
Dunia yang tidak pernah di sebut kata indah. Semua manusia tidak akan luput terlepas dari cobaan. Kalau mau di sebut ketenangan yaitu kepingan sebuah relung yang lama tetinggal di penuhi sawung, jejak ingatan yang terkadang menerpa.
Hujan masih membasahi jiwa yang lelah, di dalam gemuruh yang terdengar adalah sebuah tanda kedatangan hantaman lebih mengerikan. Tanda kehadiran si wanita pemakan organ tubuh manusia.
Liburan akhir pekan di habiskan berwisata ke pemandian air panas yang lokasinya dekat dari wilayah gunung keramat. Edi membawa keluarganya liburan tanpa sadar ada sosok lain yang menunggunya. Dia melewati masa bahagia, di pandangannya Bela benar-benar berperan sebagai istri sempurna.
Dari kaca jendela, Ceril menunjuk ke gunung keramat. Bela mengalihkan pandangan sambil mengernyitkan dahi. Tekad bulat melepaskan semua ikatan itu terasa sulit baginya.
“Ibu lagi kurang sehat, kita tunda liburannya boleh nggak ya. Stthh.. kepala ibu sakit sekali” ucap Bela berpura-pura meringis lalu menyentuh kepalanya.
“Duh kasian ibu, kita pulang aja yuk Ceril” ajak Edi tersenyum menoleh ke belakang.
Ceril hanya mengangguk meneruskan kesibukannya.
Sore hari yang tidak di sangka-sangka itu, tiba seorang wanita yang membuat ketakutan merajalela mengganggunya. Dia kembali, sosok yang mau membunuh dan mengambil organ tubuhnya. Dia kenal siapa wanita yang melingak-linguk dari luar gerbang itu. Wanita yang tidak asing kini berjalan ke arahnya.
“Halo Bela, apa kabar?” sapanya tersenyum sambil mengulurkan tangan.
Bela histeris ketakutan, dia mengingat bagaimana Sintya mau membunuh saat dahulu mengulurkan tangannya. Dia menggendong Ceril masuk, wanita itu tersenyum menyeringai membuka pintu.
“Ada apa Bela, aku kesini untuk mencari mas Edi. Banyak yang ingin aku tanyakan padanya. Tentang anak ku Mena” ucapnya berbisik.
“Aku tidak tahu menahu tentang anak itu!” bentak Bela.
“Kenapa kau sangat ketakutan. Aku akan duduk tenang menunggu mas Edi disini.”
Senyumannya masih tetap sama. Dia menerima segelas minuman yang di suguhkan bi Tangtang. Edi yang baru saja tiba membelikan obat untuk Bela tiba-tiba melepaskan plastik di tangannya. Wanita yang selama ini dia cari ada di hadapannya. Sintya bergerak memeluk Edi, bahasa tubuhnya berbeda dengan SIntya yang dahulu. Dia terlihat sedikit lebih tenang. Edi yang sedikit risih mendorongnya untuk duduk.
__ADS_1
“Aku memang sudah lama mencari. Apa detektif atau petugas yang mengantar mu?”
“Tidak mas, aku sendiri yang berjalan sejauh ini demi mencari mu dan Mena. Oh ya, mana anak ku?”
Glekk__
Menelan air liur sendiri, di terdiam membisu tidak tau dari mana memulai menjelaskannya. Alih-alih takut di bunuh atau terjadi sesuatu yang di luar dugaan. Mau tidak mau dia mengatakan yang sejujurnya. Tangisan Sintya tumpah ruah, dia sangat menyayangi anaknya namun setelah berhasil menemukan alamat rumah Edi malah berujung duka cita nestapa.
Malam semakin larut, Sintya masih terus menangis. Edi dan Bela berkali-kali minta maaf padanya. Membujuk dan meminta Sinty agar mengikhlaskan, kebencian yang mendalam melihat anak kecil mendekati Bela.
“Sudah lah dik, kami tidak bias berbuat banyak jika engkau menuntut atau mengangkat masalah ini ke polisi” ucap Edi.
“Bagaimana aku menuntut kematian anak ku sebelumnya menyerang hingga membunuh orang? Hiks..”
Sintya mengepal kuat tangannya, Edi memintanya beristirahat. Rasa berat hati Bela melihat wanita lan hadir di dalam rumah tangganya. Di pikirannya seakan roda waktu yang berputar sama persis kehadirannya dahulu di benci Mila, istri pertama Edi.
Malam yang singkat untuk para pemakan waktu dunia lain. Sintya masih terikat dengan jin merah. Dia berjalan menuju ke perbukitan yang jaraknya sedikit jau dari rumah. Dia berdiri di atas batu besar, kebiasaan lama yang tidak hilang menyantap daging mentah. Kali ini Sntya memantrai dirinya memanfaatkan cahaya langit. Sosok jin merah menghampiri memberikan kekuatannya.
“Mau cari siapa non? Duh , ini jam berapa ya kok ada wanita cantik”
“Saya baru keluar cari udara segar. Saya menginap di rumah ini” jawabnya menyentuh pundak si mamang.
“Duh lumayan ada wanita cantik!” gumamnya mendekati.
“Saya masuk dulu. Kalau mau kopi, besok pagi saya sediakan di dapur.”
......................
__ADS_1
Semalaman Bela tidak bias tidur tenang, dia memikirkan Sintya mengenai semua pradugaannya. Wanita itu mempunyai iblis yang mau menghabisinya dan teman-temannya saat mendaki. Di dalam pikirannya, dia tidak akan pernah melepaskan lahapan makanan yang dia incar.
“Bangun mas, aku mau ngomong. Aku mau besok kamu suruh Sintya pergi. Aku takut!”
“Kamu nggak boleh gitu. Mas tau kamu ketakutan. Tapi dia lagi trauma dan berduka kehilangan anaknya, nggak mungkin kita usir gitu aja. Mena juga anak ku walau hanya anak angkat”
Edi kembali tidur menarik selimut, Bela yang masih tidak tenang memeriksa aktivitas apa yang di lakukan Sintya. Dia mendekati kamarnya, di dalam terdengar suara aneh. Dia juga melihat bayangan dari bawah pintu yang merambat keluar memperlihatkan lidar yang sangat panjang menjulur menyentuhnya.
“Arggh! Jeritnya berlari masuk ke dalam kamar Ceril.
Di atas kasur, Ceril terliha sedang di peluk Sintya. Tatapan wanita itu mengerikan membuatnya semakin ketakutan. Dia semakin memeluk Ceril hingga kekuatan setannya mendorong tubuhnya terpental keluar kamar. Takut terjadi sesuatu pada Ceril, dia membangunkan Edi sampai menamparnya.
Pragh__
“Duh Sakit! Kamu kenapa sih? Tuh Ceril lagi tidur sendiri”
“Tadi aku lihat si Sintya!”
Bela meneruskan membuka pintu. Dia memindahkan Ceril di dekat Edi dengan memasang mata berjaga. Ingatan pergerakan Sintya yang selalu mengincar menunjukkan mata memangsa. Pagi hari yang mendung, semenjak kedatangannya kabut merata di menghadang di setiap sudut kota.
Pagi ini Sintya mengepal kuat tangannya. Dia merasa cemburu melihat Edi sangat perhatian dengan Bela. Mereka bergandengan tangan bermesraan, sebelumnya meminta bi Tangtang agar tidak lupa menelepon bus sekolah untuk mengantar Ceril pulang.
Dari atas balkon, mengerang melotot tidak sabar menghabisinya. Dia berteriak seperti orang gila, mengobrak-abrik kamar dan memecahkan kaca hias. Bi Tangtang membuka pintu, dia menahan tangannya yang menggenggam pecahan kaca.
“Istighfar non, eling non”
“Lepaskan! Hiya!” Bela menancapkan kaca ke kakinya.
__ADS_1
Keinginan memangsa mencabik mengambil organ wanita itu di tahan karena tidak mau di anggap Edi bahwa kedatangannya akan mengancam keluarganya. Sintya berlari keluar tanpa memakai alas kaki. Dia menangis di bawah pohon dekat perbukitan. Dia masih berjuang menahan hawa memangsa. Jin merah tidak henti membisikkan agar kembali untuk membunuhnya.
"Bunuh dia Sintya! kau akan mendapatkan segalanya. Hihihi.. "