
Gomi ketakutan memeluk lutut di bawah pohon dekat Apartemen. Dia tidak berani pulang karena takut di marah ibunya. Perutnya keroncongan, suara cacing menari menggeliat membuat dia menekan perut sekuatnya.
“Eh gendut ngapain lu sama si Kepon masuk kesono? Gua bos di daerah ini, mau gua hajar lu?” bentak Pi tidak sabar menghabisinya.
“Ampun Pi! Aku janji nggak masuk kesana lagi!”
“Apa kata lu? Setelah semua kejadian ini lu harus bertanggung jawab menyelesaikan semuanya! Kurang ajar!”
Pi menggulung lengan bajunya bersiap memukulnya. Satu tunjangan tepat di selangkangannya. Benteng pertahanan kaki Gomi runtuh, wajah merah padam menahan rasa sakit. Tubuh Pi di tahan Gemoy dan Oni, mereka berbisik kalau di sekitar apartemen ada polisi yang berjaga.
Di balik sisi ruang bagian lorong penghubung bagian apartemen. Gomi di interogasi, dia di ancam untuk berkata jujur jika tidak maka mereka tidak akan membantu menyelamatkan nyawa nya.
Semula merasakan perbedaan yang sangat jauh di dalam sana. Apartemen itu terlihat angker di penuhi penampakan sampai membawa mereka ke dalam mimpi. Pi ingin mencari tau siapa pemilik apartemen, dia berhasil menduplikat kan kunci. Di malam hari dia dan kedua sahabatnya masuk ke dalam apartemen. Hawa ruangan bagai es yang membeku, mereka menggigil kedinginan sulit melangkah berjalan. Kedua telapak tangan saling mengusap, tidak sanggup lagi berjalan mereka memutuskan keluar untuk mencari lilin.
“Cepetan Moy! Dingin banget nih!” ucap Oni menggigil merasa tubuhnya membeku.
Pi menarik pegangan, tangannya yang sulit di gerakkan merasakan ototnya yang mulai mati rasa. Mereka bertiga terjebak dari belakang muncul sosok wanita berambut panjang terbang melayang menarik Pi masuk ke dalam kamar.
“Pi!” teriak Gemoy.
Oni mendorong pintu, dia membanting benda agar pintu hancur. Di dalam kamar yang berubah memperlihatkan suasana pegunungan yang di selimuti kabut pekat putih. Pi berdiri depan pintu masuk pegunungan. Dia melihat pohon beringin di bawahnya terdapat berbagai macam benda dan makanan. Sosok wanita tadi berdiri di ujung jalan dekat pepohonan. Dia Menunjuk Ke jasad yang organ tubuhnya menghilang, Pi melihat sosok wanita berbaju putih yang menariknya membunuh wanita itu.
Sebelumnya Pi berpikir dia adalah sosok makhluk jahat pembunuh jiwa tidak bersalah. Tidak setelah melihat kejadian terlewati, wanita itu di bunuh secara sadis lima pria yang memakai topeng. Masa kelam wanita yang bernama Ririn di perkosa hingga terbunuh secara kejam.
__ADS_1
“Cepat buang jasadnya Pi! Sosok itu akan membunuh kalian semua kalau kau tidak membuangnya” ucap sosok Ririn memperlihatkan sebuah pot besar.
Dia mengingat pot yang sama di dalam kamar Apartemen. Sangat jelas sosok yang menariknya itu tidak ingin berniat jahat padanya. Dia terhentak, kepalanya terbentur dinding. Samar pandangannya sosok lain ingin menariknya di tahan sosok berbaju putih menghilang di kegelapan.
“Cepat Pi, waktu mu tidak banyak” gema suara makhluk tadi.
Keringat yang mengalir tanpa henti di dahi dia biarkan menetes deras membasuh wajahnya. Pi berlari menuju pot besar yang di tanami bunga mawar. Dia menggaruk tanah dengan tangannya kulitnya tergores duri mengeluarkan tetesan darah pada luka mengenai bagian kepala tengkorak yang dia temukan di dalamnya. Dia terus menerus menggali sampai menemukan bagian-bagian tulang tengkorak secara utuh.
Pi menarik kain sprei, dia memasukkan semua tulang ke dalamnya. Berlari keluar menarik Gemoy dan Oni.
“Eits tunggu Pi, kita nggak bisa membiarkan pintunya terbuka!” ucap Gemoy berlari menutu pintu. Dia mempercepat gerakan melihat sosok makhluk halus terbang mendekatinya. Bola mata bolong dia memperlihatkan bagian jantungnya bolong mengeluarkan darah hitam.
“Ayo cepat lari! Hantu di dalam kamar mengejar kita! Arghh!” teriak Gemoy berlari terlebih dahulu.
Sebagian polisi berlari keluar, mereka ketakutan melihat penampakan hantu. Sampai sosok yang merasuki di tahan para polisi lain ketika akan menyerang ketiga anak tersebut.
“Anak-anak, ayo saya anak kalian pulang” ucap salah satu anggota kepolisan.
......................
Pulang membawa jimat yang menjaganya dari gangguan Ririn. Di depan pelabuhan ada tiga orang polisi menodong pistol menyuruhnya masuk ke dalam mobil. Edo dinyatakan sebagai tersangka pembunuhan. Dia di interogasi selama berjam-jam. Tidak ada pihak pembela atau bukti dia tidak bersalah. Tulang tengkorak itu sangat jelas berada di sembunyikan di dalam pot tanaman bunga mawar.
“Sungguh dia adalah Centini, mantan istri ku yang selalu ingin aku bawa kemanapun aku berada” ucap Edo.
__ADS_1
Melihat gelagatnya yang aneh, Edo dinyatakan memiliki riwayat penyakit gangguan jiwa. Dia dia di masukkan ke dalam rumah sakit jiwa. Totom tidak berani menolongnya, begitupun keempat sahabatnya yang lain.
“Mendengar cerita Edo sejujurnya aku sangat merinding. Aku tidak menyangka dia berperilaku seperti itu” ucap Sotoy.
“Ya setelah aku selidiki, dia sangat jelas bermain api dengan Centini. Sahabat Ririn yang membunuhnya demi mendapatkan Edo. Aku sudah mengingatkan Edo, tapi dia selalu saja membela wanita Centini” kata Kiki menghela nafas panjang.
“Ah sudah, dia telah mendapatkan hukuman setimpal. Tapi apa kita sebagai sahabatnya berpaku tangan saja?” kata Ruben menunggu jawaban ketiganya.
“Kau mau kita semua mati di kejar-kejar arwah Ririn? Apa telinga mu tuli? Ketiga anak itu mengatakan hantu Ririn jadi arwah penasaran. Aku juga mendapat informasi, kelima pria yang membunuhnya satu persatu tewas terbunuh. Arwahnya Ririn menghabisi mereka dengan cara yang mengenaskan” kata gege menerangkan.
Semua terdiam begitu pula Ruben menunduk tidak berani berkutik. Malam panjang di habiskan menguras habis cerita Ririn. Mereka ingin sekali menggali lebih dalam rahasia apa yang ada pada wanita itu di gunung keramat. Sotoy memutuskan hari pemberangkatan menuju pendakian. Kiki dan Tom tidak berani mengambil keputusan, mereka mengatakan mau meminta ijin pada istri mereka.
“Haduh hari gini masih aja ada suami-suami takut istri” ucap Sotoy.
“Emang lu si Sotoy Sok tau ya.
Kami bukannya takut istri tapi kami punya tanggung jawab pada keluarga. Masa iya kami meninggal karena gila mencari gossip berita hangat demi wanita lain. Lu masih lajang! Belum ada tanggungan!” ucap Totom memukul pundaknya.
“Ya kami ini udah punya anak. Nggak sebesas kalian! Udah yuk Tom balik, udah sore” ajak Kiki meraih jaketnya.
“Payah kalian berdua. Aku, Gege dan Ruben aja deh yang mendaki. Sekalian hiburan menikmati alam bebas.”
“Kalian hati-hati, aku dengar gunung Keramat memakan korban” kata Tom kemudian berpamitan pulang bersama Kiki.
__ADS_1