede. Pandangan mata berganti melihat rumah sakit berlalu lalang para suster, dokter dan pasien.
Teng-teng_teng
Terdengar suara bunyi bel raksasa diiringi loceng memekik telinga. Dinding berubah retak, setengah bangunan rumah sakit seperti hangus terbakar. Ruangan ICU anaknya gelap gulita, dia menyalakan senter handphone melihat kasur di penuhi bekas darah. Alat-alat medis tersiram lumpur, dia berlari melihat ke ruangan lain yang tertutup di dalamnya ada nyala lampu berkedip.
“Didi!” teriak Yanto mengetuk pintu.
Dia mendobrak hingga pintu terbuka, di dalam ada beberapa orang berwajah sangat pucat mengeluarkan hewan dari dalam mulutnya. Tatapan tajam mengulurkan tangan berjalan menuju ke arahnya. Yanto berlari ke sisi ruangan lain, ada penampakan wanita yang sama di Apartemen tempat dia bekerja.
“Pergi! Arghh!”
__ADS_1
Berlari membuka pintu di ruangan lain. Dia melihat suasana hutan mencekam, Yanto berbalik namun ruangan itu menghilang. Yanto terus berlari sampai berhenti melihat Didi berjalan sambil tertidur mendekatinya. Kaki dan kepalanya di perban akan tetap darah mengalir dari sela-selanya.
...🔥🔥🔥...
Sambungan yang telah terlewat, para pendaki masih saja nekad mencari tau bagaimana berita yang menyebar mengenai cerita mistis. Tiga Mahasiswa yang penasaran mulai mendaki, mereka tetap mematuhi berbagai tata cara mengenai hal-hal tradisi di dalamnya.
Juru kuncen yang di kabarkan menghilang membuat kekacauan di pikiran mereka. Bertanya pada salah satu warga yang ada di kaki gunung. Tidak ada yang berani mengabarkan apa yang harus di lakukan atau segala urutan mengenai seluk beluk di dalamnya.
“Aku tidak berani mengatakan apa yang harus kalian lakukan. Tapi saran ku segera jauhi tempat berhantu itu.”
“Memangnya kenapa kek” tanya Rompi.
“Jangan banyak tanya!”
Suaranya sangat kuat, dia tidak mengangkat tumpukan kayu yang telah dia ikat lalu pergi tanpa memakai alas kaki. Suasana langit gunung Keramat dari kejauhan menampakkan kabut putih pekat. Mereka tiga masih tidak gencar meneruskan langkah memasuki gunung.
Seorang dukun yang telah mereka siapkan untuk berjaga ikut masuk. Dia menyuruh ketiga pendaki menghidupkan sebungkus rokok di bawah pohon mengikuti kebiasaan para pendaki lain dan orang yang menginginkan kehendaknya.
Masing-masing di dalam hati tertanam keinginan yang secepat mungkin di Kabulkan jin penunggu. Memasuki area hutan, aroma kemenyan menyengat di depan pohon yang tampak bergoyang sendiri diantara pepohonan lainnya. Dia atas terlihat penampakan sosok kepala putung, wajah nenek-nenek menyeringai menghitam. Organ tubuh bergelantungan meneteskan darah mengenai kepala mereka. Suara ketakutan ketiganya di tahan melihat si dukun melemparkan serbuk putih, tampak penampakan menggelegar membuka rahang selebar-lebarnya.
“Cepat tengkurap!” teriak si dukun.
“Hiihh..”
“Haahhh!”
Suara ketakutan mereka, tangan menutup kedua mata tidak sanggup melihat sosok yang tidak henti meneteskan lendir dan darah yang hitam. Usus yang membasuh wajahnya, suara aneh, gangguan penampakan lain melihat kuntilanak berterbangan menerbangkan kain putih yang sangat panjang.
__ADS_1
Semua penampakan menghilang setelah si dukun membaca mantra menghentakkan kaki mengeluarkan muntahan darah. Dia melambaikan tangan tidak sanggup lagi mengikuti mereka mendaki.