
Edo memutuskan untuk pindah ke kota yang sangat jauh dari masalah Gunung Keramat. Dia membawa jasad Centini dengan membongkar kuburannya begitu saja. Di sebuah Apartemen bertingkat kamar 6015. Dia memasukkan jasadnya ke dalam pot yang sangat besar, dia menanam bunga mawar di atasnya, dan meletakkannya di pinggir balkon.
Sebelumnya tempat itu tidak pernah di ganggu makhluk halus dan kejadian mistis lainnya. Tepat di watu pergantian malam. Tiga orang anak yang sedang bermain kelereng di parkiran mobil salah satunya kerasukan berteriak menyebut nama Gunung Keramat. Pendi, supir pribadi Edo yang baru saja tiba di parkiran terkejut melihat seorang anak laki-laki menunduk tangannya menunjuk lalu berlari membenturkan tubuhnya ke kaca mobil.
Darah menyemai, kaca mobil pecah. Orang-orang mengira dia telah menabrak anak tersebut. Pria di dalam mobilnya di tuntut pak Wan. Dia tidak akan memaafkan orang yang membunuh anaknya, Wan di hari itu pula memenjarakan Pendi, pria itu mengatakan dirinya tidak bersalah.
Rekaman CCTV yang ada di tempat itu tiba-tiba mati untuk melihat kejadian. Di atas mobil, Edo membaca jelas ada tulisan gunung Keramat. Peristiwa yang tidak terduga, dia tidak bisa menyelamatkan Pendi karena Wan mengeluarkan banyak uang untuk menjebloskannya ke penjara.
Dia pergi menemui si dukun sakti, kali ini dia meminta agar di beri lebih banyak lagi jimat untuk menjaga dirinya. Sebelum pergi, Edo menitipkan kamarnya pada Totom untuk merawat bunga kesayangannya agar tidak layu. Totom membuka kamar sahabatnya itu.
Siapa yang mengira selain harus mengurus bunga, dia juga harus menjaga seekor anjing hitam yang ukurannya sangat besar.
“Hih, ini namanya menumbalkan diri untuk memberi makan daging sendiri ke peliharaan si Edo!” ucap Totom segera menutup pintu kamar.
Dia tidak berani mengurus anjing tersebut. Memanggil Sotoy dan dua teman lain untuk membantu memindahkan hewan tersebut ke tempat penitipan hewan. Tetap saja ketiga temannya tidak berani duduk berdampingan di dalam mobil. Tom memanggil salah satu petugas penjaga hewan untuk membawanya. Dia menghubungi Edo agar memberitahu bahwa anjingnya berada di tempat penitipan hewan, namun saat dia menghubunginya.
Suara panggilan di dalamnya terdengar tidak jelas.
“Halo, Do! Wah gila kamu! Anjing sebesar itu mana sanggup aku memeliharanya! Kamu bilang Cuma menitip tanaman mawar!”
“Ha? Anjing apa? Aku nggak ngerti! Halo Tom!” jawab Edo.
Suara terputus-putus seperti ada suara berisik sebuah benda yang di geret kuat. Totom tidak mendengar jawabannya. Keanehan terjadi, saat keesokannya harinya dia melihat anjing itu kembali berada di dalam kamar. Memanggil petugas menanyakan kenapa anjing itu kembali lagi. Petugas tersebut mengatakan tidak sanggup menampung karena tingkah anjing gila itu hampir melukai si petugas.
“Anjing itu lepas sendiri pak. Kami mohon maaf tidak dapat menerimanya” jawab si petugas di dalam telepon.
Tom berpikir dari mana asalnya anjing di depannya itu masuk ke dalam kamar. Di semakin ketakutan berlari menabrak salah seorang pria yang berjalan keluar lift.
“Maaf-maaf pak..”
__ADS_1
“Totom? Aku Yanto! Teman satu SMA kamu! Lupa ya?”
“Hahah, oh iya! Aku nggak akan lupa tompel yang ada di jidat kamu! Ahahah!”
Pertemuan Totom dan Yanto berlanjut pada ceritanya mengenai seekor anjing dan bunga mawar di kamar Edo. Yanto menawarkan diri mengambil pekerjaan itu. Dia membuka berdiri di samping Totom membuka pintu, namun tidak melihat anjing yang di maksud.
“Aku dan tiga teman ku yang lain kemarin jelas-jelas membawanya ke tempat penitipan hewan. Wah kalau hewan itu menghilang bisa di marah si Totom aku!”
“Jadi sekarang gimana?”
“Kamu tolong rawat mawar si Edo ya. Ini kunci dan uang mukanya. Aku cari anjingnya dulu..”
Totom mulai merasa ada yang mencurigakan di kamar tersebut. Dia juga sering mengalami mimpi buruk melihat di dalam kamar Edo ada penampakan makhluk yang ukurannya sangat tinggi bermata merah. Dia sengaja mempekerjakan Yanto, ketakutan bertambah setiap malam mendengar suara lolongan anjing yang terdengar merintih.
......................
“Nggak Cuma sampingan. Lima belas menit aja kok. Kamu jaga adik mu ya hari ini jangan keman-mana. Di luar lagi mendung..”
Tanggal merah di isi kegiatan lain untuk mencari uang tambahan. Sepeninggal istrinya, Yanto tidak sedikitpun niat menikah lagi. Dia banting tulang mencari nafkah untuk membahagiakan kedua anaknya yang masih kecil-kecil. Hari pertama di ketakutan melihat suasana kamar yang sangat berantakan. Membersihkan ruangan tidak ada di dalam daftar tugasnya. Dia tetap merapikan lalu mulai menyiram bunga-bunga mawar yang tersusun penuh.
Salah satunya ada pot raksasa yang berukuran besar, berbagai macam warna mekar. Terlihat tumbuhan itu di cangkok dan di beri pupuk yang cukup sehingga menghasilkan warna-warni bunga yang sangat indah.
Dia merasa tengkuknya merinding, Yanto mengucapkan surah An-Nas di dalam hati. Memulai hari pertama kerja yang sangat melelahkan. Selesai bertugas dia mengunci pintu menuju ke rumahnya kembali. Empat anak laki-laki mengintip melihatnya keluar dari kamar.
Dua orang mengikuti sedangkan dua lagi berusaha membuka pintu.
“Dia dimana?” Tanya anak bertubuh tinggi.
“Dia keluar Apartemen..” anak laki-laki berambut keriting.
__ADS_1
Kedua anak yang mengikuti tadi berkumpul masuk ke dalam kamar. Kematian Pendi membuat mereka ingin memberi pelajaran pada si pemilik kamar. Pandangan mereka terperangah melihat isi kamar yang sangat luas dan lebar itu sanga mewah begitu pula ruangan lainnya.
“Woi lihat apa yang ku temukan!” ucap pria bertubuh gemuk memandangi bunga-bunga mawar.
Dubrak__
“Hei kalian ngapain? Cepat pergi atau aku laporkan ke satpam!”
“Pi kau jangan ikut campur ya ini bukan urusan mu!” ucap Kepon.
“Baik, kalau kalian nggak mau pergi, Aku akan panggil anggota ku buat mematahkan tulang dan mencabuti gigi kalian!”
Ancaman wanita tomboy itu sukses menakuti, mereka pergi sambil melengos melihatnya. Dia selalu memakai kaos oblong, celana pendek dan topi yang dia mirip kan ke belakang. Kamar itu pernah di tinggali keluarga semasa hidup. Dia selalu menyempatkan waktu melihat apartemen mengingat semua kenangan yang sangat dia rindukan.
“Kamu ngapain sih masih sibuk cari tau tempat ini? Bukannya di desa lebih tenang?”
“Aku lagi kangen aja. Nggak nyangka ada maling para bocil.”
“Sejauh ini mengayuh sepeda Cuma demi lihat bangunan. Huhhh! Dasar wanita setengah pria! Eheh bercanda” ucap si Gemoy menyatukan kedua tangannya.
“Ayo ngomong sekali lagi biar aku kempesin badan kamu!”
“Pi Awas aja kalau tenaga kamu habis sebelum mendaki Gunung Keramat. Aku ngambek nggak mau sahabatan sama kamu lagi. Udah yuk balik” ucap Oni di dalam berteriak di dalam mobil.
“Aku naik sepeda aja.”
“Jangan cari penyakit deh Pi. Langit udah mendung tuh.”
Gemoy mencari tali di dalam mobil untuk menaikkan sepedanya di atasnya.
__ADS_1