Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Kerasukan


__ADS_3

Hanya tinggal Liya dan Robi yang berlari sejauh-jauhnya meninggalkan hutan. Gaston tau dirinya akan berubah menjadi sosok lain. Dia masuk ke dalam lumpur penghisap sambil menarik Tera yang mau memangsa kakak dan ibunya. Teriakan Tera terdengar menampak tangisan Liya masuk membawa Robi. Dia membantu membersihkan tubuh anaknya lalu memberikan merapikan barang-barang untuk bergegas meninggalkan rumah.


Tawa jin merah menari-nari puas berhasil memperangkap manusia yang meyakininya. Sasaran kedua adalah wanita yang ada di gunung Keramat. Dia mengincar Kemuning yang sedang sendirian di tepi sungai. Telah lama dia mencium aromanya yang khas, sosok-sosok lain mengikuti menghalangi gerakannya.


“kemuning, Kemuning..”


Suara makhluk halus yang menyerupai sosok neneknya. Kemuning tau sosok yang dia lihat bukanlah sang nenek. Dia berdiri mengalihkan pandangan, jalan menaiki pos dua dia depan dia di hadang sosok yang menampakkan wujud aslinya.


“Kemuning, aku bisa mempertemukan mu dengan nenek yang sangat kau sayangi selama-lamanya. Kau tinggal pilih saja, kehidupannya yang kembali atau apapun juga. Hihih.. Ayolah Kemuning, pegang tangan ku”


“Tidak, aku tidak mau bersekutu dengan iblis, [pergi kau dari hadapan ku!”


“Kenapa Kemuning? Aku bisa mengabulkan keinginan mu, kau dan aku bisa bersama menundukkan manusia. Hihihihh..”


Praghh_ srak__ brugh__


Jin merah di hantam pukulan keras dari sosok nek Mindun. Mata sang nenek seutuhnya memutih, dia sangat marah jika cucunya di ganggu makhluk yang ingin meracuni pikirannya. Kemuning di tarik Mindun masuk ke dalam pos. Dia mengunci dari luar, teriakan Kemuning tidak mau berpisah dari sang nenek. Pertarungan sosok jin merah yang memiliki kekuatan hebat karena memakan jantung manusia itu mulai mengeluarkan kekuatan menyerang Mindun.


“Arghh! Huahh__” suara teriakan sang nenek kesakitan.


“Nenek! Buka pintunya! Hiks!” Ayu! Kamu dimana? Ayu!” Kemuning memanggil di dalam ruangan.


Ketika pintu pos di terbuka, Mindun dan jin merah tidak terlihat di depannya. Panggilannya memanggil nek Mindun selama berulang-ulang tidak mendatangkan sang nenek. Tangisan Kemuning jatuh terduduk berharap tidak terjadi apapun.


“Nenek, hiks” dia menangis tidak mau kehilangan sosok lain pada bagian tubuh sang nenek.

__ADS_1


“Ayu, antarkan aku sama nenek! Hiks”


“Kemuning, kita tidak akan kuat dan sanggup menghadapi jin jahat itu. Aku tidak mempunyai kekuatan yang besar..”


Dari arah depan, kemunculan dua pendaki yang tergesa-gesa berlari ke arahnya. Rapa dan Filzah yang mengabarkan dua temannya tersesat di hutan. Mereka juga meminta bantuan membawa teman-temannya menuruni gunung.


“Kak, maaf aku yang terlalu terbawa emosi sehingga tidak melihat engkau sedang menangis” ucap Rapa menyodorkan tisu untuknya.


“Ya aku juga minta maaf ya kak. Eh, disini kok tiba-tiba dingin banget ya..” Filzah memegangi tengkuknya.


......................


Caki melihat teman-temannya yang berkumpul di depan tenda, akan tetapi semakin dia berlari mendekat maka suasana berubah mencekam gelap gulita. Daun-daun berjatuhan, patahan ranting menjatuhi tubuhnya, dia menjerit melihat kain kafan kotor berterbangan di atasnya.“Hihh! Kagetnya aku!”


Caki bersembunyi mendengar suara lari tapak kaki kuda. Rombongan makhluk aneh yang berhenti itu memperlihatkan wajah pucat berlubang memandangi sekitar. Caki terkejut dari belakang salah satu sosok itu memergokinya. Dia berlari sekencang-kencangnya, sampai langkahnya terhenti di melihat penampakan hantu wanita yang memakai pakaian kebaya menggerakkan tangan.


“Akhirnya aku selamat dari gunung setan itu! Tolong!” ucapnya mendekati ke salah satu warga.


“Pak tolong saya pak!” ucapnya lagi memperhatikan di atas kepalanya terluka mengeluarkan cacing.


Caki berlari menjauh, dia memperhatikan keseharian kegiatan kampung itu bertambah aneh terutama melihat seorang anak kecil yang berjalan menggunakan kepalanya. Dia menahan darahnya yang semakin banyak keluar, karena tidak sanggup lari berlari tanpa sadar terjatuh tepat di depan warung Sintya.


Orang-oang disana tidak terlalu memperdulikan pria itu. Karena rasa sup yang sangat lezat seperti membuat mereka kecanduan ingin terus- menerus memakannya. Jin merah tertawa melihat para manusia yang dia kelabui.


“Rasakan makanan neraka itu. Sekali kau mencobanya maka akan ketagihan selama-lamanya. Hihih..”

__ADS_1


Caki di angkat Edi ke dalam rumah di bantu Sintya. Tubuh Caki sangat berat seperti ada benda lain yang menahan. Edi mau berjalan ke belakang mencari kain dan air untuk membersihkan luka-lukanya namun Sintya menahannya.


“Cukup sampai disini saja pak sisanya biar aku yang mengurus.”


“Tapi Sintya, kita tidak tau dia ini baik atau jahat.”


“Nggak apa-apa pak saya terbiasa menjaga diri kok..”


Walau usahanya cukup besar, Sintya tidak sedikit pun merenovasi rumahnya. Dia juga tidak membutuhkan pekerja. Semua dia tangani sendiri di mulai dari berbelanja, memasak, berjualan hingga membereskan rumah. Sintya mengunci rapat-rapat salah satu ruangan khusus untuk memutilasi korban-korbannya. Dia juga memberikan mantra dari jin merah agar tidak satu orang pun mengetahuinya.


Sintya mengambil kotak obat dan membersihkan semua darah yang keluar membanjiri wajahnya. Dia melihat pria itu sepertinya cocok di jadikan bahan sup. Memeriksa urat nadinya yang semakin melemah, tubuhnya yang kuat Karena mendapat bantuan dari jin merah dengan mudan memindahkan Caki ke dapur.


Caki di ikat dengan rantai, mulutnya di tutup dengan kain. Dia hanya memakai boxer setengah sadar melihat rumah berdebu yang bergelantungan tulang tengkorak.


Suara pisau yang di asa, dia ketakutan ketika wanita yang rambutnya acak-acakan tersenyum membawa pisau mendekatinya. Caki menggeliat ketakutan, keringatnya menetes tidak sanggup melihat pisau daging yang besar mulai merobek kulitnya.


Suara dobrakan pintu terbuka lebar, terdengar suara panggilan suara wanita memasuki rumahnya.


“Akhirnya ada tikus yang masuk dalam perangkap ku! Hahah” tawa Sintya menarik rambut Kemuning ke dalam dapur.


Pisau terangkat ke leher, hantu pendaki Ayu melemparkan pisau tertancap di kakinya. Sintya menjerit ketakutan mencabut pisau yang memotong setengah jari-jari kakinya. Kemuning berusaha melepaskan rantai yang mengikat Caki sedangkan hantu Ayu menahan Sintya yang mengejarnya.


“Hihihi, ada apa Sintya. Kau memiliki kekuatan yang besar. Ayo angkat saja pisau itu. Hihihi..” sosok jin merah merasukinya.


Pisau yang di lempar ke arah leher Kemuning di alihkan Ayu mengenai Caki. Terputuslah anggota tubuh itu, Kemuning menjerit sekuat-kuatnya lalu berlari pergi di tari hantu Ayu. Tidak perduli kakinya telah bercucuran darah seperti air yang mengalir sangat deras, dia yang tela kesetanan mengejar Kemuning memasuki wilayah hutan.

__ADS_1


“Keluar kau tikus kecil! Ahahah! Tidak ada yang boleh menyakiti ku! Kau harus menerima kematian mu malam ini!” Teriak Sintya.


__ADS_2