Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Menerima jin merah iblis


__ADS_3

Menuruni gunung yang belum bersahabat, Kemuning dan sisa adik kelas mendaki meninggalkan pos satu. Berkisar satu dua jam sepanjang rute tebing curam, mereka mendengar suara aneh bersahutan di langit. Tali yang menyambung antar dinding bebatuan itu nyaris putus, Bela di tarik Kemuning lompat menyebrang ke dataran tanah rendah. Mereka berhenti mulai menggelar tenda sambil menunggu kabar dari Roy. Mengumpulkan beberapa ranting seadanya yang berada di dekat tenda.


“Terimakasih kak” ucapnya.


“Ya dik kamu harus berhati-hati dan jangan lengah. Loh kamu mau kemana?”


“Aku mau cari tempat kak, mau buang air kecil.”


“Kakak temani ya.”


“Nggak usah kak dekat kok..”


Kemuning mendesak mau menemani tapi Bela menolaknya. Seperti pertanda buruk kejadian yang akan di alami. Waktu yang sama terulang sewaktu Kemuning bersama teman-temannya. Di dalam hutan, Bela yang hendak kembal ke tenda tiba-tiba lupa arah jalan pulang. Tanda yang dia beri pada tiap pohon tertutup kabut putih.


“Sandra! Kak Kemuning! Gais..!” panggilan berulang kali badan memutar bingung mencari jalan.


Dia menunduk mendengar langkah suara orang berjalan di dekatnya. Seorang wanita yang membawa keranjang di punggung, ada kampak di tangannya. Kakinya tanpa alas kaki berjalan menginjak ranting keras namun sama sekali tidak terluka.


Gerakan maju mundur mau meminta bantuan atau mengikutinya, dia berhenti memperhatikan wanita itu mengayunkan tangan ke seekor ular berukuran besar. Kampakan dengan amarah suara jeritan. Wanita itu memakan dagingnya mirip manusia zombie yang menyedot darah pada hewan.


“Bela, kamu dimana?” panggil Sandra yang belum Nampak kehadirannya.


Bella merangkak, sebisa mungkin langkah tidak terdengar wanita itu. Dia tersenyum merasa mangsa mulai masuk ke perangkap. Tepat sebelum Bella menemukannya, si wanita itu terlebih dahulu tersenyum di depannya. Mulutnya berceceran darah, dia berpura-pura menangis melihat Sandra. Wanita itu bahkan mempengaruhi dengan ucapan seolah dia sangat ketakutan.

__ADS_1


“Tunggu tenang, kamu kemana? Tangan dan mulut kamu berdarah”


“Saya di kejar sosok aneh dan hampir terbunuh saat terjatuh tadi, saya mau pulang ke rumah. Apakah kamu mau ikut?”


“Ya aku ikut__” menatap langit mulai petang, Sandra mengikuti wanita misterius itu.


Bela tetap mengikuti, sepanjang jalan memberi tanda dengan menyayat badan pohon menggunakan pisau lipat. Berhenti di sebuah rumah yang terbuat dari anyaman bambu, dia mengintip dari celah lubang melihat Sandra duduk menatap lurus tanpa berkutik.


Di bagian depan, wanita itu mulai melayangkan kampak ke tubuhnya. Sandra berakhir seperti seekor ular yang di mangsa hidup-hidup. Bela menjerit ketakutan dan berlari mencari jalan keluar. Wilayah hutan sangat di hafal Sintya yang leluasa mengejarnya. Dia memasang banyak jebakan, tawa Sintya renyah sangat keras.


“Ahahah, Tina! Kau pikir mudah lepas dari jeratan ku hah?”


Suara Sintya semakin menakutinya, dia menoleh ke belakang tanpa mengayak-ayak gerakan terjatuh kakinya terkena jebakan perangkap hewan. Gerigi tajam besi karat itu menancap di pergelangan kaki kanannya. Tina menahan jeritan, dia menggigit baju yang di tumpuk lalu menahan suaranya.


“Bela, kenapa kau meninggalkan ku sendirian? Aku kesakitan disini, kenapa kau mengabaikan panggilan ku? Hiks, hiks”


Sandra menangis menunjukkan organ tubuhnya yang terburai keluar. Dia meletakkan sisa potongan usus di tangannya, Bela ketakutan mencampakkan lalu membuka mata. Sebuah mimpi yang mengingatkan kesalahannya tidak membalas panggilannya karena kehadiran sosok wanita yang mengerikan. Di hadapan ada Kemuning yang keluar dari gelapnya rimbun semak belukar. Dia tersenyum menarik pisau dari saku Bela, letak tidak berubah di bagian sisi kantung jaket sebelah kanan.


Kemuning tersenyum melihat luka yang menetes di kakinya. Dia mulai memotong pergelangan kakinya, dagingnya terpotong lebar menambah tawa yang sangat keras. Bela kesakitan tidak kuat lagi menahan rasa sakit, dia pingsan sementara sosok yang mirip Kemuning menghilang.


Bangsa jin, iblis dan makhluk halus lainnya dapat mengikuti sosok bentuk tubuh dan wajah manusia. Banyak makhluk halus menyilap pandangan, menipu dan membuat manusia berpikir sosok yang mendekati itu adalah orang yang nyata.


Bela perlahan membuka mata, rasa sakit di kakinya yang menerjang membuatnya kesakitan menggigit bibirnya sendiri. Dia menyeret tubuhnya sambil menahan kakinya yang masih terkena perangkap besi. Berhenti di sebonggol kayu, dia mencoba melepaskan perangkap walau rasa sakit semakin besar dan jepitan benda itu semakin dalam terbenam di kakinya.

__ADS_1


Wajahnya pucat fasih, dia tidak sanggup lagi meneruskan percobaan membuka jebakan mematikan itu. Samar-samar dia mendengar suara tapak kuda susulan suara aneh mengiris dan meringkik. Bela mempercepat gerakan menyeret tubuhnya mencari tempat persembunyian.


Rombongan kereta kuda berhantu, pada barisan paling belakang ada beberapa para pendaki mengikuti membawa tas ransel lengkap dengan pakaian pendakian yang mereka kenakan. Namun, di bagian depan masing-masing perutnya tampak organ tubuh terburai mengeluarkan isinya.


Dia mual melihatnya, dia menangis tidak sanggup lagi menanggung penderitaan yang dia alami. Karena terlalu menggebu-gebu menginginkan petualangan berujung maut, dia mulai menyesali keputusannya. Berita Gunung Keramat yang dia tentang di anggap sebelah mata adalah sebuah kebenaran fenomena mistis.


Rombongan hantu telah pergi, dia seolah-olah mendapatkan keberuntungan tidak mendapatkan gangguan. Siapa yang mengira jiwanya di beri tanda di incar jin merah yang hanya bermain-main sampai dia benar-benar sengsara dan menyerah. Bela takut rombongan setan atau penampakan lainnya muncul kembali. Dia tidak memperdulikan hewan buas namun yang paling menakuti adalah para makhluk halus melebihi keganasan hewan liar.


......................


Sutik di temani seorang pria yang di tugaskan Edi, dia menemukan jejak lainnya. Di satu wilayah yang di tunjuk Edi untuk di tindak lanjuti. Doni, pria yang umurnya lebih tua darinya itu nyalinya lebih kecil, mulai dari awal memasuki kaki gunung sudah merengek ketakutan hingga berkali-kali memeluknya.


“Pak, baca do’a dong. Saya juga takut nih. Demi tugas yang mewajibkan kita dating kesini.”


“Duh kalau tau begini saya nggak menerima job maut ini pak. Saya baru paham kenapa Gunung Keramat di sebut gunung kematian.”


“Ya saya tau pak, ini menyangkut sebuah nyawa. Pak Edi mencari orang hilang.”


“Memangnya berapa lama dia menghilang pak?”


"Lebih dari lima tahun”


“Ha! Pasti sudah jadi santapan hewan atau setan!”

__ADS_1


“Jangan ngomongin setan aja pak nanti dia merasa di panggil! Kita tetap berjaga jarak dan segera menyelesaikan tugas ini..”


__ADS_2