
“Kemuning, lihatlah nenek mu yang malang terperangkap tidak bisa kembali! Hahah!” suara melengking membangunkannya.
Dia mencari ibunya, di ruang tamu ramai suara anak-anak berlarian. Seorang wanita menangis di sofa meraih tisu mengeringkan air matanya. Ibunya menoleh meminta Kemuning duduk di sampingnya. Di depannya adalah bu Yahya, istri dari pak Muhyi pihak keluarga besar yang rumahnya di kota Delima. Yahya menjelaskan kepergian pak Muhyi naik gunung untuk mencari pesugihan. Mereka terlilit hutang piutang karena bisnisnya yang bangkrut.
Kemuning baru saja kembali, kekhawatiran Hamza berat melepaskan anaknya.Menemani kesana sama hal merelakan anaknya mengantarkan nyawa. Yahya memohon meminta keduanya agar menyetujuinya. Anak-anaknya masih kecil. Dia tidak akan sanggup kalau salah satunya di tumbal kan. “Demi kelima keponakan mu, aku mohon Hamza..”
Dia menggeleng kepala, menyatukan kedua tangan meminta maaf yang sebesar-besarnya. Kemuning anak satu-satunya yang dia sayangi, tangannya menggenggam erat anaknya tidak mau melepaskan. Kemuning merasa iba pada bu Yahya, dia merayu ibunya memperbolehkannya pergi.
Di sisi lain, dia seperti merasa terpanggil untuk pergi kesana. Ada sukma neneknya yang masih terjebak, dia ingin bertemu dan terus bertemu. Yahya menggiring anak-anak masuk ke dalam taxi. Saat dia masuk ke dalam, Hamza memanggilnya sambil mengerutkan dahi. Keputusan terberat demi membantu sepupunya, dia setengah hati mengizinkan anaknya pergi.
“Yahya, aku berharap kalian pulang dengan selamat. Aku titip anak ku pada mu..”
Lima keponakannya di tinggal di rumahnya, sementara dia dan Kemuning pada hari itu juga pergi ke gunung. Pendakian kali ini, Kemuning membawa sarung kesayangan neneknya yang selalu di pakai ketika mau mengaji. Dia juga mempersiapkan beberapa senter kecil, stock makanan, termos dan wadah kosong dan barang lainnya. Walau tenda tidak terlalu penting di pergunakan, dia tetap membawa untuk berjaga.
Para pendaki berpikir kalau mendaki gunung memerlukan tempat berteduh, tenda yang terpasang hanya simbol keberadaan kita di incar makhluk halus. Meski di sepanjang perjalanan para penghuni gunung tidak melepaskan mata setannya. Para pendaki yang di ganggu harus meninggalkan tendanya, berlari mencari tempat aman.
Gunung yang di daki adalah gunung keramat, terlalu lama menegakkan tenda dan kebakaran api memicu makhluk lain mengikuti. Luka di kakinya belum mengering, dia mengabaikan rasa sakit dan telah siap mendaki. Bu Hamza memeluk dan mengecup dahi putrinya, dia berharap anaknya pulang dengan selamat.
......................
Mbok Mijan pengurus tunggal rumah mewah Capit. Dia masih mengabdikan diri menjaga, membersihkan hingga memenuhi kewajiban meletakkan sesajian. Dia tidak bisa meninggalkan semua kebiasaan itu, sangat mustahil melepaskan ikatan pada iblis. Pernah suatu hari dia mencoba pergi dari rumah itu. Namun semua pintu terkunci rapat, penampakan sosok mengerikan mau mencekiknya. Kesalahannya menerima tugas demi mendapatkan uang. Malam-malam menakutkan dia alami sendirian, Mijan sering kerasukan sendiri hingga lama kelamaan mendapatkan ilmu hitam.
Ting_tong (suara bel berbunyi)
__ADS_1
Pasangan muda mengejutkannya, tamu yang tidak di undang mencari Suratmi untuk meminta bantuan. Wanita itu berwajah murung, dia enggan menyampaikan maksud dan tujuannya sebelum bertemu dengannya. Mijan mendesak, ucapannya sangat manis. Dia juga mengatakan mendapatkan pesan dari majikannya untuk menerima keluarganya jika ingin menginap di rumahnya.
“Non, sebenarnya ada apa? Bibi janji akan jaga rahasia. Bibi sudah lama bekerja besama tuan Capit dan Nyonya Suratmi” ucapnya tersenyum sambil melihat perutnya yang besar.
Dia menahan air liurnya yang mau jatuh menetes. Sosok makhluk yang merasukinya tidak sabar menikmati janin. “Tidak, kau tidak boleh memakannya Mijan, bantu aku masuk ke dalam tubuh anak itu agar hidup kembali” gema suara Capit.
“Saya, saya_ hiks. Bayi ini tidak seharusnya ada bu. Untung mas Karyo mau menerima keadaan saya dan menemani sampai kesini.”
Dia menangis di usap Mijan yang melihat sikap Karyo seperti acuh tidak acuh. Karyo bahkan merokok di sampingnya, terlihat jelas ke pura-puraan pria itu. “Maaf, kalau mau merokok di luar saja. Tidak baik bagi bayinya.”
“Biasanya juga saya merokok di depan dia. Huh”
“Tapi ini rumah tuan Capit, kamu harus menghargai peraturan di rumah ini.”
“Halo ma, iya aku udah sampe. Pokoknya aku mau uangnya segera di kirim. Rumah pak Capit angker banget, pembantunya juga sombong berlagak menguasai rumah.”
Di tempat lain, Enil berkeliling mengamati keadaan rumah. Dia terkejut melihat kuburan yang papan namanya di tutupi dengan kain putih. Dia perlahan mau membuka untuk melihat namanya, tapi si mbok memanggilnya dari atas langit-langit atap rumah.
“Non, ayo masuk. Hari mulai gelap, nggak baik buat wanita hamil.”
Enil melihat sikap si mbok tampak menerima kehadirannya. Di ruang tamu, Karyo terbiasa dengan kebiasaannya sampai lupa di larang menghidupkan putung rokok membuat Mijan lebih mengeraskan suaranya.
“Kamu dengar cakap saya nggak? Silahkan merokok di luar! Kamu”
__ADS_1
“Hemm bawel!” Karyo melirik kemudian bergerak pergi.
Mbok Mijan mengaduk teh panas, dia menggaruk luka yang di tutupi di kakinya. Luka busuk terasa sangat gatal, sesekali dia menggaruk. Langkah pendek meletakkan minuman di atas meja. Dia juga merapikan cardigan Enil, senyumannya yang lebar mengusap pundaknya.
“Terimakasih banyak mbak” ucapnya membalas senyuman.
Mbok Mijan menunjukkan kamar, ruangan yang indah di isi bunga-bunga segar. Tirai merah membentang, di depan ada balkon yang tidak kalah menawan. Bunga mawar mewar melambai tertiup angin. Dari atas, dia melihat pemandangan pepohonan dan padang rumput yang luas. Melihat-lihat ke dalam kamar mandi, bathub yang mewah. Si mbok membawakan handuk dan sebuah nampan. Air keran yang hangat, susu, madu dann bunga di tuang ke dalamnya. Enil merasa nyaman, si mbok membantu mengguyur kepalanya. Dia mengucapkan mantra, menekan bagian belakang kelapa menghembus sebanyak tiga kali.
“Mbok tingga ya, jangan lupa nanti tehnya di minum.”
“Ya mbok, sekali lagi terimakasih banyak ya mbok.”
Tanpa terasa mantra mulai bereaksi, Enil mengalami halusinasi. Dia merasa pusing, dari dalam air ada tangan berkuku runcing mengusap perutnya. Menjerit Sekuat-kuatnya, Enil mempercepat gerakan keluar dari dalam bathub. Dia menggigil mengeringkan tubuhnya lalu memakai baju berbentuk handuk. Enil membuka pintu, di depan ada ada sosok menggantung.
"Arghh!" bantingan pintu yang sangat keras.
Dia melihat menghidupkan lampu, bersembunyi di balik selimutnya.
"Enil.. aku menunggu mu di gunung keramat"
"Capit?"
"Ya, cepat datang ke gunung keramat"
__ADS_1
Prang__ suara lampu yang pecah. Dia pingsan hingga pagi menjelang.