
Hutan menggambarkan suasana ketegangan menambah ketakutan di dalam suasananya yang angker. Enil berbaring di tengah hutan memakai gaun hitam. Kaki dan tangannya di ikat, banyak orang-orang memakai jubah hitam mengelilinginya. Capit duduk menonton, penampilannya melebihi seorang dukun. Dia memakai hiasan tulang tengkorak, tubuhnya di hinggapi burung gagak. Seekor ular yang menggeliat di kakinya melata mendekatinya.
Dia ketakutan tidak berani bergerak, ular itu mulai melilit tubuhnya. Tawa bahagia Capit, dia membacakan mantra, menegakkan ular di atas perutnya.
“Enil, kalau kau tidak datang ke gunung. Aku akan memakan anak mu ! ahaha! Oh ya aku lupa, kau kan tidak menginginkan anak mu. Kalau begitu bagaimana dengan diri mu?”
“Lepaskan aku setan!”
“Ahahah!”
“Tidak! Arghh”
Perut Enil di cabik menggunakan giginya. Rasa sakit berkali lipat, antara masih hidup dan merasakan sakaratul maut. Pandangan Enil samar-samar melihat bayinya di lahap. Suara retakan tulang, kunyahan, mendekap, dia sangat rakus memakannya. Enil membuka mata, dia melihat jari panjang menjalar menyentuh perutnya. Teriakan sekeras-kerasnya, Enil turun dari kasur merasakan darah keluar menggumpal, janinnya jatuh. Dia kesakitan tidak sadarkan diri.
“Non Enil, non! Bangun”
“Mbok, bayi saya mbok. Saya selalu bermimpi di panggil ke gunung. Banyak makhluk aneh mengejar saya mbok”
“Bayi non sehat-sehat saja, saya akan panggil pak Darmo untuk menanyakan masalah non.”
Senyuman si mbok semakin lama mengerikan. Dia membuka lemari, memberikan baju ganti untuknya. Perlakuannya melebihi pengurus pribadi, dia menyisir rambut, mengolesi kakinya dengan minyak hangat. Si mbok memintanya kembali berbaring, beberapa menit Kemudian terdengar suara ketukan pintu. Seorang pria memakai blankon, gerakannya kaku, pandangan fokus tertuju ke depan. Wajah pucat, tangan berlendir dan tubuhnya berbau anyir. Pria itu mengasapi perutnya. Dia mengucapkan ucapan yang aneh.
Lima jari di tegakkan menekan kuat perutnya, Enil menahan tangannya yang terus menekan. Dia meringis kesakitan, pria itu mendengus melepaskannya. Pria itu tidak bersuara, dia hanya memberikan sebuah gunting hitam dan benda asing berbentuk mirip batu kerikil.
“Terimakasih banyak ya pak Darmo..” ucap si mbok.
Pria itu manggut-manggut pergi keluar kamar. Si mbok mengikutinya, sebelum pergi dia tersenyum menutup pintu. Sosok Darmo sebagai boneka pancingan memperdaya tipuan di mata Enil. Dia kaki tangan si mbok melancarkan semua aksinya. Bekas sisa tubuh Karyo di buang ke sungai. Darmo membawa mobil Karyo keluar meninggalkan rumah itu.
“Mas Karyo, dia benar-benar meninggalkan ku”
__ADS_1
“Nona, ini di minum teh nya. Mumpung masih anget. Kenapa non kok murung? Jangan di pikirin pria tidak bertanggung jawab itu non.”
“Saya di tipu mbok, dia berpura-pura mencintai saya hanya demi uang. Hiks.”
“Tenang non masih ada si mbok. Kebanyakan semua pria seperti itu, hanya satu atau pria yang bisa di percaya. Tapi nasib baik itu tidak semua orang mendapatkannya”
...☠️☠️☠️☠️☠️...
Membantu si mbok masak di dapur, dia tersenyum melihat bahan makanan, sayuran dan bahan bumbu lengkap lainnya. Biasanya hanya ada sepotong roti tawar dan telur. Dia tidak akan mengira daging segar itu milik potong karyo. Di usia si mbok yang melebihi satu abad, dia masih tampak sehat dan gerakannya semakin lincah.
“Non duduk saja ya biar si mbok yang meneruskan.”
“Nggak apa-apa mbok. Sekali-kali saya bantu” balasnya tersenyum.
Menyantap makanan daging manusia, Enil lahap menghabiskan dua piring. Dia merasakan gejolak di dalam perutnya. Dia mengusap perutnya, hawa nafsu makannya tidak terkendali melihat beberapa potong hati di atas meja.
Perjalanan kali ini akan menguras energi lahir dan batin. Dia menekan perasaan takut, Yahya menyeka gerimis di pelupuk mata yang tidak reda. Dia dan Kemuning memulai menyambung perjalanan selanjutnya tiba di halte bus. Menunggu kedatangan bus yang mengantar sampai ke kaki gunung, tepat matahari terbenam bus bertingkat berukuran besarpun tiba. Pak supir memakai baju yang bersimbah darah, saat masuk ke dalam, Yahya terkejut melihat para penumpang yang berkelakuan aneh. Kemuning meminta dia duduk di dekat kaca, mengantisipasi berbagai gangguan dia meminta Yahya beristirahat.
“Bu, nanti kalau sudah sampai Kemuning bangunkan ya. Ibu jangan buka mata selama perjalanan.”
“Ya kamu juga jangan lupa istirahat ya” jawabnya.
Kemuning mewanti-wanti kalau bu Yahya tidak akan sanggup jika mengetahui bus yang mereka naiki adalah bus berhantu. Di dalam tidur, Yahya membuka mata merasakan ada yang mengendus menyibak rambutnya. Sosok wanita yang wajahnya rusak memperlihatkan kulitnya yang terkelupas. Di tersenyum menyeringai, melepaskan kepalanya lalu mengantungkan di depannya.
“Argh! Argh!” teriak Yahya ketakutan.
“Jangan ganggu, aku disini tidak berniat jahat!” bentak Kemuning.
“Bu Yahya! Bangun bu!” suara Kemuning membangunkannya.
__ADS_1
Dia melihat ke bagian kursi bagian belakang, Ada seorang penumpang berwajah pucat yang mirip di dalam mimpinya. Dia membalas tatapan Yahya pergerakan kepala sama persis ketika mau melepaskan. Membalikkan pandangan ke arah jendela, dia yakin ada yang aneh di dalam bus.
“Ke_Kemuning, ini bus apa?” tanyanya gagap gelagapan.
“Ini bus hantu bu, khusus mengantar manusia yang mau pergi ke Gunung keramat.”
"Apa?! "
...Di pendakian kali ini, aku sedikit gamang mengingat kejadian di pelupuk mata. Tapi aku mencoba tegar menghadapi semua rintangan. Pertemuan dengan sosok penampakan nenek kali ini tidak akan aku sia-siakan. Aku sangat merindukannya, aku tidak akan pernah memaafkan diri sendiri karena kematian nenek demi menyelamatkan nyawa ku....
...#Kemuning...
Laju kecepatan kencang bus menambah detak jantung berpacu sangat cepat. Suara tangisan anak bayi di bagian kursi depan mengalihkan pandangannya. Dia mengintip dari celah kursi, penampakan ibu-ibu yang punggungnya membusuk berbelatung sedang menggendong bayi perempuan berwajah tua.
Dia kembali memejamkan mata berusaha mengabaikan semua gangguan hingga sampai pada tetesan darah yang mengenai dahinya, Jeritan kuat Yahya yang tidak sanggup melihat sosok wanita melayang meneteskan darah hitam.
“Argh! Arghh!” Yahya berlari meminta membuka pintu.
“Bu, jangan keluar. Ini jalur lintas huan belantara, tujuan kita kan mencari pak Muhyi. Ibu mau menghentikan pencarian ini?” ucap Kemuning menatapnya.
Dia terdiam mengikuti Kemuning duduk di kursi. Nafasnya masih tersengal-sengal, lirikan mata memperhatikan semua penumpang seperti melihatnya. Berpikir bus berhenti maka telah sampai di tujuan, tapi saat pintu terbuka banyak berbagai macam makhluk aneh masuk ke dalamnya.
“Tutup mata ibu, pura-pura tidak tau saja” bisik Kemuning.
Suara berisik, aroma anyir bercampur bangkai. Hanya dingin menembus tubuh, dia menggigil ketakutan berharap selamat di dalam bus. “Hantu tetaplah hantu, mereka tetap mengganggu dan ingin melakukan kelakuan lainnya” gumam Yahya meremas bajunya.
Melewati jalan tebing curam berliku, bus terbang mendarat membuat guncangan keras. Yahya terbanting begitu pula Kemuning, mereka bangkit mencari pegangan. Semua yang di dalam duduk tenang memperhatikan keduanya. Pintu bus kembali terbuka, sosok pocong menghalangi. Yahya tidak berani melewati, dia berdiri di balik tubuh Kemuning.
“Minggir kami mau turun!” Kemuning membalas matanya yang melotot.
__ADS_1